
Russel mencari Aluna di rumah.
Ia ingin menanyakan terkait pekerjaan kantor yang dulu sempat tertunda karena dirinya tidak ada.
"Apa kau melihat Aluna?"
"Nyonya Aluna tadi pagi pergi bersama Nona Ariana Tuan.
Saya pikir mereka sudah kembali dan Nyonya pasti sedang berada di kamarnya."
"Baiklah."
Russel melangkahkan kakinya menuju kamar Aluna.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Russel masuk ke dalam kamar itu.
Kosong, itu yang ia dapati saat masuk.
Ia kemudian memeriksa kamar mandi Aluna.
Hasilnya tetap nihil juga.
Russel berniat keluar dari kamar mandi itu.
Namun sebuah benda yang terdapat di dalam kotak terbuka terlanjur menarik perhatiannya.
Ia mendekatinya dan mengambil benda itu.
Amarah seketika muncul di dalam dirinya saat melihat benda tersebut menunjukkan garis dua.
"Brengsek!
Berani-beraninya kau menghianatiku Aluna."
Perasaan Russel semakin tidak bisa terkendali lagi saat melihat kembali benda itu.
Alat yang menunjukkan bahwa Aluna positif hamil.
Dan bisa ia pastikan bahwa Aluna sedang mengandung anak Axel.
Russel menjatuhkan semua barang-barang yang ada di dekatnya.
Emosinya semakin membara hingga ia berpikir akan memukul siapapun yang berada di dekatnya.
Russel kemudian keluar dari kamar Aluna dengan menggengam erat alat itu.
Tidak disangka, bersamaan dengan Aluna dan Ariana yang baru kembali dari rumah sakit.
Ariana terlihat memegang tubuh Aluna dengan hati-hati.
Dengan raut wajah pernuh amarah, Russel langsung menghampiri Aluna dan kemudian menarik tangannya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?
Kau menyakitiku tanganku.
Lepaskan aku!"
Aluna berusaha melepaskan tangannya dari Russel.
"Russel lepaskan Aluna."
ucap Ariana mengikuti dari belakang.
Russel kemudian menghentikan langkahnya.
"Siapa ayah bayi yang kau kandung itu?"
Aluna dan Ariana sontak terkejut dengan pertanyaan Russel.
Bagaimana Russel bisa mengetahui hal itu?
"Jawab aku!"
Russel kemudian melempar alat itu ke tubuh Aluna.
"Kau tidak akan bisa lagi menyembunyikannya dariku."
Russel menatap raut ketakutan di wajah Aluna.
Ia kemudian mendekati Aluna.
Russel tersenyum menyeringai.
"Apa anak itu anak Axel?"
Raut wajah Russel seketika berubah menjadi sosok yang menyeramkan.
Ia kemudian mendorong Aluna hingga tubuh Aluna jatuh ke lantai.
Ariana langsung mendekati Aluna.
"Aluna, kamu tidak apa-apa?
Russel kau benar-benar pria yang jahat.
Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Aluna."
"Menyingkir dari sana.
__ADS_1
Atau aku akan menyakitimu juga."
ucap Russel dengan nada memperingati.
"Aku tidak peduli.
Aku akan melindungi Aluna darimu!"
Jantung Aluna berdetak dengan kencang.
Ia begitu takut saat ini.
Ia takut Russel akan menyakiti Ariana anaknya.
Russel kembali menarik Aluna dengan kasar.
Ariana berusaha menghalagi Russel, namun pria itu mendorongnya hingga ia terjatuh ke lantai.
"Russel, aku mohon jangan lakukan ini."
Russel tidak menghiraukannya dan tetap menariknya menuju pintu keluar.
Tiba-tiba Alda berdiri di depannya dan menghalangi langkahnya.
Ia kemudian menarik Aluna dari Russel.
"Russel, apa yang kau lakukan?
Bagaimana bisa kau menyakiti Aluna seperti itu?"
Russel kembali tersenyum menyeringai.
"Ibu, apa kau Ibu tidak mengetahui bahwa Aluan sedang hamil?'
Dan anak itu adalah anak Axel."
Sebenarnya Alda sudah mengetahui hal itu saat mendengar keributan tadi.
Ia pastinya sangat terkejut dan kecewa pada Aluna.
Namun ia tidak ingin Russel menyakiti Aluna.
"Kita harus menjalankan rencana kita selanjutnya Ibu.
Bukankah anak itu harus mati?"
Aluna terkejut dengan pernyataan Russel.
Ia menatap Russel dan Alda satu per satu.
"Apa maksudmu berkata seperti itu?"
