
"Kamu yakin akan melakukan itu Aluna?"
Aluna menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu akan sanggup menerima hinaan dan perkataan menyakitkan Kak Axel?"
Aluna kembali menganggukkan kepalanya.
"Tapi masih ada cara lain untuk menghentikannya Aluna.
Kamu tidak perlu bertemu dengannya.
Kamu akan semakin terluka jika terus bertemu dengannya."
"Aku rasa ini cara yang terbaik untuk menghentikan tindakan Kak Axe.
Aku akan bertahan Ariana.
Aku hanya ingin segera menyelesaikannya."
Rasa lelah dan putus asa terlihat di wajah Aluna
Ariana bisa merasakan apa yang dialami Aluna saat ini.
Luka yang seharusnya tidak diberikan oleh Axel membuat Aluna harus menanggung semuanya.
Ariana mendekat pada Aluna.
"Jika ia melakukan hal yang tidak-tidak padamu, segera beritahu aku Aluna.
Aku sendiri yang akan menghajarnya!"
ucap Ariana dengan tatapan nyalang.
Aluna tersenyum mendengar ucapan Ariana.
"Aku tidak perduli walaupun Kak Axel pria yang kamu cintai."
ucap Ariana dengan nada memperingati.
"Iya, aku akan memberitahumu Ariana."
Ariana akhirnya bisa tersenyum puas.
--
"Apa tidak ada cara lain Axe?"
ucap James sambil mengacakkan pinggangnya.
James khawatir Axel bertindak berlebihan pada Aluna.
Ia tahu bagaimana kebencian Axel begitu meluap-luap pada Aluna.
Apalagi semenjak Aluna berhasil meyakinkan para pemegang saham untuk bertahan di pihaknya.
"Ini cara yang terbaik James.
Aku tahu ia akan melakukan segala cara untuk mengalahkanku.
Dan satu-satunya cara untuk menang adalah dengan menunjukkan kemampuanku saat bekerja dengannya."
Axel mengepal tangannya saat mengingat momen saat Aluna menggoda Gerald di depannya.
__ADS_1
Kala itu Aluna benar-benar menunjukkan wujud aslinya.
Mungkin pada akhirnya Aluna juga akan meninggalkan Russel setelah mendapatkan pria yang lebih baik darinya.
Sama seperti apa yang ia alami dulu.
Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk.
"Kak Axel.. "
Sontak hal itu membuat James dan Axel melihat ke arah sumber suara.
Terlihat Vallie yang sedang membawa keranjang besar berisi belanjaan.
Keduanya menatap keheranan seolah-olah butuh jawaban mengapa gadis itu bisa di sini.
"Aku akan kembali masak makan malam untuk kalian!"
ucap Vallie dengan nada bersemangat.
James dan Axel tersenyum mendengar ucapan Vallie.
Gadis itu pasti akan masak besar mengingat belanjanya yang begitu banyak.
Setelah makan malam selesai, Vallie mengikuti Axel duduk di balkon apartemen.
Vallie tersenyum melihat ke sekelilingnya.
Pemandangan langit malam terlihat begitu jelas saat berdiri di sana.
Cahaya-cahaya bangunan semakin memperindah suananya.
"Ah aku harus lebih sering datang ke sini.
Vallie menghirup udara malam sambil merentangkan kedua tangannya.
Axel yang sedang melipat tangannya terkekeh melihat tingkah konyol Vallie.
"Balkon apartemenmu juga pasti seperti ini Vallie.
Perkataanmu menunjukkan seolah-oalah kamu baru merasakannya pertama kali."
"Tapi ini sangat berbeda Kak.
Di sini jauh lebih menyenangkan."
(Karna ada kamu di sini Kak.
Dimanapun dan kapanpun kamu berada di dekatku, aku akan selalu merasa sangat bahagia.)
"Oh ya Kak, aku lupa memberitahumu sesuatu."
Vallie menunjukkan gelang yang tersemat di tangannya.
"Aku tidak memberitahu kalau aku mengambilnya dari kamar Kakak."
Axel melihat ke arah gelang itu.
Gelang yang dulu ia ingin berikan pada Aluna di hari jadi mereka.
Setiap kali melihat gelang itu, semua ingatan penderitaan yang ia alami kembali muncul di pikiran Axel.
Ia begitu membenci hal itu.
__ADS_1
Axel sempat membuang gelang itu, namun lagi-lagi ia mencarinya dan kembali menyimpannya.
Ia berpikir gelang itu akan menjadi pengingat untuknya atas semua perlakuan Aluna.
"Apa aku boleh memilikinya Kak?"
"Tentu saja Vallie.
Akan lebih baik gelang itu menjadi milikmu."
"Boleh aku tahu siapa pemilik gelang ini sebenarnya Kak?"
"Tidak ada siapapun yang memilikinya Vallie.
Kamu tidak perlu khawatir.
Bahkan gelang itu bukan pemberian salah satu gadis yang mendekatiku."
"Gelang ini begitu indah. Kakak yakin memberikannya padaku?
Aku pikir gelang ini pasti memiliki arti khusis bagi Kakak."
"Tidak, tidak sama sekali.
Aku pikir aku tidak perlu menyimpan gelang itu lagi. Lagian itu gelang wanita.
Pada akhirnya aku akan memberikan pada orang lain juga.
Dan sekarang kamu boleh memilikinya."
Vallie menarik napas lega.
Ia begitu senang mendengar Axel akhirnya bisa melepaskan masa lalunya.
Sebenarnya ia tahu siapa pemilik gelang itu.
Saat membuka kotak itu, ada kertas yang terlipat di dalamnya.
Kertas itu berisi ucapan selamat hari jadi dan pengakuan cinta Axel pada si pemilik gelang.
Dan inisial "A" yang dimaksud adalah Aluna Gracia, mantan Kekasih Axel.
Vallie akhirnya bisa tenang mendengar ucapan Axel barusan.
Itu artinya Axel sudah bisa melepaskan masa lalunya dan memulai awal yang baru.
Ia sebenarnya tahu bahwa selama ini Axel masih hidup dalam bayang-bayang gadis itu.
Tidak dipungkiri gadis itu meninggalkan banyak luka pada Axel.
Sehingga akan sulit melupakannya dalam waktu yang cepat.
Vallie berharap Axel segera menemukan kebahagiaan barunya.
Entah mengapa ia ingin menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
Dan ia tahu bahwa alasannya karena cinta.
Ia sangat mencintai Axel.
Ia ingin selalu berada di sampingnya dan menghabiskan seluruh waktunya bersama Axel.
Vallie ingin mengganti semua luka Axel dengan menorehkan banyak kebahagiaan.
__ADS_1
Ia akan berusaha keras agar Axel mau membuka hatinya dan menerima perasaanya.