
Keesokan harinya, seorang wanita paruh baya mendatangi apartemen Russel.
Gwen tersenyum tatkala melihatnya.
Sekarang ia tidak akan kesepian lagi.
"Halo Nona Gwen.
Saya Maria, yang bertugas melakukan seluruh pekerjaan rumah."
"Halo Nek.
Senang bertemu dengan Nenek."
"Sebenarnya saya bisa melakukannya sendiri Nek.
Jadi Nenek tidak perlu melakukan apapun."
Maria megerutkan keningnya.
"Tidak, saya tidak akan membiarkan Nona melakukan pekerjaan apapun.
Nona sedang hamil.
Apalagi Tuan Russel sudah memerintahkan saya untuk bekerja.
Jika beliau tahu, dia akan marah besar pada saya.
Nona tidak tahu bagaimana Tuan Russel marah."
"Tentu saja aku tahu Nek.
Dia itu pria yang sangat pemarah dan egois.
Aku pikir dia tidak akan memiliki teman dengan sifat seperti itu."
Maria terkekeh mendengar kalimat yang dilontarkan Gwen.
"Tuan Russel memang pria yang seperti itu Nona.
Namun dibalik sifatnya seperti itu, ia memiliki hati yang baik.
Hanya saja orang tidak bisa menilainya karena pribadinya yang angkuh dan tergolong pemaksa."
"Benarkah Nek?
Aku tidak yakin dia memiliki sisi baik."
"Nona pasti akan mengetahuinya suatu saat nanti."
"Apa Nenek begitu mengenalnya?"
Maria menganggukkan kepalanya.
"Saya sudah bekerja di Keluarga William sejak Tuan Russel masih bayi.
Seperti sekarang, waktu itu saya melakukan segala pekerjaan rumah.
__ADS_1
Sampai akhirnya Tuan Russel tumbuh dewasa saya masih bekerja di sana.
Namun karena suatu alasan, saya akhirnya berhenti dari sana."
"Wajar saja jika Nenek mengenalnya begitu baik."
"Tapi aku pikir, akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengenal pria itu."
Maria kembali terkekeh mendengar ucapan Gwen.
"Baiklah sekarang waktunya untuk memasak makanan yang bergizi untuk Nona.
Tuan Russel mengatakan bahwa Nona harus makan makanan yang sehat untuk membantu perkembangan janin."
"Dia mengatakan seperti itu Nek?"
"Hem..
Diam-diam Tuan Russel sangat perhatian dengan anaknya."
(Benarkah?
Jika ia memang perhatian dengan anaknya, mengapa selama ini ia mengurungku di tempat ini?
Itu sama saja dengan menyakiti anakku.)
"Apa Nona bisa memasak?"
Gwen menganggukkan kepalanya.
"Bukan hanya bisa, tapi aku juga suka memasak Nek.
"Benarkah?
Kalau begitu, saya yakin Nona akan menjadi Ibu yang baik nantinya.
Nona akan memasak makanan untuk si kecil.
Dan Tuan Russel akan sangat senang pastinya.
Anaknya tidak akan merasakan apa yang ia alami dulu."
"Maksud Nenek?"
Maria kemudian mendekati Gwen.
Ia pikir ia harus menceritakan kisah hidup Russel pada Gwen.
Bagaimanapun gadis itu adalah Ibu dari anaknya.
"Tuan Russel lahir di keluarga yang kaya raya.
Kedua orang tuanya memiliki banyak harta dan kekayaan.
Namun hal itu tidak membuat Tuan Russel menerima banyak cinta dan kasih sayang dari orang tuanya.
Sejak bayi, kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja dan sama sekali tidak ada waktu untuknya.
__ADS_1
Akibatnya Tuan Russel diasuh dan dirawat oleh pengasuh bayi.
Karena tidak menerima kasih sayang sedikitpun dari orang tuanya, Tuan Russel tumbuh menjadi anak yang angkuh dan pemarah.
Namun ia tidak pernah sedikitpun marah atau berperilaku kasar pada kami Nona.
Karena ia tahu bahwa kami yang selalu memberikan kasih sayang yang tidak diberikan oleh kedua orang tuanya.
Dia sangat membenci kedua orang tuanya.
Bahkan Nyonya Liana sendiri tidak pernah memasak makanan untuknya.
Pernah sekali ia meminta Nyonya Liana memasak makanan untuknya, saat itu beliau tidak menolak ataupun mengiyakan permintaannya.
Akibatnya Tuan Russel tidak makan dan menunggu sampai Ibunya pulang.
Namun Nyonya Liana tidak pulang dan memilih pergi ke luar negeri untuk pertemuan bisnis.
Keesokan harinya Tuan Russel sakit dan semenjak itu ia tidak pernah mengharapkan apapun dari orang tuanya."
"Nona saya memberitahu anda tentang ini agar Nona tidak salah menilai Tuan Russel.
Sifat buruk yang ia miliki dikarenakan ia tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.
Saya begitu mengerti perasaannya."
Perlahan kebenciannya pada Russel mulai berkurang.
Wajar saja jika Russel memiliki sifat yang arogan.
Dia sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang yang dimiliki anak pada umumnya.
Bahkan ia jauh lebih beruntung dari Russel.
Ia selalu mendapatkan kasih sayang dari Ibu panti dan teman-temannya walaupun ia tidak memiliki orang tua.
"Aku juga mengerti Nek
Sangat berat rasanya jika harus hidup tanpa kasih sayang orang tua.
Aku adalah yatim piatu yang tinggal di panti asuhan.
Tapi aku selalu mendapat kasih sayang dari orang-orang di sekitarku.
Dibandingkan dia, aku jauh lebih beruntung Nek.
Dan aku berjanji akan selalu memberikan kasih sayang pada anakku.
Aku sangat menyayanginya Nek."
Gwen mengelus perutnya.
"Dan saya yakin Tuan Russel juga begitu menyayanginya."
Gwen hanya bisa tersenyum tipis.
Jika memang Russel juga menyayangi anaknya, kelak anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
Ia sangat mensyukuri hal itu.