Revenge For Love

Revenge For Love
Berhenti bekerja


__ADS_3

Aluna kembali ke acara itu.


Namun kali ini ia berusaha menghindari Russel sampai acara itu selesai.


Ia teringat dengan peringatan Axel di kamar mandi tadi.


Ia tidak mau semuanya semakin buruk.


Apalagi Russel juga tergolong pria yang tidak akan mau kalah dengan orang lain.


Lebih baik ia menghindari keduanya.


Aluna dan Russel berjalan keluar dari hotel.


Sekilas Aluna melihat ke arah Axel yang menatapnya dengan tatapan memperingati.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya dan mengikuti Russel yang masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan, Aluna hanya menatap ke arah luar jendela.


Tiba-tiba Russel berdehem dan membuka suara.


"Mulai besok kau tidak perlu datang lagi ke kantor."


Pernyataan Russel membuat Aluna begitu terkejut.


Sebelumnya pria itu sendiri yang menyuruhnya terlibat dengan perusahaan.


Dan sekarang, pria itu seenaknya menyuruhnya berhenti.


"Apa maksudmu?"


"Kau berhenti dari pekerjaan itu.


Biarkan Ariana dan Frans yang mengurus semuanya.


Kau hanya tinggal di rumah dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membuatku marah."


"Apa alasanmu melakukan hal itu padaku?


Setelah 2 tahun bekerja di sana, kau seenaknya menyuruhku berhenti bekerja."


"Aku tidak memiliki alasan sama sekali.


Aku Suamimu, dan aku berhak menyuruhmu berhenti.


Kau sudah cukup membuat orang lain terpukau dengan hasil kerja keradmu.


Kau tidak perlu melakukan pencitraan lagi!"


"Aku tidak mau berhenti!"


"Kalau begitu aku akan menghancurkan pria itu lagi."


Russel tersenyum melihat wajah tegang Aluna.


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau dan pria itu lakukan selama ini?"


"Kami hanya berperan sebagai rekan kerja saja.


Apa kau tidak tahu dia adalah salah satu pemegang saham perusahaanmu?"


Kau sendiri yang menyebabkan kecerobohan itu."


"Benarkah hanya sebagai rekan kerja saja?


Aku mengetahui dengan jelas bagaimana perasaanmu pada pria itu.


Aku tidak akan segan-segan menyakitinya kembali."

__ADS_1


Aluna mengepal erat tangannya.


Russel benar-benar pria yang jahat.


Setelah menghancurkan kebahagiaannya, pria itu kembali berniat menyakitinya.


"Kau tidak perlu repot melakukan hal itu.


Pria itu sudah tidak mencintaiku lagi.


Bahkan ia berniat membalas dendam padaku.


Kau hanya membuang-buang waktu saja!"


Aluna mencoba meyakinkan Russel.


Ia tidak mau Russel menyakiti Axel lagi.


"Aku tidak perduli.


Yang penting kau tidak perlu lagi bekerja di perusahaanku.


Aku akan melakukan sesuatu yang buruk jika kau mencoba melawanku!"


"Baiklah aku akan berhenti.


Kau puas?"


Russel akhirnya tersenyum puas.


Sebenarnya alasannya melarang Aluna bekerja adalah karena ia tidak mau Aluna bertemu dengan Axel lagi.


Ia mendapat kabar bahwa belakangan ini Axel sering datang ke kantornya.


Dan tujuan pria itu datang adalah untuk bertemu dengan Aluna.


Ia tidak akan membiarkan mereka kembali bersama.


Cukup sulit mengingat pria itu sudah memiliki kekuasaan sekarang.


Apalagi ia adalah pemegang saham di perusahaannya.


Tapi walaupun ia tidak akan menyerah.


Ia tidak akan kalah dari pria itu.


--


Setelah pulang dari acara itu, Axel masuk ke dalam ruang kerjanya.


Ia tersenyum mengingat Aluna yang mau menuruti ucapannya.


Gadis itu menghindari Russel sampai berakhirnya acara.


"Bagus sayang.


Kau tidak boleh membiarkan pria nakal itu menyentuhmu."


Axel tersenyum puas.


Sampai ia tidak menyadari kehadiaran James yang menatapnya dengan heran.


James terkekeh melihat Axel yang terlihat seperti orang gila saat ini.


Ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang kasmaran saat ini.


"Aku tidak menyangka kau akan melupakan Aluna secepat ini Axe."


Axel melihat James yang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Siapa dia?


Jangan bilang kau sudah jatuh cinta dengan salah satu gadis yang mengejar-ngejarmu.


Cepat katakan padaku."


Axel hanya terkekeh mendengar ucapan James.


Sementara James mencoba menebak siapa gadis itu.


"Ah, apa gadis itu adalah Vallie?"


"Gila!


Aku tidak mungkin mencintai Adikku sendiri."


"Jadi siapa lagi?


Kau harus mengatakan padaku agar aku tidak perlu menebak lagi."


James menarik napas panjang.


Axel sama sekali tidak berniat memberitahunya.


Tiba-tiba handphonenya bergetar.


Ia tersenyum tatkala menerima pesan dari Ariana.


"Kau benar-benar berhubungan dengan gadis itu?"


ucap Axel setelah melihat nama Ariana di layar handphone James.


Axel melipat kedua tangannya sambil menatap James.


"Hem.."


ucap James dengan singkat.


Ia kemudian menyadari tatapan Axel padanya.


"Kau benar-benar melarangku berhubungan dengannya?"


"Tidak.


Hanya saja aku tidak mau kau diracuni oleh gadis itu."


"Yang benar saja.


Dia itu gadis yang sangat baik Axe.


Kau hanya salah paham dengannya."


"Kau berkencan dengannya?"


James tersenyum dan kemudian menepuk pundak Axel.


"Kau akan bahagia jika sahabatmu ini bahagia kan Axe?"


Ia kemudian berlalu meningggalkan Axe.


"Jangan sampai kau bersekongkol dengannya untuk menjatuhkanku."


James terkekeh dan membalikkan tubuhnya sebentar.


"Iya aku membuatmu kalah dari Aluna."


Axel hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol sahabatnya.


Ia tahu bahwa ini pertama kalinya James merasakan jatuh cinta.

__ADS_1


Dan ia yakin James tidak akan melepaskan gadis itu.


Ia sendiri juga tidak akan melarang James berkencan dengan Ariana.


__ADS_2