
Axel mengikuti langkah Polisi untuk menemui tamu yang sudah menunggunya di ruang kunjungan.
Axel melihat ada seorang pria berumur yang sedang duduk di sana sambil tersenyum ke arahnya.
Siapa pria itu, pikirnya.
"Silahkan Tuan Axel. Waktu anda hanya 15 menit."
Axel masih berdiri di tempatnya. Ia sama sekali tidak mengenali pria itu.
Pria itu kemudian berdiri di hadapan Axel.
"Duduklah Axel. Kita harus bicara."
Mereka kemudian saling duduk berhadapan.
"Kau pasti bertanya-tanya siapa saya. "
Pria itu kemudian mengulurkan tangannya.
Axel membalas uluran tangan itu.
"Saya Simon Abraham. Saya adalah sahabat ayahmu."
Axel mengerutkan keningnya.
"Apa tujuan Paman mengunjungi saya kesini?
Ayah saya sudah lama meninggal Paman."
Simon tersenyum.
"Saya sudah mengetahuinya.
Oleh karena itu, saya mengunjungimu untuk membicarakan sesuatu yang penting padamu Axel."
"Sesuatu yang penting? Apa itu Paman?"
"Begini Axel. Dulu saya dan Ayahmu sangat dekat hingga kami mendirikan sebuah perusahaan yang berada di bawah kendali kami berdua.
Perusahaan itu berjalan dengan begitu sukses hingga saat ini.
__ADS_1
Namun pada saat itu Ayahmu menghilang setelah menikah dengan Ibumu.
Tidak ada kabar sama sekali dari Ayahmu. Paman terus mencari keberadaan Ayahmu namun tidak pernah berhasil. Hingga akhirnya Paman mendapat kabar bahwa Ayahmu sudah meninggal dunia.
Paman sangat sedih dan kecewa mengingat perjuangan Paman untuk mencari Ayahmu berakhir sia-sia."
Simon menarik napas panjang.
"Paman turut berduka atas meninggalnya kedua orang tuamu Axel.
Dan juga untuk Nenekmu yang baru meninggal."
"Paman juga mengetahuinya?"
Simon menganggukkan kepalanya.
"Paman bahkan sudah mengetahui apa yang kau alami saat ini Axe. Ketidakadilan yang membuatmu dimasukkan ke dalam penjara. Paman tahu kamu tidak bersalah.
Oleh karena itu Paman ingin membantumu keluar dari sini dan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini."
"Aku sudah mengetahui siapa orang itu Paman."
"Benarkah? Siapa orang itu Axel?"
Dia tega melakukan ini padaku. Bahkan saat ini ia sedang merayakan kebahagiaannya bersama pria lain."
Simon menatap raut kekecewaan sekaligus kemarahan di wajah Axel.
"Apa alasan dia tega melakukan itu semua padamu?"
"Harta dan kekuasaan membuat dia melakukan semua ini padaku Paman.
Kebohongan yang ia ciptakan selama ini, hanyalah untuk membuatku kehilangan segalanya, termasuk Nenek.
Aku benci setiap kali mengingat bahwa aku pernah begitu mencintai gadis itu."
"Jika begitu, Paman akan membantumu keluar dari sini. Dan membalaskan kejahatan yang telah ia perbuat padamu.
Buktikan bahwa kau adalah pria yang jauh lebih hebat dari apa yang ia pikirkan Axel."
Axel menatap wajah Simon.
__ADS_1
"Kau mau kan? "
Axel diam sejenak dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku mau Paman."
"Itu bagus Axel.
Pertama sekali paman akan mengeluarkanmu dari sini."
"Mengapa Paman ingin membantuku?"
Simon tersenyum pada Axel.
"Paman rasa Paman harus membantumu Axel. Ayahmu sudah banyak berjasa dalam kesuksesan Paman. Paman ingin membalasnya dengan membuatmu keluar dari semua keterpurukan ini. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan yang harusnya diterima oleh Ayahmu dulu.
Mulai saat ini, Paman akan menjadi orang tuamu Axel.
Axel tersenyum.
Ia bersyukur dengan kehadiran Simon di dalam hidupnya.
Dengan begitu, ia bisa terbebas dari hukuman yang seharusnya tidak ia terima.
Dan juga untuk membalaskan dendamnya.
Axel pikir ia harus membalaskan apa yang telah dilakukan Aluna padanya.
Ia akan membuktikan pada gadis itu bahwa ia bukanlah pria bodoh yang begitu tergila-gila padanya, sama seperti dulu saat mereka masih bersama.
Kini cintanya sudah berganti menjadi kebencian yang sangat mendalam.
Aluna telah membuatnya menderita, dan kini giliran gadis itu yang akan merasakannya.
Axel mengepalkan tangannya dengan erat saat wajah itu kembali muncul di pikirannya.
Wajah yang selama ini menghiasai pikirannya. Namun saat ini harus melupakan wajah itu dan momen yang pernah ia lakukan bersama Aluna.
Mungkin saat ini masih sulit, tapi ia yakin suatu saat nanti tidak akan ada yang tersisa tentang Aluna dalam hidupnya.
Yang ada hanyalah kebencian dan balas dendam.
__ADS_1
Bersambung...