Revenge For Love

Revenge For Love
Kesempatan


__ADS_3

"Apa?"


Aluna begitu terkejut mendengar ucapan Ariana.


"Kak Axel benar-benar ingin merebut perusahaan ini Aluna.


Saat ini ia sedang menarik hati para pemegang saham agar mau menjual saham mereka padanya."


"Aku tidak akan membiarkannya Ariana.


Aku harus bertemu dengan para pemegang saham. Tolong atur jadwalku untuk bertemu masing-masing dengan mereka."


"Baik Aluna."


Aluna memijit keningnya.


Axel benar-benar sudah bertindak terlalu jauh.


Ia harus segera menghentikannya.


--


Axel tersenyum di ruangannya.


Perusahaan itu akan segera menjadi miliknya. Ia akan membuat senyuman milik Aluna berubah menjadi tangisan.


Ia sudah bertemu dengan para pemegang saham.


Ia berhasil menyenangkan hati mereka.


Perlahan ia akan menjadi pemilik saham terbesar di Perusahaan Russel.


Dan otomatis ia akan menjadi pemilik perusahaan itu.


Axel akan berusaha keras.


Bahkan ia menawarkan sesuatu yang besar jika para pemegang saham itu mau memberikan sahamnya padanya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar.


Setelah memberi izin, James masuk ke ruangannya.


"Tumben kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk." ucap Axel.


"Aku hanya tidak mau mengganggu waktu bahagiamu."


Axel tersenyum.


"Bagaimana? Bagaimana tanggapan orang itu atas tawaran kita kemarin?"


"Responnya baik.


Hanya saja ia meminta sedikit waktu untuk memutuskannya."


"Itu bagus.


Paling tidak ia sudah berjalan ke arah kita."


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu Axe."


"Tanyakan saja."


"Mengapa kau tidak memberikan kesempatan pada Aluna untuk berbicara saat itu?


Mungkin saja ia ingin memberikan penjelasan padamu Axe.


Dengan begitu, rasa dendammu padanya akan berkurang saat kau mendengarkannya."


"Aku tidak perlu mendengar apapun darinya James.


Aku yakin ia akan memberikan penjelasan palsu agar ia bisa kembali lagi padaku.


Dia wanita yang haus harta sama seperti Ibunya.


Saat ia melihat perubahan besar diriku, ia pasti berniat meninggalkan suaminya itu.


Aku yang sekarang sangat berbeda.

__ADS_1


Aku memliki apa yang dimiliki Russel.


Suaminya itu saat ini berada di ambang kehancuran. Tentu saja ia ingin membuatku terjatuh lagi dengan pesonanya.


Dan ia begitu bodoh jika berpikir seperti itu.


Aku tidak akan mau kembali dengannya."


"Apa aku harus mendengarkannya?" tanya Axel.


"Aku hanya tidak mau kau hidup dalam dendam dan kebencian Axe.


Aku tahu selama ini kau hidup hanya untuk membalaskan dendammu.


Kau tidak menjadi dirimu sendiri sampai-sampai aku tidak mengenalmu yang sekarang.


Kau sangat berbeda Axe."


"Kau juga tahu Aluna yang membuatku seperti ini James.


Dia mengambil semuanya dariku.


Aku hanya ingin membalas perbuatan jahatnya.


Dengan begitu aku bisa menerima semuanya dan hidup dengan tenang.


Aku tidak bisa diam saja saat melihatnya bahagia di atas penderitaanku."


Axel membalikkan badannya menghadap ke jendela.


James sedang dilema saat ini.


Dari sorot mata Aluna saat itu, tidak ada kepalsuan di sana.


Ia bisa melihat Aluna benar-benar ingin menjelaskan sesuatu pada Axel.


Namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.


Axel sudah sangat yakin dengan tindakannya.


Pemegang saham ini memliki saham yang cukup besar, sehingga Aluna harus menyelamatkannya terlebih dahulu.


Aluna masuk setelah mendapat izin.


Sementara Ariana menunggu di luar.


"Selamat siang Bapak Martin.


"Selamat siang.


Silahkan duduk Ibu Aluna."


Aluna kemudian duduk di sofa yang ditawarkan.


"Saya datang ke sini ingin membicarakan terkait kerja sama kita Pak.


Saya mendengar bahwa Bapak berniat ingin memberikan saham Bapak pada perusahaan Vellas Grup.


Apa Bapak benar-benar ingin mengakhiri kerja sama kita?"


"Begini Ibu Aluna.


Saya sempat ragu sebalumnya.


Hanya saja saya pikir perusahaan Pak Axel memiliki peforma yang lebih baik dari perusahaan anda.


Jadi saya akan memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar nanti."


"Selama ini kami tidak pernah mengecewakan Bapak ataupun para pemegang saham lain.


Sehingga kalian mau bekerja sama dengan kami selama bertahun-tahun.


Tidak adil rasanya jika Bapak mengakhiri kerja sama kita begitu saja."


"Benar, saya juga mengetahui hal itu Bu.


Peforma perusahaan anda juga baik, apalagi semenjak anda ambil bagian di perusahaan."

__ADS_1


"Tolong berikan kesempatan pada kami Pak agar kerja sama kita tetap berjalan.


Paling tidak, untuk penghargaan atas kerja keras kami selama ini."


Martin mulai berpikir sebentar.


Ia sedang mempertimbangkan permintaan Aluna.


"Baiklah kalau begitu Bu.


Saya akan mempertimbangkannya kembali dan memberikan kesempatan pada perusahaan anda."


Aluna tersenyum mendengar ucapan Martin.


"Terima kasih Pak."


"Sama-sama Bu."


Aluna akhirnya bisa menarik napas lega.


Setelah ini ia akan memanfaatkan kesempatan yang telah diberikan Martin.


Ia akan lebih bekerja keras lagi setelah ini.


Sementara Ariana sudah menunggu di luar.


Dari tadi ia gelisah memikirkan bagaimana keputusannya nanti.


Aluna keluar dari ruangan itu.


Ariana langsung berdiri dan kemudian mendekati Aluna..


"Bagaimana Aluna?"


Aluna terdiam sebentar, namun kemudian tersenyum merekah.


"Pak Martin memberikan kesempatan pada kita Ariana. Ia masih belum memberikan sahamnya pada Kak Axel."


"Benarkah?"


Aluna menganggukkan kepalanya dengan yakin.


Ariana langsung memeluk tubuh Aluna.


"Aku bahagia sekali Aluna."


"Aku juga Ariana."


Ariana kemudian melepas pelukannya.


"Untuk merayakannya, bagaimana kalau kita makan siang di restoran favorit kita?"


"Aku rasa itu ide yang bagus.


Aku juga sangat lapar saat ini."


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke sana."


Ariana kemudian menarik tangan Aluna.


Aluna hanya bisa tersenyum menanggapi tingkah lucu Ariana.


Hal itu langsung diketahui oleh Axel.


Martin membatalkan rencananya untuk memberikan saham padanya dan malah ingin memberikan kesempatan untuk perusahaan Russel.


Ia tahu ini perbuatan Aluna.


Gadis itu pasti ingin menghentikan rencananya.


"Kau ingin bermain-main denganku rupanya Aluna.


Tapi lihat saja, aku tidak akan tinggal diam!


Aku akan memberikan perhitungan padamu!"


ucap Axel dengan tatapan nyalang.

__ADS_1


__ADS_2