Revenge For Love

Revenge For Love
Mengancam Russel


__ADS_3

Frans masuk ke dalam ruangan Russel.


Di tangannya terdapat surat yang dikirimkan oleh Pengadilan.


"Pak, anda menerima surat dari Pengadilan.


Nona Aluna mengajukan gugatan cerai."


"Apa?


Berani-beraninya ia ingin bercerai dariku.


Itu tidak akan mungkin terjadi."


Russel mengeraskan rahangnya.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Pak?"


"Panggil Pengacara hebat untukku.


Dan katakan aku menolak untuk bercerai."


"Baik Pak.


Saya akan melakukan apa yang anda minta."


Frans keluar dari ruangan Russel.


Russel mengepal tangannya dengan kuat.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku Aluna.


Paling tidak aku harus menahanmu lebih lama lagi agar kau menderita.


Kau pasti berniat kembali dengan Axel kan?


Kita lihat siapa yang akan menjadi pemenangnya nanti."


Russel tersenyum menyeringai.


Iya yakin ia yang akan menjadi pemenang nantinya.


Ia tidak akan membiarkan Aluna bahagia bersama Axel.


 


"Persiapkan semuanya dan segera kabari aku bagaimana perkembangannya."


Axel menutup panggilannya.


Ia sudah mengurus gugatan perceraian Aluna ke Pengadilan yang berada di Indonesia.


Mereka tinggal menunggu panggilan dari Pengadilan untuk menghadiriri persidangan pertama.


Namun bila tidak memungkinkan, Aluna akan diwakilkan oleh seorang Kuasa yang sudah diurus oleh Axel.


Paling tidak akan memakan waktu sekitar 6 bulan sampai Aluna resmi bercerai dengan Russel.


"Kak.."


panggil Aluna.


"Ada apa sayang?"


"Mami meminta kita untuk datang Kak.


Ada sesuatu yang penting akan dibicarakan."


"Baiklah sayang.


Bersiap-siaplah.


Setelah itu kita akan berangkat."


"Hem.."


Aluna kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Saat ini semua orang telah berkumpul di salah satu kediaman Alda.


"Russel tadi menelpon dan mengatakan tidak akan menceraikan Aluna.


Ia bahkan mengancam akan membawa Aluna pergi jauh."


Aluna memegang tangannya dengan gelisah.


Ia takut Russel kembali merencanakan hal buruk pada dirinya dan juga pada orang yang disayanginya.


Menyadari ketakutan Aluna, Axel menggenggam tangan Aluna untuk menenangkannya.


"Apa yang harus kita lakukan?


Russel Pria yang sangat jahat.


Ia bahkan tidak segan-segan melukai orang."


ucap Ariana dengan nada gusar.

__ADS_1


"Kamu benar Ariana.


Dia pria dengan tempramen dan ambisi yang tinggi."


"Kalian tidak perlu khawatir dan takut.


Aku akan mengatasinya."


Semua orang menatap ke arah Axel yang tampak yakin dengan ucapannya.


"Apa yang akan kau lakukan Axe?"


"Jika ia berani mengancam kita, cara untuk mengalahkannya adalah dengan memberi ancaman juga."


"Apa maksudmu Axe?"


"Aku bisa mengancamnya dengan melaporkannya ke Polisi atas tuduhan palsu yang ia lakukan dulu padaku.


Dia adalah dalang utama yang membuatku masuk ke dalam penjara.


Bahkan kita sudah mengetahui kebenarannya James.


Polisi itu juga sudah mengaku bahwa Russel yang telah membayarnya agar mau berbohong.


Kita bisa menjebloskan Russel ke dalam penjara jika ia tidak mau menceraikan Aluna.


Bukan hanya nama baiknya yang hancur, karir dan masa depannya juga akan hancur.


Dia pasti akan mempertimbangkannya kembali."


"Kau benar Axe.


Kita lihat apa dia mau mengorbankan apa yang telah ia miliki."


"Besok aku akan menemuinya ke kantor."


"Kau yakin Axe?"


"Tidak, aku tidak akan membiarkan Kakak pergi."


Jujur, Aluna masih begitu takut kejadian dulu terulang kembali.


"Kamu tidak perlu khawatir sayang.


Aku Pria yang kuat.


Aku tidak akan membiarkannya menyakitimu kembali atau bahkan sampai membawamu pergi dariku.


Aku akan memberikan pelajaran padanya."


"Axel benar sayang.


Mami yakin Russel akan menyerah."


"Kalau kamu masih khawatir, aku akan menemani Axel Aluna.


