
Setelah semua penumpang keluar satu per satu, Axel melepaskan pelukannya.
Aluna kemudian memundurkan langkahnya.
"Terima kasih."
Aluna tersenyum tipis pada Axe.
"Hem."
Axel kemudian berdehem.
"Ayo keluar, petugas bus menunggu kita di luar." ucap Axel.
Axel dan Aluna kemudian keluar dari bus.
Aluna tersenyum saat melihat pemandangan di depannya.
Saat ini mereka berada di kawasan Gunung Vernon, salah satu destinasi di Skagit Valley.
"Kau begitu menyukainya?"
tanya Axel.
"Hem.
Sudah lama aku ingin pergi ke sini.
Namun selalu terhambat karena pekerjaan.
Dan aku begitu bahagia akhirnya bisa datang ke tempat ini."
Axel melihat raut kegembiraan di wajah Aluna.
Gadis itu pasti benar-benar bahagia.
Aluna kemudian berjalan meninggalkan Axel.
Ia menyusuri setiap keindahan Gunung Vernon.
Axel perlahan mengikutinya dari belakang.
Aluna berlari kecil.
Ia mendapati batu yang begitu unik.
Ia langsung mengambil gambar batu itu menggunakan handphonenya.
"Hai.."
Aluna melihat ke arah sampingnya.
Seorang pria tersenyum padanya.
Hai.."
"Aku melihatmu sebelumnya.
Kita berada di bus yang sama tadi."
"Benarkah?
Maaf, aku tidak mengenalimu."
"Apa kau ke sini sendirian?
Atau mungkin kau bersama orang lain?"
"Hem..
Sebenarnya aku.."
Tiba-tiba Axel datang dan langsung memegang tangan Aluna.
Axel kemudian berdiri menghadap pria itu dan menutupi sebagian tubuh Aluna.
Aluna begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Axel.
Bahkan saat ini tangannya digenggam erat oleh Axel.
"Dia pergi bersamaku." ucap Axel pada pria itu dengan nada datar.
"Aku melihatmu di bus tadi.
Seharusnya kau tahu bahwa kami pergi bersama." tambah Axel.
"Apa kau Kekasihnya?" tanya pria itu.
"Ya, aku Kekasihnya."
Lagi-lagi Aluna begitu terkejut dengan ucapan Axel.
"Baiklah.
Aku akan melanjutkan perjalananku.
Senang bertemu dengan kalian."
Pria itu langsung meninggalkan Axel dan Aluna.
Sementara Aluna diam di balik tubuh Axel.
Ia masih berusaha mencerna setiap tindakan yang dilakukan Axel.
Axel melepaskan tangannya dari Aluna dan kemudian membalikkan badannya.
"Aku melakukannya karena tidak ingin siapapun berbuat macam-macam padamu.
Pria jahat ada dimana-mana.
Kau harus berhati-hati.
Kau mengerti?"
Aluna menaikkan wajahnya dan kemudian menganggukkan kepala.
Axel kemudian meninggalkan Aluna.
Ia mengerti Aluna pasti terkejut dengan tindakannya.
Sama dengan dirinya sendiri yang tidak pernah menyangka akan melakukan hal seperti tadi.
Jujur, walaupun selama ini ia yakin bahwa dirinya tidak akan jatuh kedua kali, ia tetap tidak bisa.
Aluna perlahan merobohkan benteng yang telah ia bangun selama ini.
Aluna tersenyum menatap punggung Axel yang berjalan ke depan.
Perasaannya bahagia mendengar ucapan Axel tadi.
__ADS_1
--
Axel dan Aluna berjalan berdampingan.
Angin berhembus mengenai keduanya.
Axel melihat ke arah Aluna.
Hawa dingin pasti menembus kulit gadis itu.
Aluna menyadari tatkala Axel memperhatikannya sedari tadi.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Axel.
Keduanya saling menghentikan langkah dan berhadapan satu sama lain.
"Kak Axe, terima kasih banyak.
Terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu.
Maaf aku belum sempat mengucapkan terima kasih."
Axel menatap lekat kedua manik itu.
Aluna kembali mengucapkan sebutan itu padanya.
Sebutan yang dulu digunakan Aluna setiap kali memanggilnya.
Axel melangkahkan kakinya mendekati Aluna.
Ia kemudian memperbaiki syal dan baju hangat yang dikenakan oleh Aluna.
"Berjanjilah kau tidak akan pergi kemanapun tanpa memberitahuku lagi.
Aku begitu khawatir sampai aku harus mengikutimu ke sini."
Axel mengatakan yang sejujurnya pada Aluna.
Ia datang ke sana karena ia begitu khawatir dengan gadis itu.
Aluna tersenyum memandang Axel.
"Hem, aku berjanji."
Tiba-tiba perut Aluna berbunyi menandakan ia begitu kelaparan.
"Kau lapar?"
Aluna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Baiklah, kita akan mencari makanan di sekitar sini."
Mereka berdua kemudian kembali berjalan.
Akhirnya mereka berhasil menemukan tempat makan di tempat itu.
Tempat yang cukup besar dengan nuansa sederhana.
Beberapa saat kemudian, Axel datang dan membawakan makanan untuk Aluna.
"Makanlah."
Aluna melihat ke arah nasi, sup dan teh hangat yang dibawa oleh Axel.
