
Setelah mengantar Vallie pulang, Axel kembali ke apartemennya.
Saat ia membuka pintu, ia melihat James sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
James langsung menghampirinya.
"Kau sudah pulang rupanya.
Apa kau dan Vallie bersenang-senang hari ini?"
Axel hanya diam dan memasang wajah datarnya.
"Apa terjadi sesuatu?
Kau dan Vallie tidak mungkin ada masalah kan?"
Karena James tahu bahwa Axel tidak akan pernah menyakiti Vallie.
Bahkan Axel selalu berusaha untuk menuruti permintaan gadis itu.
Axel membuka kulkas dan mengambil botol minuman dari sana.
Ia kemudian meneguk minuman itu.
"Apa kau sudah melakukannya?"
James mengerti arah pertanyaan Axel.
"Ah, iya. Aku datang ke sini untuk mengatakan ini padamu.
Perusahaan yang dipimpin oleh Aluna sudah menandatangani kontrak kerja sama dengan kita.
Dan berita bagusnya lagi, kita sudah memiliki 30% saham dari perusahaan Russel.
Saat ini mereka masih memiliki saham terbesar dan sisanya dimiliki oleh pemegang saham yang lain."
Axel tersenyum simpul.
"Jika kita berhasil merebut perusahaan cabang itu, aku yakin perusahaan itu akan menjadi milik kita.
Aku bisa membayangkan bagaimana hancurnya Russel dan gadis itu."
"Tapi aku rasa ini cukup sulit Axe.
Aluna orang yang susah untuk ditaklukkan.
Dia pemimpin yang sangat handal."
"Aku bisa melakukannya James.
Kau tahu dengan melihat air matanya tadi, aku bisa pastikan Aluna akan kalah dariku."
"Kau bertemu dengannya?"
"Ya.
Saat melihatku, dia begitu terkejut.
Dia terkejut melihat perubahanku.
Dia mendekatiku tapi aku malah memandangnya rendah, berkata kasar bahkan mendorongnya."
James terkejut mendengar ucapan Axel.
Ia tidak menyangka Axel akan berbuat seperti itu pada gadis yang dulu sangat dicintainya.
"Bukankah dia pantas menerima semua itu?
Perlakuanku tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan perbuatannya padaku.
Aku juga sangat benci melihat air mata sandiwara itu.
Dia menunjukkan seolah-olah ia merasa sangat bersalah padaku.
Dasar wanita licik!"
James akhirnya menyadari bahwa Aluna adalah alasan mengapa Axel memasang wajah datar saat pulang tadi.
"Aku harus segera menghancurkannya.
Agar ia tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang sangat berharga."
Axel mengingat bagaimana rasanya dulu ia kehilangan Neneknya.
Bahkan ia tidak sempat menghadiri pemakaman Neneknya karena perbuatan kejam Aluna.
"Jadi apa yang akan kau rencanakan setelah ini Axe?"
"Kita sudah memiliki saham dari perusahaan Russel.
Untuk memiliki saham terbesar, kita harus mendapatkan saham sebanyak 30%.
__ADS_1
Jika tidak mendapatkannya dari Aluna, maka kita harus mendapatkannya dari yang lain.
Kau mengerti maksudku kan?"
James menganggukkan kepalanya.
"Dan minggu depan rencananya akan diadakan pertemuan dengan mereka. Aku mendapat kabar bahwa Aluna akan hadir di sana."
James menarik napas panjang.
"Aku akan menyuruh Lucas untuk mewakilimu."
"Tidak perlu James
Aku sendiri yang akan datang ke sana."
"Kau yakin Axe?"
"Tentu saja."
Walaupun ini lebih cepat dari rencananya untuk bertemu Aluna, tapi Axe ingin segera memberi pelajaran pada Aluna.
Aluna pasti syok saat melihatnya datang sebagai Direktur Utama perusahaan yang bekerja sama dengannya.
Russel dan Aluna juga pasti tidak menyangka bahwa itu adalah dia karena ia telah menambah nama keluarga Simon pada namanya.
Axel Xaverus Abraham.
Itulah nama lengkapnya saat ini.
--
Frans kembali menemui Russel di ruangannya.
Ia akan memberitahu Russel soal gadis, pelayan bar itu.
"Apa?
Bagaimana bisa mereka melepaskan gadis itu begitu saja?
Bukankah kau sudah memberitahu mereka untuk tetap menahan gadis itu bekerja di sana?"
"Saya sudah memberitahu mereka Pak dan mereka juga setuju dengan hal itu.
Hanya saja, keesokan harinya gadis itu berhenti bekerja tanpa memberitahu mereka.
