Revenge For Love

Revenge For Love
Tidak bisa menghindari


__ADS_3

Axel masuk ke dalam apartemennya dan membawa kopernya.


"Axe.."


James dengan wajah terkejut datang menghampirinya.


"Kau kenapa kembali begitu cepat?"


"Aku hanya ingin kembali saja."


ucap Axel seolah tidak terjadi apa-apa.


James semakin berpikir ada yang aneh.


Axel berjalan menuju kamarnya.


Sementara James mengikutinya dari belakang.


"Kau yakin?


Ariana tadi memberitahuku bahwa Aluna kembali siang tadi dengan wajah sangat pucat.


Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian Axe?


Apa kau menyakiti Aluna lagi?"


Axel seketika menghentikan langkahnya.


"Sejak kapan kau berhubungan dengan gadis itu James?


Kau mulai berkerja sama dengannya?


Sebelumnya aku juga menemukan kamera pengintai di koperku. Dan aku juga menemukannya di tas Aluna.


Aku yakin itu perbuatanmu dan Ariana.


Apa sekarang kau sudah berpihak pada mereka, hem?"


"Axe..


Aku akui aku memang bekerja sama dengan Ariana untuk memantau kalian.


Hal itu aku lakukan karena aku takut kau melakukan hal yang lebih jauh pada Aluna.


Aku sahabatmu Axe. Aku tidak mau selamanya kau hidup dalam dendammu.


Jika kau memang tidak mencintainya lagi, biarkan dia hidup dengan tenang.


Paling tidak pertimbangkan bahwa dia adalah gadis yang pernah mengisi hari-harimu."


"Apa kau pikir aku bisa melepasnya begitu saja?


Tidak akan pernah!"


Axel langsung berlalu begitu saja.


James menatap kepergian Axel.


Apa yang harus ia lakukan agar Axel mau melupakan dendamnya?


--


Keesokan harinya, Axel pergi ke kantor Aluna untuk menemui gadis itu.


Pikirannya sangat kacau sejak hari itu.


Hari dimana Aluna pergi meninggalkannya.


Ia hanya ingin bertemu dengan Aluna dan minta maaf karena telah berkata kasar.


Dan soal malam itu, entah mengapa ia sama sekali tidak menyesalinya.


Karena ia berhasil menemukan fakta bahwa Aluna belum pernah berhubungan dengan pria manapun selain dirinya.


Axel melangkahkan kakinya menuju ruangan Aluna.


Namun langkahnya terhenti saat Ariana berdiri di hadapannya.


"Dimana Aluna?"


"Aluna tidak ada.


Hari ini ia tidak datang ke kantor."


ucap Ariana dengan wajah datar.

__ADS_1


"Kau yakin?


Biarkan aku memeriksanya sendiri."


"Tidak boleh.


Kau tidak boleh sembarangan masuk ke dalam sana.


Kau hanya boleh masuk kalau diizinkan."


Axel memasang senyum smirk nya.


Ariana pikir ia akan menyerah begitu saja.


Ia langsung melewati Ariana dan masuk ke dalam ruangan Aluna.


Ariana merengut kesal.


Axel memang pria yang angkuh dan egois.


Axel melihat sekeliling ruangan Aluna.


Dan benar, Aluna tidak ada di sana.


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa Aluna tidak ada di sini."


"Apa dia sakit?"


Ariana menatap wajah Axel.


Terlihat kekhawatiran di sana.


"Bukan urusanmu!"


"Kau harus memberitahuku bagaimana keadaan Aluna."


"Mengapa aku harus memberitahumu soal Aluna?


Bukankah kau tidak peduli dengannya?


Atau kau ingin mengatur rencana untuk menyakitinya kembali?"


"Sebelumnya kau memasang kamera pengintai untuk memantau kami berdua.


Aku rasa kau begitu takut aku melukainya sampai-sampai kau harus melakukan hal itu."


Kau akan melakukan segala cara untuk menyakiti Aluna.


