
Aluna masuk ke dalam kamarnya dengan wajah berseri-seri.
Tubuhnya bersandar di pintu sambil memegang dadanya yang berdetak begitu kencang.
Apa yang ia lakukan bersama Axel hari ini terasa seperti mengulang momen-momen mereka yang telah lama hilang.
Aluna menyunggingkan senyumnya.
Ia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Beberapa menit kemudian, Aluna sudah selesai mengganti pakaiannya menjadi piama tidur.
Ia kemudian keluar dari kamar mandi.
"Sepertinya hari ini kau begitu bersenang-senang dengan Kekasihmu Aluna.."
Aluna membalikkan tubuhnya.
Ia begitu terkejut melihat Russel berada di kamarnya.
Pria itu duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya.
Awalnya Russel tersenyum padanya namun perlahan senyumnya menghilang.
Mata Russel juga menatap tajam ke arahnya.
Russel kemudian berdiri dan kemudian mendekat padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?
Bagaimana bisa kau masuk ke kamarku?"
Russel tersenyum menyeringai.
"Kau lupa kalau kita ini Suami Istri?
Tentu aku bisa masuk ke kamar Istriku.
Lagian kau tahu sendiri bahwa aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau."
Aluna semakin memundurkan langkahnya.
Ia langsung menutupi tubuhnya, saat melihat Russel memandang tubuhnya dengan tatapan aneh.
Dan bodohnya saat ini ia memakai piama yang cukup terbuka.
"Keluar!" ucap Aluna dengan nada tinggi.
Russel semakin mendekatinya.
"Aku bilang keluar!
Kalau kau tidak mau keluar, aku akan teriak agar petugas keamanan mengeluarkanmu dari sini."
"Petugas keamanan tidak akan mengganggu kegiatan suami istri sayang."
"Oh baiklah, lebih baik aku yang akan keluar dari kamar ini."
Aluna melangkahkan kakinya menuju pintu.
Namun sebelum ia melangkah jauh, Russel menarik tangannya.
Hingga tubuhnya berakhir di dalam pelukan Russel.
"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu Aluna."
Aluna seketika ketakutan mendengar ucapan Russel.
Ia berusaha melepaskan tubuhnya dari Russel.
Hal tidak boleh terjadi.
Russel tidak boleh menyentuhnya.
"Lepaskan aku!"
Aluna menggerakkan tubuhnya sehingga membuat Russel cukup kewalahan.
Russel kemudian memajukan wajahnya, berniat mencium Aluna.
Aluna langsung menjauhkan wajahnya.
Namun hal itu tidak membuat Russel menyerah, ia tetap memaksa Aluna.
Aluna memukul-mukul tubuh Russel, agar pria itu berhenti.
Russel tidak bisa menahan dirinya lagi.
__ADS_1
Ia langsung menarik tangan Aluna dan membawanya ke tempat tidur.
Aluna ketakutan saat melihat Russel bergerak naik ke tempat tidur.
"Tolong!"
Aluna berteriak keras.
"Tidak akan ada yang bisa mendengarmu Aluna, termasuk Pria itu.
Ruangan ini kedap suara.
Selama ini aku sudah terlalu baik padamu sehingga membuatmu berani berhubungan lagi dengan pria itu.
Aku akan membuat pria itu semakin membencimu!"
Russel bergerak cepat dan kemudian menarik tubuh Aluna.
Saat ini Aluna sudah berada di bawah tubuhnya.
"Lepaskan aku!
Jika kau berani menyentuhku, kali ini aku akan benar-benar mati."
"Aku sama sekali tidak perduli lagi."
Russel mulai melakukan aksinya.
Namun lagi-lagi Aluna bergerak berusaha melepaskan dirinya.
Walaupun dalam keadaan ketakutan, Aluna tetap berusaha mencari cara agar bisa lepas dari Russel.
Ia kemudian menendang bagian bawah Russel, hingga akhirnya membuat pria itu melepaskannya.
Russel merintih kesakitan.
Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Aluna.
Ia langsung turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar.
Russel melihat Aluna pergi.
Ia kemudian melangkahkan kakinya mengejar Aluna.
"Aluna!"
Ia melangkah dengan cepat agar tidak tertangkap oleh Russel.
Namun di saat yang sama, ia bertemu dengan Axel yang keluar dari kamarnya.
Axel membelalakkan matanya saat melihat kondisi Aluna saat ini.
