Revenge For Love

Revenge For Love
Gelang


__ADS_3

Aluna memandang ke arah luar jendela kamarnya dengan selimut yang masih menempel di seluruh tubuhnya.


Hari ini cuaca begitu dingin.


Rintikan hujan jatuh membasahi bumi.


Aluna menyentuh kalung pemberian Axel.


Hari ini adalah hari anniversary mereka.


Setiap tahun di hari anniversary, Aluna akan berada di kamar seharian.


Di kamar ia akan menghabiskan waktunya untuk memikirkan Axel.


Mulai dari membuka album foto mereka, menonton ulang film favorit mereka, dan bahkan Aluna sudah menyiapkan hadiah untuk Axel.


Berharap bahwa suatu hari ia bisa bertemu dengan Axel dan akan memberikan hadiah itu padanya.


Aluna meneteskan air matanya mengingat pertemuan pertamanya dengan Axel setelah lama tidak bertemu.


Ia tahu bahwa Axel akan marah saat bertemu dengannya nanti.


Namun hari itu, jauh dengan apa yang dipikirkan Aluna selama ini.


Axel terlihat begitu membencinya.


Aluna memegang dadanya.


Hatinya begitu sesak setiap kali mengingat hal itu.


Itu artinya ia harus berusaha melepaskan Axel dan melupakan kenangan tentang mereka.


Ia hanya tidak bisa.


Ia begitu mencintai Axel.


Tapi perasaan itu tidak akan pernah terbalas mengingat Axel yang sudah memiliki kehidupan barunya.


Gadis itu juga sepertinya gadis yang baik dan terlihat di matanya bahwa ia mencintai Axel.


Ia yakin gadis itu bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak bisa ia berikan pada Axel.


--


Sama dengan halnya dengan Axel.


Ia tidak melupakan hari ini.


Setiap tahun Aluna mengingat kenangan manis mereka, sementara Axel akan mengingat momen penderitaan yang dialaminya pada hari itu.


Bukan karena tidak ingin melupakan Aluna, ia membiarkan kenangan itu berada di pikirannya untuk mengingatkannya tentang semua luka yang diberikan Aluna padanya.


Dengan begitu, ia tidak akan melupakan dendamnya pada mereka.


Axel membuka kotak kecil yang berada di tangannya.

__ADS_1


Ia masih sangat mengingat benda itu, gelang berinisial "A" yang akan diberikannya untuk Aluna.


Ia tersenyum tanpa arti.


Betapa naifnya dia dulu.


Pria yang begitu tulus mencintai seorang gadis hingga tega meninggalkan Neneknya yang sangat membutuhkannya.


"Kau menghancurkan hidupku Aluna!


Kau mengambil semuanya dariku!"


"Kalau saja aku tidak menemuimu hari itu, mungkin Nenekku tidak akan meninggalkanku secepat itu!"


"Aku membencimu, aku sangat membencimu!"


Axel melempar kotak itu ke dinding.


Emosinya muncul kembali.


Axel mengepal tangannya dengan kuat.


"Saatnya giliranmu Aluna!


Kau harus diberi pelajaran!"


ucap Axel dengan tatapan menyalang.


--


Ia sengaja datang untuk melihat isi apartemen Axel.


Karena ini pertama kalinya ia datang ke sana.


Ia juga sudah meminta izin pada Axel dan lagi-lagi Axel menuruti permintaannya.


Axel memang jarang menolak permintaanya.


Vallie tersenyum melihat sekelilingnya.


Axel memang tergolong pria yang sangat rapi dan selalu menjaga kebersihan.


Vallie melangkahkan kakinya ke kamar Axel.


Kamar yang luas dengan model elegan.


Sangat cocok dengan kepribadian Axel.


Vallie berjalan mengelilingi kamar Axel.


Ia melihat ke arah lemari baju Axel.


Ia begitu penasaran melihat isinya, dan tanpa berlama-lama Vallie membuka lemari itu.


Di sana ada banyak setelan kantor Axel.

__ADS_1


Mulai dari jas, dasi hingga kemeja sering dikenakan oleh Axel.


Vallie mengambil salah satu kemeja


Ia menghirup aroma pewangi yang sering menyeruak keluar dari tubuh Axel.


Ia begitu menyukainya.


Vallie tersenyum, ia ternyata semakin tergila-gila dengan Axel.


Ia kemudian menutup lemari itu dan kembali berjalan mengelilingi kamar Axel.


Saat ia berjalan, kakinya menginjak sesuatu.


Vallie melihat ke bawah kakinya.


Ada kotak kecil yang berada di bawah lantai.


Vallie mengambil kotak itu dan membukanya.


Terdapat sebuah gelang yang begitu indah.


"Indah sekali.


Tapi bukankah ini barang wanita? Mengapa Kak Axel memilikinya?"


Vallie kemudian memutar sisi gelang itu.


Ia melihat inisial "A" terukir pada gelang itu.


"Axel?


Apa salah satu dari gadis itu yang memberikan gelang ini pada Kak Axel?"


Vallie terkekeh geli.


"Dasar bodoh!


Tidak mingkin seorang pria memakai gelang wanita.


Tapi barang ini sangat indah.


Gelang ini menjadi milikku saja.


Aku yakin Kak Axel berniat akan memberinya padaku."


Vallie memakaikan gelang itu ke tangannya.


"Benar-benar indah."


Mulai saat ini gelang ini menjadi milikku.


Dan "A" untuk Axel.


Aku begitu menyukainya.

__ADS_1


Sama seperti gelang ini, aku harap Kak Axel akan menjadi milikku."


__ADS_2