Dan..


Jadi kau yang memutus kamera itu?"


"Itu tindakan yang sangat kekanak-kanakan.


Beruntung aku mengetahuinya lebih cepat."


"Selanjutnya aku tidak akan membiarkan Aluna pergi bersamamu."


ucap Ariana dengan nada memperingati.


Axel tersenyum dan kemudian memajukan langkahnya.


"Bagaimana jika apa yang kau takutkan selama ini benar-benar telah terjadi?"


Seketika hal itu membuat Arina terdiam.


Apa maksud Axel mengatakan seperti itu?


"Apa maksudmu?"


Wajah Ariana berubah menjadi tegang.


"Kau pasti mengerti maksudku.


Oh ya, aku akan kembali lagi ke sini.


Jangan coba menghalangiku lagi!"


Axel kemudian meninggalkan Ariana yang masih berkutat pada pikirannya.


Apa jangan-jangan Axel telah melakukan sesuatu yang buruk pada Aluna?


Perasaannya menjadi tidak enak akibat kalimat Axel.


Ia harus memastikan hal itu pada Aluna.

__ADS_1


Sepulang kantor, Ariana langsung pergi ke dalam kamar Aluna.


Ia ingin menanyakan kebenarannya pada Aluna.


Aluna tengah duduk di ranjangnya dengan mata yang menatap ke arah luar jendela.


Sejak pagi ia nyaman dengan posisi itu dan tidak berniat beranjak dari tempat tidur.


Pikirannya masih dipenuhi oleh Axel dan kejadian malam itu.


Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor sementara waktu sampai ia bisa menenangkan pikirannya.


Walaupun mungkin sangat sulit, tapi ia akan tetap berusaha.


Ia tidak ingin membuat orang di sekitarnya mengalami kesulitan karena dirinya.


"Aluna..."


Panggilan Ariana membuat pikiran Aluna teralihkan.


Ia melihat ke arah Ariana yang datang mendekatinya.


Terlihat wajah tegang di wajah sahabatnya itu.


Membuatnya bertanya-tanya.


"Ariana..


Apa yang terjadi denganmu?


Apa ada masalah di kantor?"


Ariana kemudian duduk di hadapan Aluna.


"Aluna tolong jujur padaku.


Apa telah terjadi sesuatu antara kau dan Kak Axel?"


Pertanyaan Ariana seketika membuat jantung Aluna berdetak dengan cepat.


Ia takut Ariana telah mengetahui semuanya.


"Apaa maksudmu Ariana?


Sama sekali tidak terjadi apapun padaku dan juga Kak Axe."


"Tadi Kak Axel datang ke kantor untuk bertemu denganmu.


Dia mengatakan hal yang aneh padaku sehingga membuatku mulai berpikiran yang tidak-tidak Aluna.


Memang tidak terjadi apa-apa kan?"


Ariana mencoba memastikan lagi.


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya.


"Mungkin dia mengatakan itu padamu hanya untuk mengancammu saja Ariana.


Kau juga mengenal bagaimana Kak Axel.


Dia suka berkata yang tidak-tidak."


Aluna mengelus tangan Ariana.


"Sama sekali tidak ada terjadi apapun antara aku dengan Kak Axel Ariana."


"Syukurlah.


Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega sekarang.


Sebelumnya aku sangat khawatir denganmu Aluna."


Aluna tersenyum pada Ariana.


(Maafkan aku Ariana.


Aku tidak bermaksud untuk membohongimu.


Aku hanya tidak ingin membuatmu terluka lagi hanya karena diriku.)


Pikirannya kemudian tertuju pada Axel.


Apa Axel bermaksud untuk menceritakan kejadian malam itu pada orang lain?


Apa yang ia lakukan jika hal itu akan terjadi nantinya?

__ADS_1


Ia tidak akan bisa menghindari hal itu terus.


Suatu saat nanti semuanya akan terungkap.


__ADS_2