Revenge For Love

Revenge For Love
Kesedihan Vallie


__ADS_3

Keesokan paginya, Ariana langsung pergi ke kamar Aluna setelah mendapat kabar dari James bahwa Axel akan segera bertunangan dengan Vallie.


"Aluna.."


Aluna mengalihkan pandangannya saat mendengar suara Ariana.


"Ariana ada apa?


Kenapa wajahmu panik seperti itu?


Apa terjadi sesuatu?"


"Aku harus memberitahumu sesuatu yang penting Aluna."


Ariana mencoba mempertimbangkan.


Ia khawatir hal itu akan membuat Ariana bersedih.


Namun ia harus memberitahu Aluna.


"Cepat katakan Ariana."


"Minggu depan Kak Axel dan Vallie akan bertunangan."


Mendengar ucapan Ariana barusan, Aluna menarik napas panjang.


Ternyata Axel benar-benar menepati janjinya.


Dari kemarin pikirannya dipenuhi dengan ucapan Axel pada saat di mall kemarin.


Dan sekarang hal itu akan menjadi kenyataan.


"Aluna, kamu tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa Ariana.


Itu yang aku mau.


Melihat Kak Axel bahagia bersama gadis lain."


Namun apa yang dilihat Ariana berbanding terbalik dengan apa yang diucapkan Aluna.


Mata Aluna yang berkaca-kaca sudah membuktikannya.


Bahwa sebenarnya Aluna begitu sedih mendengar hal itu.


"Aluna..


Apa kamu memang sudah menetapkan keputusanmu?


Masih ada waktu untuk berbaikan dengannya.


Kalian hanya menyakiti diri kalian sendiri.


Aku tahu bahwa sebenarnya kalian tidak benar-benar bahagia.


Aku mohon pertimbangkan kembali keputusanmu Aluna."


"Aku sudah mempertimbangkannya Ariana."


ucap Aluna berusaha meyakinkan Ariana.


"Bagaimana dengan anak kalian?


Apa selamanya kamu akan menyembunyikannya dari Kak Axe?


Paling tidak beritahu Kak Axe tentang kehadirannya Aluna.


Bagaimanapun Kak Axel adalah Ayah dari anakmu.


Dia pasti akan begitu kecewa saat nanti mengetahui kebenarannya.


Anakmu juga pasti sangat membutuhkan sosok Ayah di dalam hidupnya."


"Aku akan memberitahunya saat ia sudah menikah dengan Vallie.


Aku tidak mau anak kami menjadi alasan Kak Axel berpisah dengan Vallie."


"Aluna.."


"Ini untuk kebaikan kami berdua Ariana.


Selama ini aku sudah menggoreskan banyak luka padanya.


Aku hanya ingin ia menemukan kebahagiaannya."


"Baiklah, jika memang itu keputusan kalian berdua."


Sebenarnya Ariana belum bisa menerima keputusan Aluna.


Karena nyatanya mereka berdua masih sangat saling mencintai.


Rasanya sayang sekali jika mereka berpisah hanya karena masa lalu.


Apalagi Aluna tengah mengandung anak Axel.


Harusnya anak itu menjadi penguat hubungan keduanya.


Anak itu akan menjadi bukti cinta mereka.


--


Malam harinya, Axel menemui Simon yang kembali mengundangnya untuk membicarakan pertunangannya dengan Vallie.


Kali ini James tidak ikut dengannya.


Sahabatnya itu sepertinya tidak mau ikut karena masih belum setuju dengan keputusannya.


"Axel, kemarilah."


Simon langsung memberikan pelukan pada Axel saat melihat kedatangannya.


Di belakang Simon sudah ada Vallie yang tengah tersenyum melihatnya.


"Paman sangat bangga padamu Axel."


Axel hanya menanggapi ucapan Simon dengan senyuman tipis.


"Duduklah, kita akan membicarakan pertunganmu dengan Vallie.


Vallie duduklah di samping Axel."


