
Seperti dugaan Simon, pihak Kepolisian ikut andil dalam penjebakan Axel.
Mereka pasti berencana menjebloskan Axel ke dalam penjara.
Dan orang yang menjadi dalang dari orang ini adalah orang yang sangat berkuasa sehingga mampu bekerja sama dengan Polisi.
Simon memanggil Mark ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, orang kepercayaannya itu masuk ke dalam ruangannya setelah mendapat izin darinya.
"Segera keluarkan Axel dari sana.
Lakukan seperti apa yang aku katakan kemarin."
"Baik Pak, saya akan melakukannya."
"Kau bisa pergi sekarang."
Mark langsung pergi dari ruangan Simon dan melakukan apa yang diperintahkan pimpinannya itu.
Seperti apa yang diperintahkan Simon, akhirnya Axel dapat terbebas dari jeruji besi yang menjebaknya selama ini.
"Terima kasih Mark."
"Sama-sama Tuan.
Dan anda seharusnya berterima kasih pada Tuan Simon. Tuan Simon yang membebaskan anda."
"Iya aku tahu Paman yang melakukan semua ini."
Tiba-tiba Simon datang menghampiri mereka bersama pengawalnya.
"Senang melihatmu keluar dari tempat kotor itu Axel."
Axel tersenyum pada Simon.
"Terima kasih banyak Paman. Paman telah menyelamatkan aku dari ketidakadilan ini."
Simon memegang pundak Axel.
"Sama-sama Axel. Paman melakukan ini karena Paman telah menganggap kau sebagai Putra Paman. Mulai saat ini, Paman akan melindungimu.
Dan sekarang Paman ingin kamu tinggal bersama keluarga Paman."
Axel terdiam sejenak.
"Baiklah Paman."
--
Beberapa saat kemudian, mobil yang dinaiki oleh Axel dan Simon masuk ke dalam perkarangan rumah mewah.
Mereka keluar dari mobil.
Axel menatap rumah yang terlihat seperti istana itu.
Rumah yang sangat indah, pikirnya.
"Rumah ini akan menjadi rumahmu juga Axe.
Kita akan tinggal bersama di rumah ini."
Axel tersenyum tipis.
"Ayo kita masuk. Seseorang sudah menunggu kita di dalam."
Mereka masuk ke dalam rumah itu.
Mata Axel menangkap seorang gadis yang tengah tersenyum pada mereka.
Siapa gadis itu?
Gadis itu seketika berdiri saat melihat mereka semakin mendekat.
Ia melihat sosok yang begitu tampan bersama Ayahnya.
Matanya tidak bisa terputus menatap mata itu.
Mata cokelat yang menunjukkan banyak cerita di dalam dirinya.
Gadis itu kemudian menghampiri Axel dan Simon.
"Ayah..."
"Apa kamu sudah menunggu lama sayang?"
Gadis itu tersenyum pada Simon.
"Tidak juga Ayah. Aku juga baru pulang dari kampus Ayah."
Gadis itu kemudian tersenyum pada Axel.
"Dan kamu..."
"Ini Axel sayang. Dia anak sahabat dekat Ayah sekaligus pria yang selama ini Ayah ceritakan padamu.
__ADS_1
Dan Axel ini Vallie, Putri Paman.
Usianya 2 tahun lebih muda darimu."
Gadis itu kemudian mengulurkan tangannya pada Axel.
"Hai Kak..
Aku Valleria Alexandra.
Kakak bisa memanggilku Vallie"
Axel membalas uluran tangan Vallie.
"Aku Axel Xaverus."
Vallie tersenyum mendengar nama itu.
"Baiklah, kalian berdua sudah saling mengenal sekarang.
Sebelum mengobrol lebih jauh lagi, kita harus makan malam terlebih dahulu."
"Benar Ayah.
Aku dan Bibi Sefa juga sudah menyiapkan malam untuk kita."
"Itu bagus sayang.
Ayo kita makan bersama."
Mereka bertiga makan bersama di meja makan.
Terlihat keceriaan di wajah Vallie saat menceritakan kehidupan kampusnya pada Simon.
Vallie memang tergolong gadis yang ceria.
Ia selalu mengatakan apa saja pada Ayahnya, mengingat bahwa ia hanya memiliki Simon seorang.
Ibunya meninggal karena penyakit saat umurnya berusia 10 tahun.
Vallie juga tidak memiliki Saudara.
Walaupun begitu, ia tidak pernah merasa kesepian. Simon memberikan kasih sayang yang berlimpah padanya.
Di saat Simon menanggapi ceritanya, pria yang tengah duduk di hadapannya itu hanya diam dari tadi sambil menikmati makanannya.
Vallie sesekali melihat ke arah Axel.
Ia bisa melihat ada beban besar yang tengah ditanggung pria itu.
