Revenge For Love

Revenge For Love
Sebatas khayalan?


__ADS_3

Aluna menikmati semilir angin yang keluar masuk dari jendela kamarnya.


Pikirannya terngiang-ngiang dengan memorinya bersama Axel.


Mengingat semua itu hanya membuatnya semakin merindukan Axel.


Sedang apa Axel saat ini?


Apa Axel masih bekerja di kafe itu?


Dan satu pertanyaan melintas di pikiran Aluna.


Apa Axel masih mencintainya?


Setelah apa yangbdilakukannya, apa Axel masih memiliki perasaan yang sama dengannya?


Atau malah Axel begitu membencinya.


Ya, wajar saja bila Axel membencinya.


Ia meninggalkannya begitu saja, tanpa mengatakan apapun.


Bahkan ia belum sempat menanyakan kabar Axel akibat perlakuan Russel di hari itu.


Aluna meneteskan air matanya.


Ia masih belum bisa melangkah ke lembar kehidupan yang baru.


Bahkan mungkin tidak akan pernah bisa.


Karena Axel adalah bagian dari dirinya.


Aluna tidak menyadari kehadiran Ariana di sana.


Ariana melihat Aluna yang sedang melamun.


Kebiasaan yang sering dilakukan gadis itu.


Jika seperti itu, Aluna pasti sedang memikirkan Axel.


Ariana begitu mengenal Aluna dengan baik.


3 tahun bersama sudah membuatnya mengetahui apapun soal Aluna.


Termasuk perasaan Aluna yang masih sangat mencintai Axel.


Ariana kemudian menghampiri Aluna.


"Ariana.."


Aluna sontak melihat ke arah Ariana yang sudah berada di dekatnya.


Ariana terkekeh geli melihat respon Aluna.


"Kamu lucu saat terkejut seperti itu."


Aluna hanya tersenyum tipis.


"Bukankah hari ini hari libur?


Apa kamu tidak bosan Aluna?


Bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan?"


"Hem, saat ini aku tidak ingin pergi Ariana.


Aku ingin di rumah saja."


"Ayolah Ariana.


Aku ingin kamu menemaniku pergi ke mall untuk membeli sesuatu yang penting."


"Tapi Ariana..."


"Aku mohon temani aku Aluna.


Jika kamu mau menemaniku, aku akan membelikanmu es krim kesukaanmu.


Bagaimana? Kamu pasti tertarik bukan?"


Aluna masih belum menjawab.


Ariana kemudian memasang wajah memelas yang mampu membuat Aluna tidak tega untuk menolaknya.


"Baiklah aku akan menemanimu."


Hal itu langsung mengubah raut wajah Ariana menjadi berbinar.


"Benarkah?"


Aluna menganggukkan kepalanya.


Ariana langsung memeluk tubuh Aluna dengan erat.


"Terima kasih Aluna."


Aluna tersenyum di dalam pelukannya.


Sebenarnya Ariana mengajak Aluna pergi berniat untuk menghibur gadis itu.


Ia tidak ingin Aluna larut dalam kesedihannya. Ariana selalu berusaha untuk menghibur dan menyenangkan hati Aluna.


Mulai dari mengajaknya pergi jalan-jalan, menonton film bersama di rumah, menceritakan hal-hal konyol padanya, dan masih banyak lagi.


Karena baginya Aluna bukan hanya seorang sahabat, tapi juga keluarganya.


Aluna juga sudah sangat membantunya selama ini.


--


Axel kembali menerima pesan dari Vallie.


Setelah kemarin datang ke kantornya, sekarang gadis itu memintanya untuk menemaninya berbelanja pakaian.


Axel meninggalkan pekerjaanya dan kemudian keluar dari ruangannya.


"Kau akan pergi kemana Axe?" ucap James saat bertemu dengan Axel.


"Aku akan menemui Vallie."


"Setelah kemarin Vallie datang ke sini untuk bertemu denganmu, dia merindukanmu lagi, hem?"


"Dia hanya ingin aku menemaninya berbelanja."


"Baiklah Axe. Selamat menikmati hubungan kalian."


Axel menatap James dengan tatapan tajam.


Lagi-lagi James mengatakan hal itu.


"Hubungan Kakak Adik maksudku Axe.


Kau tidak perlu menatapku seperti itu."


"Aku akan memukulmu jika kau mengatakan itu lagi."


James terkekeh geli melihat reaksi Axel.


"Baiklah.


Sekarang pergilah.