Axel dan Vallie kemudian duduk berdampingan.


"Paman sudah mendengar dari Vallie bahwa kau mempercepat pertunangan kalian.


Paman sangat senang mendengarnya Axel.


Rupanya kau sudah sangat menerima perjodohan kalian.


Paman yakin, secepatnya Paman juga akan mendengar kabar bahagia dari kalian."


Kabar bahagia yang dimaksud Simon adalah kabar pernikahan Axel dan Vallie.


"Kami sangat membutuhkan doa dan dukungan dari Papa agar proses hubungan kami berjalan dengan lancar."


"Tentu saja sayang.


Dari awal Papa sangat mendukung hubungan kalian, dan akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian.


Untuk persiapan pertunangan kalian, Papa yang akan mengurus semuanya."


"Terima kasih banyak Pa.


Tapi untuk pakaian, aku ingin kami sendiri yang mengurusnya."


"Baiklah kalau begitu.


Kapan kalian akan mulai memilih baju pertunangan?"


"Bagaimana dengan besok Kak?


Apa Kakak punya waktu?"


"Maaf Vallie, untuk besok sepertinya aku tidak bisa.


Karena aku sudah memiliki janji dengan Client penting.


Lusa sepertinya aku bisa mengosongkan jadwalku."


"Baiklah kalau begitu Kak.


Lusa kita akan pergi bersama."

__ADS_1


"Hem."


Simon hanya bisa tersenyum mendengar perbincangan di antara Vallie dan Axel.


Saat ini ia begitu bahagia karena ia yakin Axel kelak akan membahagiakan Putrinya.


--


Keesokan paginya, Aluna pergi ke taman yang berada di depan rumah.


Ia memilih menyibukkan diri dengan menanam bunga untuk menghilangkan segala penat di dalam dirinya.


Tiba-tiba ia menyadari kedatangan seseorang dari belakangnya.


Aluna berdiri dan kemudian membalikkan badannya.


Ia begitu terkejut melihat kehadiran Alda.


Ia langsung memberikan tatapan masam pada Ibunya itu.


"Aluna.


Ini Mami membawakan buah-buahan untukmu.


Buah sangat baik untuk kesehatan bayimu sayang."


"Tidak perlu.


Kalau aku mau, aku bisa membuatnya sendiri."


Aluna berniat pergi, namun Alda memegang tangannya.


"Katakan apa yang harus Mami lakukan agar kamu mau memaafkan Mami sayang."


"Apa Mami bisa mengembalikan kebahagiaan Aluna yang dulu?


Mami tidak bisa kan?"


Mata Aluna mulai berkaca-kaca.


Sungguh setiap kali ia mengingat semua apa yang dilakukan Alda pada Axel dan dirinya, ia berpikir mungkin tidak akan bisa melupakan semua itu dalam waktu yang cepat.


Ia pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk itu.


"Aluna jangan seperti ini.


Mami tidak akan bisa bertahan jika kamu terus menghindari Mami.


Mami tahu Mami sangat bersalah.


Maafkan Mami sayang."


"Aluna sudah memafkan Mami.


Tapi Aluna belum bisa melupakan semua apa yang Mami lakukan padaku.


Aku sangat terluka setiap kali lihat Mami.


Karena dengan melihat Mami, aku akan mengingat semua penderitaan yang aku alami."


Aluna langsung meninggalkan Alda sendirian.


Alda kembali meneteskan air matanya.


Sebagai seorang Ibu, ia tidak akan tahan bila terus dijauhi oleh Putrinya sendiri.


Apalagi saat ini Aluna sedang hamil.


Ia ingin memberi banyak perhatian pada Aluna.


--


Sama halnya dengan Aluna, Axel menyibukkan dirinya di kantor untuk melupakan kegelisahan di dalam dirinya.


Bahkan ia tidak menjawab panggilan Vallie yang sudah menghubunginya berkali-kali.


Ia hanya ingin menenangkan dirinya.


Semalam ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan Aluna.


