
Axel memegang erat tangan Aluna yang sebentar lagi akan di bawah ke ruang bersalin.
Ya, sebentar lagi Aluna akan segera melahirkan anak pertama mereka.
"Sayang, aku mohon bertahanlah, hem?
Aku akan berada di sampingmu."
"Kak, aku takut.."
"Tidak perlu takut sayang.
Kamu ingin segera bertemu dengan anak kita kan?"
Aluna menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu harus berjuang sayang.
Ada aku di sampingmu."
Axel mengecup kening Aluna.
Ia kemudian menghapus piluh yang membasahi wajah Aluna.
Aluna kemudian di bawa ke ruangan bersalin.
Ia melahirkan secara normal.
"Aku mencintaimu."
ucap Axel.
Aluna meneteskan air matanya dan kemudian mengangguk.
"Aku juga mencintaimu Kak."
"Apa Ibu sudah siap?"
tanya sang Dokter.
Aluna tersenyum.
"Saya siap Dokter."
"Baiklah, sekarang Ibu harus tenang dan setelah itu tarik napas perlahan."
Aluna kemudian mengikuti instruksi Dokter sampai akhirnya berada di puncak bersalin.
Piluh membasahi wajah Aluna.
Ia berusaha mengeluarkan bayinya.
Walaupun merasakan sakit yang begitu luar biasa, ia tetap tidak akan menyerah.
Axel juga memberikan dukungan padanya.
Ia akan melakukan yang terbaik untuk Suaminya.
Hingga akhirnya terdengar suara bayi menangis.
Napas Aluna tersenggal-senggal.
Senyum kemudian menghiasi wajahnya saat melihat Putranya digendong oleh Dokter.
Axel pun begitu bahagia melihat Putranya yang sudah lahir ke dunia.
Tangis kebahagiaan mulai muncul di wajahnya.
"Terima kasih sayang.
Terima kasih."
Axel mengecupi wajah Aluna dan kemudian memeluknya dengan erat.
"Akhirnya kita bisa bertemu dengan bayi kita Kak.
Apa Kakak bahagia?"
"Tentu saja sayang.
Aku sangat bahagia."
Dokter tersenyum melihat kebahagiaan yang ditunjukkan oleh Aluna dan Axel.
Benar-benar keluarga yang begitu harmonis.
"Ibu, anda melahirkan Putra yang begitu tampan."
Aluna tersenyum dan kemudian menggendong bayinya.
"Sayang.."
Aluna mengecup pipi Putranya yang begitu menggemaskan.
"Dia begitu mirip dengan Kakak."
"Iya, kamu benar sayang.
Saat bayi dulu aku seperti anak kita."
Aluna menatap haru kebahagiaan yang tampak jelas di wajah Suaminya.
Axel saat ini sedang menggendong Putra mereka.
Axel tidak henti-hentinya tersenyum dan sesekali mengajak Putranya berbicara.
Mereka berdua terlihat begitu menggemaskan.
Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan kehadiran James, Ariana dan Alda.
"Aluna..."
Ariana langsung menghampiri Aluna dan memeluknya dengan erat.
"Selamat Aluna..
Kamu melahirkan bayi yang begitu tampan."
"Terima kasih Ariana."
"Mami.."
Aluna tersenyum melihat kehadiran Ibunya.
"Kamu baik-baik saja sayang?"
Aluna menganggukkan kepalanya.
"Selamat sayang.
Kamu sudah menjadi seorang Ibu sekarang."
"Maafkan aku karena dulu sangat nakal dan sering menyusahkan Mami."
"Tidak sayang.
Kamu Putri Mama yang sangat baik."
James menghampiri Axel yang sedang menggendong bayinya.
"Aku heran, mengapa ia sangat mirip denganmu?"
"Tentu saja dia begitu mirip denganku.
Aku Ayahnya James."
"Aku hanya menyayangkan hal itu."
ucap James dengan nada bergurau.
"Kau.."
Mereka semua tertawa melihat ekspresi kesal Axel.
James kemudian memeluk Axel.
"Selamat Axe.
Kau sudah menjadi seorang Ayah sekarang.
Kau sangat beruntung.
Aku iri padamu."
"Kalau begitu, kau harus cepat-cepat menikah.
Kalau perlu kalian percepat saja pernikahan kalian.
Agar kau bisa menjadi seorang Ayah sepertiku.
"Kau benar.
Sayang, sepertinya kita harus mempercepat pernikahan kita.
Aku tidak ingin kalah dari Axel.
Aku ingin memiliki anak yang banyak."
Wajah Ariana memerah mendengar ucapan James.
Ia kemudian tersenyum.
"Dasar kau!"
Axel memukul pundak James.