Jika kau terlambat, Vallie akan mengomel padamu."


"Aku pergi.


Jika ada sesuatu, segera hubungi aku."


James menganggukkan kepalanya.


Axe kemudian pergi menuju lift.

__ADS_1


Sementara Aluna dan Ariana sedang di dalam perjalanan menuju mall.


Aluna menatap ke luar jendela.


Ia sangat menikmati pemandangan kendaraan yang berlalu-lalang.


"Apa kamu baik-baik saja Aluna?"


Aluna melihat ke samping.


"Iya, aku baik-baik saja Ariana."


Ariana tersenyum.


"Sepertinya akan terjadi kemacetan."


Aluna melihat ke depan.


Memang kendaraan sangat padat sehingga mengakibatkan terjadi kemacetan.


"Sepertinya ini akan memakan waktu yang cukup lama." ujar Ariana.


Setelah beberapa menit menunggu, kendaraan perlahan mulai berjalan walaupun hanya sebentar.


"Apa kamu haus Aluna?


Aku sangat haus. Cuaca saat ini sangat panas."


Aluna menganggukkan kepalanya.


"Iya, aku juga."


"Mau aku belikan minuman ke warung itu?"


Ariana menunjuk warung kecil yang berada di depan mereka.


"Kamu yakin?"


"Tenanglah Aluna. Aku hanya pergi sebentar.


Lagian jaraknya sangat dekat dengan kita."


"Baiklah Ariana."


"Kamu tunggu di sini.


Aku akan kembali."


Aluna menganggukkan kepalanya.


Ariana kemudian keluar dari mobil dan berjalan menuju warung itu.


Aluna melihat ke arah Ariana yang sudah sampai di warung itu.


Ia tersenyum.


Aluna kemudian mengalihkan pandangannya ke samping.


Seketika matanya menyalang melihat pemandangan di depannya.


Aluna mengedipkan kedua matanya.


Berharap ini bukanlah hanya khayalan semata.


Mata Aluna perlahan berkaca-kaca.


Jantungnya juga seketika berdetak dengan kencang.


Pria yang selama ini ia rindukan memang benar-benar berada di dalam mobil itu.


Axel membuka kaca mobilnya, sehingga Aluna mampu mengenali wajahnya.


"Kak Axel.."


Aluna kemudian langsung membuka pintu mobil.


Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu Axel.


Ia harus bertemu dengannya.


Hal itu tidak mengurungkan niat Aluna.


Ia melangkahkan kakinya dengan cepat.


Matanya melihat ke sekeliling jalan raya.


Kondisi matahari yang sangat terik sama sekali tidak mempengaruhinya.


"Kak Axel...


Kamu dimana Kak?"


"Aluna.."


Ariana melihat Aluna yang sedang berlari seperti mengejar sesuatu.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri Aluna.


"Aluna, apa yang kamu lakukan di sini?


Ayo kita masuk ke dalam mobil."


Aluna sama sekali tidak menghiraukannya.


"Aluna, semua orang menunggu kita.."


Dan benar saja, bunyi klakson terdengar dari belakang mobil mereka.


"Aku tidak mau kembali Ariana.


Aku harus bertemu dengannya."


Aluna melepaskan tangan Ariana dan kemudian mencari Axel lagi.


Ariana memutuskan kembali untuk menjalankan mobil.


Ia tidak bisa mengacuhkan amukan para pengendara mobil.


Ariana kemudian memarkirkan mobil di depan toko yang berada tidak jauh dari sana.


Setelah itu, Ariana keluar dari mobil dan menghampiri Aluna.


Aluna duduk di halte bus dengan wajah tertekuk.


Ada kesedihan di sana.


"Aluna...


Apa kamu baik-baik saja?"


Perasaan Ariana semakin khawatir.


"Aluna jawab aku.


Siapa yang sedang kamu cari, hem?"


"Aku melihatnya Ariana.


Aku melihat Kak Axel tadi."


"Kak Axel?"


Aluna kembali meneteskan air matanya.


"Aku tadi melihatnya.


Tapi dengan bodohnya aku membiarkannya pergi.


Aku... "


"Aluna tenanglah.

__ADS_1


Kondisimu sepertinya tidak baik-baik saja.


Sekarang lebih baik kita pergi ke apartemen.


Nanti kita akan membicarakannya lagi di sana, hem?"


Kembali ke rumah bukanlah pilihan yang tepat karena Ariana tidak ingin Alda mengusik Aluna lagi.


