
"Kak Axel..
Kakak dari mana saja?
Aku mencari Kakak kemana-kemana."
"Maafkan aku Vallie.
Aku tadi pergi ke toko sebelah untuk membeli sesuatu.
Tapi sayang aku tidak mendapatkannya.
Maaf tidak memberitahumu."
Vallie tersenyum lega.
Tadi ia sempat berpikir Axel sengaja meninggalkannya.
Dan ternyata dugaannya salah.
"Tidak apa-apa Kak.
Aku hanya sempat khawatir tadi."
"Apa kamu sudah selesai berbelanja?"
"Sudah Kak."
"Baiklah, ayo kita pergi.
Setelah selesai berbelanja, Vallie mengajak Axel makan malam bersama.
Dan Axel pun mengiyakan ajakan Vallie.
"Apa Kakak yakin tidak makan?
Aku mohon makanlah Kak.
Aku akan memesan makanan untuk Kakak."
"Tidak Vallie, aku tidak lapar.
Kamu makanlah."
Lagi-lagi pikiran Axel tertuju pada Aluna.
Penolakan Aluna tadi membuatnya tidak berpikiran jernih.
Sungguh perasaannya pun berubah menjadi sangat buruk karena hal itu.
Aluna selalu berhasil memporak porandakan hatinya.
Vallie pun menyadari raut wajah Axel yang terlihat murung.
"Kak, apa telah terjadi sesuatu?
Wajah Kakak terlihat begitu murung.
Atau jangan-jangan Kaka sedang sakit."
"Tidak Vallie, tidak terjadi apapun.
Aku hanya mengantuk saja.
Dan aku ingin segera pulang."
"Maaf karena telah merepotkan Kakak."
"Tidak apa-apa Vallie."
Beberapa saat kemudian, Axel mengantar Vallie pulang.
Sesampainya di apartemennya, Vallie langsung keluar dari mobil setelah mengucapkan salam perpisahan pada Axel.
Tidak disangka, Axel keluar dari mobil dan memanggilnya.
__ADS_1
Vallie langsung membalikkan badannya, menatap Axel yang berdiri di samping mobil.
Ia memasang senyum merekah.
Karena nyatanya ia masih ingin berlama-lama dengan Axel.
"Ada apa Kak?
Apa Kakak ingin mengatakan sesuatu padaku?"
"Aku ingin pertunangan kita dilaksanakan minggu depan."
Vallie begitu terkejut mendengar ucapan Axel.
Perasaannya perlahan bahagia bercampur haru, sampai ia meneteskan air matanya.
Ia kemudian menghampiri Axel dan berdiri di hadapan pria itu.
"Kakak ingin pertunangan kita dilaksanakan minggu depan?"
Axel hanya mengangguk dengan tatapan datar.
"Aku sangat bahagia Kak."
Vallie langsung berhambur ke pelukan Axel.
Sementara Axel hanya diam dan perlahan tangannya menyentuh punggung Vallie.
"Aku begitu menantikan momen seperti ini Kak.
Terima kasih Kak, aku begitu bahagia."
Vallie kemudian melepaskan pelukannya.
"Masuklah.
Tidak baik jika kamu berlama-lama di luar dengan suhu dingin seperti ini."
Vallie mangangguk senang.
Kakak hati-hati di jalan."
Vallie kemudian mendekat pada Axel dan memberikan ciuman di pipi Axel.
"Aku mencintaimu Kak."
Vallie langsung berlari meninggalkan Axel.
Axel masih diam di tempatnya.
Tangannya terkepal dengan kuat.
Sungguh apa yang dilakukannya tadi sangat bertentangan dengan apa yang diinginkannya.
Namun ia harus melakukannya untuk melihat seberapa lama Aluna akan bertahan dengan egonya itu.
Di dalam kamarnya, Vallie tidak henti-hentinya melompat kegirangan.
Sungguh apa yang dialaminya tadi membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
Karena nyatanya itu terlalu cepat.
Namun tentu saja ia begitu bahagia.
Sebentar lagi ia akan bertunangan dengan Axel.
Itu artinya Axel akan menjadi calon Suaminya.
Sungguh benar-benar di luar dugaannya.
"Aku mencintaimu Kak.
Terima kasih telah memberikanku kesempatan."
Satu per satu harapannya mulai terwujud.
__ADS_1
Dan kali ini akan berdoa untuk pernikahannya dengan Axel.
Ia berharap tidak ada penghalang lagi di antara hubungannya dengan Axel.
Hingga suatu saat nanti ia bisa menikah dengan pria yang dicintainya itu.
"Papa akan begitu bahagia mendengar berita ini.
Besok aku akan memberitahu Papa secepatnya."
--
Axel masuk ke apartemennya.
"Axe, kau sudah pulang?
Oh ya, besok malam Tuan Charles ingin mengajakmu makan malam bersama."
"Aku tidak bisa James.
Sepertinya besok malam aku ingin membicarakan pertunanganku dengan Vallie bersama Paman Simon."
"Apa?
Apa yang kau bicarakan barusan Axe?
Kau ingin membicarakan pertunangan kalian?
Bukankah kemarin kau baru menyetujui perjodohan itu?"
"Minggu depan aku akan bertunangan dengan Vallie."
"Apa Paman Simon yang memaksamu melakukan itu?
Dan kau menerimanya?"
"Tidak, aku sendiri yang memutuskannya."
"Apa?
Axe apa yang kau lakukan, hah?
Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Aku sudah memutuskannya sejak menyetujui perjodohan itu James.
Aku tidak punya alasan untuk melakukan hal itu.
Aku ingin segera menjadikan Vallie sebagai calon Istriku."
"Axe, kau harus mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Aku mohon jangan mengambil keputusan secepat itu."
"Aku tidak perlu mempertimbangkannya.
Aku yakin dengan keputusanku."
Axel meninggalkan James.
Namun suara James menghentikan langkahnya.
"Kau yakin sudah melupakan Axel?"
"Aku sudah mengatakan berulang kali padamu James.
Aluna hanya masa laluku."
Axel kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang harus aku lakukan?
Aku harus memberitahu Ariana soal ini."
ucap James.
__ADS_1
Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya.