
Russel langsung melajukan mobilnya dengan cepat setelah mendapat kabar mengenai Gwen yang saat ini berada di rumah sakit.
Frans memberitahunya bahwa gadis itu dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan.
Di rumah sakit,
Gwen segera ditangani oleh salah satu dokter kandungan.
"Bagaimana keadaannya Dok?
Dan bayinya, apa keadaannya baik-baik saja?"
Marine sangat khawatir dengan Gwen dan bayinya.
"Nona Gwen dan bayinya baik-baik saja Bu.
Beruntung mereka dibawa ke rumah sakit dengan cepat.
Saya sarankan, Nona Gwen tidak bekerja untuk sementara waktu sampai kondisinya membaik.
Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil muda.
Janinnya masih sangat rentan."
Marine menarik napas lega.
Bersyukur Gwen dan bayinya baik-baik saja.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Gwen jika bayinya kenapa-kenapa.
Gwen sangat menyayangi bayinya.
Marine kemudian masuk ke dalam ruangan dimana Gwen dirawat.
Ia melihat Gwen belum sadarkan diri.
Ia tersenyum dan kemudian memegang tangan Gwen dengan lembut.
Rasanya tidak adil jika Gwen harus kehilangan bayinya juga.
Gwen sudah banyak menderita di dalam hidupnya.
Ia hanya berharap Gwen bisa hidup bahagia bersama bayinya.
Gwen perlahan membuka matanya.
Ia melihat Marine berdiri di depannya sambil tersenyum.
"Syukurlah kamu sudah sadar sayang."
"Bayiku Nek..
Dia baik-baik saja kan?"
Marine tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Dia baik-baik saja Gwen.
Beruntung kamu segera dibawa ke rumah sakit tadi.
Lebih baik kau berhenti bekerja untuk sementara Gwen.
Kasihan bayimu yang masih lemah.
Nenek takut terjadi apa-apa dengannya."
Gwen menatap ke arah perutnya dan kemudian mengelusnya dengan lembut.
Rasanya ia juga tidak tega jika harus membiarkan bayinya terluka lagi.
Dia tidak mau kehilangan bayinya.
Tapi jika ia tidak bekerja, bagaimana dengan biaya hidup mereka nantinya?
Tidak mungkin jika harus merepotkan Nenek Marine lagi.
Bayinya juga memerlukan asupan untuk perkembangannya.
Ia hanya mengkhawatirkan kondisi bayinya.
Gwen perlahan meneteskan air matanya.
Marine mengetahui apa yang dipikirkan Gwen saat ini.
Gadis itu pasti tidak ingin merepotkannya lagi.
"Gwen..
Nenek tahu apa yang kamu pikirkan sayang.
Kamu tidak perlu khawatir.
Nenek akan membantumu Gwen."
Gwen menatap Marine dengan senduh.
"Gwen tidak mau merepotkan Nenek lagi."
"Kamu sama sekali tidak merepotkan Nenek Gwen.
Kamu sudah Nenek anggap seperti Cucu Nenek sendiri.
Nenek tidak akan membiarkanmu menderita."
Gwen kembali meneteskan air matanya.
Ia sangat beruntung memiliki Nenek Marine di dalam hidupnya.
Tanpa mereka sadari, Russel berdiri di depan ruangan Gwen dan sudah mendengar pembicaraan mereka.
Dasar gadis keras kepala, pikirnya.
Ia tidak akan membiarkan Gwen melakukan apapun yang dapat melukai anaknya.
Ia kemudian membuka pintu ruangan itu.
Gwen dan Marine melihat ke arah pintu yamg terbuka.
Seketika perasaan Gwen membuncah saat melihat Russel masuk ke dalam kamarnya.
Marine juga terkejut melihat kedatangan Gwen.
"Anda...
Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Marine mencoba mengingat.
"Iya Nek, saya pernah datang ke toko Nenek untuk bertemu dengan Gwen sekitar satu bulan yang lalu."
Marine melihat ke arah Gwen yang sedang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Benar, saya sudah mengingatnya sekarang.
Bukankah anda Kekasih Gwen?"
Gwen dan Russel sama-sama terkejut mendengar pertanyaan Marine.
Marine menyadari keterkejutan mereka berdua.
"Nenek Benar.
Saya Kekasih Gwen."
Gwen begitu terkejut dengan pernyataan Russel.
Apa maksud Russel mengatakan seperti itu?
"Sudah kuduga.
Selama ini Gwen menyela bahwa kalian adalah pasangan Kekasih.
Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi Gwen."
"Nek kami tidak..."
__ADS_1
"Dan apa kamu sudah tahu bagaimana keadaan Gwen saat ini?"
Gwen menatap lekat Marine.
Ia tidak ingin Russel tahu bahwa ia sedang hamil saat ini.
Ia tidak mau pria itu menyakiti anaknya.
Mengingat Russel yang sebelumnya begitu tidak ingin siapapun mengetahui kejadian malam itu.
"Sepertinya Nenek harus pergi saat ini.
Russel, kamu mau kan menjaga Gwen sampai keadaannya membaik?"
Marine ingin memberikan waktu berdua pada Russel dan Gwen.
"Baik Nek.
Aku akan menjaga Gwen di sini.
Nenek tidak perlu khawatir."
"Baiklah.
Gwen Nenek akan kembali ke toko.
Russel akan menjagamu di sini sayang.
Nenek akan sering menghubungimu, hem?"
Gwen perlahan menganggukkan kepalanya.
Sebenarnya ia tidak ingin tinggal berdua dengan Russel.
Hanya saja, ia tidak ingin Russel mengetahui kehamilannya.
Marine tersenyum dan kemudian pergi meninggalkan Russel dan Gwen.
Sepeninggalan Marine, Gwen mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ia tidak ingin melihat wajah Russel.
"Apa yang kau lakukan di sini?
Pergilah!
Kau tidak perlu bersandiwara lagi.
ucap Gwen dengan nada datar.
Russel mendekati ranjang.
"Kau tidak perlu menyembunyikannya padaku.
Aku sudah tahu semuanya."
Jantung Gwen berdetak dengan kencang.
Apa Russel sudah mengetahui kehamilannya?
"Aku tidak mengerti apa maksudmu.
Lagian kau tidak perlu mengetahui apapun tentangku.
Kita tidak pernah mengenal sebelumnya."
"Memang seperti itu sebelumnya.
Namun tidak setelah kau mengandung anakku!"
Gwen membelalakkan matanya.
Russel sudah mengetahui kehamilannya.
Gwen memegang erat bajunya.
Ia berpikir Russel pasti berniat menyakiti anaknya dengan menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya.
Apa yang harus ia lakukan?
Dia anak pria lain."
Russel tersenyum menyeringai.
"Saat malam itu aku sudah tahu bahwa kau tidak pernah berhubungan dengan pria lain.Dan aku juga sudah mencari tahu semua tentangmu.
Jadi bisa kupastikan bahwa bayi yang kau kandung adalah anakku."
"Baiklah memang benar aku mengandung anakmu.
Tapi kau tidak menginginkannya bukan?
Jangan khawatir, aku tidak akan memberitahu siapapun tentang anak ini.
Kau hanya perlu membiarkan kami hidup bersama.
Dan bisa aku pastikan, aku dan dia tidak akan mengusik kehidupanmu."
"Kau benar, aku tidak menginginkannya."
Russel menatap nyalang ke arah perut Gwen.
Seketika Gwen langsung menutup perutnya dengan selimut.
Membuatnya semakin berpikiran aneh.
"Aku mohon jangan sakiti anakku.
Aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun.
Bahkan sebelumnya aku tidak memberitahu siapapun tentang malam itu."
Russel berjalan mendekati Gwen yang terlihat ketakutan.
"Aku mohon jangan sakiti anakku.."
Gwen menatap Russel dengan tatapan memohon.
"Gugurkan bayi itu!"
Gwen menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau!
Aku tidak akan menggugurkannya.
Aku Ibunya, dan aku akan merawatnya hingga ia dewasa.
Kau sama sekali tidak berhak atasnya!"
Perkataan Gwen membuat Russel marah.
"Kalau begitu berhentilah bekerja!
Kau hampir saja membunuhnya.
Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau adalah Ibunya?
Kau membiarkannya terluka hanya karena keegoisanmu."
"Kau mengatakan aku egois?
Jika aku tidak bekerja, aku tidak akan bisa membeli kebutuhan anakku.
Dia juga tidak akan bisa tumbuh dengan baik."
"Aku akan membiayainya."
Perkataan Russel membuat Gwen terkejut.
Padahal sebelumnya pria itu mengatakan tidak menginginkan bayinya.
"Tidak perlu.
Aku bisa membiayainya sendiri."
__ADS_1
"Kau yakin?
Keras kepalamu itu tidak akan bisa membantumu Gwen."
