
Aron menghampiri Aluna yang masih diam di tempatnya.
"Nona Aluna.."
Aluna menatap Aron yang saat ini tersenyum padanya.
"Kita harus keluar dari tempat ini dan saya akan mengantar Nona pulang.
Rasanya tempat ini semakin berbahaya."
Entah mengapa Aluna merasa dirinya harus waspada dengan Aron.
Apalagi semua sikap yang ditunjukkannya selama pertemuan tadi sangat aneh.
Ia ingin menolak tawaran pria itu.
Namun ia tidak punya pilihan lagi.
Axel juga tega meninggalkannya sendirian di sana.
Aluna berusaha untuk berpikiran positif.
Ia yakin tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
Mungkin penilaiannya terhadap Aron hanya sebatas dugaannya saja.
"Baiklah Pak Aron.
Saya akan ikut dengan anda."
Aron tersenyum puas.
Akhirnya Aluna mau menerima tawarannya.
Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Ikuti saya Nona dan berdiri di dekat saya."
Aluna menganggukkan kepalanya.
Ia kemudian mengikuti langkah Aron dari belakang.
Aluna mengeratkan tangannya saat melewati beberapa pria yang berjalan sempoyongan.
Jangan sampai salah satu dari antara mereka tiba-tiba menariknya.
Aluna akhirnya dapat bernapas lega saat berhasil keluar dari tempat itu.
Aron kemudian menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Aluna perlahan menghentikan langkahnya.
Perasaan ragu mulai menghinggapinya.
Entah mengapa perasaannya tidak enak.
Aron menyadari hal itu.
Sepertinya Aluna kembali mempertimbangkan tawarannya.
Hal itu tidak boleh terjadi.
Aluna harus ikut dengannya.
"Tidak baik jika saya membiarkan Nona pulang sendiri.
Saya takut sesuatu yang buruk terjadi pada Nona.
Nona akan lebih aman pergi bersama saya."
Aluna kembali mempertimbangkan keputusannya.
Tidak lama kemudian, Aluna akhirnya menerima tawaran Aron.
Ia kemudian masuk ke dalam mobil itu.
Lagi-lagi Aron merasa begitu puas.
Ia semakin yakin rencananya akan berhasil.
Aron kemudian melajukan mobilnya.
Sementara di dalam mobilnya, Axel merasa sangat gelisah.
Sedari tadi pikirannya tertuju pada Aluna.
Ia mencoba menghiraukannya dan tidak peduli akan apa yang terjadi pada Aluna.
Namun perasaanya tidak bisa berbohong.
Ia juga sangat khawatir dengan Aluna.
Perkataan Aron kemudian terlintas di pikirannya.
Pria itu berencana melakukan hal yang senonoh pada Aluna.
Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Axel kemudian memutar mobilnya kembali ke bar itu.
Axel melajukan mobilnya dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Axel sampai di bar itu.
Ia kemudian masuk ke dalam bar itu dan melangkahkan kakinya kembali ke meja dimana ia meninggalkan Aluna bersama Aron.
Namun Axel tidak melihat Aluna di sana.
Ia kemudian mencari Aluna di berbagai sudut bar itu.
"Luna..." panggil Axel.
Keringat mulai membasahi wajah Axel.
Ia sudah mencari Aluna di manapun, namun ia tidak menemukan Aluna di sana.
Axel berkacak pinggang.
Perasaannya semakin kalut.
Ia kemudian meninggalkan bar itu dan berlari ke parkiran.
Axel masuk ke dalam mobilnya.
Ia memutuskan kembali mencari Aluna.
Kali ini ia akan mencari keberadaan Aron dan Aluna melalui GPS.
Dan akhirnya ia berhasil menemukan lokasi keberadaan mereka.
Tanpa berpikir, Axel langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
Ia tidak peduli dengan kondisi jalanan yang ramai kendaraan.
Ia hanya ingin bertemu dengan Aluna secepat mungkin.
Di dalam mobil Aluna hanya diam saja.
Matanya menatap ke arah handphonenya.
Sama sekali tidak ada panggilan dari Axel.
Apa Axel sama sekali tidak mengkhawatirkannya?
Tadi pagi pria itu memaksanya ikut dengannya, namun mengapa kali ini Axel membiarkannya pulang bersama orang lain?
Bahkan bersama seorang pria yang baru ia kenal.
Aron sesekali menatap ke arah Aluna.
Sebentar lagi ia akan membawa Aluna ke tempat tujuannya.
Aluna mengerutkan keningnya.
Matanya menatap ke arah jalan yang mereka lalui saat ini.
Sepertinya jalan itu sangat berbeda dengan jalan yang ia lalui saat pergi bersama Axel.
