Revenge For Love

Revenge For Love
Berkecamuk


__ADS_3

James masuk ke dalam apartemen Axel dengan senyum gembira.


Itu semua karena Ariana tentunya.


Senyumnya perlahan menghilang saat melihat Axel berada di meja makan.


Namun yang membingungkan, Axel hanya diam dan sama sekali tidak menghabiskan makanannya.


James menghampiri Axel.


"Axe.. " panggil James.


Axel akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Kenapa kau hanya diam saja?


Kau menghidangkan semua ini, tapi kau sama sekali belum makan apapun."


James mengerutkan keningnya.


Sepertinya terjadi sesuatu antara Aluna dan Axel.


"Apa telah terjadi sesuatu?"


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak James.


Sama sekali tidak terjadi apapun."


"Jadi mengapa kau hanya diam saja dari tadi?"


"Aku hanya tidak selera memakan semua makanan ini."


"Kau yakin?


Bukankah ini makanan kesukaanmu?"


Lagi-lagi James melontarkan pertanyaan yang membuat Axel kesal.


Axel kemudian berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


James berdiri mendekati kamar Axel.


"Axe..


Kau sama sekali belum makan apapun."


James menghela napasnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?"


Di dalam kamarnya, Axel berkacak pinggang.


Pikirannya berkecamuk, membayangkan wajah Aluna.


Mengapa Aluna selalu terlintas di pikirannya?


"Akh, mengapa kau selalu membuatku seperti ini?"


Axel mengepal tangannya dengan erat.


"Aku tahu tujuanmu melakukan semua ini adalah untuk membuatku menjadi pria bodoh seperti dulu Aluna.


Kau salah!


Semakin kau berusaha, semakin aku membencimu!


Aku akan melakukan hal yang lebih lagi untuk menyakitimu." ucap Axel dengan tatapan nyalang.


--


Ariana memberikan obat dan gelas yang berisi air putih pada Aluna.


Ia kemudian duduk di sisi ranjang.


"Mengapa kamu bisa seperti ini Aluna?"


"Aku hanya kurang tidur Ariana.


Kemarin aku begadang terlalu lama. Akibatnya aku mengalami seperti ini."


"Aku sarankan jangan terlalu memaksakan dirimu Aluna.


Tubuhmu juga perlu istirahat yang cukup.


Aku mohon hal ini jangan terulang lagi, hem?"


Aluna tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Ia tahu Ariana sangat khawatir dengannya.


"Oh ya, kamu tampak berbeda hari ini Ariana.


Wajahmu berseri-seri sejak pulang tadi.


Apa ada sesuatu yang baik terjadi hari ini?"


Ariana seketika salah tingkah mendengar pertanyaan Aluna.


"Tidak, tidak ada yang istimewa Aluna.


Hanya saja.. "


Ariana enggan melanjutkan kalimatnya.


Ia merasa malu jika memberi tahu Aluna soal perjumpaannya dengan James.


"Hanya saja?"


Dari raut wajah Ariana, Aluna tahu bahwa dugaannya benar.


Ariana juga tidak pernah seperti ini."


"Sebenarnya tadi aku berjumpa dengan James."


"Kak James?"


Jadi Kak James pria itu, ucap Aluna di dalam hati.


Aluna tersenyum.

__ADS_1


"Terus apa saja yang kalian lakukan?"


"Dia hanya mengantarku pulang, itu saja.


Sebenarnya kami tidak sengaja bertemu di supermarket Aluna.


Dia menawarkan bantuan padaku, dan aku tidak bisa menolaknya."


"Sepertinya ada sesuatu antara kamu dan Kak James."


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak Aluna.


Sama sekali tidak seperti itu."


"Kamu yakin?"


Ariana dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Kak James pria yang baik.


Aku yakin banyak gadis yang tertarik dengannya."


"Aku sudah mengenalnya lama Ariana.


Jadi bisa aku pastikan Kak James bukanlah pria yang buruk.


Bahkan ada satu informasi tentang Kak James yang akan membuatmu terkejut saat mendengarnya."


"Apa itu Aluna?" tanya Ariana dengan penasaran.


"Kak James belum pernah sekalipun berpacaran."


"Apa?


Kamu yakin dengan hal itu Aluna?"


"Aku bahkan sangat yakin Ariana.


Walaupun Kak James dulu sering meminta Kak Axe untuk mengenalkannya dengan seorang gadis, ia sebenarnya tidak serius dengan ucapannya itu.


Kak James mengatakan padaku, bahwa ia masih menunggu gadis yang benar-benar ia cintai suatu saat nanti."


Perasaan Ariana seketika terenyuh mendengar ucapan Aluna barusan.


"Dan menurutku kamu sangat cocok dengan Kak James."


"Aluna..


Aku tidak.."


"Iya, untuk sekarang kalian memang belum ada hubungan apapun.


Untuk kedepannya, kita tidak tahu Ariana.


Benarkan?"


"Aku begitu senang melihatmu mulai membuka hati pada seorang pria.


Aku juga tidak mau kamu mengalami hal yang sama sepertiku Ariana.


Aku ingin kamu hidup bahagia dengan pria yang kamu cintai."


"Aluna..


Ingat impian kita berdua?


Kita akan hidup bahagia bersama selamanya."


"Iya, aku mengingatnya."


