Revenge For Love

Revenge For Love
Berpelukan


__ADS_3

Axel keluar dari kamarnya.


Ia menatap ke arah kamar Aluna.


Gadis itu sama sekali belum keluar dari kamarnya.


Axel pikir Aluna perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.


Sementara Aluna sedang berdiri di depan jendela kamarnya, menatap langit yang perlahan berubah menjadi senja.


Semilir angin mengenai wajah Aluna.


Seketika perasaan Aluna berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Aluna merapatkan baju hangatnya.


Walaupun angin berubah menjadi dingin, ia masih ingin berlama-lama di sana.


Aluna menarik napas panjang dan kemudian menghembuskannya.


Ia tersenyum melihat langit yang begitu indah.


Tiba-tiba handphonenya berdering.


Aluna melihat nama "Ariana" di layar handphonenya.


Ia langsung menjawab panggilan itu.


"Halo Ariana.."


"Halo Aluna..


Suaramu terdengar berbeda.


Apa kamu baik-baik saja?


Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padamu?


Apa yang dilakukan Kak Axel?


Katakan padaku Aluna."


Aluna terkekeh mendengar pertanyaan bertubi-tubi Ariana.


Aluna kemudian teringat dengan kejadian yang menimpanya kemarin.


Apa ia perlu memberitahu Ariana tentang itu?


Tidak, ia tidak akan memberitahu Ariana.


Ia tidak mau membuat Ariana bersedih dan semakin khawatir dengannya.


"Aku baik-baik saja Ariana.


Aku hanya sedikit tidak enak badan karena terlalu banyak bekerja.


Kamu tidak perlu khawatir, hem?"


"Syukurlah.


Tapi walaupun begitu, kamu harus tetap berjaga-jaga.


Beritahu aku secepatnya jika sesuatu terjadi."


"Baiklah.


Aku juga khawatir denganmu.


Apa kamu makan teratur sejak aku pergi?"


"Iya, aku mengingat janjiku Aluna.


Aku tidak pernah melewatkannya."


"Itu hal yang sangat bagus Ariana.


Aku harap kamu juga menjaga kesehatanmu."


"Tenang saja.


Aku akan baik-baik saja Aluna."


"Bye.."


Setelah mengobrol panjang, Aluna menutup panggilannya.


Ariana kembali melihat laptop yang telah dihubungkannya dengan kamera pada koper dan tas Aluna.


Namun kamera itu sudah terputus sehingga ia tidak bisa memantau keadaan Aluna lagi.


Sepertinya kamera itu tidak sengaja terjatuh.


Ariana menarik napas panjang.


Axel memegang dua kamera pengintai yang berada di tangannya.


Satu berasal dari kopernya dan satu lagi ia dapatkan dari tas Aluna.


Ia tahu bahwa itu adalah perbuatan James dan Ariana.


Mereka berniat mengintai dirinya dan Aluna.


Tidak, lebih tepatnya mereka melakukan itu karena mereka takut ia melakukan sesuatu yang buruk pada Aluna.


Namun sejak kapan James berhubungan dengan Ariana?


Axe kemudian terkekeh geli.


Bisa-bisanya mereka mereka melakukan hal seperti itu.


Benar-benar konyol!


--


Keesokan harinya, Aluna bangun pagi-pagi sekali.


Ia langsung mandi dan segera berpakaian.


Pagi ini ia berencana pergi ke suatu tempat.


Tempat yang pernah ia rencanakan untuk dikunjungi bersama Ariana.


Namun hal itu selalu saja tertunda akibat pekerjaan.


Dan hari ini ia akan pergi ke sana untuk menenangkan dirinya.


Pastinya akan sangat menyenangkan.


Aluna selesai memoles wajahnya.


Ia tidak lupa memasangkan syal ke lehernya.


Akhir-akhir ini cuaca begitu dingin sehingga ia harus memakai baju hangat yang tebal.


Aluna kemudian memasang sepatunya.

__ADS_1


Aluna membawa tasnya dan kemudian keluar dari kamar.


Sekilas ia melihat ke arah kamar Axel.


Sejak kejadian malam itu, rasanya ia tidak boleh membebani Axel lagi.


Axel sudah menyelamatkan dirinya.


Dan itu sudah sangat cukup baginya.


Ia tidak mau masuk dalam kehidupan Axel sehingga membuat pria itu semakin menderita.


