
Setelah berhasil menenangkan Aluna, Axel memasangkan jasnya pada tubuh Aluna dan kemudian menuntun gadis itu ke dalam mobilnya.
Axel kemudian membuka pintu mobil Aron dan mengambil barang-barang Aluna dari sana.
Setelah memasukkan barang-barang Aluna ke dalam mobilnya, Axel melajukan mobilnya.
Selama perjalanan, sesekali Axel melihat ke arah Aluna.
Aluna memeluk erat tubuhnya.
"Apa kau kedinginan?
Aku bisa mematikan pendinginnya."
Aluna hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Axel tahu Aluna pasti masih memikirkan kejadian buruk yang menimpanya tadi.
Axel kembali menatap lurus ke arah jalanan.
Tidak lama, ia kembali melihat ke arah Aluna.
Ia menarik napas lega tatkala melihat Aluna sudah tertidur pulas.
Hal itu membuatnya merasa lebih tenang.
Karena jujur saja, gadis manapun pasti akan trauma jika mengalami hal itu.
Ia khawatir, sangat khawatir.
Axel tidak bisa membohongi dirinya lagi.
Kejadian malam ini seketika membuatnya melupakan semua kebenciannya terhadap Aluna.
Selama ini tujuannya adalah untuk membuat Aluna menderita, namun ia sama sekali tidak bisa membiarkan pria ataupun orang lain menyakiti Aluna.
Ia memang egois di dalam hal itu.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di hotel.
Axel keluar dari mobilnya.
Ia kemudian berjalan ke meja resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Aluna.
Setelah menerima kunci kamar Aluna, Axel kembali ke dalam mobilnya.
Ia melihat Aluna masih tidur pulas.
Tanpa berpikir, Axel langsung mengangkat tubuh Aluna dengan penuh hati-hati.
Karyawan hotel kemudian membantu membawa barang-barang Aluna ke kamarnya.
"Terima kasih." ucap Axel pada karyawan itu.
"Sama-sama Pak."
Karyawan itu kemudian pergi dari kamar Aluna.
Axel meletakkan tubuh Aluna ke tempat tidur..Ia kemudian menyelimuti Aluna dengan selimut.
Axel menatap wajah Aluna sebentar dan kemudian berniat meninggalkan Aluna.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Aluna.
"Jangan sentuh aku!"
Axel langsung berbalik dan mendekati Aluna yang sedang berbicara di dalam tidurnya.
Tubuh Aluna bergerak dengan gelisah.
"Jangan sentuh aku.
Aku mohon lepaskan aku!"
"Aluna..."
Axel memegang wajah Aluna dengan lembut.
__ADS_1
"Aluna, jangan takut.
Aku di sini bersamamu."
Mata Aluna perlahan terbuka.
Ia tersenyum saat menangkap Axel berada di dekatnya.
"Kak Axe.."
"Tidak ada seorangpun yang bisa menyentuhmu lagi.
Aku di sini bersamamu.
Tidurlah, hem?"
Aluna menganggukkan kepalanya dan kemudian perlahan menutup matanya.
Axel kemudian duduk di sofa yang berada tidak jauh dengan tempat tidur.
Mata Axel menatap Aluna.
Malam ini ia memutuskan tinggal di kamar Aluna untuk memastikan Aluna baik-baik saja.
Axel kembali berdiri dan mendekati ranjang.
Ia memperbaiki selimut Aluna.
Matanya menangkap sesuatu yang berada di leher Aluna.
Ia sangat tidak asing dengan benda itu.
Kalung pemberiannya pada saat hari jadi mereka.
Aluna ternyata masih menyimpannya.
Mengapa Aluna tidak membuangnya saja?
Ia sudah menikah dengan Russel dan pergi meninggalkannya.
Tapi mengapa ia masih memakai benda itu pemberiannya?
Yang ia yakini sebagai cincin pernikahan Aluna dan Russel.
