
Aluna melihat handphonenya berdering.
Ia kemudian menjawab panggilan yang berasal dari Ariana itu.
"Halo Ariana..."
"Halo Aluna..
Sepertinya aku datang terlambat nanti.
Karena.."
Ariana menghentikan kalimatnya dan sedikit mempertimbangkan.
"Sebenarnya tadi James mengajakku makan malam.
Jika kamu keberatan, aku akan menolak ajakannya Aluna.
Aluna tersenyum.
Tentu saja ia tidak keberatan.
Malah sebaliknya ia senang mendengar hubungan Ariana dan James semakin dekat.
"Jangan.
Jangan lakukan itu Ariana.
Tentu saja aku tidak keberatan.
Aku bahkan sangat senang mendengarmu pergi bersama Kak James.
Dia pria yang baik Ariana.
Dengan senang hati aku menyetujui hubungan kalian berdua."
Ariana tersipu mendengar kalimat Aluna.
"Kami sama sekali belum berkencan Aluna."
"Dan sebentar lagi kalian akan berkencan bukan?
Aku akan menunggu hari itu tiba."
"Baiklah Ariana.
Aku pergi tidak akan lama.
Tunggu kedatanganku ya."
"Hem, selamat bersenang-senang Ariana."
Aluna masih menatap layar handphonenya.
Ia begitu bahagia mendengar hubungan Ariana dengan James.
Ini pertama kalinya Ariana membuka hatinya pada seorang pria.
Dan jatuh tepat pada pria baik yaitu James.
Ia berharap Ariana bisa hidup bahagia bersama James.
Aluna kemudian memasak makanan untuk makan malam.
Kali ini ia hanya masak satu porsi untuk dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudia, Aluna akhirnya selesai memasak.
Ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia memutuskan mandi terlebih dahulu sebelum makan malam.
Setelah selesai mandi, Aluna keluar dan langsung mengenakan pakaiannya.
Saat ini ia mengenakan piama tanktop bewarna merah dengan kardigan yang bewarna senada.
Aluna keluar dari kamarnya sambil memperbaiki pakaiannya.
Namun ia begitu terkejut melihat kehadiran seseorang.
Pria itu sedang duduk di sofa sambil tersenyum ke arahnya.
"Kau..
Bagaimana bisa kau masuk ke sini?"
Axel berdiri dan kemudian mendekati Aluna.
"Kata sandi yang kau gunakan masih sama.
Tanggal lahirku."
Axel tersenyum menyeringai.
"Ternyata selama ini kau masih belum melupakanku ya."
Axel kemudian menatap tubuh Aluna dari bawah hingga ke atas.
Sontak hal itu membuat Aluna menutup erat tubuhnya dengan kardigan yang digunakannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Aluna menatap Axel dengan tatapan tajam.
Sementara Axel hanya diam dan semakin mendekati Aluna yang saat ini hampir terpojok ke dinding.
Aluna melihat ke belakangnya.
Ia hampir terpojok ke dinding dan jarak Axel semakit dengannya.
"Jangan mendekat!"
__ADS_1
ucap Aluna memberi peringatan.
Namun Axel tetap tidak peduli, hingga akhirnya Aluna tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
Axel menaruh tangannya dinding dan kemudian menatap Aluna.
Ia perlahan mendekatkan wajahnya pada Aluna berniat mencium gadis itu.
Namun Aluna langsung menjauhkan wajahnya ke samping.
Aluna bergerak dan kemudian melepaskan dirinya dari Axel.
"Pergi!
Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
Aluna mulai melemparkan barang-barang di dekatnya pada Axel yang berniat mendekatinya lagi.
Hingga ia melempar remote TV yang mengenai dahi Axel.
Sontak ia langsung melihat ke arah Axel yang kesakitan akibat perbuatannya.
"Aluna..."
"Pergilah!"
Aluna berniat pergi ke kamarnya, namun ia tidak sengaja menyenggol vas bunga.
Ia tetap melanjutkan langkahnya hingga ia menginjak salah satu pecahan vas itu.
"Ahhh.."
Aluna mengerang kesakitan.
Kakinya berdarah.
Axel langsung menghampiri Aluna
"Aluna kakimu berdarah.
Aku akan mengobatinya."
Axel berniat mengangkat tubuh Aluna, namun Aluna langsung menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku!"
Tentu penolakan Aluna tidak membuat Axel menyerah begitu saja.
Ia langsung mengangkat tubuh Aluna dan membawanya ke sofa.
Setelah berhasil meletakkan tubuh Aluna, Axel mengambil kotak obat.
Axel membawa kotak obat itu dan mengeluarkan obat dari sana.
Ia meluruhkan tubuhnya ke bawah dan menarik kaki Aluna.
"Aku bisa melakukannya sendiri."
"Tenanglah."
Sementara Aluna mencoba menahan perih yang berasal dari kakinya.
Axel menyadari hal itu.