Termasuk penderitaan yang dialami Axel akibat penghianatan dari gadis yang dicintainya.
Saat mendengar itu, Vallie merasa begitu simpati dengan apa yang dirasakan oleh Axel.Pasti rasanya begitu sakit saat dihianati oleh orang yang kita cintai.
"Baiklah.
Karena kita sudah selesai makan malam, kita akan membicarakan sesuatu yang penting."
"Axel.. "
Axel melihat ke arah Simon.
"Paman telah memutuskan bahwa kamu akan menjadi pewaris perusahaan yang dibangun oleh Paman dan Ayahmu."
Axel terkejut mendengar pernyataan Simon.
"Aku tidak setuju dengan hal itu Paman. Aku tidak bisa menerimanya.
Valleria lebih berhak menjadi pewaris perusahaan Paman."
"Axel..
Vallie juga sudah menyetujui hal itu.
Kamu lebih berhak atas perusahaan ini, mengingat pengorbanan Ayahmu yang begitu besar dibandingkan Paman."
"Kakak tidak perlu merasa tidak enak padaku.
Aku sudah lama menyetujuinya Kak.
Lagian aku tidak ingin memegang perusahaan karena aku memiliki mimpiku sendiri.
Aku ingin menjadi seorang Designer."
Vallie berusaha meyakinkan Axel.
"Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa menerimanya Paman.
Aku tidak ingin mengambil hak yang seharusnya milik orang lain."
Simon tersenyum mendengar ucapan Axel.
Axel memang memiliki kepribadian yang sama dengan Ayahnya.
Begitu juga dengan Vallie, ia merasa kagum dengan Axel.
__ADS_1
Walaupun baru bertemu, ia bisa melihat bahwa Axel adalah pria yang baik.
Pria lain pasti dengan senang hati menerima harta dan kekuasaan yang ditawarkan Ayahnya.
Tapi tidak dengan Axel.
Axel berbeda dengan pria pada umumnya.
"Baiklah Axel.
Sesuai dengan yang kamu inginkan, Paman akan memberikan apa yang menjadi hak Ayahmu dulu.
Perusahaan untuk sementara akan dipegang olehmu sampai Vallie lulus kuliah.
Setelah Vallie lulus kuliah, kalian berdua akan memiliki hak yang sama pada perusahaan.
Saham perusahaan juga akan dibagi dua.
Bagaimana?"
Vallie mengerutkan keningnya.
Ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan perusahaan.
Namun melihat Axel menganggukkan kepalanya, entah mengapa ia ikut menyetujui apa yang dikatakan Ayahnya.
"Itu bagus.
Kalian berdua akhirnya mau menyetujuinya."
Simon melihat ke arah Vallie dan kemudian tersenyum.
"Ayah begitu lega sayang. Akhirnya kamu menyetujuinya."
Ya, Simon sudah berkali-kali meminta Vallie untuk mengendalikan perusahaan. Namun Vallie tetap saja menolaknya. Alasan Vallie selalu sama, yaitu ingin mengejar mimpinya sebagai seorang Designer.
Namun entah mengapa kali ini Vallie menyetujui permintaannya.
Ia juga terkejut saat mendengar persetujuan Putrinya itu.
"Apa Ayah ingin aku membatalkan ucapanku tadi?"
Vallie bermaksud menjahili Simon.
"Tidak, kamu sudah menyetujuinya sayang.
Tidak pembatalan, mengerti?"
"Baiklah aku mengalah Ayah. Aku menyetujui permintaan Ayah.
Tapi aku ingin Ayah mengabulkan permintaanku juga."
"Apa itu sayang?"
"Ayah berjanji akan mengabulkannya?"
Simon langsung menganggukkan kepalanya.
"Suatu saat nanti, aku akan mengatakannya kepada Ayah.
Pada saat itu juga aku akan menagih janji Ayah."
Simom tersenyum mendengar ucapan Vallie.
"Baiklah sayang."
Axel hanya tersenyum tipis melihat obrolan manis Simon dan Vallie.
"Axel, Paman minta maaf bila kamu terganggu dengan sifat Vallie yang banyak bicara."
"Ayah..."
Vallie mengerucutkan bibirnya.
"Tidak apa-apa Paman."
Vallie tersenyum mendengar ucapan Axel.
"Vallie masih sangat muda.
Kamu bisa menganggapnya sebagai Adikmu Axel."
"Baik Paman."
"Paman sangat senang mendengarnya.
Karena selain Paman, ada kamu yang akan menjaga Vallie."
Entah mengapa, perasaan Vallie begitu bahagia saat mendengar bahwa Axel akan menjaganya.
Apa maksud dari apa yang dirasakannya saat ini?
Perasaan bahagia ini, berbeda dari perasaan bahagia yang pernah ia rasakan.
Bersambung...
__ADS_1