Ya, Aluna yakin dugaannya benar.
__ADS_1
"Pak Aron, sepertinya kita melalui jalan yang salah.
Seharusnya saat di persimpangan tadi, kita belok ke kanan."
Aron hanya diam, tidak menanggapi ucapan Aluna.
Aluna bingung dengan sikap Aron.
Pria itu hanya diam saja.
Aluna melihat ke sekelilingnya.
Aron membawa mobilnya masuk ke jalanan yang sangat sepi dengan penerangan yang gelap.
Alune mulai merasa panik dan khawatir.
Jantungnya berdetak dengan kencang.
Ia takut Aron akan berbuat macam-macam padanya.
"Pak Aron.
Mengapa anda membawa saya ke tempat ini?"
Aron masih diam saja.
"Pak Aron hentikan mobil ini."
Aron tetap melajukan mobilnya.
"Pak Aron jika anda tidak melakukannya, lebih baik saya meloncat dari mobil ini."
Aluna tidak main-main dengan ucapannya.
Ia membuka pintu mobil Aron.
Namun sebelum membukanya, Aron menghentikan mobilnya dengan sangat tiba-tiba membuat kepala Aluna terbentur.
Aluna memegang kepalanya yang sakit akibat terbentur cukup keras.
Saat ia membuka mata, Aluna terkejut melihat wajah Aron yang begitu dekat dengannya.
"Apa yang anda lakukan?"
Aluna berusaha menjauh dari tubuh Aron.
Namun pria itu semakin mendekati tubuhnya.
"Menjauh dari saya!"
"Kau sangat cantik dari jarak dekat Aluna."
Aron mendekatkan wajahnya pada Aluna berniat ingin menciumnya.
Namun Aluna segera menghindar dan langsung menampar pipi Aron.
"Jangan berbuat macam-macam padaku!"
Aron memegang pipinya yang ditampar oleh Aluna.
Aluna kemudian membuka pintu mobil.
Namun lagi-lagi Aron menghalanginya.
Pria itu langsung menarik kedua tangannya.
"Aku mohon lepaskan aku."
Bahu Aluna bergetar hebat.
Ia mengingat kejadian 2 tahun lalu saat Russel berusaha menyentuhnya.
Hal itu membuat Aluna berkeringat dingin.
Ia takut hal itu akan benar-benar terjadi padanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sayang.
Kau tahu, aku sangat menginginkanmu.
Malam ini aku akan membuatmu menjadi milikku."
"Tidak, aku tidak akan membiarkannya terjadi."
"Benarkah?
Kau yakin bisa lolos dariku, hem?
Tempat ini sangat sepi.
Tidak akan ada seorangpun yang datang menolongmu sayang.
Lebih baik nikmati permainan kita ini.
Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu.
Aku akan melakukannya dengan lembut."
Ucapan Aron membuat Aluna bergidik ngeri.
Ia kemudian berusaha melepaskan tangannya dari Aron.
Namun pegangan pria itu sangat erat.
Aron tersenyum melihat kegigihan Aluna.
Ia kemudian mengunci pintu mobil dengan menekan central door lock agar Aluna tidak bisa keluar.
Aron melepaskan tangan Aluna.
"Kau tidak akan bisa keluar sayang."
Aluna membuka pintu mobil itu.
Dan benar saja, Aron telah menguncinya.
Aron kemudian membuka jas dan kemeja yang melekat di tubuhnya.
Aluna semakin ketakutan.
Ia kembali berusaha membuka pintu mobil, namun hasilnya tetap nihil.
Aluna mulai memikirkan cara bagaimana bisa keluar dari sana.
Namun pikirannya kalang kabut, hingga membuatnya tidak tenang.
Saat ini Aron sudah bertelanjang dada.
Ia kemudian mendekati Aluna.
Sementara Aluna semakin terpojok, tidak ada lagi ruang baginya untuk menjauh dari Aron.
"Tolong!" teriak Aluna.
Aluna meneteskan air matanya sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangan yang tersilang.
Apa yang harus ia lakukan?
Aron berusaha untuk mencium Aluna, namun Aluna selalu menghindar.
Ia kemudian menarik paksa kedua tangan Aluna dari tubuhnya.
Setelah terlepas, Aron langsung mengunci tangan Aluna dengan erat.
Aron tetap melancarkan aksinya walau tubuh Aluna bergerak tidak tenang.
Tidak berhasil mencapai bibir Aluna, Aron mulai mencium leher Aluna.
Air mata Aluna semakin bercucuran.
Ia kemudian berusaha melepaskan satu tangannya dari Aron walaupun sangat sulit.
Akhirnya satu tangannya berhasil terlepas.
Tanpa menunggu lagi, Aluna perlahan melepas sepatunya dan kemudian memukul kepala Aron dengan sepatunya.
