
Simon dan Vallie tengah mempersiapkan makan malam di apartemen.
Vallie memegang erat tangannya.
Ia begitu gelisah di tempatnya.
Ia takut Axel akan menolak perjodohan itu.
Tadi siang ia sudah mengutarakan perasaannya pada Axel.
Namun respon yang diberikan Axel justru sangat mengejutkan.
Pria itu hanya diam dan mengalihkan pembicaraan dengan menelpon James.
Setelah James masuk ke dalam ke ruangan, Axel menyuruhnya mengantarnya keluar dari ruangan dengan alasan bahwa ia tidak jadi membatalkan rapat.
Saat itu perasaan Vallie begitu terluka seakan-akan Axel telah menolak perasaannya.
Bahkan Axel tidak berkata apapun setelah ia mengatakan cintanya.
"Vallie, kamu baik-baik saja sayang?
Dari tadi Papa melihat wajahmu begitu tegang.
Apa kamu sakit?"
"Tidak Pak.
Vallie baik-baik saja."
"Syukurlah sayang."
Sementara di dalam kamarnya, Axel tengah menatap ke arah luar jendela.
Ia mengepal tangannya dengan erat.
Perasaan rindunya pada Aluna kian bertambah.
Walaupun ia sudah berusaha melupakan gadis itu, tapi tetap saja tidak bisa.
Ia bahkan sudah mengalihkan perasaannya itu dengan melakukan kebisukan di kantor.
Namun pikirannya tetap saja dipenuhi oleh Aluna.
Dan tadi siang Vallie mengungkapkan perasaannya padanya.
Tentu saja ia begitu terkejut mendengarnya hingga tidak bisa berkata apa-apa.
Karena selama ini ia tidak pernah berpikir bahwa Vallie akan menganggapnya sama seperti pria lainnya, bukan sebagai seorang Kakak.
Selama ini ia hanya menganggap Vallie sebagai seorang Adik, tidak lebih.
Ia ingin menolak perasaan Vallie, karena nyatanya di hatinya masih ada Aluna.
Dan mungkin akan sangat sulit mengganti Aluna dengan gadis lain.
Hanya saja, setiap kali mengingat perkataan Aluna, ia ingin sekali bergerak maju untuk memulai hidup yang baru.
Dan tentunya ia harus menemukan gadis yang akan dicintainya kelak.
"Kamu benar Aluna, aku harus menemukan gadis yang lebih baik darimu.
Kamu memintaku untuk membuktikan cintaku.
Dan sekarang aku akan melakukannya."
Axel kemudian memakai jasnya dan keluar dari kamarnya.
"Axe, kau sudah siap?"
"Sudah James.
Sebaiknya sekarang kita berangkat.
Aku tidak mau Paman Simon menunggu terlalu lama."
"Baiklah, ayo kita berangkat."
Selama perjalanan, Axel hanya diam sambil menatap ke arah jalanan.
Momen saat ia bersama Aluna tiba-tiba muncul di pikirannya.
("Aku sangat mencintaimu Kak.
Aku juga sangat mencintaimu Luna."
Axel mencium kening Aluna dengan lembut.
Sementara Aluna hanya memejamkan matanya.)
("Apa kamu ingin memulai awal yang baru bersamaku Luna?
Aluna menganggukkan kepalanya dengan yakin.
__ADS_1
"Aku mau Kak."
"Terima kasih sayang.")
Axel hanya bisa tersenyum masam.
Semua momen bersama mereka hanya tinggal kenangan.
Bahkan ia harus menghapus momen itu dari hidupnya.
Beberapa saat kemudian, Axel dan James sudah sampai di apartemen Simon.
Axel kemudian menekan bel.
Setelah itu, seorang pembantu membuka pintu untuk mereka.
Mereka berdua masuk.
Dan benar saja, Simon menyambut kedatangan mereka dengan gembira.
Bahkan makanan sudah terhidang di atas meja.
"Apa Paman sudah lama menunggu kedatangan kami?"
"Tentu saja tidak Axe.
Bahkan kalian datang lebih awal."
"Syukurlah Paman.
Kami memang sengaja berangkat lebih awal, agar Paman tidak lama menunggu."
Axel tersenyum.
Matanya kemudian menatap Vallie yang baru datang.
Vallie hanya memberikan senyuman tipis padanya.