Dengan baju yang sedikit terbuka dan wajah yang dipenuhi air mata.
Aluna langsung memperbaiki pakaiannya.
Axel berniat menghampiri Aluna, namun langkahnya terhenti saat melihat Russel keluar dari kamar Aluna.
"Aluna..."
Russel tersenyum saat melihat Axel berada di sana.
Ia kemudian menghampiri Aluna dan kemudian menarik pinggang Aluna mendekat padanya.
"Sayang..
Maafkan aku jika tadi aku sedikit melukaimu.
Tapi aku janji tidak akan melakukannya lagi.
Ayo kita lanjutkan di dalam."
Axel mengepal tangannya begitu erat.
Hatinya begitu panas melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Aluna dan Russel.
Hal itu kembali mengingatkannya dengan penghianatan yang dilakukan oleh Aluna padanya.
Aluna sama sekali tidak menanggapi ucapan Russel.
Matanya hanya tertuju pada Axel yang saat ini menatapnya dengan tatapan marah.
Tersirat kekecewaan juga di sana.
Mata Aluna berkaca-kaca.
Ia sangat ingin menjelaskan pada Axel bahwa apa yang sedang dipikirkan pria itu tidaklah benar.
__ADS_1
"Maaf aku mengganggu kalian.
Kalian boleh melanjutkannya."
Axel langsung pergi meninggalkan mereka.
Dengan perasaan berkecamuk pastinya.
Aluna melangkahkan kakinya berniat mengejar Axel.
Namun tangan Russel menahan tubuhnya.
"Kau lihat Aluna?
Aku sudah berhasil membuatnya semakin membencimu.
Kali ini tidak akan ada alasan baginya untuk kembali bersamamu.
Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Tapi aku menghargai usahamu itu sayang."
Russel kemudian meninggalkan Aluna yang diam dengan tatapan kosong.
Tubuh Aluna seketika terluruh ke lantai.
Ia menangis sejadi-jadinya.
Ia tidak menyangkan hal ini kembali menimpanya.
Setelah mengalami kebahagiaan, ternyata ia kembali terluka.
Mengapa takdir tidak pernah mengizinkannya bersatu dengan cintanya?
Russel masuk ke dalam mobilnya.
Ia tersenyum tatkala mengingat ekspresi yang ditunjukkan Axel tadi.
Akhir-akhir ini ia mencari informasi tentang Axel sejak Alda memberitahunya saat itu.
Awalnya ia tidak percaya.
Namun akhirnya ia mencoba mencari tahu siapa pemilik perusahaan yang baru bekerja sama dengannya.
Dan hasilnya sangat mengejutkan.
Kebenaran yang membuatnya bertanya-tanya perlihal mengapa seorang Axel yang merupakan pria miskin bisa berubah menjadi pemilik salah satu perusahaan besar di Indonesia.
Namun hal itu seketika membuatnya berhenti penasaran saat mengetahui bahwa Aluna pergi berdua dengan Axel
Hal itu tentunya membuatnya sangat marah.
Hingga ia memutuskan untuk mendatangi Aluna dan melakukan satu-satunya cara yang bisa membuat gadis itu tidak akan bisa kembali dengan Axel.
Dan lihat, apa yang ia lakukannya cukup berhasil.
Walaupun ia tidak berhasil menyentuh Aluna
Sementara Axel melajukan mobilnya begitu cepat, perasaannya membuat ia bahkan tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
Ia marah, sangat.
Membayangkan Aluna disentuh oleh Russel membuat darahnya mendidih.
Ia masih tidak bisa menerimanya walaupun ia tahu mereka berdua Suami Istri.
Tentu mereka sudah melakukan hal yang biasa dilakukan pasangan pada umumnya.
Tapi itu sungguh menyakitinya.
Axel memukul setir dengan keras.
"Kenapa?
Kenapa kau melakukan semua ini padaku Aluna?"
Selama ini ia pikir ia bisa melupakan Aluna.
Perubahan di dalam dirinya membuatnya yakin tidak akan jatuh kedua kalinya.
Namun hal itu berakhir dengan sia-sia.
Aluna berhasil merobohkan pertahanan yang telah ia bangun selama 2 tahun.
Kebenciannya kian berubah menjadi perasaan ingin memiliki.
Namun di saat yang sama, ia begitu benci dengan perasaan itu.
__ADS_1
Karena ia tahu itu tidak akan pernah mungkin berhasil.