Revenge For Love

Revenge For Love
Sampai kapan?


__ADS_3

Gwen menghentikan aktivitasnya sebentar.


Ia kemudian duduk di kursi yang berada di ruangan penanaman bunga.


Rasa pusing menyelimutinya akhir-akhir ini.


Tubuhnya juga terasa lemah dan tidak berdaya.


Tapi ia sama sekali tidak mengkhawatirkan hal itu.


Itu hanya masuk angin biasa, pikirnya.


Gwen kemudian melanjutkan pekerjaannya setelah sudah merasa baikan.


Sementara di luar, suruan Russel sudah berjaga-jaga di luar toko, memantau gerak-gerik Gwen.


Bahkan Russel memerintahkan beberapa berjaga di dekat apartemen Gwen saat malam hari.


Hal itu dilakukannya untuk memastikan Gwen tidak memberitahu media soal kejadian malam itu.


Walaupun ia menilai Gwen berbeda dari gadis lainnya, ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa Gwen tidak akan memberitahu media.


--


Aluna keluar dari mobil.


Saat ini ia akan bertemu dengan Client besar.


Untuk menaklukkan hati para pemegang saham, pertama ia harus memenangkan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar.


Saat mereka melihat performa yang dilakukannya, Aluna yakin para pemegang saham akan bertahan di pihaknya.


Aluna melangkahkan kakinya ke ruangan sang Direktur Perusahaan.


Seorang wanita datang menghampirinya saat sudah sampai di depan ruangan itu.


Iya yakin itu adalah Sekretaris beliau.


"Anda Ibu Aluna Gracia?"


Aluna tersenyum mengangguk.


"Ibu sudah ditunggu oleh Bapak Richard di dalam.


Silahkan masuk Bu."


"Baiklah, terima kasih."


Aluna kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Matanya menatap lurus ke depan.


Namun ia begitu terkejut melihat kehadiran orang yang tidak asing di sana.


Aluna menghentikan langkahnya sebentar.


Axel tengah berbincang dengan Pak Richard.


Menyadari kehadiran Aluna di sana, Axel mengalihkan tatapannya ke arah Aluna yang juga saat ini tengah menatapnya.


Axel memberikan senyuman smirk nya.


Axel tahu bahwa Aluna akan berbuat seperti ini, sehingga ia berpikir ia harus melakukan langkah yang sama dengan Aluna.


Bersaing dengan Aluna bukanlah hal yang sulit untuknya.


Karena kemampuan yang dimilikinya lebih dari yang dimiliki oleh Aluna.


Ia yakin akan menang dari gadis itu.


"Ibu Aluna, silahkan duduk." ucap Richard.


Aluna tersenyum dan kemudian duduk di samping Axel.


"Saya sudah mendengar dari Pak Axel bahwa Perusahaan Silla Grup akan memperluas kerja sama dengan perusahaan kami.


Saya bersyukur Ibu Aluna, selaku Istri Direktur dan Pak Axel selaku pemegang saham begitu antusias berkerja sama dengan kami."


"Kami juga senang bekerja sama dengan anda Pak Richard. Bukan begitu Ibu Aluna?"


Russel melihat ke arah Aluna.


"Iya Pak.


Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan anda."


Richard senang mendengar ucapan keduanya.


"Begini, sebenarnya perusahaan ini sudah saya alihkan ke Putra bungsu saya.


Jadi perusahaan ini akan dipimpin oleh dia.


Maaf sebelumnya tidak memberitahu pada anda, Ibu Aluna."


"Tidak masalah Pak Richard.


Perusahaan kami akan tetap menjalin kerja sama dengan perusahaan Bapak walau dengan pimpinan yang baru."


"Saya sangat senang mendengarnya Bu.


Kalau begitu, besok Pak Axel dan Ibu akan bertemu dengan Putra saya untuk membicarakan kerja sama kita.


Sekretaris saya akan mengatur jadwal pertemuannya."


"Baik Pak."


Setelah banyak mengobrol, Aluna dan Axel keluar dari ruangan itu.


"Aku tahu kau akan mengambil langkah ini Aluna."


Aluna menghentikan langkahnya dan kemudian berhadapan dengan Axel.


"Kau begitu mengenalku rupanya.


Apa kita pernah berhubungan sebelumnya, Pak Axel?"


Axel terkekeh mendengar kalimat Aluna dan kemudian memajukan langkahnya.


"Kau pikir kau bisa mengalahkanku?


Tapi aku senang kau melakukan apa yang rencanakan."


"Kau berpura-pura membantu perusahaanku, agar menarik perhatian para pemegang saham kan?"


"Tentu saja.


Lagian saat aku berhasil nanti, perusahaan ini akan menjadi milikku. Tidak ada salahnya membuat perusahaan ini maju.


