Revenge For Love

Revenge For Love
Pelarian


__ADS_3

Alda menerima pesan Aluna bahwa malam ini mereka berdua tidak pulang ke rumah.


Ia mengerang kesal saat membacanya.


Aluna selalu saja mengacaukan rencananya.


Bagaimana bisa Aluna tampak baik-baik saja setelah apa yang terjadi pada pernikahannya?


Tiba-tiba Russel datang menghampirinya dengan tatapan marah.


"Dimana Aluna?"


Alda hanya diam.


Dia tidak tahu harus menjawab apa pada Russel.


Ia juga tidak mungkin memberitahu Russel bahwa Aluna tidak pulang ke rumah.


"Aku tanya dimana Aluna Ibu?"


"Hem, Russel.."


Alda berusaha mendapatkan jawaban yang tepat.


"Aluna dan Ariana tadi sore pergi ke kantor untuk mengerjakan pekerjaan yang sangat penting.


Jadi karena pekerjaan itu belum selesai juga, mereka akhirnya memutuskan menginap di sana."


"Omong kosong.


Aku tidak percaya dengan ucapan Ibu.


Aku tahu Ibu berbohong padaku."


"Russel, Ibu tidak berbohong."


"Mau sampai kapan kalian bersekongkol untuk menipuku?


Aku tahu selama ini Aluna membeli apartemen tanpa sepengetahuanku.


Dia seenaknya pergi ke sana untuk menghindariku.


Selama ini aku membiarkannya bebas melakukan apapun karena aku tidak ingin dia melakukan tindakan konyol lagi.


Tapi bukan berarti dia bisa menghinaku seperti ini.


Aku Suaminya, sudah seharusnya dia menghargaiku!"


"Russel tenanglah.


Baik, setelah Aluna kembali, Ibu akan menyuruhnya untuk meminta maaf padamu dan.


Dia akan berubah menjadi Istri yang baik untukmu Russel."


Alda mencoba meyakinkan Russel.


Namun Russel tidak percaya begitu saja.


Russel menaikkan alisnya.


"Dia akan berubah?


Apa Ibu bisa memastikan itu setelah apa yang dilakukannya padaku selama 3 tahun ini?"


"Kali ini Ibu pasti bisa Russel.


Kamu harus percaya."


"Jangan salahkan aku jika harus menikah lagi dengan wanita lain.


Walaupun aku mencintainya, aku ini seorang pria normal Ibu.


Aku akan mencari kesenangan yang tidak aku dapatkan dari Aluna!"


Russel langsung keluar dari kamar Alda.


Perkataan Russel tadi membuat Alda sangat khawatir.


Russel adalah pria yang tidak akan main-main dengan ucapannya.


Bagaimana jika hal itu memang benar-benar terjadi nantinya?


Tidak, itu tidak akan pernah terjadi.


Dia harus berusaha membuat Aluna berubah.


Namun sifat keras kepala Aluna juga membuatnya juga tidak yakin.


Alda memijit keningnya.


Apa yang harus ia lakukan?


--


Russel melajukan mobilnya dengan cepat menuju bar yag sering ia datangi.


Malam ini ia akan mendapatkan kesenangan itu lagi.


Kesenangan yang ia tidak dapatkan dari Aluna.


Bisa dibilang ini sejenis pelarian.


Karena sama sekali tidak melibatkan cinta.


Russel masuk ke dalam bar itu.


Ia kemudian duduk di dalam ruangan yang sudah dipesan khusus untuknya.


Seorang pria menghampirinya.


"Apa anda ingin bertemu dengan gadis yang sama lagi Tuan?"


"Tidak, aku tidak ingin gadis itu lagi.


Kau harus mencari gadis yang lain untukku.

__ADS_1


Kau tahu aku suka gadis yang seperti apa kan?"


Pria itu tersenyum pada Russel dan kemudian menganggukkan kepalanya.


"Anda salah satu tamu terhormat kami Tuan.


Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk anda."


Russel tersenyum mendengar ucapan pria itu.


"Baiklah.


Kau boleh keluar."


Pria itu kemudian pergi dari sana.


Sebenarnya tidak ada kriteria khusus untuk gadis pilihan Russel.


Hanya untuk memuaskannya itu saja.


Yang terpenting gadis itu bisa bekerja sama dengan baik. Artinya bisa dipastikan ia tidak akan memberitahukan media soal hubungan mereka.


Dan ia juga tidak suka dengan gadis yang terlalu menganggap hubungan mereka serius.


Ia tidak ingin gadis itu menghantuinya.


Baginya ini hanya sebatas hubungan ranjang.


Seorang batender kemudian masuk untuk mengantarkan minuman.


"Selamat menikmati Tuan."


"Terima kasih."


Russel menuangkan botol wine ke dalam gelasnya dan kemudian meneguknya.


Ia meneguknya kembali hingga satu botol habis dalam waktu sebentar.


Pikiran Russel kembali terngiang dengan wajah Aluna.


Setelah 3 tahun menikah, gadis itu belum juga menerimanya.


Jangankan menerimanya, Aluna tidak pernah tersenyum padanya.


Setiap kali bertatapan dengannya, Aluna selalu memandangnya dengan tatapan penuh kebencian.


Tatapan itu tidak pernah berubah, sama seperti 3 tahun yang lalu.


Ia begitu mencintai Aluna, tapi mengapa Aluna tidak membalas cintanya?


Ia bisa memberikan segalanya untuk Aluna, yang tidak bisa diberikan pria miskin itu padanya.


Tapi itu semua seperti tidak cukup untuk gadis seperti Aluna.


