
Vallie menyiapkan makan malam untuk Axel.
Ia yakin Axel tidak akan sempat menyiapkannya karena kesibukannya di kantor.
Dari pada memesan makanan, lebih baik Axel makan masakannya.
Tiba-tiba pintu apartemen Axel terbuka.
Axel dan James masuk ke dalam dan mereka berdua terkejut melihat Vallie yang masih berada di sana.
"Vallie, kamu belum pulang?" tanya Axel.
Vallie langsung menghampiri Axel dan James.
"Tadi aku berniat pulang Kak, tapi aku melihat tidak ada makanan.
Jadi aku menyempatkan diri menyiapkan malam untuk Kakak.
Kakak pasti lapar kan? Semuanya sudah terhidang di atas meja."
James tersenyum mendengar ucapan Vallie.
Ia tahu sebenarnya selama ini Vallie berusaha untuk membuat Axel menyadari perasaannya. Hanya saja Axel tetap tidak memberikan respon apapun.
Entahlah.
James kemudian menatap ke arah Axel.
Apa selama ini Axel berpura-pura tidak tahu?
"Hem, baiklah aku dan James akan makan semua masakanmu Vallie.
Tapi ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang ke apartemenmu Vallie.
James akan mengantarmu pulang.
Maaf Kakak tidak bisa mengantarmu."
"Baiklah Kak, tidak apa-apa.
Kakak mandilah, aku juga sudah menyiapkan baju Kakak di atas tempat tidur."
Vallie menggaruk tengkuknya, ia begitu salah tingkah saat ini.
James terkekeh geli.
Vallie begitu mencintai Axel ternyata.
"Hem, James ini kunci mobilku."
"Baiklah.
Ayo Vallie, Kakak akan mengantarmu pulang."
"Sampai jumpa Kak Axel.
Aku pulang Kak."
"Hati-hati di jalan.
Oh ya, jangan lupa mengunci apartemenmu.
Jika ada sesuatu, segera hubungi Kakak."
Vallie tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik Kak.
Jangan makan malam terlalu lama Kak.
__ADS_1
Makanan yang dingin akan mengurangi kelezatannya."
"Baik Vallie, terima kasih banyak."
"Sama-sama Kak.
Aku akan sering datang ke sini."
Lagi-lagi James tersenyum melihat keduanya. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya yang sudah berada di ambang pintu.
James kemudian berdehem.
"Apa masih lama Nona?
Jika kalian masih mau mengobrol, aku akan menunggu di atas sofa itu."
Vallie tersenyum.
"Baiklah Kak."
Vallie melihat Axel sebentar dan kemudian menghampiri James yang sudah menunggunya.
"Aku akan menjaganya dengan baik."
ucap James pada Axel.
Axel tahu James bermaksud menggodanya.
Axel hanya menanggapinya dengan senyuman tipis.
--
Di dalam perjalanan, Vallie terus memandangi gelang itu.
Hal itu membuat James mengalihkan pandangannya sebentar.
"Indah bukan Kak?"
Tentu saja hal itu membuat James terkejut.
Ia tahu bahwa gelang itu adalah gelang yang akan diberikan Axel untuk Aluna di hari jadi mereka yang ke 5.
"Aku melihat gelang ini di kamar Kak Axel.
Seharusnya ini milik wanita, jadi aku mengambilnya dan kemudian memakainya."
"Bagaimana pendapat Kakak?
Apa gelang ini cocok di tanganku?"
James hanya tersenyum tipis.
Ia harus memberitahu Axel nanti.
Vallie tidak seharusnya memakai gelang itu, gelang yang seharusnya milik Aluna.
Entah mengapa setelah semua perlakuan buruk Aluna pada Axel, ia tidak bisa membenci Aluna sepenuhnya.
Baginya semua itu masih pertanyaan.
Aluna gadis yang sangat baik, ia juga sudah lama mengenalnya.
Jadi rasanya tidak mungkin jika Aluna tega melakukan semua itu.
Tapi ia selalu merasa sangat dilema.
Di satu sisi ia tidak ingin menghancurkan Aluna, tapi di sisi lain sebagai sahabat ia harus mendukung Axel.
Axel juga sudah sangat menderita karena masa lalunya.
__ADS_1
Ia hanya ingin Axel terlepas dari semua itu.
Dan ia pikir, gelang itu akan terus mengingatkan Axel akan semua lukanya jika Vallie memakainya.
Kalau boleh gelang itu harus disimpan agar Axel tidak menderita lagi.
Setelah mengantar Vallie pulang, James kembali ke apartemen Axel.
Ia menghampiri Axel saat ini sedang menikmati masakan Vallie.
"Axe, aku ingin memberitahumu sesuatu."
"Kau ingin memberitahuku apa?"
"Vallie mengambi gelang itu dari kamarmu."
Axel berhenti sebentar dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Axel memberikan respon biasa saja padanya.
"Gelang yang akan kau berikan untuk Aluna."
"Iya, aku tahu James.
Biarkan saja Vallie memilikinya.
Aku juga berniat untuk membuangnya tadi."
"Apa kau yakin?"
"Gelang itu sama sekali tidak berharga untukku James.
Seharusnya dari dulu aku membuangnya."
Axel kemudian menyendokkan nasi ke piring dan menyodorkannya pada James.
"Kau juga harus makan James.
Aku tidak akan sanggup menghabiskan semua makanan ini."
James tahu bahwa Axel sedang mengalihkan pembicaraan saat ini.
Ia juga tahu bahwa sebenarnya gelang itu memiliki nilai yang besar untuk Axel sehingga tidak heran ia menyimpannya sampai saat ini.
Hanya saja Axel berusaha menutupinya.
"Hem, aku juga sudah sangat lapar Axe.
Beruntung Vallie sudah menyiapkan makan malam untuk kita."
"Iya, kau benar James."
Mereka berdua kemudian menikmati makanan mereka.
--
Axel menikmati pemandangan malam di apartemennya.
Axel memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya.
Gelang itu, akhirnya bisa menghilang darinya.
Gelang yang menjadi pengingat akan semua rasa sakitnya.
Baguslah.
Dengan begini, tidak ada yang tersisa untuk Aluna di dalam hidupnya.
Baik perasaan, kenangan dan barang.
__ADS_1
Yang ada hanyalah dendam yang belum ia balaskan pada gadis itu.