Revenge For Love

Revenge For Love
Tidak perlu takut atau khawatir


__ADS_3

Ariana membuka pintu apartemen.


Tiba-tiba ia terkejut mendengar suara tertawa yang berasal dari dapur.


Dan ia yakin, itu suara Aluna bersama seorang pria


Dan siapa pria itu?


Sangat penasaran, ia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.


Dan kebenarannya membuatnya semakin terkejut.


Aluna saat ini sedang bersama Axel.


Dua orang itu sedang makan bersama.


Aluna dan Axel akhirnya menyadari kehadiran Ariana.


Raut terkejut tergambar dengan jelas di wajah gadis itu.


"Kau..


Kenapa kau kembali lagi ke sini?


Apa kau berniat berbuat macam-macam seperti kemarin lagi?"


ucap Ariana dengan nada datar.


Aluna tersenyum.


Ia tahu bagaimana perasaan Ariana saat ini.


Sahabatnya itu pasti begitu terkejut melihatnya bersama Axel.


"Ariana.."


Aluna berniat menjelaskan semuanya pada Ariana.


"Tidak perlu sayang.


Aku yang akan memberitahunya."


Panggilan "sayang" membuat Ariana semakin tidak mengerti.


Apa keduanya sudah berbaikan?


Tapi baginya itu terlalu cepat.


Mengingat Axel yang sebelumnya begitu kasar pada Aluna.


Axel beranjak dari kursi dan kemudian menghampiri Ariana.


"Aku dan Aluna sudah berbaikan dan memutuskan untuk kembali bersama."


"Kau yakin?


Aku harap ini bukan salah satu rencanamu untuk membalas dendam pada Aluna."


"Kau tidak perlu khawatir.


Aku tidak akan menyakiti Aluna lagi."


"Jadi bagaimana dengan Russel?


Kau tidak tahu kalau pria itu tidak akan terima melihat kalian kembali bersama."


"Iya, aku sudah mengetahuinya.


Tapi aku akan melakukan segala cara agar Aluna bisa bebas dari pria itu."


(Apa Aluna sudah memberitahu Kak Axel semua kebenarannya?)


"Baiklah.


Jika kau memang serius untuk kembali bersama Aluna, aku tidak punya pilihan lain lagi.


Aku hanya tidak mau kau menyakitinya kembali."


"Terima kasih Ariana."


Ariana mengerutkan keningnya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih karena telah menjadi sahabat yang baik untuk Aluna.

__ADS_1


Dan selama 2 tahun ini kau menjaganya saat aku tidak ada."


"Kalau begitu, mulai saat ini kau yang akan menjaganya."


"Ya, kau benar.


Oh ya, aku juga harus berterima kasih lagi padamu."


"Kali ini untuk apa?"


"Karenamu sahabatku James akhirnya menemukan arti hidupnya.


Kau membuatnya mengenal cinta yang sesungguhnya."


Perkataan Axel membuat pipi Ariana bersemu merah.


"Kalimatmu terlalu berlebihan.


Kami bahkan belum menjalin hubungan."


Axel terkejut mendengar hal itu.


"Benarkah?


Dasar James!


Aku tidak menyangka bahwa ia akan selambat itu.


Tapi jujur saja, James begitu menyukaimu.


Hanya saja mungkin ia sedang mencari cara untuk membuatmu lebih yakin padanya.


Kau hanya perlu bersabar saja."


Aluna menghampiri Ariana dan kemudian memegang tangannya.


"Apa yang dikatakan Kak Axe benar.


Kamu hanya perlu bersabar menunggu hari itu Ariana."


Ariana tersenyum.


Ia sendiri juga berharap seperti itu.


Selama ini James begitu perhatian padanya.


--


Aluna mengantar Axel keluar dari pintu apartemennya.


"Apa aku perlu mengantar Kakak sampai parkiran?"


"Tidak perlu sayang.


Kau hanya perlu mengantarku sampai di sini."


"Baiklah kalau begitu Kak."


Axel mendekati Aluna dan kemudian mencium kening gadis itu dengan lembut.


"Aku pulang.


Jangan lupa untuk beristirahat yang cukup, hem?"


"Baiklah Kak.


Kakak juga hati-hati di jalan."


Aluna perlahan melepaskan tangan Axel.


Axel tersenyum dan kemudian membalikkan badannya.


Sementara Aluna masih menatap kepergian Axel.


Entah mengapa ia tidak ingin Axel pergi darinya.


Tidak disangka, Axel kembali lagi.


Pria itu mendekat padanya.


"Sebenarnya aku tidak ingin cepat-cepat kembali.


Aku ingin terus berlama-lama denganmu Luna."


Axel menautkan keningnya pada Aluna.

__ADS_1


Aluna tersenyum.


Sama dengan Axel, dirinya juga ingin seperti itu.


Axel mengelus pipi Aluna dengan lembut.


Tanpa menunggu, ia langsung mencium bibir Aluna.


Aluna mengalungkan tangannya pada leher Axel, menikmati perlakuan manis pria itu.


Lama berciuman, Axel akhirnya melepaskan bibirnya dari Aluna.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Aku sangat mencintaimu Luna."


"Aku juga sangat mencintaimu Kak."


Axel kemudian membawa Aluna ke dalam pelukannya.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu sayang."


Aluna terkekeh mendengar ucapan Axel mengingat mereka yang hanya terpisah selama sehari.


Karena besok Axel akan melakukan perjalanan dinas ke luar kota.


Jadi mereka tidak bisa bertemu.


Axel melepas pelukannya.


"Lusa aku akan datang.


Tunggu aku, hem?"


Aluna menganggukkan kepalanya.


"Masuklah.


Aku khawatir akan berbuat lebih jauh lagi."


Aluna tersenyum.


"Baiklah Kak."


Aluna kemudian melambaikan tangannya pada Axel dan masuk ke dalam apartemennya.


Setelah memastikan Aluna masuk, Axel kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju lift.


Ariana menghampiri Aluna yang baru saja masuk.


"Apa kamu sudah memberitahu Kak Axel semua kebenarannya Aluna?"


"Belum Ariana."


"Kenapa kamu tidak memberitahunya.


Aku pikir ini waktu yang sangat tepat untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara kalian berdua."


"Bagiku semua itu hanya masa lalu.


Jadi aku pikir biarkan semuanya hilang begitu saja.


Lagian aku dan Kak Axe sudah memutuskan untuk memulai awal baru tanpa ada kenangan masa lalu yang menjerat hubungan kami."


"Aku bahagia melihatmu tersenyum seperti ini Aluna.


Dan aku tahu itu karena Kak Axel.


Aku berharap kamu bisa lepas dari Russel dan kalian bisa kembali bersama."


"Kamu benar Ariana.


Namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih takut sesuatu yang buruk akan terjadi lagi."


"Kamu tidak perlu takut atau khawatir Aluna.


Aku yakin Tuhan sudah merancang yang terbaik untuk hubungan kalian.


Jika Tuhan sudah menakdirkan kalian untuk bersama, tidak ada seorangpun yang bisa memisahkan kalian nantinya."


"Terima kasih Ariana.


Iya, kamu benar.


Aku seharusnya tidak perlu khawatir."

__ADS_1


(Tuhan, apapun yang Engkau rencanakan untukku, aku yakin itu pasti yang terbaik.


Terima kasih untuk waktu bahagia ini Tuhan.)


__ADS_2