Paginya, kepalanya pusing berat akibat tidak tidur semalaman.


Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk pergi ke kantor.


Tidak terasa hari sudah hampir malam.


Ia ingin mengajak Axel pulang, namun ia segera mengurungkan niatnya mengingat kejadian kemarin saat ia menolak untuk ikut dengan Axel.


Ia kemudian pergi dan memutuskan untuk pulang sendiri.


Axel memijit keningnya setelah selesai memeriksa berkas-berkas di tangannya.


Ia melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 Malam.


Sejujurnya ia masih belum ingin pulang.


Ia lalu mengambil jasnya dan kemudian keluar dari ruangannya.


Ia harus menenangkan dirinya di suatu tempat.


Mobilnya telah sampai di depan bar.


Ia kemudian masuk ke dalamnya dan memesan minuman alkohol.


Setelah pesanannya datang, Axel langsung meneguknya hingga beberapa gelas habis.


"Aku minta sebotol lagi."


ucap Axel pada batender yang menyediakan pesanan untuknya.


Batender itu kemudian memberikan satu botol yang sama.


Tanpa menghiraukan dirinya yang sudah mulai hilang kendali, Axel kembali menuangkan alkohol ke gelasnya.


Hingga 2 botol telah habis diminumnya.


"Berikan aku satu botol lagi!"


ucap Axel dengan nada yang sudah tidak normal.


"Tidak Tuan.


Keadaan Tuan sudah tidak memungkinkan untuk meminum alkohol lagi.


Tuan sudah mabuk berat."


"Berani-beraninya kau melarangku.


Kau itu bukan siapa-siapa.


Kau bukan Aluna yang bisa memaksaku untuk melakukan hal yang tidak aku suka.


Aluna bebas melakukan apapun padaku.


Tapi kau tidak bisa.


Kau harus camkan itu!


Berikan aku sebotol lagi.


Cepat!"


Batender itu meyakini bahwa saat ini Axel sedang patah hati.


Wajar jika ia minum banyak alkohol.


Ia kemudian membawakan Axel satu botol alkohol lagi.


Namun saat ia kembali, Axel sudah tertidur.


Suara kemudian keluar dari mulut Axel dengan menyebut nama seseorang.


"Aluna.."


ucap Axel berulang kali.


"Aku harus menelpon seseorang untuk menjemput Tuan.


Kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk pulang sendiri."


Kebetulan handphone Axel berada di meja.


Batender tersebut langsung membuka handphone Axel.

__ADS_1


Ia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari sebuah nomor.


Ia langsung menghubungi nomor tersebut karena ia yakin bahwa pemilik nomor tersebut adalah gadis yang namanya berulang kali disebut Axel tadi.


"Halo Kak.


Mengapa Kakak tidak menjawab panggilanku?


Padahal aku sudah menghubungi Kakak berulang kali.


Aku begitu khawatir Kak."


ucap Vallie setelah mendapat telpon dari Axel.


Perasaannya begitu lega saat ini.


Namun tidak setelah mendapat kebenaran dari orang yang menghubunginya.


Vallie sudah sampai di bar dimana Axel pergi.


Ia masuk ke dalam dan matanya mencari keberadaan Axel.


Dan akhirnya ia menemukan Axel yang tertidur dengan kepala di atas meja.


"Saya akan membantu memapah tubuh Tuan Axel Nona."


"Terima kasih banyak telah membantu."


Batender itu kemudian membawa Axel ke dalam mobil Vallie.


"Sekali lagi terima kasih banyak Tuan."


"Sama-sama Nona."


Vallie masuk ke dalam mobilnya.


Ia kemudian melihat ke arah sampingnya.


Axel sepertinya minum begitu banyak sehingga tidak sadarkan diri.


Ia menggeser tubuh Axel dan menyelimutinya dengan jas milik Axel.


"Apa yang terjadi denganmu Kak sehingga kondisimu menjadi seperti ini."


Vallie menggeser tubuhnya berniat melajukan mobil.


