
Sebelum kembali, Axel membelikan bunga lily untuk Aluna.
Itu adalah salah satu kejutan yang akan diberikannya hari ini.
Kejutan utamanya adalah ia akan mengajak Aluna makan malam di suatu tempat dengan pemandangan yang begitu indah.
Ia telah mengaturnya sebelum ia pergi perjalanan dinas.
Di sana ia akan mengutarakan semua perasaannya pada Aluna.
Ia juga akan meminta maaf atas apa yang ia lakukan selama ini.
Nyatanya ia tidak bisa melupakan Aluna.
Axel masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya hari ini kau akan memberikan kejutan pada Aluna."
ucap James setelah melihat bunga yang berada di tangan Axel.
"Kau memang cukup pandai dalam menebak James.
Iya, kau benar.
Hari ini aku akan benar-benar memutuskan untuk memulai awal yang baru dengan Aluna"
"Semoga kejutan yang kau berikan untuk Aluna nantinya berjalan dengan baik."
"Terima kasih James.
Aku yakin kelak kau juga akan melakukan kejutan-kejutan manis pada Ariana."
"Tentu saja.
Di saat nanti aku benar-benar yakin pada Ariana, aku akan melamarnya."
"Pantasan saja kau belum juga mengajaknya berkencan."
"Hem, aku pikir aku harus langsung melamarnya Axe.
Agar ia tidak bisa lari lagi dengan pria lain."
"Dasar kau James!"
--
Axel memarkirkan mobilnya di depan gedung apartemen Aluna.
Ia tersenyum melihat ke arah bunga yang telah ia beli.
Ia akan memberikannya pada Aluna saat mereka makan malam nanti.
Axel kemudian berjalan dengan raut wajah yang begitu gembira.
Ia tidak sabaran untuk bertemu dengan Aluna.
Ia ingin segera bertemu dengan gadis itu.
Beberapa saat kemudian, ia sudah sampai di depan apartemen Aluna.
Ia langsung menyentuh bel.
Tidak lama, pintu itu langsung terbuka.
Aluna berdiri di hadapannya dengan tatapan datar.
Axel tersenyum pada Aluna.
"Aku pulang!"
Aluna hanya memberikan respon senyuman tipis.
Axel kemudian memeluk erat tubuhnya.
Jauh di dalam lubuk hati Aluna, ia begitu menikmati momen ini.
Bahkan ia tidak mau momen ini cepat berlalu.
Hanya saja ia sudah memutuskan untuk melepaskan Axel.
Axel menatap Aluna dengan tatapan penuh cinta.
"Kamu sudah lama menungguku?"
Aluna tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Masuklah Kak.
Aku sudah memasak makan malam untuk kita."
"Tidak, tidak sayang.
Sepertinya kita harus makan di luar.
Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
ucap Axel.
Aluna menatap senyuman di wajah Axel.
__ADS_1
Sejak tadi senyuman menghiasi wajah tampan Axel.
Axel memegang tangan Aluna, berniat mengajak Aluna untuk pergi ke tempat tujuan mereka.
Namun Aluna menahan tangannya sehingga membuat mereka masih berdiri di tempat yang sama.
Aluna menolehkan wajahnya pada Aluna.
"Kak.."
"Ada apa Aluna?
Apa yang terjadi denganmu Aluna?
Apa kamu sakit, hem?"
"Kamu terlihat berbeda dari biasanya.
Wajahmu juga sangat pucat sayang."
"Aku baik-baik saja Kak."
"Kamu yakin?"
"Hem."
"Aku ingin mengatakan sesuatu pada Kakak."
Axel tersenyum.
"Katakan saja sayang."
"Aku tidak bisa kembali bersamamu Kak."
Senyuman Axel seketika berubah setelah mendengar ucapan Aluna.
"Aku baru menyadari bahwa kita tidak mungkin bersama.
Lagian aku juga sudah mempunyai Suami."
"Luna, aku tahu kamu sedang bercanda.
Kamu pasti ingin menjahiliku."
"Aku mengatakan yang sesungguhnya Kak."
Axel melihat kesungguhan dari mata Aluna.
Ia kemudian mendekat pada gadis itu.
"Luna, apa maksud perkataanmu itu sayang?
Bukankah kita sudah saling memutuskan untuk kembali bersama?
"Maafkan aku Kak.
Sebelumnya aku memang terlalu cepat mengambil keputusan.
Aku pikir kita bisa kembali bersama seperti dulu, tapi nyatanya kita tidak akan bisa."
