
Ariana mengetuk ruangan Aluna.
Setelah mendapat izin, ia kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Aluna... " ucap Ariana.
Aluna yang sedang berdiri di depan jendela, langsung membalikkan badannya saat mendengar suara Ariana.
Aluna menatap Ariana dengan tatapan senduh. Aluna kemudian berlari memeluk Ariana seolah ingin meluapkan perasaanya pada gadis yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
Ariana memahami perasaan yang dialami Aluna saat ini. Ia mengelus punggung Aluna dengan lembut untuk menenangkannya.
Setelah meluapkan perasaannya, Aluna kemudian melepaskan pelukannya.
Ariana menggenggam Aluna dengan erat sambil tersenyum tipis.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini Aluna. Sangat berat pastinya jika harus meninggalkan pria yang kamu cintai."
Aluna menganggukkan kepalanya.
"Aku harus bagaimana lagi Ariana? Aku tidak bisa berjauhan darinya. Dia segalanya bagiku
Aku juga sudah lama tidak menghubunginya. Dia pasti marah saat mendengar kabar pernikahan itu. Dan sekarang, aku harus meninggalkannya juga."
Aluna meneteskan air matanya lagi.
"Apakah kisah cinta kami akan benar-benar berakhir? "
Ariana mengeratkan tangannya pada tangan Aluna.
"Aluna, kamu melakukan semua ini demi cintamu padanya. Aku yakin, semua ini tidak akan sia-sia. Perjuanganmu akan membuahkan hasil nantinya. Tuhan pasti merencanakan waktu yang tepat untukmu bertemu kembali dengannya. Jika kalian memang berjodoh, apapun yang terjadi kalian pasti akan bersatu."
Aluna kembali memeluk tubuh Ariana.
Ingin rasanya Aluna menyerah atas hidupnya.
Semua terasa sangat menyakitkan hingga ia tidak memiliki cara untuk bangkit lagi.
Dulu, Axel yang menjadi alasannya untuk bangkit di saat dia berpikir untuk menyerah.
Namun sekarang, pria itu tidak ada lagi di sisinya.
Jadi, apa yang harus yang ia lakukan agar dapat bertahan hidup?
--
Ariana membantu Aluna memasukkan semua barang barangnya ke dalam koper.
"Ariana.."
"Hemm? "
Aluna menghampiri Ariana.
"Terima kasih karena kamu mau ikut bersama kami ke Amerika. Kamu mau meninggalkan Indonesia dan pindah ke sana. Apa tidak apa-apa jika kamu meninggalkan pekerjaanmu dan juga keluargamu di sini?"
Ariana tersenyum.
"Tidak apa-apa Aluna. Bukankah aku sudah berjanji untuk selalu menemanimu? Itu janji persahabatan kita, kalau kamu lupa.
Aku tidak mungkin meninggalkanmu saat kamu mengalami semua ini Aluna.
Kamu harus bangkit, hem?"
"Terima kasih banyak Ariana. Aku tidak menyangka akan memiliki S
sahabat sebaik dirimu. Dulu, selain Kak Axel aku tidak memiliki sahabat atau bahkan teman dekat sekalipun. Aku tidak tahu apa arti persahabatan. Dan aku bersyukur memilikimu Ariana."
Arian kembali tersenyum.
"Aku juga bersyukur memiliki sahabat sepertimu Aluna. Mulai saat ini, kamu harus menceritakan semuanya padaku. Tidak ada yang tersembunyi untuk sahabat."
"Hem, aku berjanji Ariana."
Mereka berdua berpelukan erat.
Keduanya saling tersenyum.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar.
"Masuk.." ucap Aluna.
Muncul dua orang pengawal.
"Pak Russel memerintahkan kami untuk membawa semua barang-barang Nona."
"Baiklah."
Setelah mendapat izin dari Aluna, 2 orang pengawal itu langsung mengangkat koper Aluna.
Aluna dan Ariana juga ikut turun ke bawah.
Mereka kemudian keluar rumah.
Sudah ada mobil yang menunggu di sana.
Alda dan Russel tampak sedang menunggu mereka di dalam mobil.
Langkah Aluna sangat berat untuk masuk ke dalam mobil. Ia masih tidak ingin pergi.
Ariana menatap Aluna dan kemudian menuntunnya ke dalam mobil.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam mobil.
Mobil itu kemudian melaju menuju ke bandara.
Selama perjalanan, Aluna hanya diam sambil memegang erat kedua tangannya.
Seketika memorinya bersama Axel terlintas di pikirannya.
Aluna meneteskan air matanya, namun ia langsung menghapusnya.
Ia tidak ingin Russel melihat kondisinya dan kemudian merasa menang atas dirinya.
"Apa kamu sakit Aluna?" tanya Ariana dengan nada pelan.
Aluna langsung menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai bandara.
Para Pengawal langsung mengangkat semua barang-barang mereka.
"Ayo Aluna.." ucap Ariana.
Aluna melangkahkan kakinya bersama Ariana.
Setelah beberapa langkah, Aluna menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya.
Ia berharap akan bertemu dengan Axel.
Menyadari Aluna tidak ada di sampingnya, Ariana menoleh ke belakang dan melihat Aluna sedang menatap ke arah pintu masuk bandara.
Aluna diam dengan tatapan senduh.
Ia masih tidak melihat Axel dari sana.
"Aluna.. "
Ariana menatap raut wajah Aluna yang sedang tergambar saat ini. Ia paham apa yang sedang dipikirkan Sahabatnya itu.
