
Axel sedang memeriksa berkas-berkas di ruang kerja yang berada di dalam apartemennya.
Axel memang pria yang tergolong workaholic.
James begitu tidak menyukai perubahan Axel yang satu itu sehingga ia sering mengatakan pada Axel untuk tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah.
Tapi Axel tetap tidak mendengarnya.
Bagi Axel segala sesuatunya harus dikerjakan dengan maksimal tapi tidak memakan waktu yang lama.
Axel tumbuh menjadi pria yang memiliki ambisi besar.
Apalagi ini berkaitan dengan Aluna.
Ia akan menghancurkan gadis itu.
Bagaimanapun caranya, ia harus mendapatkan perusahaan Russel.
Tiba-tiba, handphone Axel berdering.
Axel menatap layar handphonenya.
Ia tersenyum tatkala melihat siapa yang menelponnya.
Vallie, gadis itu menelponnya setelah lama tidak membalas pesannya.
Gadis itu memang marah padanya karena tidak datang hari itu.
Hari dimana ia berjanji akan menemani gadis itu berbelanja.
Memang hari itu ia sudah berada di perjalanan untuk menjemput Vallie, namun terjadi kemacetan di jalan dan juga James yang tiba-tiba memberitahunya bahwa terjadi sesuatu di kantor.
Hal itu tergolong sangat penting sehingga ia membatalkan janjinya dengan Vallie.
Namun lihatlah sekarang, Vallie menelponnya.
Gadis itu tidak akan pernah bisa marah padanya.
Axel kemudian mengangkat panggilan Vallie.
"Hallo Vallie..."
Tidak ada jawaban dari Vallie.
"Vallie...
Kakak mengaku Kakak bersalah."
Vallie tetap tidak bersuara.
"Kakak minta maaf Vallie.
Saat itu ada pekerjaan penting yang mengharuskan Kakak untuk kembali ke kantor.
Hem, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan besok?
Kita akan pergi seharian.
Sama sekali tidak ada pekerjaan.
Bagaimana?"
Vallie tersenyum.
Namun ia tidak mudah mempercayai ucapan Axel begitu saja.
"Kakak berjanji?
Jika besok Kak James memanggil Kakak, pasti Kakak akan dengan mudahnya membatalkan rencana kita lagi."
"Kakak berjanji Vallie.
Tidak akan ada pekerjaan besok."
Vallie tersenyum gembira.
"Baiklah Kak."
"Besok jam 10 pagi, kita bertemu di tempat kita janjian sebelumnya."
"Baik Kak.
Sampai jumpa besok Kak."
"Hem.
Tidurlah, ini sudah larut malam."
Axel memutuskan panggilannya.
Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Besok ia tidak bekerja sehingga ia harus mengerjakan semua pekerjaan itu sekarang.
Sementara saat ini Vallie begitu bahagia.
Ia melompat kegirangan di tempat tidurnya.
Besok ia akan bertemu dengan Axel, pria yang dicintainya.
Tidak ada yang lebih membuatnya bahagia dari ini.
Memang Axel adalah cinta pertamanya.
Sebelumnya Vallie tidak pernah menaruh perasaan pada seorang pria.
Bahkan ia sempat berpikir bahwa mencintai seseorang itu sangat konyol mengingat banyak teman-temannya yang patah hati akibat putus cinta.
Tapi tidak semenjak bertemu dengan Axel. Kehadiran Axel membuatnya percaya akan cinta.
Kini ia merasakan apa yang dirasakan oleh teman-temannya.
Dia akan begitu bahagia saat bersama Axel dan sangat sedih jika berjauhan dengan pria itu.
Makanya ia rela datang jauh-jauh dari Indonesia, meninggalkan pekerjaannya hanya demi bertemu dengan Axel.
Sungguh hal itu sangat menyesakkan dadanya.
Selama 3 tahun ini, perasaannya kian bertambah sejak pertama kali bertemu dengan Axel.
Hari itu, ia berpikir bahwa itu hanya rasa tertarik biasa karena Axel memiliki paras wajah yang begitu tampan.
Namun semakin lama mengenal Axel, perasaanya berubah menjadi cinta.
Axel pria yang baik.
Ia juga tidak haus akan kekayaan.
Axel juga tergolong pria yang begitu penyayang dan perhatian pada orang lain.
Tapi tidak untuk gadis itu.
