
Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan di antara Axel dan Vallie.
Axel yang hanya diam dari tadi membuat Vallie bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Axel.
Walaupun Axel mengatakan tidak terjadi apa-apa, namun ia masih belum percaya.
Karena wajah pria itu menunjukkan sebaliknya.
Ia sangat khawatir dengan Axel.
Apa ini ada hubungannya dengan gadis tadi?
Tapi Axel jarang berubah menjadi seperti ini.
Biasanya jika ada seorang gadis yang mengejar-ngejarnya, ia akan bertingkah sangat biasa bahkan tidak jarang Axel menerima perlakuannya.
Tapi ini terlihat sangat tidak biasa.
(Apa yang sebenarnya terjadi padamu Kak?)
--
Aluna membuka pintu apartemennya.
Ia yakin Ariana sudah berada di dalam.
Ia sempat menyesal karena tadi tidur terlalu lama di dalam mobil.
Dan benar saja.
Saat ia membuka pintu, Ariana sedang berdiri sambil memandangi dekorasi yang telah diselesaikannya tadi.
Aluna tersenyum.
Ia kemudian menghampiri Ariana dan memeluknya dari belakang.
"Selamat ulang tahun Ariana."
Ariana tersenyum.
"Kamu yang melakukan semua ini?"
"Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku?"
Ariana terkekeh geli.
"Tapi dimana bungaku?"
Aluna tersenyum dan kemudian melepaskan pelukannya.
Aluna mengambil rangkaian bunga yang tadi ia letakkan di atas meja.
"Berbaliklah."
Ariana kemudian berbalik.
Ia memandang bunga yang berada di hadapannya dengan mata berbinar.
"Wah, bunga ini sangat indah Aluna."
"Apa kamu menyukainya?"
"Tentu saja!"
Ariana kemudian memeluk tubuh Aluna dengan erat.
"Terima kasih Aluna.
Terima kasih banyak Sahabatku."
"Sama-sama sayang."
Ariana melepaskan pelukannya.
Ia terkejut melihat mata sembab Aluna.
"Aluna, apa kamu baru menangis tadi?"
"Tidak, aku tidak menangis Ariana.
Kamu ada-ada saja."
Aluna berusaha menyembunyikan lukanya dari Ariana.
Ia kemudian membalikkan badannya untuk menghindari tatapan Ariana.
Namun Ariana tahu bahwa saat ini ia sedang berbohong.
"Aluna aku yakin telah terjadi sesuatu padamu.
Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk menceritakan apapun padaku?
Aku begitu khawatir denganmu Aluna.
Kita ini keluarga, bukan?"
__ADS_1
Aluna membalikkan badannya.
"Maafkan aku Ariana."
"Tidak apa-apa.
Tapi kamu harus menceritakannya padaku.
Apa yang terjadi, hem?"
Aluna menatap Ariana dan kemudian menarik napas panjang.
"Tadi aku bertemu dengan Kak Axe."
Ariana begitu terkejut mendengar ucapan Aluna.
"Benarkah?
Jadi yang kemarin itu juga benar-benar Kak Axel?"
Aluna menganggukkan kepalanya pelan.
"Bukankah itu kabar baik Aluna?
Terus mengapa kamu.."
Ariana tidak melanjutkan kalimatnya.
Sepertinya ia tahu apa alasan Aluna memasang raut wajah sedih.
"Apa dia berperilaku tidak baik padamu Aluna?"
"Dia sepertinya sangat membenciku Ariana."
"Apa kamu sudah memberitahunya alasan mengapa kamu meninggalkannya?"
Aluna menggelengkan kepalanya.
"Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk berbicara."
Aluna perlahan meneteskan air matanya.
"Kak Axe sudah berubah Ariana.
Aku tidak menyangka dia melakukan itu padaku."
"Apa yang dia lakukan padamu Aluna?
Aluna mulai menceritakan perilaku kasar Axel padanya dan bagaimana Axel menghinanya di depan gadis itu.
"Ini tidak boleh dibiarkan.
Aku akan memberitahu Kak Axel kebenarannya."
"Itu tidak perlu Ariana.
Dari cara dia memperlakukanku, aku pikir semua kebenaran ini tidak akan mengubah apapun.
