
Hari ini Aluna dan Ariana pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan.
"Janinmu baik-baik saja Aluna.
Tidak ada terjadi sesuatu yang buruk walaupun akhir-akhir ini kamu cukup tertekan.
Sepertinya ia benar-banar memahami kondisi Ibunya."
Ariana mengelus perut Aluna.
"Hem, kamu benar Ariana."
"Seperti apa yang dikatakan Dokter tadi, kamu harus menjaga kondisi kesehatan kamu Aluna.
Tidak boleh stres dan tertekan juga.
Janinmu masih sangat rentan."
"Baiklah Ariana."
"Setelah ini, aku akan membawamu pergi berbelanja perlengkapan bayi."
"Tapi bukankah anakku lahir masih lama lagi?
Bahkan kita belum mengetahui jenis kelaminnya Ariana.
"Iya, tapi sangat tidak sabaran untuk membeli pakaian lucu untuknya.
Anggap saja ini hadiah dariku untuknya Aluna.
Walaupun aku belum tahu dia laki-laki atau perempuan, nanti aku akan membeli pakaian untuk laki-laki dan perempuan.
Aku juga berharap kamu melahirkan anak kembar."
"Baiklah, baiklah.
Kamu boleh melakukan apa yang kamu mau Ariana."
Ariana kemudian mengapit lengan Aluna dengan semangat.
--
Axel sudah sampai di depan apartemen Vallie.
Ia menunggu kedatangan Vallie, karena hari ini ia akan menemani gadis itu ke mall untuk berbelanja pakaian.
Setelah makan malam kemarin, Vallie mengirimnya pesan yang berisi ajakan untuk pergi bersama.
Dan tentu saja ia menerima ajakan Vallie.
Karena ini adalah awal untuk mendekatkan dirinya pada Vallie.
"Kakak sudah menunggu lama?"
"Belum, aku juga baru sampai Vallie.
Masuklah."
Vallie tersenyum dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Axel melajukan mobilnya menuju mall.
--
"Aku rasa toko itu menjual banyak pakaian bayi yang lucu Ariana."
"Benarkah?
Baiklah ayo ke sana."
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam toko itu.
"Baju ini sangat lucu.
Aku akan membelinya.
Dan itu juga Aluna.
Sangat lucu dan menggemaskan.
Aku harus membeli yang itu juga."
"Ada yang saya bisa bantu Nona?"
tanya salah seorang karyawan toko.
"Apa kalian memiliki pakaian yang sama dengan itu.
Namun untuk laki-laki."
"Kebetulan sekali kami memilikinya Nona.
Mari saya antar."
Ariana mengikuti langkah karyawan itu dengan penuh semangat.
Sementara Aluna hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Ariana.
Sahabatnya itu terlihat begitu bahagia.
"Kamu beruntung memiliki Bibi Ariana sayang."
ucap Aluna pada janin yang berada di perutnya.
Sembari menunggu Ariana, Aluna juga melihat lihat pakaian bayi yang diinginkannya.
Namun tiba-tiba matanya menangkap sosok yang begitu tidak asing baginya.
Seorang gadis terlihat bergelayut manja di lengan pria itu.
"Kak Axe.."
Perasaannya begitu terluka melihat Axel bersama Vallie.
Mereka terlihat begitu mesra.
Dan bahkan Axel tampak nyaman dengan pelukan gadis itu.
Aluna langsung keluar dan mengikuti langkah Axel dan Vallie dari belakang.
__ADS_1
Entah apa yang membuatnya melakukan hal itu.
Namun hatinya memaksanya untuk mengikuti mereka berdua.
Aluna menghentikan langkahnya saat melihat Axel dan Vallie masuk ke dalam toko pakaian wanita.
Rasa penasaran semakin merasuki Aluna saat melihat Axel mengikuti Vallie memilih pakaian dalam.
"Apa yang dilakukan Kak Axe di sana?
Apa Kak Axe akan membelikan pakaian dalam pada gadis itu?"
Tanpa berpikir, Aluna langsung masuk ke dalam toko itu.
Namun saat ia masuk, ia tidak melihat mereka di sana.
Matanya mencari-cari dimana keberadaan mereka dengan penuh hati-hati.
Apa ia salah melihat?
Jangan-jangan Axel dan Vallie sudah pergi.
"Tidak mungkin, jelas-jelas aku melihat masuk ke sini."
Aluna kembali mencari.
Namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan menariknya.
Aluna tentu sangat terkejut.
Ia kemudian menaikkan wajahnya.
Dan kali ini lebih terkejut saat melihat Axel di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku, aku sedang berbelanja."
Aluna mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berusaha menghindari tatapan Axel.
Sejujurnya, ia tidak mau Axel tahu bahwa ia sedang berbohong.
Axel tersenyum menyeringai.
"Kau yakin Aluna?
Aku tadi melihatmu mengendap-endap, tampak seperti pencuri.
Apa jangan-jangan kau ingin mencuri?"
"Apa?
Aku tidak akan mungkin melakukannya.
Jika kau tidak percaya, ya sudah.
Lebih baik aku pergi."
Aluna membalikkan badannya dan meninggalkan Axel.
Namun lagi-lagi Axel menarik tangannya dan menutup mulutnya.
Axel masih menutup mulutnya.
"Kak Axel..."
Terdengar suara Vallie dari luar.
