Revenge For Love

Revenge For Love
Rencana Jahat


__ADS_3

Axel semakin mengisi kesibukan di kantor hingga hari-hari berlalu begitu cepatnya.


Dan tidak terasa, besok adalah hari pertunangannya dengan Vallie.


Axel menatap lurus ke arah gedung-gedung yang berada di luar.


Hari-hari sudah berlalu dan selama itu ia juga sudah menunggu respon yang akan diberikan Aluna setelah mendengar pertunangannya dengan Vallie.


Nyatanya Aluna tidak terpengaruh sama sekali.


Itu berarti gadis itu benar-benar merelakannya bersama gadis lain.


Baiklah, jika memang itu keputusan Aluna.


Kali ini ia akan benar-benar menyerah untuk hubungan mereka.


Ia akan menikah dengan Vallie dan berusaha untuk melupakan Aluna.


--


Sama halnya dengan Axel, Aluna juga begitu gelisah saat ini.


Ia mengetahui betul bahwa besok Axel dan Vallie akan bertunangan.


Itu artinya Axel akan menjadi Calon Suami Vallie.


Dan hubungan mereka pasti akan benar-benar berakhir.


Tiba-tiba Aluna merasakan sakit di perutnya.


Mungkin bayinya juga ikut merasakan kepedihannya.


Aluna mengelus perutnya.


"Maafkan Mama sayang.


Mama tidak bisa membawa Papa kembali.


Kita harus bahagia, hem?"


Lain halnya dengan Russel, yang kini menghabiskan waktunya di apartemennya.


Semenjak hari itu, Russel jarang pulang ke rumah.


Bahkan ia menyuruh Frans datang ke rumah jika ada sesuatu yang penting.


Hubungannya dengan Gwen pun semakin baik.


Mereka sudah saling memahami kepribadian masing-masing.


Russel dengan sifat arogannya dan Gwen yang begitu keras kepala.


Semua itu hanya demi kebaikan anak mereka.


Gwen pun mau menuruti semua permintaannya.

__ADS_1


Gadis itu tidak pernah lagi menolak.


Karena itu Russel memutuskan untuk memberi libur panjang pada Nenek Maria.


Ia sendiri yang akan menemani Gwen dan melakukan pekerjaan rumah.


Awalnya Gwen selalu menolak.


Namun setelah terbiasa, Gwen akhirnya menerima.


Mungkin gadis itu sudah menyerah.


"Minum susu ini, dan jangan menyisahkannya seperti kemarin lagi."


"Baiklah.


Terima kasih."


Gwen tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh Russel selama ini padanya.


Pria itu seketika berubah menjadi pria yang baik dan bahkan sangat perhatian.


Penilaiannya tentang Russel juga perlahan berubah.


Sepertinya benar, bahwa dibalik keburukan Russel, pria itu juga masih memiliki sisi baik.


Tiba-tiba Gwen teringat dengan Istri Russel yang juga sedang hamil saat ini.


Dia juga pasti membutuhkan perhatian dari Russel.


"Russel.."


Saat ini Russel sedang memeriksa dokumen yang diberikan Frans padanya.


Walaupun ia tidak pergi ke kantor, ia tetap harus bekerja.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?"


Mata Russel masih terpaut pada dokumen di tangannya.


"Soal Istrimu, apa tidak lebih baik kau pulang ke rumah?


Dia juga pasti sangat membutuhkanmu."


Kegiatan Russel seketika terhenti setelah mendengar Gwen menyinggung soal Aluna.


Russel kemudian menatap Gwen dengan tatapan kesal.


Ia tidak suka mendengar nama itu.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku..


Aku pikir dia pasti membutuhkan seorang Suami di sampingnya.

__ADS_1


Dan bagaimanapun kau adalah Suaminya.


Kau juga harus menemaninya karena saat ini ia sedang hamil."


"Untuk apa aku peduli padanya setelah ia berselingkuh dan memiliki anak dari Pria lain?


Anak itu juga bukan anakku.


Aku sama sekali tidak peduli terhadapnya.


Aku bahkan sangat membenci anak itu."


Gwen melihat kemarahan di wajah Russel.


Bahkan tangan Russel terkepal dengan kuat.


Ia takut Russel akan melakukan rencana buruk untuk menyakiti anak itu.


"Kau tidak akan melakukan rencanamu sebelumnya kan?


Russel aku mohon jangan lakukan itu.


Anak itu sama sekali tidak bersalah.


Aku juga seorang Ibu, aku mengerti bagaimana rasanya saat orang lain ingin menyakiti anakku


Paling tidak kau harus memposisikan dirimu sebagai Ayah yang juga memiliki anak yang belum lahir.


Apa yang akan kau rasakan saat melihat orang lain ingin menyakiti anakmu?


Tentu kau marah kan?"


"Aku sama sekali tidak peduli.


Rencana tetaplah rencana.


Untuk sementara aku akan membiarkannya menikmati kebahagiaan sebagai seorang Ibu.


Setelah ia kehilangan anak itu, sudah kupastikan ia akan begitu menderita."


"Russel..."


"Kau tidak berhak mencampuri urusanku Gwen.


Kau memang Ibu dari anakku.


Tapi aku tidak akan membiarkanmu masuk terlalu jauh dalam kehidupanku."


Russel kemudian meninggalkan Gwen.


Sungguh pembicaraan mengenai Aluna sangat membuatnya muak.


Jantung Gwen berdetak dengan kencang.


Ia takut Russel benar-benar melakukan hal jahat itu.

__ADS_1


Bagaimanapun ia tidak mau anaknya memiliki seorang Ayah pembunuh.


__ADS_2