Gadis yang dengan teganya menghianati Axel.
Wajar saja bila Axel membencinya.
Sebagai perempuan, ia juga tidak menyukai perbuatan gadis itu. Rasanya ia ingin menampar wajahnya dan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak punya hati.
Mengingat perlakuan gadis itu yang melukai Axel, membuat Vallie sangat membencinya.
--
Pagi-pagi sekali, Aluna pergi ke apartemennya.
Hari ini adalah hari ulang tahun Ariana.
Ia berencana akan memberikan kejutan sekaligus merayakannya bersama Ariana di sana.
Aluna membawa semua perlengkapan yang telah dibelinya jauh hari.
Pertama, Aluna membuat kue kesukaan Ariana.
Gadis itu begitu menyukai kue buatannya.
Aluna tersenyum tatkala mengingat momen saat Ariana pertama kali mencoba kue buatannya.
Ariana memakan semuanya dengan begitu lahap.
Dan bahkan tanpa tersisa sedikitpun.
Kali ini ia harus melihat pemandangan itu lagi.
Setelah selesai membuat kue, Aluna kemudian menghias apartemennya.
Semua dekorasi bewarna warna kesukaan Ariana, yaitu merah muda.
Berbanding terbalik dengan Aluna yang begitu tidak menyukai warna merah muda.
Makanya setiap kali menerima barang bewarna merah muda, ia akan memberikannya pada Ariana.
Beberapa menit kemudian, semua dekorasi hampir selesai.
"Ah, aku lupa membeli bunganya."
Ariana sama sepertinya begitu menyukai bunga.
Ariana menyukai bunga mawar sedangkan dirinya menyukai bunga lily.
"Aku harus membelinya.
Rasanya tidak akan lengkap jika tidak ada bunga di sana."
Aluna kemudian mengambil tasnya dan keluar dari apartemennya.
Aluna masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Axel sedang melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia dan Vallie akan bertemu.
Ia melihat jam tangannya.
__ADS_1
Pukul setengah 10.
Masih ada waktu 30 menit untuk singgah di suatu tempat.
Aluna sudah sampai di toko bunga, dimana ia sering membeli bunga.
Selain menyukai bunga-bunga di sana, Aluna juga begitu akrab dengan penjualnya.
Bukan hanya dirinya tapi juga Ariana.
"Selamat pagi Nenek Marine.
Wanita itu tersenyum padanya.
"Selamat Pagi Aluna.
Lama tidak bertemu."
"Akhir-akhir ini aku memang sibuk Nek.
Jadi aku tidak sempat datang ke sini.
Maaf ya Nek."
Marine tersenyum.
"Baiklah.
Ngomong-ngomong, dimana Ariana?"
"Sebenarnya Ariana berulang tahun hari ini Nek. Jadi aku ingin memberikan kejutan padanya."
"Benarkah?
Kalau begitu kamu harus memberikannya bunga kesukaannya."
"Iya Nek."
"Kebetulan sekali, persediaan bunga mawar hari ini sangat banyak.
Karyawan akan merangkaikannya untukmu.
Tunggu sebentar, aku akan memanggilnya Aluna."
"Baik Nek."
Beberapa saat kemudian, seorang gadis datang menemuinya.
"Apa kamu yang akan merangkai bunga untukku?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Iya, saya karyawan baru di sini Nona."
"Benarkah?
Oh, ya aku Aluna Gracia."
Aluna mengulurkan tangannya pada gadis itu.
"Saya Gwen Alexandra.
Nona bisa memanggil saya Gwen."
"Nama yang indah.
Senang bertemu denganmu."
"Senang bertemu dengan Nona juga."
"Oh ya, kamu tidak perlu memanggilku seperti itu. Kamu boleh memanggilku Aluna."
Gwen tersenyum pada Aluna.
"Baiklah Aluna."
Gwen mulai mengambil satu per satu bunga yang diinginkan oleh Aluna dan kemudian merangkainya menjadi satu.
Sambil mengerjakannya, Gwen mengobrol dengan Aluna.
Gwen tersenyum saat melihat Aluna tertawa.
Gadis yang sempurna, pikirnya.
Selain cantik, Gwen bisa melihat bahwa Aluna adalah gadis yang baik.
Keramahannya mampu membuat setiap orang menyukainya.
Bahkan walau baru bertemu, gadis sudah menceritakan banyak hal padanya.
