
Ariana mengantar Aluna ke depan rumah.
Setelah semua barang-barang dimasukkan ke dalam bagasi, Aluna pamit kepada Ariana.
Terpancar raut sedih di wajah Ariana.
Ia tahu sahabatnya itu masih berat melepasnya pergi sendirian.
"Kamu terlihat menggemaskan dengan wajah seperti itu."
Ariana semakin merengut.
Aluna tersenyum dan kemudian memegang tangan Ariana.
"Aku akan baik-baik saja Ariana.
Bukankah aku sudah berjanji padamu untuk segera menelpon jika terjadi apa-apa?"
"Hem..
Kamu masih ingat teknik bela diri yang aku ajarkan padamu kan?"
Aluna terkekeh mendengar pertanyaan Ariana.
Tentu saja ia masih mengingatnya.
Walaupun sebenarnya ia belum menguasai hal itu.
"Iya, aku masih mengingatnya."
"Syukurlah.
Aku sudah bisa bernapas lega sekarang."
"Kamu juga harus menjaga kesehatan saat aku pergi.
Jangan terlambat makan, dan jangan terlalu banyak begadang.
Jika terjadi apa-apa, kamu juga harus menelponku."
"Baiklah Aluna."
Aluna mengelus tangan Ariana.
"Aku pergi."
Ariana tersenyum tipis.
Aluna kemudian masuk ke dalam mobil.
Sebelum pergi, ia melambaikan tangan pada Ariana.
Ariana menatap kepergian Aluna.
Di dalam hati, ia berharap semua akan baik-baik saja.
Mengingat Aluna yang akan pergi ke luar kota,membuatnya sangat khawatir.
Itu semua karena perbuatan buruk yang sering dilakukan Axel pada Aluna.
Ia takut Axel akan melewati batasnya.
Dan sesuai saran yang diberikan James, ia sudah menempelkan kamera kecil pada koper dan tas Aluna.
Dengan begitu, ia bisa memantau pergerakan Aluna.
--
Aluna melajukan mobilnya selama berjam-jam menuju kota dimana ia akan bekerja.
Tidak terasa, akhirnya ia sampai di hotel dimana ia akan menginap.
Aluna keluar dari mobilnya.
Dan pegawai hotel langsung membawa barang-barangnya.
Aluna berjalan menuju meja resepsionis.
Tidak di sangka, Axel juga berada di sana.
Awalnya Aluna tidak menyadarinya, namun saat ia melihat ke arah samping, Axel tersenyum padanya.
"Kau akan menginap di hotel ini juga?
Apa kau sengaja melakukannya agar bisa berdekatan denganku?"
__ADS_1
Aluna hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian menatap lurus ke depan.
Ia tidak percaya Axel akan begitu percaya diri.
"Maaf sekali Nona. Kamar di hotel ini sudah penuh dan tidak memliki kamar yang tersisa lagi."
"Baiklah saya akan menginap di hotel lain saja.
Terima kasih."
"Satu kamar yang aku pesan tadi, aku batalkan saja."
Aluna menatap Axel heran.
"Berikan saja padanya.
Aku akan menyuruh temanku menginap di hotel lain."
"Apa Nona ingin menginap di kamar yang telah dibatalkan Tuan Axel?"
Axel menatap Aluna dengan tajam.
Ia memberi tanda agar Aluna mau menyetujuinya.
"Baiklah, saya akan menginap di kamar itu."
Axel tersenyum puas mendengar jawaban Aluna.
Setelah mendapatkan kunci kamar, Aluna dan Axel kemudaian masuk ke lift.
Awalnya tidak ada perbincangan di antara mereka.
Sebenarnya Aluna juga tidak mau mencari masalah dengan Axel.
Karena selain menguras tenaga, ia mau lagi menerima hinaan dan cacian dari Axel.
Ia masih mengingat ucapan kasar pria itu terakhir kali.
"Bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?"
Aluna tidak merespon ucapan Axel.
Ia tetap menatap lurus ke depan.
"Hei, aku sudah memberikanmu kamar itu.
Aluna tidak tahan lagi.
Ia kemudian menggeser tubuhnya menghadap Axel.
