
Aluna memasukkan satu per satu pakaiannya ke dalam lemari.
Tiba-tiba sebuah pelukan melingkari pinggangnya dari belakang.
"Apa tidak sebaiknya kita sekamar saja sayang?"
"Tidak, kita belum menikah Kak.
Kita akan sekamar jika kita sudah menikah."
"Kamu yakin?
Jujur saja, aku malah takut kamu akan menyelinap masuk ke dalam kamarku saat aku terlelap."
Aluna terkekeh mendengar ucapan Axel.
"Itu tidak akan pernah terjadi Kak.
Hem, sepertinya sebelum tidur aku harus memastikan pintu kamarku terkunci rapat.
Aku takut seseorang akan masuk."
"Dasar gadis nakal!"
Axel melerai pelukannya dan kemudian berdiri di hadapan Aluna.
"Baiklah, sekarang kamu harus istirahat dan duduk manis di sini."
Axel membawa Aluna duduk di ranjang.
"Aku yang akan membereskan semuanya."
"Tapi Kak..."
"Tidak ada tapi tapian."
Aluna tersenyum.
"Baiklah Kak."
"Tapi sebelum itu, aku harus mendapat bayaran di muka."
"Bayaran?
Uang?"
"Bukan uang.
Tapi sebuah ciuman."
Aluna membelalakkan matanya.
"Ciuman?"
Axel menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Aku tidak mau!"
"Kalau begitu aku akan memaksamu."
Axel mendekatkan wajahnya pada Aluna dan kemudian menutup matanya.
Aluna akhirnya menyerah dan mencium pipi Axel.
"Sudah.
Aku sudah memberikan bayarannya."
"Tidak, bukan di situ.
Tapi di sini."
Axel menunjuk ke bibirnya.
Aluna kemudian berdiri di hadapan Axel.
"Jangan coba menggodaku Kak.
Kalo Kakak tidak mau, biar aku saja yang mengerjakannya."
"Eh tidak.
Baiklah, terima kasih Nona atas bayarannya.
Saya akan melakukannya dengan sangat baik."
Axel mengedipkan sebelah matanya dan kemudian berbalik.
Aluna tertawa melihat tingkah konyol Axel.
Pria itu memang selalu berhasil membuat suasana hatinya menjadi sangat baik.
--
Aluna memasangkan dasi Axel.
Malam ini ia akan mendatangi Simon dan Vallie untuk meminta maaf dan juga memberi penjelasan pada mereka.
Untuk menunjukkan rasa hormatnya pada Simon, ia mengenakan pakaian rapi.
"Aku harap Paman Simon mengerti dengan keadaan kita Kak."
"Hem, aku akan menjelaskan padanya Luna.
Aku yakin dia dan Vallie akan mengerti.
Mereka orang yang baik."
"Oh ya, aku dengar Vallie mendatangimu sebelumnya dan mengucapkan kalimat yang akhirnya membuat kita sempat berpisah waktu itu."
"Hem.."
"Kamu tidak marah padanya?"
"Tidak Kak.
Aku tahu dia melakukan itu karena dia sangat mencintai Kakak."
"Dan kamu tidak cemburu melihatku bersamanya?"
"Sangat, aku sangat cemburu."
Seketika wajah Aluna berubah menjadi merah.
Ia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Oh baiklah sayang.
Aku tahu kamu sangat mencintaiku."
Axel membawa Aluna ke dalam pelukannya.
Aluna hanya bisa tersenyum di dalam pelukan Axel.
"Aku juga sangat mencintaimu.
Sangat sulit untuk bisa berpaling darimu Luna."
"Kalau begitu jangan pernah berpaling dariku."
__ADS_1
Axel tersenyum mendengar ucapan Aluna.
"Tentu saja sayang.
Axel semakin memeluk tubuh Aluna dengan erat.
Aluna juga ikut membalas pelukan Axel.
--
Aluna membuka pintu apartemen Axel.
Senyum terpancar di wajahnya saat melihat kedatangan James dan Ariana.
Ariana langsung menghampiri Aluna dan kemudian merangkulnya.
"Kau sudah siap Axe?"
"Hem."
James memang akan ikut pergi bersama Axel.
Ia juga ingin meminta maaf pada Simon dan Vallie.
Karena ia ikut terlibat dalam pembatalan pertunangan itu.
"Aku menitip Aluna bersamamu Ariana.
Kalian berhati-hatilah di sini.
Jika terjadi sesuatu, segera hubungi kami."
"Baiklah.
Kau tidak perlu khawatir.
Kami akan baik-baik saja."
Axel kemudian mendekat pada Aluna.
"Aku akan segera kembali sayang.
Jaga dirimu dan juga bayi kita."
Aluna tersenyum dan kemudian mengangguk.
Axel mengecup kening Aluna dan kemudian mencium perut Aluna.
Tidak lupa ia juga mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
Setelah itu, Axel memeluk Aluna dengan erat.
"Hem, sebenarnya aku tidak ingin berjauhan darimu walau hanya sebentar saja."
Aluna tersenyum dan mengelus punggung Axel.
Ariana dan James hanya bisa menonton kemesraan yang ada di hadapan mereka.
Axel dan Aluna sama sekali tidak menghiraukan kehadiran mereka berdua.
Dasar!
Aluna menyadari tatapan Ariana dan James yang mengundang gelak tawanya.
"Kak, pergilah.
Kak James sudah menunggumu."
James kemudian berdehem.
Axel akhirnya melepas pelukannya.