"Luna, dengarkan aku.
Kamu tidak perlu khawatir tentang apapun.
Baik Russel ataupun masa lalu kita.
Kita hanya perlu berkomitmen untuk memperbaiki hubungan kita menjadi lebih baik.
Kamu dan Kakak akan bersama selamanya."
"Aku tidak bisa Kak."
Axel memegang pipi Aluna.
"Bukankah kita saling mencintai?
Mengapa kamu tidak mau kembali bersama denganku Luna?
Tolong beritahu aku alasannya."
Aluna menatap wajah senduh Axel.
"Aku ingin kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik baik dariku Kak.
Seseorang yang akan memberikanmu kebahagiaan baru yang tidak bisa aku berikan.
Aku juga telah membuatmu banyak menderita.
Aku meninggalkanmu dan bahkan menghianati cintamu.
Aku tidak pantas untuk menerima cintamu kembali."
"Apa yang kamu katakan Luna?
Tidak ada seorang lain yang lebih baik darimu.
Dan kamu juga adalah sumber kebahagiaanku.
Aku tidak akan mungkin bisa mencintai gadis lain selain dirimu.
__ADS_1
Kenyataannya aku benar-benar sangat mencintaimu Luna.
Aku sangat mencintaimu."
"Kalau begitu lakukanlah untukku.
Buktikan bahwa Kakak memang mencintaiku dengan mencari gadis lain.
Aku pikir gadis yang bersamamu saat kita pertama kali bertemu, adalah gadis yang baik dan sangat cocok untuk Kakak."
"Aku bilang aku tidak mau mencari gadis lain!"
ucap Axel dengan nada cukup tinggi.
Rasa bersalah perlahan melingkup Axel.
Ia menyadari kesalahannya yang telah membentak Aluna.
Axel kemudian memegang kedua tangan Aluna.
"Aku mohon jangan katakan itu lagi Luna.
Perkataanmu itu sangat menyakitiku.
Bagaimana bisa kamu menyuruhku untuk berpaling ke gadis lain?"
Aluna perlahan meneteskan air matanya.
Axel terdengar sangat kecewa dengan ucapannya.
Aluna perlahan melepaskan kedua tangannya dari tangan Axel.
Ia kemudian berniat pergi meninggalkan Axel, namun pelukan dari belakang menghentikan langkahnya.
Axel memeluknya dengan erat.
"Aku mohon jangan seperti ini Luna.
Aku tidak akan sanggup jika harus berpisah denganmu.
Aku pernah melepasmu sekali.
Kali ini aku tidak akan membiarkannya terjadi lagi.
Aku akan melakukan apapun agar kamu tetap bersamaku."
"Jika Kakak memang mencintaiku, aku mohon terima permintaanku Kak."
"Kalau begitu, aku ingin bertanya sesuatu padamu.
Apa kamu mencintaiku Luna?"
Aluna mengepal tangannya dengan erat.
Pertanyaan Axel membuatnya tidak bisa berkata apapun.
Tentu saja ia begitu mencintai Axel.
Namun ia tidak bisa mengatakan hal itu.
"Tidak, aku tidak mencintaimu Kak.
Maaf, aku sempat salah mengira perasaanku pada Kakak."
Aluna kemudian pergi meninggalkan Axel dan masuk ke dalam apartemennya.
Axel terdiam membisu sambil menatap ke arah pintu apartemen Aluna.
Pikirannya melayang layang.
Ia menarik napas dengan berat.
Semuanya terjadi di luar dugaannya.
Tubuhnya linglung.
Ia memegang erat dinding, sebagai penyangga tubuhnya.
Perlahan tubuhnya terluruh ke lantai.
Matanya menatap lurus ke depan, dengan pikiran kosong.
Sejenak ia ingin melupakan kejadian yang barusan terjadi.
Perlahan air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Sama halnya dengan Axel, Aluna begitu menderita saat ini.
Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dna menangis sejadi-jadinya.
"Aluna..."
Ariana menghampiri Aluna yang menangis di lantai kamarnya.
Ia langsung memeluk tubuh Aluna dengan erat.
Ia tahu bahwa saat ini Aluna begitu menderita.
Keputusan yang ia ambil nyatanya tidak sesuai dengan keinginan hatinya.
__ADS_1
Sangat disayangkan bila Axel dan Aluna berakhir seperti ini.
Namun walaupun seperti itu, Ariana berharap keduanya bisa bahagia bersama selamanya.