Perasaan kecewa kembali merasuk ke dalam hati dan jiwanya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam perasaan itu, Axel kembali duduk di sofa.
Axel memijit keningnya.
Sebenarnya ia sudah mengantuk, hanya saja ia memaksa dirinya untuk tidak tidur.
Ia harus benar-benar memastikan Aluna tidur dengan tenang.
Setelah itu ia akan kembali ke kamarnya.
--
Matahari kian muncul menyinari setiap sudut kamar Aluna.
Aluna perlahan membuka matanya.
Tubuhnya masih lemah akibat kejadian yang menimpanya semalam.
Aluna berusaha membangkitkan tubuhnya.
Ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Ia kemudian melihat ke arah meja yang diatasnya terdapat makanan dan obat.
Aluna mendekati meja itu.
Ada kertas yang berisi tulisan tangan di sana.
Aluna membaca tulisan itu.
"Makanlah dan jangan lupa minum obatmu.
__ADS_1
Aku tidak akan mau bersaing dengan orang sakit."
Aluna tersenyum membaca tulisan tangan Axel.
Mengingat kejadian semalam saat Axel menyelamatkannya, bisa ia simpulkan Axel masih sangat peduli dengannya.
Bahkan Axel menjaganya sepanjang malam.
Aluna sempat tersadar kemarin.
Dan ia begitu bahagia saat melihat Axel tertidur di sofa kamarnya.
Sebesar apapun pria itu membencinya, tidak menampik bahwa Axel akan selalu melindunginya.
Aluna kemudian menyantap semua makanan itu.
Setelah selesai makan, Aluna langsung meminum obat yang dibawa oleh Axel.
Aluna melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya.
Mengingat perlakuan Aron kemarin, membuat Aluna sedikit jijik dengan tubuhnya.
Aluana membersihkan tubuhnya secara menyeluruh.
Bahkan ia melakukannya berulang kali.
Ia pikir, ia harus menghilangkan jejak Aron dari tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Aluna memandang wajahnya di depan cermin.
Terdapat luka di sisi bibirnya akibat tamparan keras yang diberikan Aron padanya.
Aluna mengabil salap di tasnya.
Ia mengoleskan salap itu pada sisi bibirnya.
"Akh.."
Sisi bibir Aluna terasa sangat perih.
Setelah selesai berpakaian, Aluna kembali membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
Walaupun tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya, namun hati dan pikirannya masih tertekan akibat kejadian buruk yang menimpanya.
Dirinya juga masih belum bisa bertemu dengan orang lain, termasuk Axel.
Untuk saat ini, ia hanya ingin sendri.
Aluna menaikkan selimut ke tubuhnya.
Ia kembali meneteskan air matanya.
Aluna tidak pernah menyangka bahwa kejadian saat Russel mencoba memperkosanya akan menimpanya kembali.
Beruntung kali ini ia juga selamat.
Axel menyelamatkannya tepat waktu.
Kalau tidak, ia tidak akan bisa mempertahankan hidupnya lagi.
Aluna memeluk erat selimutnya dan langsung mencurahkan semua perasaannya.
Mengapa ia selalu harus merasakan penderitaan seperti ini?
Dulu ia berusaha bertahan karena ia yakin akan menemukan kebahagiaanya kembali bersama Axel.
Namun sekarang apa yang harus ia pertahankan?
Axel sudah tidak mencintainya lagi, bahkan pria itu berniat untuk membuatnya menderita.
Semua perjuangannya selama ini sepertinya berakhir dengan sia-sia.
Kelak setelah ia sudah menyelesaikan ini semua, Aluna berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan terbebas dari semua beban yang selama ini dipikulnya
Ia akan hidup dengan keinginannya sendiri dan menentukan apa yang menjadi kebahagiaannya.
Hidup hanya sekali.
__ADS_1
Dan ia harus bahagia dengan kehidupan singkatnya itu.