Dia sudah terlanjur sangat membenciku.
Dia juga sudah menemukan kebahagiaannya bersama gadis lain.
Aku yang bersalah karena meninggalkannya begitu saja.
Aku tidak pantas masuk ke dalam kehidupan Kak Axel lagi."
"Tapi Aluna..
Jika hal ini dibiarkan, selamanya dia akan hidup dalam kebencian yang salah.
Di dalam hidupnya, dia akan tetap menganggapmu gadis yang sangat jahat.
Paling tidak, biarkan dia berdamai dengan masa lalunya.
Aku tahu kamu tidak ingin melihatnya menderita lagi.
Tapi kebenaran tetaplah kebenaran Aluna.
Kebenaran bahwa kamu meninggalkannya karena kamu begitu mencintainya.
Kamu tidak mau Kak Axel disakiti oleh Russel.
Apa ada yang salah dengan keputusanmu saat itu?"
"Aku yakin ini bagian dari rencana Tuhan untuk mempersatukan kalian kembali Aluna."
"Apa kamu berpikir aku dan Kak Axe bisa bersatu?"
"Tentu saja Aluna."
"Kami tidak akan bisa bersatu Ariana.
Aku pikir, aku sudah tidak memiliki tempat lagi di hati Kak Axe.
Karena tempat itu sudah terisi oleh gadis itu.
__ADS_1
Aku tidak akan mungkin memisahkan mereka berdua."
"Bagaimana jika sebenarnya Kak Axel masih mencintaimu Aluna?
Mungkin saja kebenciannya menutupi cintanya padamu.
Namun saat ia mengetahui kebenaran ini, aku yakin Kak Axel tidak akan melepaskanmu lagi."
"Entahlah Ariana.
Saat ini aku sudah siap menerima apapun hasil akhirnya nanti.
Aku hanya ingin hidup dengan pilihanku sendiri.
Semuanya terasa sangat menyesakkan saat aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku sendiri.
Termasuk pernikahan yang seakan mengikatku dalam hubungan yang tidak aku inginkan.
Aku ingin memulai hidupku yang baru."
"Aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaanmu Aluna."
"Bukan hanya aku saja, tapi juga kamu Ariana.
Aku ingin kamu segera menemukan kebahagiaanmu."
"Ya, aku juga berharap seperti itu."
"Dan mengapa kamu tidak mencoba menjalin hubungan lagi dengan seseorang?"
"Aku sudah memberitahumu Aluna."
"Iya, aku tahu.
Tapi bukankah dengan pria yang berbeda juga dengan kisah cinta yang berbeda?
Kamu hanya perlu mencobanya."
Ya, Ariana pernah menyukai seorang pria selama 5 tahun.
Namun kisah cintanya berakhir tidak baik.
Pria itu tiba-tiba menikah dengan gadis pujaannya.
Hal itu membuat perasaan Aluna begitu hancur hingga akhirnya membuat Ariana enggan untuk menaruh perasaan lagi pada seseorang.
"Aku mohon segeralah menikah agar aku memiliki Keponakan."
ucap Ariana dengan nada menggoda.
Dia bermaksud menjahili Ariana.
"Dasar, kamu selalu saja menggodaku Aluna.
Tapi, aku akan mempertimbangkan permintaanmu itu.
Aku akan menikah secepatnya."
"Benarkah?"
Wajah Aluna berbinar tatkala mendengar ucapan Ariana.
"Hem, tapi aku akan menikah setelah kamu menikah dengan Kak Axel."
"Ariana..
Kau mengerjaiku."
"Aku hanya membalasmu Aluna."
Aluna kemudian menyentuh krim kue buatannya dan kemudian menyentuh wajah Ariana.
"Aluna...."
Ariana tidak tinggal diam.
Ia kemudian membalas Aluna.
"Kamu terlihat sangat lucu Aluna..."
"Aku akan membalasmu."
Ariana kemudian berlari menjauhi Aluna.
"Coba saja!"
Mereka berdua berlarian mengelilingi apartemen.
Hingga akhirnya mereka berdua kelelahan dan memilih untuk berhenti.
"Sekali lagi, selamat ulang tahun Ariana."
"Terima kasih sahabatku."
Mereke berdua kemudian berpelukan erat.
__ADS_1