Revenge For Love

Revenge For Love
Bekerja keras


__ADS_3

Russel pulang ke rumah.


Ia berjalan menuju kamarnya.


Namun tidak disangka, Alda berdiri di dekat tangga seolah ingin berbicara sesuatu padanya.


Russel berhenti dan berhadapan dengan Alda.


"Aluna mengatakan bahwa kamu tidak datang ke acara pertemuan para pemegang saham.


Mami ingin tahu apa alasan kamu tidak datang ke acara itu."


"Aku tidak punya alasan khusus.


Aku hanya tidak ingin datang ke sana, itu saja."


Alda tertohok dengan alasan yang diberikan Russel.


"Ini bukan hal yang main-main Russel.


Bukankah kamu sudah tahu bahwa orang itu sudah berhasil memiliki beberapa saham dari perusahaanmu?"


Jika kamu terus membiarkannya seperti ini, perusahaanmu akan jatuh ke tangan orang itu."


Russel tersenyum melihat ekspresi Alda.


Wanita itu pasti takut ia bangkrut sehingga tidak mampu memberikannya kemewahan yang berlimpah lagi.


Dasar haus harta!


"Bukankah perusahaan itu milikku?


Mami tidak perlu ikut campur terkait urusan perusahaan.


Aku pemiliknya.


Aku tahu apa yang harus kulakukan terhadap perusahaanku."


Russel langsung meninggalkan Alda di sana dan mulai menapaki tangga satu per satu.


Alda menatap kepergian Russel dengan tatapan geram.


Russel terlihat ingin bermain-main dengannya.


Yang terpenting, perusahaan milik Russel tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.


Jika hal itu terjadi, rencananya selama ini akan berakhir sia-sia.


Kalau begitu, ia harusnya tidak menikahkan Aluna dengan Russel.


--


Ariana masuk ke dalam kamar Aluna dengan membawa susu di tangannya.


Ia meletakkan susu itu di meja dan kemudian menghampiri Aluna yang sedang bekerja.


Hari sudah malam, namun Aluna masih belum selesai bekerja.


Ia tahu Aluna saat ini sedang bekerja keras untuk menyelamatkan perusahaan Russel.


Aluna tersenyum melihat kedatangan Ariana.


"Minumlah."


Aluna menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil susu itu.


Ia meneguknya sampai habis.


"Terima kasih Ariana."


"Aku tahu kamu ingin mempertahankan perusahaan ini Aluna.


Tapi kamu juga perlu waktu untuk istirahat."


"Aku bukan hanya takut perusahaan ini jatuh ke tangan orang lain.


Tapi aku juga takut hal ini dipakai untuk tujuan yang salah Ariana."


"Sebenarnya aku tahu bahwa dari awal tujuan Kak Axel bekerja sama dengan perusahaan adalah untuk membalas dendam padaku dan Russel."

__ADS_1


"Dia berniat menghancurkanku dan Russel."


"Aku ingin berdamai dengan masa laluku.


Tapi jika hal itu terjadi, selamanya aku akan terjebak dengan ini semua.


Aku sempat berpikir untuk melupakannya dan memulai hidup baru tanpa perasaan benci dan dendam.


Namun semua berada di luar dugaanku.


Kak Axel datang dengan kebencian yang mendalam.


Aku takut hal ini semakin menghancurkan dirinya sendiri.


Perasaan bersalah akan menghantuinya seumur hidup saat mengetahui kebenarannya nanti."


"Aku tahu bahwa akulah yang mengubahnya menjadi seperti ini. Aku meninggalkannya tanpa penjelasan sedikitpun.


Aku bahkan menghianatinya dengan menikahi pria lain.


Tapi rasa cintaku yang besar tidak bisa membiarkannya terluka.


Saat itu aku berpikir bahwa lebih baik aku meninggalkannya dari pada aku tidak akan bisa melihatnya lagi.


"Kak Axel sangat berbeda dengan yang dulu.


Tatapan penuh cinta tergantikan dengan tatapan nyalang yang ingin menghancurkanku.


Perlakuan lembutnya berubah menjadi kasar."


Aluna menarik napas panjang.


"Oleh karena itu, aku harus bekerja keras untuk menghentikannya Ariana.