"Kita harus sama-sama bahagia,okey?"


Aluna menganggukkan kepalanya.


Mereka kemudian saling berpelukan erat.


Tanpa diketahui Aluna dan Ariana, Alda mendengar pembicaraan mereka dari pintu.


Awalnya ia ingin kembali menasehati Aluna, namun niatnya terhenti tatkala mendengar Aluna menyebut nama Axel dan kemudian James.


Perasaannya berubah seketika menjadi kalut.


Ia takut Axel benar-benar sedang berada di Amerika.


Walaupun bisa ia pastikan Axel sudah membenci Aluna, namun tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali bersama.


Mengingat percintaan mereka dulu yang begitu kuat..


Ia harus memberitahu Russel soal itu.


Cara satu-satunya untuk menghindari Aluna akan kembali dengan Axel adalah dengan menghasut Russel.


Pria itu pasti tidak bisa menerimanya.


Alda kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Russel.


Namun saat ia membuka pintu kamar Russel,Russel tidak ada di sana.


Begitu juga dengan ruang kerja Russel.


"Kemana perginya Russel?"


Sementara Russel sedang berada di depan toko bunga dimana Gwen bekerja.


Russel berada di dalam mobilnya.


Ia melihat ke jam tangannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam,namun gadis itu belum keluar juga dari sana.


"Apa yang ia lakukan hingga bekerja jam segini?


Apa ia tidak mengkhawatirkan kondisi bayinya?"


Di dalam toko bunga itu Gwen sedang bersama Marine.


Gwen memberitahu Marine soal kehamilannya.


"Kamu harus menjaga kandunganmu sayang.

__ADS_1


Nenek menyarankan kamu untuk tidak bekerja fulltime."


"Tapi Nek, siapa yang akan menggantikan pekerjaanku?


Pekerjaan akan menjadi terbengkalai jika aku tidak ada Nek."


"Kamu tidak perlu khawatir sayang.


Nenek akan merekrut pekerja yang akan melakukan pekerjaanmu saat kamu tidak ada."


Gwen begitu terharu dengan perlakuan Marine padanya.


Selama ini Marine begitu baik dan perhatian padanya.


Baginya, Marine sudah seperti keluarganya sendiri.


"Terima kasih banyak Nek.


Terima kasih telah menyayangiku selama ini."


Marine memegang tangan Gwen..


"Sama-sama sayang.


Kamu sudah seperti Cucu Nenek sendiri.


Nenek tidak akan mungkin membiarkanmu bersedih dan menderita.


Apalagi saat ini sudah ada dia."


Gwen melihat ke arah perutnya dan kemudian tersenyum.


"Nenek yakin kamu akan menjadi Ibu yang baik nantinya."


Gwen kembali menatap Marine.


"Walaupun keadaan semakin sulit nantinya, kamu harus tetap bertahan demi anakmu Gwen.


Kamu harus memberikan cinta dan kasih sayang padanya."


"Iya Nek.


Gwen begitu menyayanginya.


Gwen juga tidak akan membiarkannya merasakan apa yang kurasakan dulu."


"Tidak masalah jika harus merawat anak seorang diri.


Berjanjilah bahwa kamu akan memberitahu Nenek jika kamu memerlukan sesuatu.


Nenek akan membantumu Gwen."


Gwen tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Ia kemudian langsung memeluk tubuh Marine.


"Terima kasih Nek, terima kasih untuk semuanya."


Marine tersenyum sambil mengelus .


punggung Gwen.


Russel kembali melihat jam tangannya, waktu semakin malam.


Ia kemudian melihat ke arah toko itu.


Namun beberapa saat kemudian Gwen akhirnya keluar dari sana.


Gwen berjalan menuju halte bus.


Tanpa diketahuinya, Russel mengikutinya dari belakang.


Gwen kemudian duduk di kursi halte itu dan menunggu kedatangan bus.


Gwen melihat sekelilingnya yang sangat sepi.


Hanya dirinya yang berada di sana.


Walaupun ia sudah biasa dengan hal itu, rasa takut juga sering menghampiri dirinya.


Ia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.


Apalagi saat ini ia tengah mengandung.


Gwen berusaha untuk berpikiran positif.


Ia yakin ia dan bayinya akan baik-baik saja.


Sementara Russel yang berada di dalam mobilnya melihat Gwen dari kejauhan.


"Apa yang ia lakukan sendirian di sana?


Jika seseorang menyakitinya, siapa yang akan menolongnya?


Dasar gadis keras kepala!"


Sebuah bus datang dari atas.


Gwen akhirnya dapat bernapas dengan lega.


Ia kemudian berdiri dan naik ke dalam bus itu.


Russel kemudian mengikuti bus itu dari belakang.


Beberapa menit kemudian, bus itu berhenti.


Gwen kembali berjalan menuju apartemennya.


Gwen kemudian masuk ke dalam apartemennya.


Russel melihat ke arah apartemen Gwen.


Apartemen itu sangat kecil dan Russel pikir ia tidak akan membiarkan anaknya tumbuh di tempat itu.


Gadis itu pasti tidak mampu membayar apartemen yang lebih besar.


Tapi jujur saja, ia tidak akan membiarkannya.


Ia akan melakukan apapun untuk anaknya.

__ADS_1


__ADS_2