Dia tidak akan sendiri."


ucap James mencoba meyakinkan Aluna.


Aluna kemudian mengangguk.


Ia hanya berharap semua akan baik-baik saja dan menyerahkan semuanya pada sang Pencipta.


Axel mengelus tangan Aluna dengan lembut.


"Aku akan baik-baik saja Luna."


 


Keesokan harinya, Axel pergi ke kantor Russel bersama James.


"James lebih baik kau menunggu di luar saja.


Aku akan bicara berdua dengannya."


"Baiklah.


Aku akan menunggumu di luar."


Seorang Sekretaris Russel membawa Axel masuk ke dalam ruangan Russel.


Russel mengizinkannya masuk dan saat ini ia tengah berhadapan dengannya.


"Kau..


Setelah menguntit perusahaanku, ini pertama kalinya aku bertemu denganmu setelah 2 tahun lamanya."


Russel memasang senyum smirknya.


"Katakan, apa tujuanmu datang ke sini."


ucap Russel dengan nada tegas.


"Aku minta kau lepaskan Aluna."


ucap Axel tanpa basa-basi.

__ADS_1


Russel mengepal tangannya dengan erat.


Ternyata benar dugaannya.


"Aku tidak akan melepaskannya.


Kau juga tidak berhak menyuruhku menceraikan Istriku."


"Aku tahu kau berniat memisahkan kami kembali Russel.


Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Aku bukanlah Axel yang dulu.


Aku juga punya kekuasaan yang kau miliki.


Aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu jika kau berani menyentuh Aluna."


Russel kemudian tertawa mendengar ucapan Axel barusan.


Baginya itu adalah sebuah lelucon belaka.


Tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya.


"Kau pikir aku takut?


Kekuasaanmu atau bahkan apapun tidak akan bisa menghentikan apa yang aku mau.


Aku adalah Pria yang penuh ambisi.


Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kumau."


"Termasuk dengan anakmu yang belum lahir?"


Perkataan Axel sukses membuat Russel terdiam.


Bagaimana bisa Axel mengetahui soal itu?


Itu berarti selama ini Axel memata-matainya.


Ya, Axel memang memata-matai Russel.


Bahkan sudah sangat lama sejak ia datang ke Amerika.


Awalnya tujuannya melakukan hal itu adalah untuk membalaskan dendam pada Aluna.


Waktu itu ia begitu bahagia saat mengetahui bahwa ternyata Russel bermain di belakang Aluna dan bahkan memiliki anak dari wanita itu.


Namun setelah ia selidiki lagi, ternyata Aluna sudah mengetahui semua perselingkuhan Russel.


Namun tidak dengan anak yang dimiliki Russel dengan simpanannya.


Oleh karena itu ia memutuskan akan menggunakan rahasia Russel untuk menjatuhkannya.


Dan sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk menggunakannya.


"Bagaimana jika media mengetahui bahwa kau berselingkuh dan memiliki anak dari wanita lain?


Aku rasa berita itu akan menjadi berita hangat nantinya.


Aku memiliki identitas wanita itu dan juga bukti pemeriksaan saat ia ke rumah sakit.


Kau juga berada di sana kan?


Jadi kau tidak akan bisa mengelaknya Russel.


Bagaimana?


Apa sekarang kau masih mau mempertahankan Aluna?


Ingat, kau memiliki pilihan antara menghancurkan masa depanmu atau melepas Aluna.


Aku juga masih memiliki banyak bukti kejahatan yang kau lakukan padaku 2 tahun lalu.


Aku tidak akan membongkarnya ke publik jika kau mau menceraikan Aluna.


Anggap saja itu sebagai rasa ibaku padamu."


Axel tersenyum melihat ekspresi datar Russel.


Tidak ada lagi senyum kemenangan di sana.


Ia yakin Russel pasti sangat ketakutan saat ini.


"Aku tunggu dirimu saat di persidangan."


Axel kemudian keluar dari ruangan Russel.


Sepeninggalan Axel dari ruangannya, Russel menjatuhkan semua benda di mejanya.


"Sial!"


Saat ini Russel bingung harus melakukan tindakan apa.


Karena ia memang tidak bisa menghindari semua bukti yang dimiliki oleh Axel.


Axel memang sangat cerdas memilih kartu yang dapat menjatuhkannya.

__ADS_1


Nama baik dan masa depannya kini dipertaruhkan.


Jika publik mengetahui semua itu, maka bisa dipastikan ia akan benar-benar hancur nantinya.


__ADS_2