Pintu toko itu terbuka, menampilkan seorang gadis tampan yang berpenampilan kasual.
"Apa pesananku sudah selesai?"
Suara yang begitu dikenalinya, milik pria yang ia rindukan selama bertahun-tahun.
Aluna membalikkan badannya.
Namun ia tidak melihat Axel di sana.
Apa ia berhalusinasi lagi?
"Apa tadi ada pria yang datang ke sini?"
tanya Aluna pada karyawan yang bertugas sebagai kasir.
"Iya Bu.
Tapi Tuan itu sudah pergi setelah membawa pesanannya."
"Baik, terima kasih."
Aluna langsung keluar dari toko itu.
Ia yakin Axel masih berada di sekitar sana.
Jantung Aluna berdetak dengan kencang.
Kali ini ia tidak berhalusinasi.
Ya, pria itu pasti Axel.
Aluna melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menatap sekelilingnya.
Hingga matanya berhenti pada seorang pria yang sedang bersandar di dinding sambil memegang bunga.
Aluna menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Matanya mulai berkaca-kaca saat melihat Axel berada tidak jauh darinya.
Aluna perlahan melangkahkan kakinya.
Tatapannya tidak putus menatap pria itu.
Wajah Axel tidak berubah sama sekali.
Bahkan ia terlihat semakin tampan.
"Kak Axe..." panggil Aluna.
Axel begitu mengenali suara itu.
Dengan hanya sekali mendengarnya, Axel sudah tahu siapa orang yang memanggilnya saat ini.
Ia langsung menggeser posisinya menghadap Aluna.
Wajah itu, wajah yang sudah 3 tahun tidak ia lihat.
Mereka saling bertatapan.
Ada tatapan kebahagiaan di wajah itu.
Axel mengepalkan tangannya.
Ia masih mengingat kebahagiaan di wajah Aluna saat menikah dengan Russel.
Gadis itu meninggalkannya saat ia begitu menderita.
Kini dendamnya semakin bertambah saat melihat Aluna.
Aluna pasti begitu menikmati penderitaannya.
"Aku benar-benar bertemu dengan Kakak."
"Kakak benar-benar nyata." tambah Aluna.
Aluna perlahan meneteskan air matanya.
Setelah 3 tahun berharap bertemu lagi dengan Axel, sekarang terasa seperti mimpi.
Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Axel.
Aluna kemudian mendekat pada Axel, namun Axel malah menjauh darinya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Siapa kau?
Aku tidak mengenalmu!"
Aluna mengerutkan keningnya.
Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Axel barusan.
"Kak Axe, apa maksud Kakak?
Aku sama sekali tidak mengerti."
Aluna masih memasang senyuman pada Axel.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak mengenalmu, kau salah orang.
Lebih baik kau menjauh dariku!"
Aluna semakin mendekati Axel.
Axel pasti marah padanya karena meninggalkannya.
Tapi ia harus mengatakan semuanya pada Axel agar ia mengerti.
"Kakak pasti marah padaku.
Tapi aku bisa menjelaskan semuanya Kak."
"Cukup!
Aku menghargaimu sebagai perempuan.
Tapi jika kau bertindak lebih jauh lagi, aku tidak akan segan-segan melukaimu!"
ucap Axel dengan nada tinggi.
Aluna terkejut melihat perubahan di dalam diri Axel.
Axel barusan membentaknya dengan nada tinggi.
"Kak aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
ucap Aluna dengan tatapan memohon.
Axel sangat muak melihat Aluna yang sedang memasang raut wajah sedih saat ini.
Gadis itu sangat pintar bersandiwara.
Axel kemudian pergi meninggalkan Aluna.
Namun tak disangka, Aluna malah memeluknya dari belakang.
Axel langsung melepaskan tangan Aluna dari tubuhnya dengan kasar.
Kali ini Aluna menatap Axel dengan tatapan kecewa.
"Kau sudah melewati batasanmu Nona."
ucap Axel dengan nada memperingati.
Axel kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk pada Aluna.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!"
Axel membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya.
Namun lagi-lagi Aluna menyentuhnya.
Kali ini gadis itu memegang tangannya.
Axel membalikkan badannya lagi.
Ia tidak bisa menahan emosinya.
Axel melepaskan tangannya dari Aluna dan kemudian mendorong Aluna hingga gadis itu terhuyung ke belakang dan kemudian jatuh.