"Apa kau melihat Kekasihku?"
tanya Vallie pada karyawan toko.
"Terakhir saya melihatnya berdiri di belakang Nona.
Setelah itu saya tidak melihatnya lagi."
"Baiklah Terima kasih."
Vallie kemudian pergi dan mencoba mencari Axel ke depan.
Setelah Vallie pergi, Axel melepaskan tangannya dari mulut Aluna.
Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain.
Axel kemudian mendekat pada Aluna.
Ia begitu merindukan gadis yang berada di hadapannya itu.
"Katakan apa yang sebenarnya kau lakukan di sini Aluna."
"Aku sudah mengatakannya padamu.
Aku sedang berbelanja di sini."
"Kau masih saja berbohong, hem?
Aku tadi melihatmu mengikuti kami dari belakang.
Kau masuk dengan hati-hati, mencari keberadaan kami.
Jika kau memang ingin berbelanja, kau tidak akan mengendap-endap seperti pencuri."
Aluna hanya menundukkan kepalanya.
Sungguh saat ini ia sudah ketahuan berbohong.
"Kau sengaja mengikuti kami ke sini kan?
Kau cemburu melihatku bersama Vallie."
"Tidak, aku tidak cemburu."
ucap Aluna dengan yakin.
"Lalu apa tujuanmu datang ke sini?"
"Aku..
Aku tidak tahu."
__ADS_1
Aluna tidak tahu harus berkata apa.
Karena nyatanya ia memang cemburu melihat Axel bersama Vallie."
Axel tersenyum.
Ia kemudian membawa Aluna ke dalam pelukannya.
"Kau tidak bisa membohongiku Aluna.
Aku tahu kau mengikuti ke sini karena kau cemburu."
Aluna sama sekali tidak melepaskan dirinya dari Axel.
Rasanya ia begitu merindukan pelukan itu.
"Aku sangat merindukanmu Aluna."
Ya, sebenarnya Axel masih sangat ingin kembali bersama Aluna.
Jika Aluna memberikannya kesempatan, maka dirinya akan begitu bahagia. Dan tentu saja ia juga akan membatalkan perjodohan itu.
Aluna meneteskan air matanya mendengar ucapan Axel itu.
Ia juga sangat merindukan Axel.
Apalagi saat ini ia sedang hamil.
Anaknya tentu membutuhkan kasih sayang Ayahnya.
Setelah lama berpelukan, Axel akhirnya melepaskan pelukannya.
Tangannya menghapus air mata Aluna dan kemudian mengelus pipi gadis itu dengan lembut.
"Aku mencintaimu Aluna."
Perasaan hangat menyelimuti Aluna setelah mendengar pernyatan cinta dari Axel.
Ia ingin membalas pernyataan Axel, namun ia tidak bisa.
Aluna melihat kekecewaan di wajah Axel.
Wajah Axel kemudian perlahan mendekatinya.
Hembusan napas Axel sangat terasa di wajahnya.
Hingga sebuah bibir mendarat di bibirnya.
Axel menciumnya.
Awalnya hanya menempel, namun tidak lama.
Ciuman itu perlahan berubah menjadi *******.
Axel menarik tengkuk Aluna dan semakin mendekatkan tubuh Aluna.
Seolah-olah tidak ingin melepaskan gadis itu.
Aluna hanya bisa memejamkan matanya dan menerima perlakuan Axel.
Perlahan tangannya terangkat dan memegang erat baju Axel.
Axel tersenyum di sela ciumannya karena Aluna sama sekali tidak menolaknya.
Beberapa saat kemudian, bibir mereka terlepas dan kening mereka saling tertaut.
"Mari kita sudahi semua ini Aluna.
Kita tidak akan bisa terus berpisah seperti kemarin.
Aku juga sudah tidak tahan lagi."
Aluna hanya diam dan tidak membalas perkataan Axel.
"Jawab aku Aluna."
"Maafkan aku Kak, kita tidak akan bisa melanjutkan hubungan ini."
"Apa alasanmu mengatakan hal seperti itu Aluna?
Kita berdua saling mencintai.
Mengapa kamu bersikeras agar kita berpisah?"
"Nyatanya kamu juga tidak bisa berjauhan dariku kan?"
Axel memegang tangan Aluna.
Aluna perlahan melepaskan tangan Axel.
"Gadis itu terlihat sangat baik.
Aku berharap Kakak bahagia dengannya."
Raut wajah Axel seketika berubah.
Ia begitu kecewa dengan perkataan Aluna.
Aluna kemudian membalikkan badannya.
"Jika kamu ingin melihat aku bahagia, maka datanglah minggu depan ke acara pertunanganku dengan Vallie.
Jangan sampai kamu tidak datang Aluna."
Aluna berusaha mengontrol dirinya.
Ia kemudian berjalan meninggalkan Axel.
Sementara Axel menatap punggung Aluna dengan penuh rasa kecewa.
Ternyata Aluna masih saja tidak memberinya kesempatan.
Ucapan Aluna tadi membuat amarahnya muncul sehingga memutuskan untuk mempercepat pertunangannya dengan Vallie.
Ia hanya ingin melihat bagaimana reaksi Aluna.
Namun gadis itu tetap saja tidak peduli.
Tapi ia tahu bahwa sebenarnya Aluna tentu saja terluka.
__ADS_1
Minggu depan ia akan melihat apakah Aluna masih mempertahankan egonya atau tidak.