Revenge For Love

Revenge For Love
Dendam dan Cinta


__ADS_3

3 Tahun kemudian.


Setelah 3 tahun lamanya, Axel bisa membuktikan bahwa ia bisa menjalankan perusahaan dengan sangat baik.


Di bawah kepemimpinannya, perusahaan berjalan dengan maju pesat.


Simon juga selalu bangga dengan hasil kerja keras Axel.


Axel dikenal sebagai pemimpin yang kerja keras dan pantang menyerah.


Sehingga mereka mampu memperluas kerja sama dengan perusahaan besar lainnya.


Bahkan mereka berhasil mendirikan cabang perusahaan di Amerika.


Itu juga merupakan salah satu upaya pembalasan dendam Axel.


Ia ingin menghancurkan Aluna dan Russel.


Axel dan James sudah seminggu berada di Amerika.


Axel memutuskan untuk menjalankan perusahaan mereka di sana.


Untuk perusahaan di Indonesia, sementara waktu dijalankan oleh Vallie dan dibantu oleh Mark, orang kepercayaan Simon.


Namun walaupun begitu, Axel selalu memantau perkembangan perusahaan mereka.


Dan setelah rencananya untuk menghancurkan Aluna berhasil, ia akan kembali lagi ke Indonesia.


--


Seorang Pria sedang memandang ke arah jendela dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya.


"Axe.."


Axel membalikkan badannya.


"Aku sudah berhasil membuat kontrak kerja sama dengan perusahaan Russel."


"Itu bagus James.


Untuk sementara, biarkan kerja sama ini berjalan dengan normal. Jangan sampai mereka mengetahui niat kita.


Setelah mendapatkan kepercayaan mereka, kita akan menghancurkan perusahaan itu."


"Informasi yang aku dapatkan bahwa perusahaan Russel adalah perusahaan yang besar di Amerika. Perusahan mereka juga memiliki banyak cabang di kota-kota Amerika."


"Itu tidak masalah James. Kita bisa menanganinya.


Oleh karena itu, cara yang paling tepat untuk menghancurkan perusahaan itu adalah dengan menghancurkan kekuatan utama yang dimiliki mereka."


"Kekuatan utama perusahaan Russel berasal dari perusahaan cabang Kota New York.Manajemen dan kualitas pemasaran mereka sangat bagus.


Sistem organisasi dan kepemimpinan mereka juga sangat berkualitas.


Jadi tidak heran, keberhasilan perusahaan Russel berasal dari New York."


"Siapa pemimpin Perusahaan cabang Kota New York?"


James menarik napas panjang.


"Aluna.


Aluna yang menjalankan perusahaan cabang New York."


Axel menyunggingkan senyumnya.


"Benarkah?


Aku ingin melihat sampai dimana kemampuan gadis itu dalam mempertahankan kekayaannya."


James bisa melihat raut "dendam" di wajah Axel, sama seperti 3 tahun yang lalu.


"Ngomong ngomong, apa kau sudah tahu bahwa Vallie akan datang ke sini?"


"Apa?"


Axel sangat terkejut dengan ucapan James barusan.


"Kau sepertinya sama terkejutnya denganku.


Aku juga baru mengetahuinya tadi.


Sepertinya dia sedang berada di perjalanan menuju kemari."


"Dia memang gadis yang keras kepala."


Kemarin Vallie memang sudah memberitahunya lewat pesan, namun ia melarang kedatangan gadis itu karena saat ini perusahaan sedang membutuhkannya.

__ADS_1


"Dia sepertinya sangat merindukanmu Axe."


"Wajar saja Vallie merindukanku. Aku adalah Kakaknya James."


James mendekat pada Axel.


"Apa kau belum juga menyadari perasaannya padamu Axe?"


Axel hanya diam, tidak menjawab pertanyaan James.


"Vallie menyukaimu Axe."


Axel hanya tersenyum dan kemudian meninggalkan James di ruangannya.


James menatap kepergian Axel dengan kesal.


"Kau memang sudah berubah Axe.


Tapi kebiasaanmu itu masih sama seperti dulu!"


Sebenarnya Axel sudah tahu bahwa Vallie menyukainya.


Tapi ia tidak mengambil pusing hal itu. Karena ia sudah menganggap Vallie sebagai Adiknya.


Ia tidak memiliki perasaan apapun pada Vallie, selain perasaan Kakak terhadap Adiknya.


Lagian ia masih tidak ingin memberikan hatinya untuk seorang gadis.


Rasa sakit yang ia terima dulu membuatnya tidak ingin menjalin hubungan pada siapapun.


Walaupun ia sering dikabarkan dekat dengan banyak gadis, namun jujur saja ia hanya mengganggap itu pertemanan belaka.


Memang banyak gadis yang berusaha mendekatinya.


