
Hari dimana pertemuan diadakan di kantornya, Russel tidak datang ke sana.
Russel keluar dari mobinya.
Ia melihat ke arah tempat itu.
Tempat dimana gadis itu bekerja saat ini.
Gwen Alexandra nama gadis itu.
Gadis yang saat ini berusia 25 tahun.
Seorang yatim piatu, yang dulunya tinggal di panti asuhan.
Frans kemarin memberitahunya bahwa saat ini Gwen bekerja di toko bunga yang berada di pusat perkotaan.
Ia memutuskan untuk menemui Gwen sendiri sekaligus memastikan bahwa gadis itu tidak akan memberitahu siapapun tentang kejadian di malam itu.
Russel akan memberikan uang yang banyak agar Gwen mau tutup mulut.
Kehidupan ekonomi Gwen yang sederhana membuatnya yakin bahwa Gwen akan menerima penawarannya
Russel membuka pintu toko itu.
"Selamat siang.
Anda ingin memesan bunga apa Tuan?
Oh ya, kami memiliki banyak jenis bunga terbaru." ucap seorang wanita tua yang sedang tersenyum padanya.
Semua karyawan di sana terpukau dengan ketampanan Russel.
Russel hanya diam sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Russel kemudian melihat ke arah bunga-bunga yang tersusun di sana.
"Sebenarnya aku datang ke sini untuk bertemu dengan Gwen Alexandra."
"Gwen?"
Semua terkejut dengan ucapan Russel.
Mereka berpikir bahwa pria tampan yang saat ini berada di hadapan mereka adalah Kekasih Gwen.
"Apa aku bisa bertemu dengannya?"
Marine tersenyum.
"Tentu saja Tuan.
Saya akan memanggil Gwen untuk anda."
Marine berniat pergi.
"Boleh aku ikut denganmu?" tanya Russel.
"Baiklah Tuan.
Saya akan mengantar Tuan pada Gwen."
Russel kemudian mengikuti langkah Marine dari belakang.
"Bukankah pria itu sangat tampan?" tanya salah seorang karyawan pada karyawan lainnya.
"Iya, dia sangat tampan.
Gwen beruntung memiliki Kekasih seperti dia."
Russel menghentikan langkahnya.
Ia bisa melihat Gwen dari tempatnya.
Gwen yang sedang menyiram bunga dengan teko air di tangannya.
Terlihat jelas Gwen begitu menikmati pekerjaan barunya.
Senyumnya terpancar menyinari wajahnya.
Marine menghampiri Gwen.
"Gwen.."
Gwen membalikkan badannya.
"Iya Nek?"
"Ada seorang Pria yang ingin bertemu denganmu."
Gwen mengerutkan keningnya.
Kira-kira siapa yang ingin bertemu dengannya?
Ia sama sekali tidak memiliki keluarga.
Dan jikalau pun temannya, mereka akan menghubunginya terlebih dahulu.
"Mengapa kamu tidak pernah mengatakan pada Nenek bahwa kamu memiliki Kekasih yang begitu tampan?"
__ADS_1
"Kekasih?
Aku sama sekali tidak memiliki Kekasih Nek."
"Kamu tidak perlu malu Gwen.
Pergilah, dia sedang menunggumu di sana."
"Baiklah Nek."
Gwen kemudian meletakkan teko air yang berada di tangannya dan kemudian membawa bunga yang sudah dipetiknya.
Marine tersenyum menatap kepergian Gwen.
Gwen gadis yang baik.
Hidup sebagai seorang yatim piatu dari kecil tidak membuat Gwen menyerah begitu saja.
Gwen memang gadis yang begitu kuat.
Marine sangat menyayangi Gwen, sama seperti Aluna dan Ariana.
Gwen menghentikan langkahnya.
Ia melihat seorang pria berdiri membelakanginya.
Kemudian pria itu membalikkan badannya.
Hal itu membuat Gwen begitu terkejut, hingga menjatuhkan bunga yang ada di tangannya.
Gwen perlahan memundurkan langkahnya.
Tangannya bergetar dengan hebat.
Ia berusaha menahannya.
Ia begitu takut melihat pria yang telah memperkosanya malam itu.
Pria yang menghancurkan masa depannya dan merenggut satu-satunya kebanggaannya selama ini.
Russel bisa melihat ketakutan di wajah Gwen. Gadis itu pasti trauma dengan kejadian itu.
Ia tahu bahwa Gwen tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
Ia juga adalah pria yang pertama menyentuhnya.
"Aku ingin bicara sesuatu padamu."
Gwen masih melihat ke arah lain.
"Aku sudah meminta izin pada Bossmu."
Gwen kemudian duduk di sofa dan Russel menyusul di belakangnya.
Beberapa saat, mereka berdua hanya diam tanpa berbicara.
Russel menyadari hal itu.