Walaupun perasaannya masih tetap sama.


Setelah sampai di bawah, Aluna langsung masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di depan hotel.


Aluna tersenyum tatkala sampai di terminal bus.


Ia akan menggunakan bus pergi ke tempat tujuannya.


Setelah membayar, Aluna masuk ke dalam bus yang akan membawanya.


Axel keluar dari kamarnya.


Matanya menangkap kamar Aluna terbuka.


Ia langsung mendekati kamar itu.


Namun sebelum ia masuk, seseorang keluar dari sana.


"Selamat Pagi Pak."


"Aluna?"


"Nona Aluna sedang keluar Pak.


Jadi saya membersihkan ruangannya sebelum Nona Aluna kembali."


"Apa kau tahu dia pergi kemana?"


"Saya tidak tahu Pak.


Dari pakaian yang digunakan Nona Aluna, sepertinya beliau tidak pergi sebentar Pak."


Axel berkacak pinggang.


Pergi kemana dia?


Semalaman ia memikirkan keadaan Aluna, dan sekarang gadis itu pergi sendirian tanpa memberitahunya.


"Terima kasih."


"Pak.." panggil karyawan hotel itu.


Axel membalikkan badannya.


"Kemarin Nona Aluna bertanya pada saya mengenai jadwal keberangkatan bus menuju Skagit Valley.


Saya yakin Nona Aluna pergi ke sana untuk mengunjungi festival bunga tulip."


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya."


Axel langsung mengambil jaket dan kunci mobil dari kamarnya.


Kemudian ia masuk ke dalam lift.


Setelah sampai di parkiran, Axel masuk ke dalam mobilnya.


Ia langsung melajukan mobilnya menuju Skagit Valley.


Butuh beberapa jam hingga sampai di Skagit Valley.


Fitur utamanya adalah Sungai Skagit, yang menembus komunitas lokal yang meliputi pusat wilayah Skagit, Gunung Vernon, serta Sedro-Woolley, Beton, Lyman-Hamilton, dan Burlington.


Salah satu yang menarik perhatian, Skagit Valley memiliki ladang tulip yang begitu indah.


Skagit Valley dikelilingi oleh iklim maritim dingin yang menyediakan dingin musim dingin (tapi tidak beku) dan secara bertahap bertransisi ke hangat musim semi dan musim panas kemudian musim gugur yang moderat.


Transisi bertahap adalah kunci keuntungan mengapa Skagit Valley memiliki beberapa tulip terbaik di dunia.


Aluna turun dari bus.


Ia begitu terpukau dengan pemandangan yang berada di hadapannya.


Tulip-tulip yang berjajar begitu indah dengan warna-warna memukau.


Memang ia datang di waktu yang tepat di saat tulip-tulip itu sudah tumbuh besar.


Aluna langsung mengambil beberapa foto menggunakan kamera handphonenya.


"Sangat indah.."


Aluna tersenyum melihat sekelilingnya.


Tempat itu begitu ramai pengunjung.


Ya, tentu saja.


Karena selain indah, Skagit Valley juga memiliki udara yang begitu sejuk.


Aluna kemudian berjalan mengitari ladang tulip itu.


Begitu menyenangkan.


Rasanya ia ingin tinggal di sana.


Axel melihat rute perjalanan menuju Skagit Valley.


Sebentar lagi ia akan sampai di sana.


Beberapa saat kemudian, Axel telah sampai di Skagit Valley.


Ia kemudian memarkirkan mobilnya.


Axel memakai jaketnya dan langsung keluar dari mobil.


Ia kemudian berjalan ke pintu masuk.


Saat ia masuk, matanya disuguhkan dengan pemandangan yang begitu indah.


Pantasan saja banyak orang yang datang ke tempat itu.


Axel kemudian melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari Aluna.


Walaupun mungkin sulit, ia akan berusaha menemukan gadis itu.


Axel berjalan mengitari tempat destinasi itu dengan mata mencari-cari.


"Kau dimana Aluna?"


Axel mengambil handphonenya dari sakunya.


"Sial!"


Sama sekali tidak ada jaringan di sana.

__ADS_1


Ia tidak akan mungkin bisa menghubungi Aluna.


Axel melanjutkan kembali pencariannya.


Aluna tersenyum tatkala mencium aroma bunga tulip bewarna merah, kesukaannya.