Bahkan dia tidak meminta gaji terakhirnya pada mereka."
"Gwen Alexandra nama gadis itu Pak."
"Kau harus segera menemukan keberadaannya.
Kau tahu sendiri apa akibatnya jika dia memberitahu media soal kejadian malam itu kan?"
"Saya tahu Pak.
Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari gadis itu."
"Segera beritahu aku jika kau sudah menemukannya.'
Frans kemudian pergi meninggalkan ruangan Russel.
Russel memijit keningnya.
Akhir-akhir ini semua masalah datang menghampirinya.
Ini semuanya karena Aluna.
Jika dari awal Aluna mau menurutinya, semua ini tidak akan pernah terjadi.
Ia tidak akan menemui para gadis bayaran dan memperkosa pelayan itu.
Bahkan Aluna menjadi penyebab mengapa selama ini ia tidak serius menjalankan perusahaannya.
Ia jarang datang ke kantor dan memantau perkembangan perusahaan.
Semua waktunya ia habiskan bersama para gadis bayaran untuk melampiaskan hasratnya.
Dan juga untuk mendapatkan perhatian Aluna.
Ia pikir Aluna akan berubah, karena seorang Istri akan marah jika melihat Suaminya bersama wanita lain.
Namun kenyataannya sebaliknya, Aluna tidak pernah peduli akan hal itu.
--
Keesokan paginya, pergi ke kantor.
Saat ini ia sedang memeriksa berkas-berkas yang telah dikerjakan oleh Ariana.
Ya, selama ini Ariana memiliki posisi sebagai Sekretaris sekaligus orang kepercayaannya.
__ADS_1
Aluna sendiri yang memilih Ariana.
Tentu saja karena Ariana begitu dekat dengannya.
Namun karena Ariana juga sangat berbakat tentunya.
Ariana masuk ke dalam ruangan Aluna.
"Aluna aku ingin memberitahumu sesuatu.
Ini kabar buruk."
Aluna langsung berdiri dan menghampiri Ariana.
"Katakan padaku, apa kabar buruk itu Ariana?"
Ariana menarik napas panjang.
"Aku mendapat kabar bahwa saham kepemilikan kita sebanyak 30% telah dimiliki oleh perusahaan lain."
"Apa?
Bagaimana bisa Russel membiarkan hal itu terjadi?"
"Entahlah aku juga tidak mengerti.
Karyawan perusahaan pusat mengatakan bahwa Russel jarang berada di kantor.
Bahkan ia memberikan semua tanggung jawabnya pada orang kepercayaannya."
"Apa yang harus kita lakukan?
Memang kita masih memiliki proporsi saham terbesar dari pemegang saham yang lain.
Namun jika hal ini terus dibiarkan, perusaahan ini akan jatuh ke tangan orang lain." tambah Ariana.
"Kau benar Ariana.
Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Kau sudah mengatur pertemuan dengan para pemegang saham kan?"
"Iya Aluna.
Aku juga sudah mengundang Direktur perusahaaan itu."
"Pastikan Russel hadir dalam pertemuan itu.
Dia harus membantu kita mendapatkan kembali saham itu."
"Baik Aluna.
Aku akan memberitahu Frans secepatnya."
Ariana kemudian meninggalkan ruangan Aluna.
Aluna kemudian mengambil kertas yang berisi profil perusahaan itu.
Ia tidak sempat membacanya tadi.
Aluna membelalakkan matanya.
Ia begitu terkejut melihat nama Direktur Utama perusahaan itu.
"Axel Xaverus Abraham"
Tangannya bergetar dengan hebat.
Kemudian ia menggelengkan kepalanya.
Dia pasti bukan Axel, pikirnya.
Nama lengkap Axel bukanlah itu.
Lagian pasti banyak orang yang memiliki nama yang mirip dengan nama Axel.
Aluna kemudian memadang ke setiap sudut ruangannya.
Semenjak Russel menyuruhnya untuk mengambil bagian dari perusahaannya, ia sempat menolak karena Russel melakukannya untuk menghindari pertanyaan publik yang mempertanyakan hubungan mereka.
Ia hanya tidak mau berbohong lagi.
Namun ia mempertimbangkan hal itu kembali dan kemudian akhirnya setuju.
Ia sudah berusaha keras selama ini untuk mempertahankan bagian perusahaan ini.
Hari-harinya juga ia habiskan ke kantor untuk mengalihkan semua rasa sakitnya.
Dengan bekerja akan mengurangi kerinduannya dengan Axel.
Walaupun perusahaan ini milik Russel, ia akan mempertahankan kerja kerasnya selama ini.
__ADS_1