Ia begitu mengenal bagaimana sifat Alda.


Alda terkesan sangat mencampuri kehidupan Aluna sehingga lupa tugasnya sebagai seorang Ibu.


Aluna perlahan menganggukkan kepalanya dan kemudian mengikuti langkah Ariana.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di apartemen yang sudah 3 tahun mereka tempati berdua.


Jika terjadi sesuatu, mereka akan pergi ke sana.


Seperti jika ada yang perlu mereka bicarakan berdua tapi tidak ingin diketahui orang lain.


"Istirahatlah sebentar Aluna."


Ariana kemudian menyelimuti tubuh Aluna.


Setelah memastikan Aluna sudah tidur, Ariana pergi ke dapur.


Ia akan memasak makanan untuk mereka.


--


Aluna perlahan membuka matanya.


Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.


Ia tidur selama 3 jam lamanya.


Aluna kemudian keluar dari kamarnya.


Ia melihat Ariana sedang menonton kartun kesukaannya.


Gadis itu lagi-lagi tertawa terbahak-bahak.


Aluna tersenyum dan langsung menghampiri Ariana.


Ariana menyadari kehadiran Aluna yang duduk di sampingnya.


"Kamu sudah bangun?"


"Kamu tidak membangunkanku.


Aku tidur dengan waktu yang sangat lama, kau tahu."


Ariana terkekeh mendengar omelan Aluna.


"Aku hanya tidak mau mengganggumu Aluna.


Kau tidur sangat pulas tadi.


Aluna tersenyum.


Sahabatnya itu memang begitu menyayanginya.


"Ngomong ngomong, apa yang kamu katakan padaku tadi siang adalah benar?


Kamu melihat Kak Axel?"


"Iya Ariana.


Aku melihatnya di dalam mobil itu."


"Apa kamu yakin?


Maksudku, apa kamu yakin itu benar-benar Kak Axel?"


Raut wajah Aluna seketika berubah mengingat Axel yang menghilang begitu cepat.


Apa itu hanya khayalannya semata?


"Entahlah Ariana.


Hanya saja semuanya sangat nyata pada saat itu.


Aku begitu mengenali wajahnya, aku juga tidak mungkin salah orang.


Saat itu aku langsung keluar dari mobil, namun ia langsung menghilang begitu saja.


Aku mencarinya lagi, tapi aku tidak bisa menemukannya."


Ariana mengelus lembut pundak Aluna.


"Aku berharap dia memang benar-benar Kak Axel."


"Aku juga berharap demikian Aluna.


Jika memang dia adalah Kak Axel, kamu harus bertemu dengannya dan mengatakan semuanya pada Kak Axel."


"Apa aku bisa bertemu lagi dengannya?"


"Tentu saja Aluna.


Jika Tuhan ingin kalian bertemu, tidak ada yang dapat menghalanginya."


Aluna tersenyum mendengar perkataan Ariana.


"Dengan begitu, kalian akan kembali bersama.


Seperti pasangan di dalam kartun kesukaanku, yang berakhir dengan happy ending.


Aluna tertawa keras.


Bagaimana bisa Ariana menyamakan kisah cintanya dengan kartun?


Ariana memasang wajah cemberut.


"Kamu menertawaiku, bukan?"


"Kamu sangat lucu Ariana."


"Benarkah?"


Ariana semakin mendekat pada Aluna, berniat untuk menggelitikinya.


"Baiklah.


Sekarang tertawalah sepuasnya."


Ariana mulai menggeliti Aluna.


"Ampun Ariana.


Aku mintaa maaf."


"Tidak, aku tidak akan mengampunimu Nona cantik."


Aluna tidak bisa lagi menahannya.


Ia kemudian berlari menghindari Ariana.


Ariana juga tidak menyerah begitu saja.


Ia mengejar Aluna yang menghindarinya.


Aluna dan Ariana sangat menikmati momen seperti itu.


Hal yang sering mereka lakukan saat salah satu dari mereka sedang bersedih.


3 tahun membuat mereka tumbuh layaknya Kakak dan Adik walaupun mereka memiliki umur yang sama.


Alda bahkan bingung dengan Aluna yang lebih terbuka dengan Ariana dibandingkan dengan dirinya yang merupakan Ibu kandungnya sendiri.


Ia sempat berniat untuk memisahkan keduanya, namun sama sekali tidak berhasil.

__ADS_1


Aluna dan Ariana memang memiliki pengertian satu sama lain.


Bersambung...


__ADS_2