Revenge For Love

Revenge For Love
Mengikuti kata hati


__ADS_3

Axel masuk ke dalam apartemennya dengan raut wajah gembira.


Namun raut wajahnya seketika berubah saat melihat Simon dan Vallie berada di ruang tamu.


Ia juga melihat James di sana.


"Paman.."


"Kau sudah pulang Axel.


Kau sepertinya semakin gila bekerja.


Ini hari liburmu, tapi kau masih saja pergi ke kantor."


Axel kemudian duduk bersama mereka.


"Pasti kau terkejut melihat kedatangan Paman yang begitu tiba-tiba.


Paman datang untuk membahas sesuatu yang penting denganmu."


Axel hanya bisa tersenyum.


Tidak biasanya Simon membahas sesuatu yang penting hingga harus datang ke Amerika.


Biasanya Simon akan menghubunginya lewat telepon saja.


Simon mengalihkan tatapannya pada Vallie yang tersenyum padanya.


"Jujur saja, ini bukan tentang pekerjaan Axel."


Axel dan James semakin penasaran tentang hal penting apa yang akan dikatakan Simon.


"Jika bukan tentang pekerjaan, hal penting apa yang akan kita bahas Paman?"


"Begini Axel.


Vallie adalah Putri Paman satu-satunya.


Dan kau tahu Paman begitu menyayangi Vallie hingga sering bersikap overprotective padanya.


Mulai dari kecil, Paman menjaganya sebaik mungkin agar ia tidak merindukan kasih sayang Ibunya.


Paman ingin menjaganya sampai Paman tua.


Tapi Paman tahu bahwa pada akhirnya umur Paman tidak akan lama lagi.


Jadi Paman ingin ada seorang pria baik yang akan menjaga Vallie nantinya.


Dan Paman harus memastikan bahwa pria itu benar-benar menyayanginya, sama seperti Paman menyayangi Vallie."


"Tentu saja Paman.


Aku juga berharap seperti itu.


Vallie harus mendapatkan pria yang baik Paman."


"Apa kau menyayangi Vallie Axel?"


"Tentu saja aku menyayangi Vallie Paman.


Sejak aku mengenalnya, dia sudah seperti keluargaku.


Aku ingin selalu menjaganya."


Vallie tersenyum mendengar kalimat Axel.


Ternyata Axel juga menyayanginya.

__ADS_1


"Paman sangat senang mendengar bagaimana perasaanmu pada Vallie Axel.


Rasanya paman tidak salah memilihmu sebagai pendamping Vallie nantinya."


Axel mengerutkan keningnya.


Ia tidak mengerti maksud perkataan Simon.


Sama halnya dengan Axel, James juga kebingungan.


Ia pikir Simon salah mengartikan ucapan Axel tadi.


Karena ia tahu dengan pasti bahwa Axel hanya menganggap Vallie sebagai adiknya.


"Aku tidak mengerti Paman.


Aku memang menyayangi Vallie, namun Vallie sudah seperti adik bagiku Paman.


Tentu saja aku akan menjaga adikku dengan baik."


"Axel, paman mengerti apa yang kau rasakan saat ini.


Mungkin awalnya kau tidak memiliki perasaan pada Vallie.


Namun pada akhirnya paman yakin perasaan itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


Paman hanya bisa mempercayakan Vallie padamu Axel.


Paman tidak akan bisa pergi dengan tenang jika Vallie tidak bersamamu."


"Maafkan aku Paman. Tapi itu tidak akan pernah mungkin terjadi Paman."


Seseorang sudah memiliki tempat di hatiku."


Seperti teriris oleh pisau tajam, hati Vallie sangat sakit mendengar pernyataan Axel.


Dan ia tahu bahwa gadis itu adalah Aluna.


Gadis yang tidak lain telah menghianati Axel dan membuatnya menderita.


Simon menghembuskan napas panjang.


Ia begitu kecewa dengan pernyatan Axel.


"Paman akan memberikan waktu padamu untuk berpikir Axel.


Paman pikir, kamu hanya perlu mencobanya saja."


Simon kemudian beranjak dari sofa dan kemudian pergi meninggalkan mereka.


Axel menatap Simon yang terlihat kecewa.


Ia merasa bersalah dengan hal itu.


Namun ia juga tidak mungkin mengorbankan cintanya yang pada akhirnya akan berujung menyakiti Vallie juga.


Nyatanya ia tidak akan bisa berpisah dengan Aluna.


Ia juga sudah memutuskan untuk memulai awal baru dengan gadis yang dicintainya itu.


Vallie diam sebentar.


Ia kemudian memutuskan untuk pergi juga.


Setelah Vallie pergi, James kemudian duduk di samping Axel.


Ia memegang pundak Axel.

__ADS_1


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Axe.


Kau tidak perlu mengorbankan cintamu hanya untuk memenuhi permintaan Paman Simon.


Kau harus mengikuti kata hatimu.


Jika kau ingin bersama Aluna, maka kau hanya perlu melakukannya.


Tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kalian berdua.


Perasaan cinta juga tidak bisa dipaksakan."


"Iya kau benar James.


Aku tidak mungkin bersama Vallie.


Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk memiliki perasaan padanya.


Dia sudah seperti adik bagiku.


Dan yang paling utama, aku mencintai Aluna.


Aku ingin bersamanya.


Aku akan mencoba memberikan penjelasan pada Paman Simon.


Aku yakin dia akan mengerti dan akhirnya menerima keputusanku."


"Aku rasa Vallie juga harus turut andil dalam hal ini Axe.


Jika ia ikut memberikan penjelasan pada Paman, maka Paman juga akhirnya menyerah dengan keputusannya."


Axel menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menghubungi Vallie nanti."


--


Di dalam mobil, Vallie hanya diam saja.


Entah mengapa perasaannya semakin membuncah saat mengingat perkataan Axel tadi.


Dan perlahan ia meneteskan air matanya.


Simon menyadari hal itu.


Ia kemudian menarik Vallie ke dalam pelukannya.


"Aku sangat mencintainya Pa.


Aku tidak bisa hidup tanpanya."


"Tenanglah sayang.


Papa berjanji bahwa kamu akan menikah dengan Axel.


Axel akan menjadi pendamping hidupmu sayang."


"Tapi aku takut Kak Axel akan meolaknya Pa."


"Tidak sayang.


Papa begitu mengenalnya."


Di dalam diri Vallie, ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan melakukan segala cara agar Axel berpisah dengan Aluna.


Bukan hanya untuk egonya sendiri, ia pikir hal itu juga untuk kebaikan Axel.

__ADS_1


Ia tidak ingin Axel bersama gadis jahat seperti Aluna.


__ADS_2