Dan kali ini berbeda.
Biasanya gadis itu akan mengoceh padanya.
Ia yakin kejadian tadi siang yang telah mengubah Vallie.
"Makanan sudah siap.
Sepertinya saat ini kita harus mulai makan malam bersama.
Ayo kita duduk di meja makan."
Selama makan malam, mereka berbincang satu sama lain.
Pembicaraan kali ini tentang perusahaan.
Dan sama seperti tadi, Vallie hanya diam dan tidak bicara apa-apa.
Setelah selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu.
Kali ini Simon akan membicarakan perjodohan Axel dan Vallie.
"Selain untuk mengobrol mengenai perusahaan, sebenarnya tujuan Paman mengundang kalian berdua adalah untuk membicarakan perjodohan Axel dan Vallie.
Ini sudah seminggu sejak Paman mengatakan perjodohan kalian Axel.
Bagaimana jawabanmu?
Paman harap, kamu memberikan jawaban yang tepat."
Axel menarik napas panjang.
Ia sudah memutuskan.
"Aku menerima perjodohan itu Paman."
James dan Vallie begitu terkejut mendengar pernyataan Axel.
James memberikan tatapan tajam pada Axel.
Karena Axel tidak pernah berniat menyetujui perjodohan itu.
Lalu apa sekarang?
Mengapa Axel menyetujuinya?
Perasaan Vallie perlahan mulai bahagia.
Walaupun ia sempat terkejut, namun ia mensyukuri hal tersebut.
Inilah yang ia inginkan selama ini.
Bersama Axel adalah impiannya.
Dan impiannya itu perlahan mulai terwujud.
__ADS_1
Simon tersenyum bahagia.
"Axel kamu memberikan jawaban yang sangat tepat.
Paman sudah meyakini hal ini sebelumnya, bahwa kamu akan menerima perjodohan ini.
Terima kasih Axel."
"Iya Paman.
Aku akan mencoba menjalin hubungan dengan Vallie."
Vallie tersenyum mendengar hal itu.
Rasanya saat ini ia sedang bermimpi.
"Paman sangat senang mendengarnya.
Paman yakin hubungan kalian akan berjalan lancar sampai jenjang pernikahan."
Simon menatap raut kebahagiaan di wajah Vallie.
Ia yakin Putrinya itu pasti sangat bahagia.
"Dan kalau boleh aecepatnya lebih baik.
Tidak perlu berlama-lama kan?
Paman juga tidak bersabar melihat kalian menikah."
"Pa tidak perlu terburu-buru.
Kami masih memiliki waktu yang panjang."
"Bagaimana menurutmu Axel?"
"Sama seperti apa yang dikatakan Vallie, tolong beri kami waktu Paman.
Kami juga perlu lebih mengenal satu sama lain.
"Kamu benar Axel.
Tidak perlu terburu-buru dalam menjalin hubungan."
--
Sepulang dari apartemen Simon, James langsung mendatangi Axel ke kamarnya.
"Axe, mengapa kau menyetujui perjodohan itu?
Bukankah kau tidak mencintai Vallie?"
"James diamlah.
Aku tidak ingin mendengar pertanyaanmu itu."
"Axe, aku mohon jangan seperti ini.
Hal itu akan menyakiti kalian berdua.
Bukan hanya kau, tapi juga Vallie.
Aku tahu kau melakukan itu adalah untuk membuktikan pada Aluna bahwa kau bisa melupakannya.
Tapi bukan seperti ini caranya."
"James aku tidak mengerti apa yang kau katakan.
Aku menerima perjodohan itu bukan karena Aluna.
Tapi karena keinginanku sendiri.
Bagaimanapun aku harus menemukan seorang gadis sebagai pendamping hidupku.
Dan Vallie gadis yang sangat tepat.
Vallie gadis yang baik dan ia juga sangat mencintaiku.
Aku harus mencoba mencintainya.
Dan aku mohon jangan katakan apapun soal Aluna.
Dia hanya masa lalu bagiku."
Axel kemudian meninggalkan James.
Sementara James hanya menatap kepergian Axel.
Ia tahu Axel membohonginya.
Axel tidak akan pernah bisa melupakan Aluna.
Dan keputusan Axel itu tentu akan menyakiti Vallie.
__ADS_1
Ia harus mencari cara untuk menghentikan itu secepatnya.