Ia kemudian menekan luka Aluna lebih lembut.
Aluna memperhatikan Axel yang tengah mengobatinya.
Tangannya terulur menyentuh dahi Axel yang terlihat membiru.
Lemparan keras darinya telah melukai Axel.
Ia sangat menyesalinya.
Axel menatap wajah senduh Aluna.
Tangannya kemudian menyentuh tangan Aluna dan membawanya tepat ke dadanya.
Ia perlahan menaikkan tubuhnya sejajar dengan Aluna.
Mata mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Axel menyentuh wajah Aluna dan mengelusnya dengan lembut.
"Aku sangat merindukanmu Luna."
Aluna hanya bisa diam tidak bersuara.
Sama halnya dengan Axel, dia juga merindukan pria itu.
Axel perlahan mendekatkan wajahnya pada Aluna.
Aluna masih tetap menatap mata Axel saat wajahnya perlahan mendekat.
Hingga akhirnya matanya tertutup saat benda kenyal berhasil menempel di bibirnya.
Axel menciumnya.
Dan ia sama sekali tidak bisa menolak ciuman Axel.
Axel melupkan kerinduannya pada Aluna.
Perlahan ia ******* bibir Aluna namun masih menunjukkan kesan lembut.
Tangan Aluna juga refleks memegang erat kemeja yang digunkan Axel.
Mereka berciuman dalam waktu yang cukup lama.
Hingga akhirnya bibir mereka terlepas satu sama lain.
Axel dan Aluna kemudian saling menempelkan kening.
__ADS_1
Axel tersenyum lebar dan ia kemudian mencium kening Aluna.
Ciumannya berpindah ke hidung mancung Aluna.
Dan terakhir kembali mendarat di bibir Aluna.
Rasanya ia tidak akan pernah bosan mencium bibir Aluna walaupun sudah berkali-kali.
Aluna menerima semua perlakuan manis Axel.
Saat ini ia hanya mengikuti kata hatinya.
Ia juga masih sangat mencintai Axel.
Mereka berdua saling menikmati momen kebersamaan mereka hingga tidak menyadari kehadiran Ariana dan James.
"Aluna....."
ucap Ariana dengan nada terkejut.
Ia begitu syok melihat Axel dan Aluna sedang berciuman.
Axel dan Aluna langsung menghentikan kegiatan mereka.
Aluna begitu terkejut melihat Ariana dan James yang berada tidak jauh darinya.
Sementara Axel hanya menyikapi kehadiran mereka dengan santai.
Ariana menghampiri Aluna dan kemudian duduk di sampingnya.
"Aluna kamu tidak apa-apa?
Apa dia melakukan sesuatu yang buruk padamu?
Dan apa yang terjadi dengan kakimu?"
"Aku mohon jawab aku Aluna."
"Aku, aku tidak apa-apa Ariana.
Tadi aku hanya tidak sengaja menyenggol vas bunga dan menginjak pecahannya."
"Dan kau, apa yang kau lakukan di sini?"
ucap Ariana dengan raut wajah kesal.
Axel kemudian berdiri.
Ia tidak ingin mendengar celotehan Ariana.
"Apa kau berniat menyakitinya lagi?"
James menghampiri Axel.
"Axe, apa yang kau lakukan di sini?
Bagaimana bisa kau masuk ke apartemen Aluna?"
Axel tidak menjawab pertanyaan keduanya.
Dan ia malah kembali mendekati Aluna.
"Aku pergi."
Axel kembali mencium Aluna di depan Ariana dan James.
Ariana dan James begitu terkejut melihat perbuatan Axel.
Begitu juga dengan Aluna.
Ia tidak pernah berpikir bahwa Axel akan melakukan hal senekat itu.
Axel kemudian meninggalkan apartemen Aluna.
Dan James mengikuti langkahnya dari belakang.
"Kamu tidak apa-apa Aluna?
Dan tadi...
Aku melihatmu berciuman dengannya.
Mengapa kamu tidak menghindarinya Aluna?"
"Aku hanya..."
Aluna memutus kalimatnya.
"Hanya tidak bisa melupakannya?"
Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah melakukan segala cara untuk melupakannya.
Tapi aku tetap tidak bisa Ariana.
Salahkah aku?'
"Kamu tidak salah sama sekali Aluna.
Cintamu padanya sangat besar.
Dan aku yakin akan sangat sulit untuk melupakannya.
Hanya saja aku tidak ingin dia menyakitimu kembali."
Aluna langsung memeluk tubuh Ariana dengan erat.
Perasaanya saat ini semakin besar untuk pria itu.
Tapi di balik itu, ia tahu akan ada konsekuensinya.
__ADS_1
Dimana ia harus siap untuk tersakiti nantinya.
Walaupun perlakuan Axel sangat berbeda dari sebelumnya, namun ia masih belum yakin bagaimana perasaan Axel terhadapnya.