Revenge For Love

Revenge For Love
Tidak akan tinggal diam


__ADS_3

Keseokan harinya, Axel bertemu dengan James di sebuah kafe.


"Jadi sahabat Ayahmu yang membebaskanmu dari penjara Axe?"


"Iya James. Paman Simon yang telah membebaskan aku."


"Syukurlah Axe.


Tapi apa kau sudah tahu siapa yang telah menjebakmu?"


Axe menganggukkan kepalanya.


"Russel William."


"Russel Wiliam, pria yang menikahi Aluna?"


"Iya James. Pria brengsek itu menjebakku untuk menjebloskanku ke dalam penjara.


Aku yakin itu adalah bagian rencana mereka untuk menghancurkanku.


Dan setelah itu, mereka bisa merayakan kebahagiaan mereka di atas penderitaanku."


"Apa kau yakin Aluna bekerja sama dengan Russel dalam kejahatan ini?"


"Mengapa kau harus meragukan hal itu lagi James?


Tentu saja Aluna ikut dalam kejahatan itu.


Harta dan kekuasaan membuatnya tega melakukan semua ini padaku.


Dia hanya berpura-pura mencintaiku."


"Tapi kalian sudah berpacaran selama 5 tahun Axe.


Mengapa ia baru meninggalkanmu saat ini?


Jika Aluna mau, ia bisa meninggalkanmu sejak lama. Bukankah hal ini cukup aneh?"


"Tentu saja karena ia ingin menghancurkanku James!


Selama 5 tahun ia sengaja membuatku tergila-gila padanya.


Dan setelah dia berhasil, dia meninggalkanku dan pergi bersama pria lain.


Dia bahkan menjebakku dan menjebloskanku ke penjara.


Dia mengambil semuanya dariku, termasuk Nenekku.


Dia menipuku selama ini.


Dia tidak hanya menipuku, tapi juga menipu Nenek dan kau.


Aku begitu membencinya James.


Bahkan aku membenci diriku sendiri yang pernah begitu mencintainya."


Axel mengingat perkataan Neneknya yang mengatakan Aluna adalah gadis yang baik dan Neneknya ingin mereka bersama selamanya.


Ia semakin menderita setiap kali mengingat itu.


Axel mengepalkan tangannya dengan erat.


"Dia gadis yang mengerikan!"


"Tenanglah Axe.


Baik, lupakan Aluna.


Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?"


"Membalas dendam tentunya."


"Membalas dendam?"


"Aku akan membalaskan semua rasa sakit yang aku alami pada mereka.


Mereka pikir aku masih Axel yang dulu, yang akan memaafkan kesalahan mereka begitu saja.


Mereka salah, aku tidak akan tinggal diam."


James terkejut melihat perubahan Axel.


Sahabat yang ia kenal sebagai pria yang pamaaf berubah menjadi pria yang pendendam.


James kecewa tapi ia tahu sahabatnya juga begitu menderita.


Penghianatan itu membuatnya menjadi begini.


Kini dendam dan rasa sakit hatinya mendominasi rasa cintanya pada Aluna.


"Bagaimana caramu membalaskan dendam mu Axe?"


"Paman Simon membantuku Axe.


Ia memberikanku hak yang seharusnya milik Ayahku dulu.

__ADS_1


Aku akan memegang perusahaan yang dibangun oleh Ayah dan Paman Simon.


Dan dengan begitu, mereka akan terkejut melihatku berubah menjadi pria yang berbeda.


Kalau perlu aku akan menghancurkan mereka dan membuat mereka kehilangan apa yang sangat berharga dalam hidup mereka."


"Itu bagus Axe.


Kau harus membuktikan pada mereka bahwa kau bukanlah seperti pria yang mereka pikirkan."


"Aku ingin kau bergabung denganku di perusahaan James."


"Kau yakin Axe? Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang perusahaan.


Bahkan aku hanya lulusan SMA."


"Tentu saja aku yakin James, kau adalah sahabatku.


Dan kau tidak perlu khawatir soal perusahaan. Kita akan belajar bersama.


"Kau mau kan?"


"Aku mau Axe.


Terima kasih banyak."


"Tidak perlu berterima kasih padaku James.


Kau sahabatku, hanya kau aku punya saat ini."


James tersenyum mendengar ucapan Axel.


Sebenarnya ia tidak mengharapkan apapun pada Axel.


Ia hanya ingin Axel hidup bahagia dan tetap menjadi Axel yang seperti dulu.


Mengenai dendam, James masih belum yakin sepenuhnya bahwa Aluna adalah gadis yang mengerikan.


Ia sudah lama mengenal Aluna.


Entah menagapa ia masih tidak mempercayai hal itu.


Ia berharap apa yang dipikirkan Axel mengenai gadis itu tidak salah.


Karena jika salah, Axel akan menjadi korban atas tindakannya sendiri.


--


Axel membawa James ke rumah Simon bermaksud untuk memperkenalkan James dengan Simon dan Vallie.


Mereka sudah sampai di depan rumah.


Axel menganggukkan kepalanya.


"Bukankah ini sangat besar untuk ditempati oleh 3 orang?"


"Kau mau tinggal di sini juga?


Aku bisa meminta izin pada Paman Simon."


"Tidak, tidak Axe.


Kau tidak perlu melakukan itu.


Aku akan tetap tinggal di kontrakan kecilku."


Axel tersenyum mendengar ucapan James.


"Baiklah, ayo kita masuk.


Paman Simon pasti sudah menunggumu di ruangannya."


Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ruangan Simon.


Namun suara seseorang menghentikan langkah mereka.


"Kak Axel.." panggil Vallie.


Axel dan James membalikkan badan dan mendapati Vallie berada tidak jauh dari mereka.


"Hari ini kamu tidak pergi kuliah Vallie?"


"Tidak Kak. Hari ini aku libur."


"Baiklah."


"Oh ya, perkenalkan ini sahabatku, James.


Dia akan bergabung di perusahaan.


Jadi aku membawanya ke sini untuk bertemu dengan Paman."


"Benarkah Kak?"


Vallie tersenyum dan kemudian mengulurkan tangannya pada James.

__ADS_1


"Hai Kak, aku Vallie."


James membalas uluran tangan Vallie.


"Aku James, sahabat Axel.


Senang bertemu denganmu."


"Apa Kakak sudah lama bersahabat dengan Kak Axel?"


"Sudah sangat lama.


Kami bersahabat sejak kecil."


"Oh baiklah kalau begitu Kak."


Axel melihat ke arah jam tangannya.


"Vallie, Kakak dan James akan pergi ke ruangan Paman.


Paman pasti sedang menunggu kami berdua.


Nanti kita lanjutkan obrolan ini lagi."


Vallie tersenyum pada Axel.


"Baiklah Kak."


Axel dan James kemudian pergi meninggalkan Vallie.


"Siapa dia Axe? "


"Dia Putri Paman Simon."


"Oh baiklah."


"Apa kau menyukainya?"


"Tidak Axe.


Dia memang cantik tapi Vallie terlalu muda untukku."


"Dia hanya 2 tahun lebih muda dari usia kita."


"Benarkah?


Ngomong-ngomong, aku pikir sepertinya dia tertarik padamu Axe."


"Omong kosong, itu tidak mungkin James.


Kami baru bertemu, dan kau mengatakan dia tertarik padaku."


"Aku bisa melihatnya Axe.


Dia menyukaimu."


"Diamlah James."


Mereka sudah sampai di depan ruangan Simon.


Axel mengetuk pintu ruangan itu dan kemudian mereka berdua masuk setelah mendapat izin dari Simon.


Simon tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Silahkan duduk." ucap Simon.


"Axel sudah mengatakan semuanya tentangmu James.


Apa kau mau bergabung dengan perusahaan kami?"


"Saya mau Paman."


"Bagus, mulai minggu depan kau bisa bekerja bersama Axel."


James terjejut mendengar ucapan Simon.


"Paman menerima saya? Apa tidak ada seleksi untukku Paman? "


Simon dan Axel tersenyum mendengar pertanyaan James.


"Tentu saja James.


Kau tidak perlu melakukan seleksi lagi, aku percaya sepenuhnya denganmu."


"Terima kasih banyak Paman."


"Sama-sama James."


James tersenyum pada Axel.


Ini semua berkat Axel.


Axel mengeluarkannya dari kehidupan yang cukup sulit.


Dengan bekerja di perusahaan, ia bisa menyelamatkan perekonomian keluarganya.

__ADS_1


Dia juga bisa menyekolahkan Adiknya yang saat ini bersekolah di kampung.


Bersambung...


__ADS_2