"Apa yang kau pikirkan saat ini benar adanya Aluna.
"Aku tidak percaya dengan ucapanmu.
Aku tahu kau berbohong!"
Aluna mencoba mempercayai Alda.
Karena ia yakin bahwa Ibunya tidak akan melakukan hal itu padanya.
"Ibu merencanakan semuanya sejak awal.
Ia berpura-pura menyetujui hubunganmu dengan Axel, agar rencananya berhasil.
Setelah kalian mempercayainya, ia mulai menjalankan rencana utama.
Ia menikahkanmu denganku dan ia bahkan terlibat mencebloskan Axel ke dalam penjara dengan tuduhan palsu.
Tidak sampai disitu.
Dia juga yang menyuruhku untuk membawamu ke Amerika agar kau berjauhan dari Axel.
Semua itu ia lakukan adalah untuk mendapatkan harta dan kemewahan yang berlimpah."
Aluna menatap Alda dengan kecewa.
"Mami..."
Air mata kian menetes dari mata Aluna.
"Bagaimana bisa Mami melakukan semua itu padaku?
Mami tega melakukan hal jahat hanya untuk memisahkanku dari kak Axel?
Mengapa Mami melakukan itu semua?"
"Aluna, dengarkan Mami.
Mami melakukan itu semua untuk kebahagiaan sayang."
"Kebahagiaan?
Kebahagiaan apa yang Mami maksud?
Bertahun-tahun aku tidak pernah merasakan kebahagiaan sejak Mami membuat aku menderita."
"Aluna..."
__ADS_1
Alda berniat menyentuh Aluna namun Aluna langsung menjauh darinya.
"Apa Mami juga akan merencanakan sesuatu yang buruk pada bayiku?"
"Aluna, dengarkan Mami dulu."
Alda memegang tangan Aluna dan Aluna langsung menepisnya.
"Lepaskan aku!
Aku tidak percaya Mami bisa melakukan itu semua.
Ternyata Mami tidak pernah menyayangi aku.
Aku sangat membenci Mami!
Aku tidak akan pernah memaafkan Mami."
"Dan kau, aku tidak akan membiarkanmu menyakiti bayiku.
Jika kau berani menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan untuk bunuh diri lagi.
Aku sama sekali tidak punya harapan lagi untuk hidup."
ucap Aluna pada Russel.
"Kau pikir aku peduli dengan ancamanmu?
Kau harus diberi pelajaran atas perbuatanmu.
Berani-beraninya kau menghianatiku.
Sebagai konsekuensinya, Axel dan bayi itu mulai saat ini berada dalam bahaya.
Kau harus memilih salah satu dari mereka."
Jantung Aluna berdetak dengan kencang.
Ia tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Axel dan anaknya.
Keduanya sangat berarti bagi dirinya.
Ia tidak akan mungkin bisa memilih.
Russel kemudian pergi meninggalkan rumah.
"Aluna..."
Alda kembali berusaha mendekati Aluna.
"Jangan mendekat!
Kau pasti sangat bahagia melihatku menderita.
Sekarang kau puas bukan?
Aku harus memilih antara pria yang kucintai dan anakku.
Oh, apa jangan-jangan kau ingin keduanya pergi meninggalkanku, hem?"
"Aluna, tenangkan dirimu.
Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya."
Ariana berusaha menenangkan Aluna.
Ia mengerti bagaimana perasaaan Aluna saat ini.
Aluna pasti begitu menderita saat menerima fakta bahwa Ibunya adalah dalang dibalik penderitaannya selama ini.
Sangat disayangkan memang.
Bagaimana mungkin seorang Ibu bisa mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya untuk harta dan materi?
"Bawa aku Ariana.
Aku mohon jauhkan aku dari Wanita jahat ini."
"Hem, aku akan membawamu ke dalam kamar."
Aluna kemudian pergi meninggalkan Alda tanpa sedikitpun menoleh padanya.
Perasaan kecewa membuat Aluna tidak lagi menganggapnya sebagai seorang Ibu.
Dan ia memang pantas menerimanya.
Ia telah menyadari bahwa perbuatannya selama ini telah membuat Aluna sangat menderita.
Ia tega menukar kebahagiaan Putrinya dengan uang.
Alda menangis terisak.
Ia tidak menyangka semuanya akan terjadi seperti ini.
Aluna terlihat begitu membencinya.
Apa yang harus ia lakukan?
"Maafkan Mami Aluna.
__ADS_1
Mami merasa sangat bersalah.
Mami akan melakukan apapun agar kamu mau memaafkan Mami."