Namun suara Axel menghentikan niatnya.


"Aluna..."


Vallie langsung mengalihkan pandangannya ke Axel.


Seketika perasaannya menjadi begitu sakit saat mendengar nama itu keluar dari mulut Axel.


Dalam kondisi tidak sadar, justru nama Aluna yang disebut oleh Axel.


Vallie berusaha menguatkan dirinya dan memilih melajukan mobilnya menuju apartemen Axel.


Sesampainya di depan apartemen Axel, Vallie kemudian memutuskan untuk menghubungi James.


Namun saat memeriksa handphonenya, handphonenya tiba-tiba mati.


Ia baru menyadari bahwa tadi ia belum sempat mengisi ulang daya baterainya.


Ia kemudian mengambil handphone Axel.


Namun saat menghidupkan handphone Axel, ia begitu terkejut melihat walpapernya.


Terdapat gambar mesra Axel bersama Aluna.


Axel mencium pipi Aluna!


Lagi-lagi ia merasakan sakit yang begitu dalam.


Nyatanya Axel belum melupakan Aluna sama sekali walaupun sudah mulai menjalin hubungan dengannya.


Mata Vallie mulau berkaca-kaca.


Namun ia tetap melanjutkan untuk menghubungi James.


Beberapa saat kemudian, James menghampiri mobil Vallie.


"Vallie, apa yang terjadi dengannya?"


"Kak Axel sedang mabuk Kak.


Sepertinya ia minum begitu banyak tadi."


"Baiklah.


Aku akan membawanya masuk.


Apa kau ingin ikut masuk?"


Vallie menganggukkan kepalanya.


Ia mengikuti James yang membawa Axel dari belakang.


Axel akhirnya sudah berada di kamarnya.


"Vallie tunggu sebentar, aku akan mengambil air minum untuk Axel."


Vallie menganggukkan kepalanya.


Sepeninggal James, Vallie kemudian menaikkan selimut yang melekat pada tubuh Axel.


Lagi-lagi kegiatannya terhenti karena suara yang dikeluarkan Axel.


Tapi kali ini lebih menyakitkan dari sebelumnya.


"Aluna, aku mohon jangan tinggalkan aku.


Aku begitu mencintaimu Aluna.


Aku tidak akan bisa hidup tanpamu."


Terdengar nada lirih dari kalimat yang dikeluarkan Axel, mengisyaratkan bahwa Axel begitu terluka saat ini.


Kalimat Axel juga seolah memperingatinya bahwa Axel tidak akan pernah melupakan Aluna.


Bahkan Axel masih sangat mencintai Aluna.


Vallie menghapus air matanya dan kemudian keluar dari kamar Axel.


Rasanya ia tidak akan sanggup berlama-lama di sana.


"Vallie, kamu akan pulang?"


ucap James menghampiri Vallie yang akan berjalan menuju pintu keluar.


"Iya Kak.


Tolong jaga Kak Axel."


Vallie langsung pergi dan kemudian keluar.


James masih menatap kepergian Vallie.


Terlihat raut kesedihan di wajah itu.


James kemudian kembali masuk ke dalam kamar Axel.


Ia meletakkan air putih dan baskom yang berada di tangannya ke atas meja.


"Aluna..."


James melihat ke arah Axel.


Samar-samar ia mendengar Axel menyebut nama Aluna.


"Aluna aku begitu merindukanmu...


Aku mohon jangan pergi dariku."


Ia akhirnya mengetahui apa yang membuat Vallie bersedih saat keluar dari kamar Axel.


Gadis itu pasti mendengar suara ringkihan Axel yang menyebutkan kalimat cintanya pada Aluna.


"Sekarang kau baru memahaminya Vallie.


Kau akan sangat menderita jika meneruskan hubungan ini.


Kalau begitu berhentilah!"

__ADS_1


James sudah memperingati Vallie sebelumnya untuk berhenti.


Ia berharap kali ini Vallie mau mendengarkannya.


__ADS_2