Aku bisa mendapatkan keuntungan yang lebih pastinya."


Aluna mengepal tangannya.


Ia begitu emosi mendengar ucapan Axel.


Namun ia berusaha untuk tidak menunjukannya.

__ADS_1


Ia tidak mau Axel senang melihatnya terpengaruh dengan ucapannya itu.


Aluna memasang senyumnya pada Axel.


"Baiklah Pak Axel.


Senang mendengar anda mau membantu perusahaan Silla Grup.


Kalau begitu bekerja samalah dengan baik.


Bagaimanapun kita satu tim bukan?"


"Ketika aku menang nanti, aku tidak yakin akan melihat senyummu itu lagi Aluna."


"Benarkah?


Aku sarankan kau harus sering melihat senyumku. Karna seperti yang kau katakan, kau mungkin tidak akan melihatnya lagi."


Aluna tersenyum lagi.


Kali ini ia sangat puas melihat ekspresi kesal di wajah Axel.


Jika Axel bermain-main dengannya, dengan senang hati ia akan menerimanya.


Tapi ia tidak akan pernah diam dengan hal itu.


Aluna kemudian pergi meninggalkan Axel.


"Senyummu itu akan berganti dengan air mata penderitaan Aluna sehingga kau tidak akan sanggup untuk tersenyum lagi."


--


Keesokan harinya, Aluna pergi menemui Putra bungsu Richard yang merupakan Direktur baru perusahaan mereka.


Aluna melangkahkan kakinya.


Tidak di sangka, Axel tiba-tiba berjalan di sampingnya.


Aluna cukup terkejut.


Ia kemudian memperlambat langkahnya dan membiarkan Axel berjalan meninggalkannnya.


Aluna dan Axel masuk ke dalam ruangan itu.


Di sana terdapat Pria muda yang berdiri sambil tersenyum ke arah mereka.


Pria itu menyambut mereka dengan baik dan kemudian mempersilahkan mereka duduk.


"Selamat datang Pak Axel.


Dan... "


Pria tersenyum menatap Aluna.


"Aluna Gracia.


Aku Gerald, sebenarnya aku sudah mengenalmu sebelumnya."


Aluna terkejut mendengar ucapan Gerald barusan.


Begitu juga dengan Axel.


Apa maksud Gerald mengatakan seperti itu pada Aluna?


Dan bahasa yang digunakan Gerald pada Aluna juga terkesan tidak formal.


Menyadari bahwa kebingungan yang terlihat dari ekspresi Aluna, Gerald tersenyum.


Jadi aku mengetahui sedikit tentangmu."


"Benarkah Pak Gerald?


Senang bertemu dengan anda."


"Kau tidak perlu terlalu formal terhadapku Aluna.


Kau Istri temanku. Jadi kau temanku juga."


Panggil aku Gerald saja."


Aluna tersenyum pada Gerald.


"Baiklah Gerald."


Gerald kemudian melihat ke arah Axel.


"Senang bertemu dengan anda Pak Axel.


Ayahku mengatakan bahwa anda orang yang sangat profesional.


Anda bersedia membantu perusahaan Russel melakukan kerja sama ini."


"Saya melakukannya karena saya pikir perusahaan ini adalah bagian dari perusahaanku juga.


Sudah sewajarnya saya melakukannya Pak Gerald."


Aluna menatap Axel.


Orang-orang pasti akan salut mendengar jawaban Axel.


Meyakini bahwa Axel adalah orang yang baik.


Namun kenyataannya sangat berbanding terbalik.


Axel ingin mengambil alih perusahannya.


Jadi tidak heran Axel mengatakan bahwa perusahaan Russel adalah bagian dari perusahaannya.


Mereka kemudian mulai melakukan pembicaraan terkait kerja sama yang akan mereka jalankan.


Saat berbincang, Axel melihat Gerald dan Aluna terihat sangat dekat.


Bahkan Gerald berpindah ke samping Aluna.


Walau pria itu sesekali melihat ke arahnya, namun matanya fokus menatap Aluna.


Bahkan sering kali ia melihat Gerald tidak berhenti menatap Aluna barang sedetikpun.


Axel kemudian memandang Aluna dengan tatapan remeh.


Ia pikir Aluna unggul dalam menggoda para pria.


Dari matanya, Axel bisa melihat bahwa Gerald tertarik dengan Aluna.


Hanya saja pria itu berpura-pura dengan memakai status teman Russel.


Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Aluna agar Gerald semakin jatuh ke dalam pesonanya.


Dengan begitu, ia bisa memenangkan kerja sama itu dengan mudah.


Dasar wanita penggoda!


Benar-benar picik!