"Jika kau tidak mau, maka aku akan menyuruhmu menggugurkannya."
Gwen menatap Russel dengan tatapan nyalang.
Bagaimana bisa Russel mengatakan seperti itu padanya?
"Kau harus memiliih salah satunya."
Gwen mulai mempertimbangkannya.
Sebenarnya ia tidak ingin menerima apapun dari pria itu.Tapi jika ia tidak mau, Russel akan menyakiti anaknya.
Ia tidak mau hal itu terjadi.
Russel tersenyum menyeringai.
Ia sudah tahu Gwen akan menolak bantuannya.
Oleh karena itu, ia harus mengancam Gwen terlebih dahulu agar gadis itu mau menurutinya.
Gwen perlahan menganggukkan kepalanya.
"Bagus!
Mulai saat ini kau harus tinggal di apartemenku."
"Apa?"
"Kau pikir aku mau meninggalkan anakku di tempat kumuh seperti itu?
Entah bagaimana kau bisa bertahan di tempat itu."
"Bukankah kau memiliki Istri?
Bagaimana jika ia mengetahui semua ini?
Aku tidak mau dicap sebagai wanita perusak rumah tangga orang lain.
Oleh karena itu aku mengatakan padamu untuk tidak perlu bertanggung jawab atas anak ini."
"Kau tidak perlu khawatir.
Dia tidak akan marah bahkan jika setelah ia mengetahui semua ini.
Ia sama sekali tidak perduli."
Gwen menatap Russel dengan tatapan heran.
Bagaimana bisa Istrinya tidak marah saat mengetahui Suaminya memiliki wanita lain?
--
Russel membawa Gwen ke salah satu apartemen mewahnya.
"Mulai saat ini kau tinggal di sini.
Aku akan menelpon perawat pribadi untuk merawatmu sampai kondisimu membaik.
Jika kau memerlukan sesuatu, kau tinggal mengatakan pada pengawalku yang berjaga di depan."
Gwen menatap sekelilingnya.
Tempat itu sangat mewah dan tergolong terlalu besar jika ia tempati sendiri.
"Kau yakin aku tinggal di sini?"
"Apa kau tidak menyukainya?"
Russel pikir Gwen tidak suka dengan dekorasi apartemennya.
"Hem.."
"Apa kau memiliki apartemen yang berukuran sama dengan apartemenku?"
Russel terkekeh mendengar pertanyaan Gwen.
Gadis itu ternyata hanya tidak menyukai ukuran apartemennya yang terlalu besar.
Di saat gadis lain memilih tempat yang besar, gadis itu malah lebih memilih tempat yang sangat kecil.
Benar-benar aneh, pikirnya.
"Aku akan tinggal di sana saja."
tambah Gwen.
"Kau harus tinggal di sini.
Ini perintah!"
Wajah Gwen berubah menjadi muram.
Lagi-lagi ia harus menuruti Russel.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun.
Semua makanan dan bahan makanan yang kau perlukan ada di kulkas.
Dan pakaianmu juga sudah ada di dalam lemari."
"Kau masuk ke dalam apartemenku?
Bagaimana bisa kau melakukannya tanpa sepengetahuanku?"
"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau.
Termasuk membuatmu menuruti semua perintahku."
Gwen mengepal tangannya dengan erat.
Ia berusaha mengontrol dirinya yang begitu tidak suka dengan sikap Russel.
Benar-benar pria angkuh dan egois!
"Beristirahatlah.
Kau bisa menyakitinya jika berdiri berlama-lama."
Dan ingat, kau tidak boleh mengerjakan apapun di sini!
Kau juga tidak boleh keluar dari tempat ini.
Pengawalku akan memantau setiap pergerakanmu."
"Aku bekerja, tentu saja aku harus keluar."
"Mulai besok kau tidak boleh bekerja lagi."
"Apa?"
"Aku sudah bilang bahwa aku yang akan membiayai kalian.
Jadi kau tidak perlu bekerja."
"Tapi.."
"Tidak ada sama sekali penolakan!
Kau sudah memilih pilihan ini.
Dan satu lagi, aku Ayahnya.
Aku juga berhak atasnya!"
Russel langsung pergi meninggalkan Gwen yang duduk di tepi ranjang.
Sementara Gwen menatap kepergian Russel dengan tatapan kesal.
Ia begitu marah saat ini.
Pria itu memerintahnya dengan sesuka hati tanpa mempertimbangkan perasaannya.
__ADS_1
Dasar pria tidak punya hati!