Ia dengan senang hati menerima segala bentuk perhatian mereka, namun tidak sampai menjalin hubungan.


Axel tidak pernah menganggapnya serius.


Sehingga banyak dari mereka akhirnya memilih untuk menyerah.


Apa yang dialaminya 3 tahun lalu memang sangat mengubah Axel.


--


Saat ini Aluna, Ariana, Alda dan Russel sedang makan bersama di meja makan.


Semuanya tampak sibuk menikmati makanannya.


Beberapa saat kemudian, Russel selesai manghabiskan makannya.


Ia kemudian beranjak dari duduknya tanpa mengatakan apapun.


Alda menatap kepergian Russel.


Ia kemudian menatap ke arah Aluna yang terlihat baik-baik saja dengan hal itu.


Alda mengepalkan tangannya.


Ia sudah sangat muak dengan semua ini.


Setelah selesai makan, Alda menghampiri Aluna yang berada di dalam kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan Aluna?


Sampai kapan kamu akan membiarkan Suamimu seperti itu?"


"Dia bebas melakukan apapun Mi.


Aku tidak ingin mencampuri urusannya."


ucap Aluna dengan nada santai.


"Kamu Istrinya Aluna!


Mengapa kamu membiarkan Russel membawa wanita lain ke rumah ini?"


Ya, Russel sering membawa wanita lain ke rumah.


Setelah urusan Russel dan wanita itu selesai, Russel akan memberikan banyak uang pada mereka agar tidak memberitahu hal itu ke media.


Tapi hal itu tidak mempengaruhi Aluna.


Ia membiarkan hal itu terjadi, karena ia tidak mencintai Russel.


Dan bahkan hal itu bagus untuknya.


Dengan begitu, Russel tidak akan menuntut kewajibannya sebagai seorang Istri.


Sejak malam itu, Aluna meminta Ruseel untuk tidur terpisah.

__ADS_1


Ia bahkan mengancam Russel untuk melakukan perbuatan bunuh diri lagi jika Pria itu tetap memaksanya melakukan hubungan Suami Istri.


Dan bersyukur, Russel menyetujuinya sampai sekarang.


Selama 3 tahun Russel tidak pernah lagi berbuat macam-macam padanya.


Russel hanya memintanya untuk bekerja di perusahaan agar media tidak curiga dengan mereka.


Dan ia menyetujui hal itu.


Aluna juga tidak ingin di rumah saja.


Hal itu sangat membosankan pastinya.


"Aku tidak mencintainya Mi.


Biarkan dia berhubungan dengan wanita manapun."


"Bagaimana jika salah satu dari mereka hamil? Apa kamu sanggup menghadapinya?


Media akan menganggapmu sebagai Istri yang tidak berguna.


Bahkan Russel akan menendangmu dari rumah ini!"


"Aku sama sekali tidak peduli Mi.


Itu yang aku inginkan.


Aku ingin Russel segera menceraikanku."


Alda yang tidak bisa menahan emosinya lagi, menampar pipi Aluna.


"Apa menurutmu pernikahan adalah mainan Aluna?


Bagaimana bisa kamu menginginkan perceraian, hah? "


"Russel yang mengajarkanku hal itu padaku Mi.


Dia memaksaku untuk menikah dengannya dengan ancaman akan membunuh Kekasihku.


Dan akupun menerimanya. Karena aku takut terjadi apa-apa pada Kak Axel.


Aku bahkan sangat membenci Russel.


Dia mengambil semuanya dariku, termasuk kebahagiaanku."


Mata Aluna mulai berkaca-kaca.


Ia mengingat penderitaan yang ia alami selama 3 tahun ini.


Setiap malam Aluna akan menangis karena merindukan Axel.


Rasa itu masih sama.


Ia masih sangat mencintai Axel.


"Lupakan Axel Aluna.


Kamu dan dia sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Bahkan sekarang kamu sudah menjadi Istri Russel."


"Aku tidak akan pernah melupakan Kak Axel Mi.


Kak Axel adalah alasanku bertahan dengan semua ini.


Setiap kali aku membuka mata di pagi hari, aku berharap suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya."


"Berapa kali Mami harus mengatakan padamu, bahwa kamu dan Axel memang tidak ditakdirkan untuk bersama?"


"Takdir siapa yang tahu Mi?


Aku yakin Tuhan akan mempertemukanku dengannya walau hanya sekali saja.


Jika kami memang tidak berjodoh, selamanya aku akan tetap mencintai Kak Axel. "


Alda memandang Aluna dengan tatapan sinis.


Usahanya untuk membuat Aluna terpisah dengan Axel memang berhasil.


Namun Aluna sama sekali tidak melupakan Axel.


Jika hal ini terus terjadi, semua usahanya akan gagal total.


Dan yang paling ia takutkan adalah Russel memiliki anak dari wanita lain


Benar-benar bodoh, pikirnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2