Kak Axel tidak memberikan kesempatan padaku untuk memberitahu kebenarannya.


Jadi tidak ada cara lain selain mempertahankan perusahaan ini."


Ariana tersenyum.


"Apa yang kamu lakukan ini sangat benar Aluna.


"Seandainya Kak Axel mau mendengarkanmu, aku yakin ia akan meminta maaf padamu dan tidak akan bertindak sejauh ini.


Tapi kebencian terlanjur membutakannya."


"Aku tidak tahu sampai kapan ia mengeraskan hatinya." tambah Ariana.


"Tapi jika suatu saat nanti ia mengetahui kebenarannya dan ingin kembali padamu.


Kamu mau menerima Kak Axel lagi bukan?


Kamu sangat mencintai Kak Axel Aluna."


"Entahlah Ariana.


Dulu aku memiliki keyakinan yang kuat soal itu.


Tapi sekarang, aku mulai tidak yakin apakah kami bisa bersama seperti dulu.


Kondisinya tidak sama lagi Ariana.


Kami sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Tidak menutup kemungkinan kami akan berdamai satu sama lain, namun perasaan kami sudah tidak ada lagi."


"Aku tahu Kekasih Kak Axel menjadi penghambat keyakinanmu itu Aluna.


Perasaanmu pasti sangat sakit.


Kamu juga cemburu pada gadis itu kan?"


Aluna menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku tidak cemburu."


"Aku sudah mengikhlaskannya bersama gadis itu." tambah Aluna.


Ariana tersenyum geli.

__ADS_1


"Oh benarkah Aluna?" ucap Ariana dengan tatapan menyorot pada Aluna.


Ia suka menggoda Aluna.


"Bagaimana jika besok Kak Axel dan gadis itu menikah? Apa kamu yakin akan membiarkannya begitu saja?"


Aluna mengeratkan tangannya.


Walaupun berniat melepaskan Axel, tapi terlalu cepat jika Axel harus menikah dengan gadis itu.


Ia tidak akan menerimanya.


"Hem, kamu akan membiarkannya Aluna?"


Aluna melihat ke arah lain.


Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dari Ariana.


"Oh, sepertinya kamu benar-benar sudah merelakan Kak Axel menikah dengan gadis itu ternyata."


Aluna langsung menatap Ariana dengan cemberut.


"Tidak, aku belum merelakannya.


Bukankah itu terlalu cepat?


Paling tidak biarkan aku melupakan terlebih dahulu."


Ariana tertawa melihat ekspresi lucu Aluna.


"Iya, aku tahu kamu masih sangat mencintai Kak Axel.


Kamu pasti cemburu kan?"


"Kamu sebenarnya berniat menggodaku kan Ariana?"


"Tidak sepenuhnya Aluna.


Aku hanya ingin memastikan perasaanmu pada Kak Axel saja.


Kamu tidak boleh memaksakan dirimu untuk melupakannya Aluna.


Perasaanmu memang milikmu, tapi sering kali kamu tidak bisa mengendalikannya.


Apalagi saat kamu benar-benar jatuh cinta dengan seseorang."


Aluna tersenyum mendengar ucapan Ariana.


"Baiklah Ariana.


Aku mengerti."


"Ngomong-ngomong, ucapanmu kali ini terdengar berbeda dari biasanya.


Apa kamu sedang jatuh cinta dengan seseorang?


Cepat katakan padaku Ariana."


"Tidak, aku sedang tidak jatuh cinta.


Lagian aku akan memberitahumu jika hal itu terjadi."


"Benarkah?" ucap Aluna dengan tatapan menggoda.


"Jangan coba-coba untuk membalasku Aluna."


"Baiklah, kalau memang tidak.


Tapi ingat, kamu harus memberitahuku saat kamu jatuh cinta dengan seorang pria.


Kita berdua harus merayakannya."


Ariana tersenyum.


Memang sampai saat ini ia belum jatuh cinta dengan seorang pria.


Hanya saja pria itu berhasil membuatnya tertarik akibat perlakuan baiknya saat itu.


Tapi ia berusaha menepis hal itu mengingat pria itu dekat dengan Axel.

__ADS_1


Bagaimanapun ia bekerja sama dengan Axel untuk menyakiti Aluna.


__ADS_2