"Apa aku memintamu memberikan kamar itu padaku?
Dengar, aku bisa saja menginap di hotel lain.
Kau sendiri yang memaksaku melakukannya."
"Kau berani melawanku?"
Axel mendekat pada tubuh Aluna.
Aluna memundurkan langkahnya karena Axel semakin mendekatinya.
"Kita sedang berada di luar kota saat ini.
Tidak akan ada yang menolongmu jika aku berbuat sesuatu.
Baik sahabatmu itu ataupun orang lain."
"Aku tidak pernah takut padamu.
Jika aku takut, aku bisa saja membawa Ariana bersamaku.
Seperti yang kau lihat saat ini, aku pergi sendirian kan?"
Sebenarnya ada rasa takut dan khawatir melingkupi Aluna.
Apalagi saat menyadari tubuh mereka sangat dekat.
Namun Aluna berusaha terlihat baik-baik saja di depan Axel.
"Menjaulah dariku.
Oh, apa jangan-jangan kau juga sudah jatuh ke dalam pesonaku?
Jangan bilang, kalau sebenarnya dari awal kau sudah menyukaiku?
__ADS_1
Hanya saja kau menggunakan cara kasar untuk menarik perhatianku."
Emosi Axel tersulut mendengar ucapan Aluna.
Ia kemudian menjauhkan tubuhnya dari Aluna.
"Omong kosong!
Jangan berpikiran terlalu jauh Aluna.
Aku tidak sudi menyukai gadis sepertimu!"
"Benarkah?
Tapi kau pernah mencintai gadis sepertiku, jika kau mengingatnya."
"Aku akui, aku memang sangat bodoh saat itu.
Aku sangat menyesal pernah mencintai wanita buruk sepertimu.
Dan kau tahu, aku tidak akan terjatuh dua kali."
"Benarkah?
Jika kau menyesal pernah mencintaiku, kalau begitu aku juga menyesal pernah mencintai pria sepertimu.
Aku tidak menyangka pria yang kucintai akan berubah menjadi pria yang sangat arogan seperti ini."
"Kau..." Axel ingin membalas ucapan Aluna.
Tiba-tiba pintu lift terbuka.
Sehingga menghentikan niat Axel.
Mereka berdua kemudian berjalan menuju kamar mereka.
Sesampainya di depan kamarnya, Aluna melihat ke arah Axel yang berdiri di kamar sebelahnya.
Axel langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.
Aluna tahu Axel pasti marah dengan ucapannya tadi.
Tapi bukankah ia sendiri yang memulainya?
Ia juga marah dengan semua ucapan kasar yang selama ini Axel lontarkan padanya.
Jadi bisa dipastikan ia yang paling menderita.
Benar dugaan Aluna, Axel sangat marah dengan ucapan Aluna di lift tadi.
Berani-beraninya Aluna mengatakan hal itu padanya setelah melakukan banyak hal padanya.
Seolah-olah gadis itu tidak merasa bersalah atas apa yang diperbuatnya selama ini.
Seharusnya ia yang marah, bukan Aluna.
Karena korban atas semuanya adalah dirinya.
Aluna yang menghianatinya.
"Aku pastikan kau akan mendapatkan akibatnya Aluna!"
--
Aluna sedang memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
Setelah selesai, ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat di kamar mandi, mata Aluna menangkap kalung yang menempel di lehernya.
Kalung yang merupakan pemberian Axel.
Aluna tersenyum dan kemudian mennyentuh kalung itu.
"Apa pemilikmu sudah benar-benar tidak mencintaiku lagi?
Ayo katakan padanya untuk tidak berbuat seperti ini lagi padaku.
Tapi walaupun begitu, aku akan tetap menyayangimu.
Lama Aluna memandangi kalung itu, sebelum akhirnya dia membersihkan dirinya.
Lain hal nya di rumah, Ariana sedang memeriksa kamera yang sudah dipasang di tas dan koper Aluna.
Saat memeriksanya, Ariana tersenyum lega.
__ADS_1
Ia senang Aluna telah sampai di hotel dengan keadaan selamat.
Bahkan ia bisa pastikan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi pada Aluna.