"Semua orang pasti sedang menunggu kita Aluna."
Aluna akhirnya mengalihkan pandangannya dari sana.
Ia kemudian membalikkan badannya dan kemudian berjalan bersama Ariana.
--
Mereka sudah masuk ke dalam pesawat.
Ariana duduk di samping Ariana.
Lagi-lagi Aluna hanya diam membisu. Wajah Aluna juga terlihat pucat.
Dan hal itu membuat Ariana semakin khawatir pada Aluna.
"Aku ingin ke kamar mandi sebentar."
"Aku akan mengantarmu."
"Tidak, tidak perlu Ariana."
"Baiklah."
Aluna berjalan menuju toilet.
Ia masuk ke dalam sana.
Aluna melihat wajahnya di depan cermin.
Tidak mampu menahan perasaannya, Aluna menangis sejadi-jadinya.
Ia begitu merindukan Axel.
"Kak Axel..."
Aluna meluruhkan tubuhnya ke bawah.
Kakinya seolah-olah tidak mampu lagi menahan tubuhnya.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu Kak? "
Matanya kemudian tertuju pada kalung yang bertengger di lehernya. Kalung itu adalah pemberian Axel saat ia berulang tahun di tahun kemarin.
Air matanya kembali menetes.
"Aku tidak akan bisa melupakanmu Kak.
Aku mencintaimu selamanya. "
Aluna memeluk erat kalung itu.
Arina gelisah di tempatnya, Aluna belum juga kembali dari kamar mandi.
Ia kemudian berdiri dan memutuskan untuk menghampiri Aluna.
"Aluna.. "
Ia mengetuk pintu kamar mandi.
Namun Aluna belum juga keluar dan bahkan tidak menjawab panggilannya.
Ia mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi.
__ADS_1
Hingga terdengar suara dari dalam.
Aluna muncul dengan mata sembab.
"Aluna kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja Ariana."
"Kamu yakin?
Dan mengapa kamu... "
"Aku hanya sakit perut, jadi membutuhkan waktu yang lama tadi.
Maaf membuatmu menunggu Ariana."
"Tidak apa-apa Aluna.
Baiklah aku akan membawamu kembali. Wajahmu sangat pucat."
Aluna mengangukkan kepalanya.
Mereka kemudian kembali ke tempat duduk.
Tidak terasa, mereka akhirnya sampai di depan rumah yang tergolong sangat besar dan mewah.
Alda keluar dari mobil.
Ia menatap kagum bangunan di depannya.
Layaknya istana, kekayaan Russel memang tidak bisa diragukan lagi.
Alda menghampiri Aluna.
"Aluna..
Bukankah rumah ini sangat indah sayang?"
Russel tersenyum mendengar ucapan Alda.
Ia kemudian menatap ke arah Aluna.
Gadis itu hanya memasang wajah datar dan sama sekali tidak berdecak kagum seperti Ibunya.
Senyumnya seketika menghilang.
Russel memanggil para pengawalnya.
"Antar mereka berdua ke kamar mereka. Bawa barang-barang mereka juga."
Alda terkejut mendengar perkataan Russel.
"Baik Pak.
Mari Nona."
Aluna dan Ariana mengikuti langkah para pengawal itu.
Alda langsung mendekati Russel.
"Apa maksudmu Russel? Kalian tidak sekamar? Mengapa kamu membiarkan Aluna tidur terpisah denganmu?
Bukankah tujuanmu adalah memiliki Aluna? "
"Dia memintaku melakukan ini.
Dia tidak ingin sekamar denganku. Dia pasti takut aku melakukan hal itu lagi padanya."
"Jadi mengapa kamu mengizinkannya? Kamu bisa saja mengancamnya lagi agar ia mau tidur denganmu."
Russel mengepalkan tangannya.
"Kau tidak mengenal bagaimana Putrimu ternyata. Dia Gadis yang nekat. Bisa saja ia mengulangi perbuatan konyolnya itu lagi. Jika itu terjadi lagi, aku tidak tahu bagaimana cara menghindari media lagi. Aku yakin, Aluna memiliki 1001 cara untuk mengacaukan semuanya. Aku tidak ingin semuanya hancur karena dia.
Dan yang terpenting, aku sudah berhasil membuatnya jauh dari Pria itu. Aku memutus hubungan mereka. Aku bisa pastikan Aluna tidak akan berhubungan lagi dengan Pria itu selamanya.
Pria itu pasti sangat terluka mendengar kabar pernikahanku dengan Aluna.
Aku sangat bahagia. Semua rencanaku berhasil."
Russel tersenyum puas.
Ia kemudian meninggalkan Alda di sana.
Ia tidak mau mendengar ocehan Alda lagi.
Alda menggeram kesal.
Ia kesal dengan tindakan yang dilakukan oleh Aluna dan juga Russel.
Jika Aluna dan Russel tidak sekamar, maka rencananya tidak akan sepenuhnya berhasil.
Ia ingin Aluna mengandung anak Russel.
Dengan begitu, anak Aluna akan menjadi pewaris seluruh kekayaan Russel.
Ia juga takut, Russel berpaling pada Wanita lain karena tindakan Aluna itu hingga ia memiliki anak dari Wanita lain.
Tentunya hal itu sangat membahayakan mereka.
Russel akan menendang mereka dan ia tidak akan bisa menikmati semua kekayaan ini.
__ADS_1
Dasar, Gadis itu!
Bersambung...