Akhirnya Aron menghentikan kegiatannya.
Ia memegang kepalanya yang begitu sakit akibat pukulan Aluna.
__ADS_1
Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Aluna.
Aluna menekan central door lock agar pintu mobil dapat terbuka.
Setelah berhasil, Aluna langsung membuka pintu dan keluar dari mobil.
Aluna berlari dengan cepat.
Ia harus pergi dari tempat itu dan mencari bantuan.
"Tolong!!!" teriak Aluna.
Aron menyentuh kepalanya yang berdarah.
Hal itu membuatnya tersulut emosi.
Ia kemudian keluar dari mobil dan mengejar Aluna.
Dan benar saja, Aluna masih berada tidak jauh darinya.
Ia langsung mengejar Aluna dengan cepat.
Aluna melihat Aron di belakangnya.
Pria itu mengejarnya.
Aluna semakin mempercepat langkahnya.
"Kau tidak bisa lari dariku Aluna.
Kemarilah. Aku akan memberikan pembalasan padamu."
Aluna berlari sekuat tenaga.
Namun hal yang tidak diinginkannya terjadi.
Ia terjatuh akibat tersandung batu.
Aluna berusaha berdiri kembali, namun salah satu kakinya begitu sakit.
Aluna melihat Aron yang sudah berdiri di hadapannya.
Aluna tidak menyerah, ia memundurkan tubuhnya dengan posisi duduk di tanah.
"Kau berani melukaiku.
Baiklah, aku akan berbuat kasar padamu.
Kau sendiri yang memilihnya."
Aron langsung menarik kasar tangan Aluna.
Ia kemudian menindih tubuh Aluna.
Tubuh Aluna semakin merontah minta dilepaskan.
Hal itu membuat Aron semakin marah.
Ia menampar pipi Aluna dengan keras hingga membuat bibir gadis itu berdarah.
Aron membuka kemeja Aluna dengan paksa.
Ia sama sekali tidak peduli dengan tangisan Aluna.
Axel telah sampai di tempat itu.
Dan benar saja, ia melihat mobil Aron di sana.
Ia langsung keluar dan memeriksa mobil itu.
Namun tidak ada seorangpun di dalamnya.
"Luna..." panggil Axel.
Ia kemudian berlari menyitari tempat itu.
"Luna..."
Axel menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang tidak jauh dari tempatnya.
Ia langsung berlari mengikuti suara itu.
Axel melihat Aluna tidak berdaya dalam kungkungan Aron.
Tanpa menunggu, ia langsung menarik tubuh Aron hingga terjatuh ke tanah.
"Brengsek!"
Axel tanpa ampun memberikan pukulan pada Aron.
Ia tidak memperdulikan wajah Aron yang sudah babak belur.
"Berani-beraninya kau menyentuhnya.
Aku akan membunuhmu!"
Axel kembali memberikan pukulan pada Aron.
Hingga Aron mengeluarkan banyak darah.
Pria itu juga berakhir tidak sadarkan diri.
Axel menghentikan pukulannya.
Ia kemudian melihat ke arah Aluna yang duduk di dekat pohon dengan posisi menelungkupkan wajahnya pada lututnya.
Bahu Aluna bergetar hebat.
Ia tahu Aluna pasti sangat ketakutan.
Rasa bersalah kian menghinggapi Axel karena telah meninggalkan Aluna sendirian.
Axel perlahan mendekati Aluna dan duduk di hadapan gadis itu.
"Luna..."
Axel menyentuh tangan Aluna.
"Jangan sentuh aku!
Lebih baik aku mati saja!"
"Luna.."
"Aku mohon jangan sentuh aku."
"Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu Luna.."
Aluna menyadari bahwa pria yang berbicara dengannya adalah Axel.
Ia langsung menaikkan wajahnya menatap Axel.
Axel melihat banyak air mata di wajah Aluna.
Bahkan darah keluar dari bibir Aluna.
Aluna terlihat sangat kacau.
Ia bersumpah tidak akan melepaskan Aron.
Aron harus mendapatkan pembalasan darinya.
Axel langsung membawa Aluna ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku..."
Aluna langsung meluapkan perasaannya.
Ia menangis di dalam pelukan Axel.
Axel membiarkan Aluna menangis di dalam pelukannya.
Sesekali ia mengelus kepala Aluna dengan lembut.
Hal itu membuat Aluna merasa aman dan nyaman di pelukan Axel.
Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika Aron berhasil memperkosanya tadi.
Pastinya ia akan tidak memiliki harapan hidup lagi dan lebih memilih untuk mati.
__ADS_1
Sama seperti saat Russel mencoba menyentuhnya.