__ADS_1


"Kita akan bertemu di jadwal selanjutnya.


Berikutnya akan lebih membahas tahapan yang akan kita lakukan agar proyek ini berjalan dengan sukses."


"Ide yang kau berikan tadi sangat brilian Aluna.


"Terima kasih Gerald."


"Dan aku rasa langkah yang anda sarankan tadi juga bagus Pak Axel.


Kita bisa mempertimbangkannya nanti."


Axel hanya menganggukkan kepalanya dengan memasang ekspresi datar.


"Sampai bertemu lagi Aluna."


"Sampai bertemu lagi Gerald."


Gerald kemudian meninggalkan Axel dan Aluna.


Aluna melihat Axel sebentar, dan kemudian berniat pergi.


Namun suara Axel menghentikan niatnya.


"Aku akui kau memang unggul dalam menarik perhatian para pria."


Aluna menatap Axel dengan ekspresi keheranan.


"Apa maksudmu mengatakan itu?"


"Kau tidak perlu berpura-pura.


Aku tidak akan memberitahu siapapun, termasuk pada Suamimu."


"Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu.


Russel? Apa hubungannya Russel dengan semua ini?"


Axel terkekeh melihat tingkah Aluna yang berpura-pura polos di depannya.


"Aku tahu kau ingin menggoda Gerald agar kau berhasil memenangkan kerja sama ini.


Ah, aku lupa.


Bahkan kau ingin menjalin hubungan spesial dengannya."


Aluna mengepal tanganya dengan kuat.


Ia begitu sakit mendengar Axel mengatakannya sebagai wanita yang buruk.


"Bukankah kau tadi mendengar bahwa Gerald adalah teman Russel?


Bagaimana mungkin kau berpikiran seperti itu?"


"Apa yang salah jika ia adalah teman Russel?


Kau masih punya banyak kesempatan untuk bermain belakang dari Russel.


Dengan begitu kau masih memiliki cadangan saat perusahaan Russel jatuh ke tanganku nanti."


Ingin rasanya Aluna menampar wajah Axel.


Perkataan Axel sangat melukainya.


Bagaimana bisa Axel menganggapnya seperti itu?


"Kau hanya berusaha sedikit lagi.


Aku yakin ia sudah jatuh ke dalam pesonamu."


"Benarkah seperti itu?


Aku begitu senang mendengarnya.


Jika Gerald memang sudah jatuh ke dalam pesonaku, maka sangat mudah untuk menang darimu.


Perlahan aku akan membuktikan padamu bahwa kemampuan yang aku miliki dan juga pesonaku ini bisa dengan mudah mengalahkanmu.


Kau juga tahu bahwa aku sangat unggul di bidang merayu seorang pria.


Ah permainan akan menjadi tidak menyenangkan nanti.


Kau tahu sebagian besar Client adalah pria kan?


Aku takut mereka semua akan mudah melakukan kerja sama karena tertarik denganku.


Tapi itu juga bukan salahku.


Apakah berdosa jika memiiki wajah yang begitu cantik seperti ini?"


Aluna memajukan langkahnya dan kemudian memasang senyum merekahnya pada Axel.


"Aku khawatir nanti kau juga akan jatuh ke dalam pesonaku."


"Aku akan berpikir ribuan kali untuk tertarik dengan wanita seperti mu.


Asal kau tahu saja aku bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih cantik dan yang pasti lebih baik darimu."


Senyum Aluna menghilang seketika.


Axel selalu saja berhasil membuatnya terluka.


"Baiklah. Untuk pria sepertimu, aku percaya dengan kalimatmu itu.


Kau begitu membenciku, jadi tidak alasan bagimu untuk tertarik denganku."


Tiba-tiba terdengar suara dering handphone Aluna.


Aluna menepi untuk menjawab panggilan itu.


Axel akhirnya pergi meninggalkan Aluna.


Aluna tidak menjawab panggilan itu.


Ia malah menatap kepergian Axel.


Perlahan air matanya mulai menetes.


Ia begitu terluka dengan semua ucapan yang dilontarkan Axel padanya.


Sebegitu buruk kah ia di mata Axel?


Perkataan Axel terkesan menilainya sebagai wanita murahan yang suka menggoda para pria hanya untuk mendapatkan keuntungan.


Aluna menghapus air matanya dan kemudian berjalan menuju toilet.


Di dalam toilet, Aluna meluapkan semua kesedihannya.


Ia merasa tidak sanggup menghadapi ini semua.


Pria yang sangat dicintainya ternyata benar-benar begitu membencinya dan bahkan berpikiran buruk terhadapnya.


Sampai kapan ia akan terjebak dengan kesalahpahaman ini?

__ADS_1


__ADS_2