Dengan posisi berjongkok, ia menyentuh setiap bagian bunga itu.


Aluna kemudian berdiri dan kembali mengitari tempat itu.


Aluna mengambil banyak foto.


Lagi-lagi ia begitu terpukau dengan hasilnya.


"Ternyata kau di sini rupanya."


Aluna menghentikan kegiatannya sejenak.


Ia begitu mengenali suara itu.


Ia kemudian membalikkan tubuhnya.


Matanya menangkap Axel yang berjalan ke arahnya.


Aluna mengerutkan keningnya.


Bagaimana bisa Axel berada di sana juga?


"Aku sudah mencarimu kemana-mana tadi.


Ternyata kau di sini."


"Apa kau mengikutiku ke sini?"


Axel memasukkan tangannya ke dalam saku.


"Kau pergi sendirian tanpa sepengetahuanku.


Jika kau memberitahuku terlebih dahulu, aku tidak akan mengikutimu seperti ini."


Axel berbohong.


Sebenarnya alasannya pergi ke tempat itu adalah karena ia khawatir dengan Aluna.


Bahkan ia akan tetap pergi walaupun Aluna memberitahunya tadi.


Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Aluna.


Apa Axel khawatir dengan dirinya?


Tanya Aluna di dalam hati.


Kalaupun ia tidak memberitahu Axel mengenai kepergiaannya, hal itu seharusnya tidak mempengaruhi pria itu.


Axel bisa melihat begitu banyak pertanyaan di wajah Aluna.


Gadis itu pasti masih bertanya-tanya apa alasannya mengikutinya ke tempat itu.


"Aku rasa tempat ini benar-benar indah."


ucap Axel mencoba mengalihkan pembicaraan.


Axel kemudian berjalan meninggalkan Aluna yang masih berdiri di tempatnya.


Axel membalikkan badannya.


"Kemarilah.


Waktu terlalu singkat jika kau hanya berdiri di sana."


Aluna perlahan melangkahkan kakinya menyusul Axel.


Axel memperkecil langkahnya sehingga ia dan Aluna berjalan berdampingan.


Sesekali pandangan mereka bertemu dan tidak lama setelah itu mereka mengalihkan pandangan ke arah lain.


Aluna melihat beberapa orang naik ke dalam bus.


Axel mengikuti arah pandangan Aluan.


"Kau ikut masuk ke sana juga?


Bus itu akan mengantar pengunjung ke Gunung Vernon."


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah ayo masuk ke bus itu."


Axel dan Aluna kemudian masuk ke dalam bus itu.


Namun tidak disangka, bus itu sudah penuh.


Tidak ada kursi yang tersisa.


Hal itu membuat Axel dan Aluna harus berdiri sambil memegang pegangan tangan bus.


Dengah kondisi yang berdesakan, membuat Aluna harus berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengan Axel.


Aluna mengangkat tangan kananya.


Pegangan bus itu terlalu tinggi sehingga membuat Aluna sulit menggapainya.


Hal itu membuat Aluna takut terjatuh.


Ia mencoba mencari pegangan.


Namun tidak ada sama sekali.


Bus mulai melaju dengan kencang.


Aluna berusaha untuk menahan tubuhnya agar tidak limbung ke samping.


Namun ia tidak bisa mengelaknya.


Tubuhnya limbung ke samping kiri, hampir mengenai seorang pria yang berdiri di sampingnya.


Untung saja Axel segera menangkap tubuhnya.


Mata mereka saling bertemu.


Tak di sangka, Axel semakin memeluk tubuhnya, berhadapan dengan dirinya.


Saat ini Aluna sedang berada di pelukan Axel dengan wajah menghadap dada pria itu.


Aluna perlahan bergerak, berniat melepaskan pelukan Axel. Namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


Hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain diam.


Dan pelukan Axel juga membuatnya tidak limbung lagi.


Axel memeluk tubuh Aluna dengan erat.


Ia berusaha menjauhkan tubuh Aluna dari pria yang saat ini berada di belakang Aluna.


Jika tadi ia tidak menangkap tubuh Aluna tepat waktu, Aluna pasti jatuh dalam pelukan pria itu.

__ADS_1


Dan tentu saja, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Pria itu tidak bisa menyentuh Aluna barang sedikitpun!


__ADS_2