Aluna perlahan melepas tangan Axel.
"Hati-hati Kak."
"Ayo kita pergi James."
James tidak menghiraukan ucapan Axel.
Ia malah mendekat pada Ariana dan kemudian mengecup kening Ariana.
Ariana tersenyum menerima perlakuan manisnya.
Sementara Aluna dan Axel begitu terkejut melihat keduanya.
Karena mereka belum mendengar kabar bahagia dari keduanya.
"Aku pergi.
Jaga dirimu, hem?"
Ariana mengangguk patuh.
"Hati-hati di jalan Kak."
James menghampiri Axel yang sedang menatapnya dengan heran.
Ia kemudian tersenyum menyeringai pada Axel.
"Bukan hanya kau yang bisa melakukannya Axe."
James kemudian meninggalkan Axel.
"Kau berhutang penjelasan padaku James."
Axel langsung menyusul James dari belakang.
Aluna juga langsung menghampiri Ariana.
"Ariana kalian.."
Ariana kemudian menunjukkan cincin yang berada di tangannya pada Aluna.
"Ariana, cincin itu..."
Aluna menutup mulutnya.
"Kak James melamarmu?"
Ariana langsung mengangguk.
"Benarkah?
Aku begitu bahagia mendengarnya Ariana."
Aluna langsung memeluk tubuh Ariana dengan erat.
"Selamat Ariana.
Akhirnya kamu juga menemukan kebahagiaanmu."
"Terima kasih Aluna.'
Aluna melepaskan pelukannya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak bisa menahan tangis kebahagiaannya.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia Ariana."
Ariana tersenyum dan kemudian menghapus air mata Aluna.
"Iya, aku tahu itu Aluna.
Ini semua juga berkat dirimu."
"Bukankah kita harus merayakannya?"
"Iya, kamu benar Aluna."
"Bagaimana dengan menonton film bersama sambil makan es krim kesukaan kita?"
"Tapi kita harus membeli es krimnya dulu bukan?
Padahal Kak Axel dan James melarang kita keluar."
"Tenang saja Ariana.
Kak Axel sudah membelikan banyak es krim untukku."
"Itu bagus.
Kalau begitu ayo kita menonton film Aluna."
"Ayo."
---
Vallie hanya menundukkan wajahnya sejak kehadiran Axel dan James.
Walaupun kecewa, Simon menyambut kedatangan Axel dan James dengan baik.
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin meminta maaf pada Paman dan Vallie atas semua tindakan yang aku lakukan.
Tindakanku sangat merugikan Paman.
Alasanku membatalkan pertunangan itu karena aku tidak bisa meninggalkan Gadis yang kucintai Paman.
Aku sangat mencintainya.
Maaf karena sempat memberikan harapan pada Paman dan Vallie.
Aku pikir aku bisa melupakannya.
Nyatanya aku tidak bisa hidup tanpanya Paman.
Apalagi saat ini ia tengah mengandung anakku."
Perasaan Vallie begitu terluka mendengar kalimat Axel.
Terutama kalimat yang mengungkapkan bahwa Aluna tengah hamil anak Axel.
Sungguh tidak ada lagi harapan baginya untuk bersama Axel.
"Sekali lagi, aku meminta maaf Paman dan juga Vallie.
Maafkan Kakak Vallie.
Kakak yakin kamu bisa menemukan Pria yang jauh lebih baik dariku.
Dan juga pasti mencintaimu."
"Paman memang sangat kecewa dengan tindakanmu Axe.
Tapi Paman pikir kamu sudah melakukan hal yang benar.
Selain menyelamatkan cintamu, kau juga menyelamatkan Vallie.
Karena jika dilanjutkan, kelak Vallie pasti akan terluka karena tidak mendapat cintamu.
Sekarang Paman sadar bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Kau berhak bersama gadis yang kau cintai.
Apalagi saat ini ia sedang hamil.
Tidak baik jika kalian berpisah.
Vallie juga berhak mendapatkan cinta dari pria lain.
Dan kelak dia akan mendapatkan kebahagiaannya."
"Terima kasih karena sudah memaafkanku dan mengerti dengan keputusanku Paman.
Vallie, kamu akan selamanya menjadi Adikku."
"Kakak benar.
Memang sedari awal kita ditakdirkan sebagai Kakak Adik.
Aku juga minta maaf karena sebelumnya pernah membuat kalian sempat berpisah."
Axel tersenyum.
"Aku dan Aluna sudah memafkanmu Vallie.'
"Terima kasih Kak."
Setelah berbincang, Axel dan James pamit pulang.
"Paman aku juga minta maaf."
Simon memegang pundak James.
"Kau tidak berasalah James.
Seharusnya Paman berterima kasih padamu."
James tersenyum dan kemudian memeluk Simon.
"Hati-hati di jalan."
Begitu juga dengan Axel.
Ia memeluk Simon dan kemudian memeluk Vallie.
"Aku menyayangimu Vallie."
"Aku juga Kak.
Semoga Kakak bahagia selamanya bersama Aluna."
"Terima kasih Vallie.
Kakak Pamit."
Vallie mengangguk.
Air matanya menetes menatap kepergian Axel.
Saat ini ia benar-benar sudah merelakan Axel dan melepaskan cintanya pada Pria itu.
Ia begitu lega sekarang.
Karena Axel akhirnya menemukan kebahagiaanya bersama gadis yang dicintainya.
Memang benar, jika memang kita mencintai orang itu, kita akan bahagia melihatnya bahagia walau bersama orang lain.
__ADS_1