Ia harus segera menyampaikan penawarannya pada Gwen.
"Aku Russel William.
Aku minta maaf untuk kejadian di malam itu.
Aku tidak bermaksud untuk melakukannya padamu. Hanya saja malam itu pikiranku sangat kalut."
Gwen menundukkan kepalanya.
"Aku akan memberikan penawaran sebagai ganti rugi atas tindakan itu.
Kau boleh meminta apapun padaku.
Asalkan kau bisa pastikan tidak memberitahu media soal itu."
Gwen mengepal tangannya dengan erat.
Teganya Russel berkata seperti itu padanya seolah harga dirinya bisa dibeli begitu saja.
Dia bukanlah seorang *******.
Selama hidupnya ia berusaha untuk mempertahankan harga dirinya, apapun yang terjadi.
Namun pria itu merusak semuanya dan kini dengan mudahnya pria itu menawarkan sesuatu untuk membelinya.
Dengan keberanian Gwen menatap Russel.
Walau dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf Tuan, kau salah menilaiku.
Aku tidak menjual harga diriku pada siapapun.
Aku bukanlah ******* yang bisa kau bayar begitu saja."
"Aku hanya berniat minta maaf padamu."
"Aku tidak menerima permintaan maafmu yang tidak tulus itu Tuan.
__ADS_1
Kau sebenarnya hanya ingin agar aku tidak memberitahu siapapun soal malam itu, bukan?
Baiklah, kau tidak perlu menawarkan apapun padaku karena sampai kapanpun aku tidak akan menerima semua itu."
"Aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun."
Gwen langsung berdiri dari duduknya berniat untuk pergi. Namun suara Russel menghentikan langkahnya.
"Aku bisa mempercayai ucapanmu itu?"
"Aku bukan gadis yang sama dengan mereka.
Ini adalah pertemuan terakhir kita.
Aku mohon jangan datang kesini lagi."
Gwen berusaha menyembunyikan air matanya dari Russel.
Dan sebenarnya Russel menyadari hal itu.
"Aku akan kembali bekerja Tuan."
Russel mengerti maksud ucapan Gwen.
Gadis itu ingin ia segera pergi dari sana.
Russel melihat ke arah Gwen sebentar dan kemudian pergi meninggalkannya.
Mata pata karyawan itu masih menatapnya saat hendak pergi dari toko.
Termasuk Marine.
Ia tersenyum.
(Semoga hubungan keduanya baik-baik saja)
Sementara Gwen meluruhkan tubuhnya ke lantai setelah kepergian Russel.
Ia menangis terseduh-seduh.
Sejak lahir, ia selalu mengalami masa-masa sulit. Ia tidak memiliki keluarga dan tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Ia dirawat di pantu asuhan, dengan harapan orang tuanya akan datang menjemputnya.
Walaupun mereka membuangnya, ia masih sangat menyayangi mereka.
Ia hanya ingin bertemu dengan mereka.
Namun harapannya pupus.
Hingga akhirnya ia keluar dari panti asuhan dan memutuskan untuk menjalankan hidup sendiri.
Ia bekerja keras membiayai kehidupannya agar bisa bertahan hidup.
Gwen sempat bimbang dan khawatir saat bekerja di bar itu.
Namun akhirnya ia memutuskan untuk bekerja di sana karena ia bekerja sebagai pelayan, jadi tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
Namun kejadian malam itu menghancurkan kebanggaannya, kehormatan yang ia jaga selam ini.
Ia begitu sedih dan tertekan hingga memutuskan tidak lagi bekerja di sana.
Gwen tidak mau hal itu terulang lagi padanya, dan peristiwa itu selalu saja menghantuinya.
Lagi lagi Gwen tidak mau putus asa walau dengan kondisi seperti itu.
Ia tidak ingin menyerah setelah berusaha selama ini.
Ia yakin suatu saat nanti kebahagiaan akan datang padanya.
Walaupun ia tidak tahu hal itu kapan datang.
Untung saja Marine mau menerimanya bekerja di toko bunganya.
Marine begitu baik padanya.
Marine bahkan mau mendengar semua ceritanya.
Gwen sangat bersyukur dengan hal itu.
Ia bersyukur ada orang yang menyayanginya.
Marine sudah ia anggap sebagai keluarganya sendiri.
Russel masuk ke dalam mobilnya.
Ia mengingat ucapan Gwen tadi yang berjanji tidak akan mengatakan media soal kejadian malam itu.
Walaupun seperti itu, ia harus memantaunya lagi.
Ia belum bisa mempercayai Gwen sepenuhnya.
Namun entah mengapa ia bisa percaya bahwa Gwen berbeda dengan gadis-gadis yang ditidurinya.
Gwen tidak menerima tawarannya yang biasa digunakan gadis lain untuk meminta apa saja bahkan memerasnya.
Untuk saat ini, Gwen memang berbeda.
__ADS_1