Aluna menatap mata Axel.
Walaupun ia merasakan sakit di tubuhnya, matanya tidak terputus menatap mata itu.
Tidak ada rasa bersalah di sana.
Yang ada hanyalah tatapan kebencian padanya.
Sebegitu bencikah Axel padanya hingga Axel tega berbuat kasar padanya?
"Kak Axel..." panggil seseorang dari kejauhan.
Axel melihat Vallie yang mulai mendekat padanya.
Vallie yang telah tiba, menatap Axel dan Aluna dengan tatapan bingung.
Apalagi melihat Aluna yang masih dengan posisi duduk di tanah sambil menangis.
"Kak, ada apa ini?"
Vallie melihat Axel dan Aluna secara bergantian.
Axel kemudian menggenggan tangan Vallie.
Hati Aluna begitu sakit melihat Axel menggenggam tangan gadis itu di depannya.
"Tidak, tidak ada apa-apa sayang.
Dia hanyalah seorang gadis matre yang selalu mengejar-ngejarku."
Axel memandang Aluna dengan tatapan hina.
"Sebaiknya kita pergi dari sini."
Axel dan Vallie kemudian pergi meninggalkan Aluna di sana.
Aluna masih menatap kepergian Axel bersama gadis itu.
Air matanya jatuh bercucuran.
Ia menundukkan kepalanya dan kemudian menangis sejadi-jadinya.
Aluna tidak menyangka bahwa Axel benar-benar begitu membencinya.
Aluna sama sekali tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang memandangnya dengan tatapan aneh.
Setelah lama menangis di sana, Aluna kemudian berdiri dan menghapus air matanya.
Aluna melangkahkan kakinya kembali ke toko bunga itu.
Aluna membuka pintunya, dan kemudian masuk ke dalam.
Marine dan Gwen terkejut melihat penampilan Aluna yang begitu kacau.
Mata sembab dan wajah yang pucat.
"Apa kamu tidak apa-apa Aluna?" tanya Gwen.
"Aku tidak apa-apa Gwen."
"Apa kamu berhasil bertemu dengan pria itu Aluna?"
"Tidak Nek.
Dia sudah pergi, jadi aku tidak sempat bertemu dengannya." bohong Aluna.
"Boleh Nenek tahu apa hubunganmu dengannya?"
Jujur saja, Marine begitu khawatir dengan kondisi Aluna saat ini.
"Dia teman dekatku saat di Indonesia Nek."
Pantas saja, pikir Marine.
"Benarkah?
Nenek berharap kalian bisa bertemu kembali."
Aluna hanya bisa tersenyum tipis.
"Oh ya, apa pesananku sudah selesai Nek?"
"Ya, semuanya sudah selesai Aluna."
"Terima kasih Nek, Gwen."
"Sama-sama sayang."
Gwen ikut tersenyum pada Aluna.
Setelah membayar dan meminta izin pada Marine untuk kembali, Aluna kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Belum berniat melajukan mobilnya, Aluna melihat ke arah depan dengan tatapan kosong.
Ia kemudian melihat bunga yang akan ia berikan pada Ariana.
Seketika memori bersama Axel muncul di pikirannya.
Dulu Axel sering memberinya bunga.
Namun sekarang hal itu tidak akan pernah terulang kembali.
Melihat Axel saat bersama gadis itu tadi, membuatnya yakin bahwa Axel sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.
Axel sudah lama melupakannya dan sekarang pria itu sudah menjadi milik orang lain.
Aluna sadar bahwa Axel tidak bersalah sama sekali.
Ia juga tidak perlu memberikan penjelasan pada Axel.
Ia yang bersalah karena sudah meninggalkan Axel waktu itu.
Axel berhak bahagia bersama gadis lain.
Walaupun begitu menyakitkan, ia harus tetap menerima hal itu.
Hal itu juga lebih baik dari pada harus terlibat lagi dengan Russel.
Dengan begitu Axel tidak akan menderita lagi.
Air mata itu kembali keluar dari pelupuk matanya.
Aluna bersandar di kursi dan kemudian menutup kedua matanya.
Ia hanya ingin melupakan kesedihannya dan menenangkan hatinya sebentar.
Hingga tidak sadar Aluna akahirnya masuk ke alam mimpinya.
__ADS_1