"Kau harus memakan semua itu agar tubuhmu tetap hangat."
Aluna tersenyum.
Axel menyadari hal itu.
"Pesananku belum datang.
Tapi kau tidak boleh menungguku.
Kau harus makan terlebih dahulu."
Aluna masih belum memakan makanannya.
"Kau harus segera menghabiskan makananmu Luna."
"Hem.."
Aluna menuruti perkataan Axel.
Ia perlahan menikmati makanannya.
Axel tersenyum dan kemudian menyilangkan kedua tangannya menatap Aluna yang tengah makan.
Ada rasa puas di hatinya tatkala melihat Aluna makan begitu lahap.
Ya, tentu saja.
Aluna sudah kelaparan sejak tadi.
Setelah makan, Aluna dan Axel keluar dari tempat makan itu.
Aluna menghentikan langkahnya.
Matanya menatap ke arah rangkaian bunga lily yang dijual di sana.
Axel menyadari Aluna tidak berada di sampingnya.
Ia kemudian membalikkan badannya.
Matanya mengikuti arah pandang Aluna yang melihat bunga lily terpajang di sana.
Axel kemudian menghampiri Aluna.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa.
Ayo kita kembali."
Mereka kemudian kembali berjalan menuju bis yang mengantar mereka.
"Aluna.."
"Hem.."
"Aku akan pergi ke toilet sebentar.
Kau harus menungguku di sini.
Kau tidak boleh pergi kemana-mana.
Kau mengerti?"
"Iya, aku akan menunggumu di sini."
__ADS_1
"Bagus."
Axel kemudian melangkah pergi.
Namun sebenarnya ia tidak pergi ke toilet.
Melainkan pergi ke tempat yang menjual rangkaian bunga lily tadi.
Axel tahu bahwa Aluna begitu menyukai bunga lily.
Dulu ia juga selalu membelikannya untuk Aluna.
Axel membawa rangkaian bunga lily di balik tangannya.
Ia ingin memberikan kejutan untuk Aluna.
Ia kemudian menghampiri Aluna yang tengah menunggunya.
"Kau menunggu lama?"
"Tidak.
Aku pikir Kakak hanya pergi sebentar saja."
Aluna memalingkan wajahnya sebentar ke arah bus yang sudah datang menjemput mereka.
Kali ini ada banyak bus yang menjemput.
Saat pandangannya kembali, ia begitu terkejut.
Ia melihat rangkaian bunga lily berada di hadapannya.
Aluna menaikkan pandangannya pada Axel.
Pria itu tengah menyodorkan bunga itu padanya.
"Untukku?"
"Tentu saja."
Aluna tidak tahu harus berkata apa lagi.
Ia hanya bisa tersenyum memandangi bunga itu.
"Kau akan membiarkan tanganku terus seperti ini?"
Aluna terkekeh geli.
Ia kemudian mengambil bunga itu dari tangan Axel.
Aluna mencium aroma bunga lily itu.
Lagi-lagi ia tersenyum.
Tentu saja ia begitu bahagia.
Apalagi bunga itu sangat spesial mengingat Axel yang memberikan padanya.
"Terima kasih Kak."
"Hem.
Kau masih sangat menyukai bunga itu ternyata."
"Kakak masih mengingatnya?"
Tentu saja Axel masih mengingatnya.
Kenangan buruk yang ditinggalkan Aluna membuat dirinya sama sekali belum melupakan semua hal tentang gadis itu.
Axel mengalihkan pandangannya ke arah lain dan tidak menjawab pertanyaan Aluna.
Aluna menyadari hal itu.
Ia tahu pertanyaannya kembali mengingatkan Axel akan masa lalu mereka.
Dan Axel pasti sangat tidak menyukainya.
"Tuan, Nona apa kalian akan ikut bersama kami menggunakan bus?"
"Ya Pak.
Kami akan masuk ke dalam bus itu."
"Baiklah.
Silahkan masuk.
Semua orang telah menunggu."
Axel dan Aluna kemudian masuk ke dalam bus itu.
Kali ini tersedia banyak kursi kosong.
Aluna kemudian duduk di salah satu kursi dan Axel menyusul duduk di sampingnya.
Setelah semua penumpang masuk, bus itu kemudian melaju.
Aluna memegang erat bunga di tangannya.
Ia kemudian melihat ke arah Axel yang sedang menatap lurus ke depan.
"Boleh aku tahu apa alasan Kakak memberikan bunga ini padaku?"
Axel menatap manik Aluna yang terlihat senduh.
"Tidak ada alasan khusus.
Aku melihatmu terus menatap ke arah bunga itu saat kita keluar dari tempat makan.
Jadi aku pikir kau begitu menginginkannya."
"Benarkah?
Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih Kak."
"Hem.."
Ada sedikit perasaan kecewa di hati Aluna saat mendengar jawaban Axel.
Ia sempat berpikir bahwa Axel masih memiliki perasaan padanya.
Namun semua itu hanya harapannya belaka.
Ia pikir ia bodoh karena berpikiran hal yang sangat jauh seperti itu.
Axel memang peduli dengannya.
Tapi bukan berarti pria itu masih mencintainya.
__ADS_1
Tujuan Axel untuk membuatnya menderita terlintas di pikiran Aluna.
Ya, pada akhirnya mereka tidak akan pernah bersama lagi.