Revenge For Love

Revenge For Love
Bersyukur


__ADS_3

Seperti apa yang dikatakannya, Axel kembali lagi keesokan harinya.


Namun hasilnya sama seperti sebelumnya, Aluna masih tidak datang ke kantor.


Hari-hari berikutnya ia datang lagi.


Ia sama sekali tidak menyerah.


Hingga hal itu membuat Ariana sangat kesal.


Axel pergi setelah mengetahui Aluna tidak ada di ruangannya.


Pria itu sangat keras kepala, pikir Ariana.


Axel menatap layar handphonenya yang tertuju pada kontak Aluna.


Pikirannya sangat kacau.


Sepertinya Aluna benar-benar berniat menghindarinya.


Gadis itu tidak datang ke kantor selama seminggu agar tidak bertemu dengannya.


"Apa yang harus kulakukan Aluna?"


ucapnya dengan nada getir.


--


Gwen duduk di tepi ranjangnya dengan wajah masam.


Ia sangat bosan berada di tempat itu.


Selama seminggu ia hanya di apartemen Russel dan tidak melakukan apa-apa.


Russel juga melarangnya pergi kemanapun dan bahkan tidak memperbolehkannya melakukan pekerjaan rumah.


Pria itu selalu mengawasinya.


Dia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali.


Rasanya ia terkurung di dalam penjara.


"Aku sangat bosan.


Apa yang harus aku lakukan?


Pria itu benar-benar sangat angkuh."


Gwen menatap ke arah perutnya dan mengelusnya dengan lembut.


"Sayang..


Mama tahu kau juga bosan tinggal di sini.


Lebih baik kita tinggal di tempat kumuh itu tapi kita bisa menghirup udara dengan bebas dari pada di tempat yang begitu besar namun kita seperti terkurung di dalam penjara."


"Maafkan Mama tidak bisa membawamu lari dari pria itu."


Tanpa disadari Gwen, Russel sudah berada di dalam kamarnya.


Gadis itu benar-benar tidak menyadari kedatangannya.


Russel melipat kedua tangannya sambil menatap Gwen yang terlihat cemberut.


Ia terkekeh.


Sepertinya gadis itu tidak suka dengan apa yang dilakukannya.


Russel kemudian mendengar apa yang dikatakan Gwen pada anaknya.


Ia berubah menjadi kesal.


Berani-beraninya Gwen mengatakan hal itu pada anaknya


Ia kemudian menghampiri Gwen.


"Hey.."


Gwen seketika menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


Ia kemudian menatap ke arah Russel yang berdiri di hadapannya dengan raut wajah kesal.


(Apa dia mendengar apa yang kuucapkan tadi?)


Tapi ia sama sekali tidak peduli.


Apa yang diucapkannya memang benar adanya.


"Kau?


Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ini apartemenku.


Apa aku perlu izinmu untuk datang ke sini?"


ucap Russel dengan nada tinggi.


Hal itu membuat Gwen sangat terkejut.


Ia kemudian menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah Russel.


Russel menyadari ketakutan Gwen.


Ia lalu menarik napas panjang, berusaha untuk mengontrol dirinya.


"Bersiaplah.


Kita akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan.


Aku menunggu di luar."


Russel keluar dari kamar.


Gwen menaikkan wajahnya dan menghapus air matanya yang keluar.


Selama hidupnya ia mungkin mengalami kesulitan, tapi ia tidak pernah diperlakukan seperti itu.


Rasanya ia begitu terluka akibat bentakan Russel.


Setelah mengganti pakaiannya, Gwen keluar dari apartemen Russel.


Di luar, Frans telah menunggunya dan bersiap mengantarnya pada Russel.


Gwen duduk di sebelah Russel.


Perasannya masih tidak enak, sehingga ia hanya bisa menundukkan wajahnya.


Russel menyadari hal itu.


Ia tahu tadi nada bicaranya sangat tinggi pada Gwen sehingga membuat gadis itu takut padanya.


Ia menyesalinya.


Bagaimanapun ia tidak mau hal itu berdampak buruk pada anaknya.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah sakit.


Russel berjalan bersama Gwen.


Setelah itu, mereka duduk di salah satu kursi ruang tunggu.


"Nona Gwen silahkan masuk ke dalam ruangan."


ucap seorang Suster.


Gwen kemudian berdiri dan mengikuti langkah Suster.


Awalnya ia mengira bahwa ia akan masuk sendiri di dalam ruangan itu.


Namun tidak setelah menyadaru bahwa Russel juga ikut masuk.


"Selamat Siang Nona Gwen Alexandra."


"Selamat siang Dok."


"Oh ternyata anda bersama Suami anda."


Gwen melihat ke arah Russel yang tersenyum pada Dokter.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Russel."


"Senang bertemu dengan anda Pak Russel.


Silahkan duduk."


"Apa anda pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya Nona?"


"Iya Dok.


Sebulan yang lalu saya melakukan pemeriksaan yang pertama saat mengetahui bahwa saya hamil.


Hasil pemeriksaan menunjukkan janin saya sudah berusia 2 minggu."


"Baiklah.


Janin anda saat ini sudah berusia 6 minggu.


Pemeriksaan yang kita akan lakukan hari ini adalah USG untuk mendeteksi kondisi janin anda.


Silahkan berbaring Nona Gwen."


Gwen berbaring di tempat tidur.


Dokter kemudian melakukan pemeriksaan USG pada perut Gwen.


Gwen melihat gambar janinnya di dalam monitor.


Ia menyunggingkan senyumnya.


Rasanya ia begitu bahagia melihat janinnya yang mulai terbentuk.


Sama halnya dengan Russel.


Matanya tidak putus menatap monitor itu.


"Pertumbuhan janin anda baik-baik saja dan tidak ada kelainan sama sekali.


Hal ini berita baik pastinya."


Setelah pemeriksaan, Dokter memberikan penjelasan mengenai apa yang harus dilakukan pada masa kehamilan.


Dokter juga menyarankan Russel untuk menemani Gwen pada pemeriksaan selanjutnya serta memantau kesehatan Gwen dan bayinya.


Sepulang dari rumah sakit mereka kembali ke Apartemen.


Gwen berniat masuk ke dalam kamar, namun langkahnya terhenti setelah mendengar kalimat Russel.


"Besok aku akan mengirim seseorang untuk menemanimu di sini.


Dia juga akan memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.


Jadi kau tidak perlu melakukan apapun.


Dan ingat, kau tidak boleh keluar dari sini.


Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya."


Russel pikir Gwen tidak akan kesepian atau bosan jika ada seseorang yang menemaninya.


Setelah mendengar penjelasan dari Dokter, ia tidak mau Gwen mengalami stres yang akan berakibat buruk pada anaknya.


Gwen menganggukkan kepalanya dan kemudian masuk ke dalam kamar.


Ia duduk di tepi ranjang sambil mengelus perutnya.


Kesedihannya seketika menghilang setelah melihat gambar anaknya pada pemeriksaan tadi.


Hanya saja ia tidak memiliki foto hasil USG itu karena Russel yang menyimpannya.


Padahal ia begitu menginginkannya.


Gwen kemudian teringat dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Russel saat melihat foto hasil USG yang diberikan Dokter.


Pria itu tersenyum memandangi foto itu.


Sekarang bisa ia pastikan bahwa Russel tidak akan menyakiti bayinya.


Ia benar-benar sangat lega.

__ADS_1


Setelah sebelumnya ia berpikir Russel akan memaksanya untuk menggugurkan bayinya.


Walaupun sikap yang ditunjukkan pria itu tergolong kasar dan memaksa, namun ia tetap bersyukur.


__ADS_2