Gadis yang keras kepala.


Gadis yang selalu menolak perlakuan baiknya.


Russel tersenyum.


Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa makanan yang ia pesan tadi.


Russel melihat pelayan itu.


Ia melihat Aluna dalam dirinya.


Wajah mereka terlihat sama.


Apa yang terjadi dengan dirinya?


Russel berusaha mengontrol dirinya, namun sama sekali tidak berhasil.


Ia langsung menarik tangan gadis itu saat akan pergi dari sana.


"Aluna... " ucap Russel.


"Tuan, lepaskan tangan saya.


Saya bukan Aluna Tuan."


"Tidak, jangan menolakku lagi."


Russel kemudian menarik gadis itu ke dalam pangkuannya.


Sementara gadis itu sangat ketakutan saat ini.


Ia berusaha untuk melepaskan dirinya, namun tangan Russel sangat erat merengkuhnya.


Dan Manajer tadi masuk dengan membawa gadis yang sudah ia pilih untuk menemani Russel.


Mereka terkejut melihat Russel memeluk erat gadis yang tidak lain adalah seorang pelayan.


"Saya tidak bermaksud untuk mengganggu Tuan.


Tapi saya sudah membawakan gadis yang akan menemani Tuan malam ini."


"Tidak, aku tidak mau gadis itu.


Aku mau gadis ini yang menemaniku."


"Aku mohon selamatkan aku Pak."


ucap gadis itu dengan tatapan memohon.


"Tapi dia bukan salah satu gadis bayaran kami Tuan.


Dia hanyalah seorang pelayan."


"Aku tidak peduli.


Aku hanya mau dia yang menemaniku!"


"Aku tidak mau Pak.


Aku bukanlah seorang *******."

__ADS_1


Gadis itu berusaha melepaskan tubuhnya lagi.


"Diamlah!


Aku akan memberikan gaji tambahan untukmu." ucap manajer itu.


"Aku mohon jangan Pak."


"Baiklah Tuan Russel.


Gadis ini yang akan menemani Tuan malam ini."


Russel tersenyum puas.


Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya saat dua orang itu meninggalkannya bersama pria asing itu.


Russel kemudian berdiri dan menarik gadis itu ke ruangan yang juga secara khusus disediakan untuknya.


Ruangan yang sering ia gunakan untuk menghabiskan malamnya bersama gadis bayaran.


"Tidak Tuan.


Aku tidak mau."


"Masuklah!"


Gadis itu berusaha menahan tubuhnya agar tidak masuk ke dalam ruangan itu."


"Aku bilang masuk!"


Russel menarik paksa tangan gadis itu, sehingga akhirnya ia berhasil membawa gadis itu ke dalam sana.


Gadis itu semakin ketakutan saat melihat Russel berjalan ke arahnya.


Russel kemudian membuka bajunya sehingga menampilkan dada bidangnya.


Gadis itu berniat melarikan diri namun tangan Russel menangkapnya dan membawanya ke tempat tidur.


Saat ini Russel berada di atas tubuh gadis itu.


"Aku mohon lepaskan aku Tuan.


Aku bukanlah *******."


Gadis itu menatapnya dengan tatapan memohon.


Air mata dan peluh gadis itu membasahi wajahnya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu Aluna."


Russel meletakkan kedua tangan gadis itu ke atas dan kemudian menarik bajunya.


Suara tangisan gadis itu sama sekali tidak mempengaruhinya.


Hasratnya membuatnya tidak berpikiran jernih sehingga menyangka bahwa gadis itu adalah Aluna.


"Kamu selalu menolakku.


Kali ini kamu tidak akan bisa menolakku lagi Aluna!"


Russel mulai melancarkan aksinya.


Ia membuka seluruh pakaiannya dan pakaian gadis itu.


Gadis itu merasakan sakit yang luar biasa saat Russel berhasil memasukinya.


Piluh dan air matanya bercampur menjadi satu.


Russel tersenyum bahagia.


Ia merasa bahwa dia adalah pria yang pertama untuk Aluna.


"Aku mencintaimu."


Russel mencium kening gadis itu.


Ia kemudian menyelesaikan kegiatannya dan tidur di samping gadis itu.


Gadis itu langsung menjauh dari Russel.


Ia ingin beranjak dari tempat tidur, namun Russel memeluknya tubuhnya dari belakang.


Pria itu mulai mencium tengkuknya.


Hal itu membuatnya semakin menangisi dirinya.


Rasanya ia seperti seorang ******* saat ini.


Tubuhnya benar-benar kotor.


Setelah memastikan Russel sudah tidur, gadis itu beranjak dari tempat tidur dan kemudian mengambil semua pakaiannya.


Setelah memakai pakaiannya di kamar mandi, gadis itu melihat ke arah Russel sebentar.


Air matanya kembali menetes.


Ia kemudian langsung keluar dari kamar itu.


Dalam perjalanan pulang, gadis itu memeluk tubuhnya dengan erat.


Kejadian tadi membuatnya sangat tertekan.


Ia tidak menyangka hal itu akan terjadi padanya.


Ia sempat berpikir bahwa tempat itu sangat berbahaya untuknya, namun ia berusaha untuk bertahan karena ia sangat membutuhkan pekerjaan itu.


Tapi setelah kejadian tadi, rasanya ia tidak akan mau bekerja lagi di sana.


Tempat itu menjadi saksi bagaimana kotornya tubuhnya saat ini.


Ia juga tidak mau kejadian tadi terulang lagi.


Entah bagaimana nanti ia bisa menghadapi hidup yang semakin kejam padanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2