Mereka semua sangat bahagia menyambut kelahiran Putra Aluna dan Axel.
Bayi mereka sangat menggemaskan sehingga berhasil mengundang tawa setiap orang yang menggendongnya.
--
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Aluna sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.
Saat ini ia dan Axel akan membawa bayi mereka pulang ke rumah.
Saat ini Aluna sedang menggendong bayinya.
Ia menautkan jarinya pada tangan Putranya yang sudah mereka beri nama Alexander Maleakhi.
Putranya itu tersenyum menggemaskan.
Aluna kemudian mencium pipinya.
"Aku juga ingin mendapat ciuman sayang."
Aluna melihat ke arah Axel yang sedang menyetir dan kemudian terkekeh.
Perlahan ia menggeser posisinya dan mencium pipi Axel.
Axel tersenyum puas.
"Mulai saat ini, kamu harus memberikan perlakuan yang seimbang pada Al dan aku.
Kau tahu aku pria yang possesif bukan?
Aku tidak akan menerima saat pria lain mengambilmu dariku."
"Termasuk dengan Al?
Dasar!"
Axel kemudian mengelus kepala Aluna dengan lembut.
"Aku hanya bercanda sayang.
Al juga tidak akan sanggup mengambilmu dariku."
Karena kesal, Aluna mencubit perut Axel.
"Ampun sayang.
Aku hanya bercanda.
Aku sangat mencintai kalian berdua."
Aluna akhirnya tersenyum.
Ia kemudian mencium pipi Axel lagi.
"Kalau begini, aku lebih semangat pulang ke rumah."
Aluna hanya bisa terkekeh mendengar godaan Axel.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan rumah.
Kali ini Axel yang menggendong Al.
Saat masuk ke dalam rumah, mereka dikejutkan dengan pemandangan di hadapan mereka.
Rumah dihiasi dengan dekorasi yang begitu indah.
Tidak lupa ada hiasan nama Putra mereka di sana.
"Kakak yang melakukan semua ini?"
"Tidak sayang.
Sejak kamu melahirkan aku tidak memikirkan apa-apa selain dirimu dan Putra kita."
"Kami yang melakukannya.."
Ariana dan James kemudian muncul di hadapan mereka.
"Kalian...."
"Selamat datang kembali Aluna juga untuk Al."
ucap Ariana.
"Untukku..?"
"Untukmu juga Axe.."
ucap James dengan senyuman jahilnya.
"Terima kasih Ariana dan Kak James.
Aku begitu bahagia mendapat semua ini."
"Kejutannya belum berakhir Aluna.
Masih ada kejutan lain lagi."
"Kejutan lain?"
tanya Aluna dengan penasaran.
Dan benar saja, kejutan kembali datang menghampirinya saat melihat orang-orang terdekatnya muncul.
Aluna menutup mulutnya.
"Nenek.."
Aluna memeluk tubuh Nenek Marine dengan erat.
"Aku begitu merindukan Nenek."
"Nenek juga merindukanmu Aluna.
Tidak menyangka, terakhir kali kita bertemu kamu tidak seperti ini.
Dan sekarang kamu sudah menemukan kebahagiaanmu dan bahkan sudah menjadi seorang Ibu.
Nenek ucapkan selamat untukmu sayang.
Akhirnya kamu menemukan kebahagiaan yang kamu impikan selama ini."
Aluna meneteskan air matanya.
"Terima kasih Nek.
Terima kasih juga telah hadir di sini."
"Ariana yang mengundang Nenek datang ke sini.
Kamu harus berterima kasih padanya sayang."
Aluna kemudian melihat ke arah Ariana dan tersenyum.
Ariana menganggukkan kepalanya, mengerti maksud tatapan Aluna.
Lagi-lagi semua orang mengucapkan selamat pada Aluna dan Axel.
Setelah itu mereka merayakan acara yang telah disiapkan oleh James dan Ariana.
Mereka semua tampak begitu bahagia.
Kebahagiaan mereka semakin bertambah setelah mendengar kabar bahwa Vallie dan Josua akan segera menikah.
"Selamat ya Vallie."
ucap Ariana.
"Hem, aku juga mengucapkan selamat untukmu.
Kamu juga akan segera menikah kan?"
"Kamu benar.
Semoga pernikahan kita berdua lancar ya."
Di lain tempat, Axel dan James sedang berbincang dengan Josua.
"Aku senang mendengar kau akan segera menikah dengan Vallie.
Aku harap apa yang aku pikirkan selama ini tentangmu benar.
Kau harus menjaga Vallie dengan baik."
"Baik Axel.
Aku berjanji akan menjaganya dengan baik.
Aku mencintainya."
Axel dan James tersenyum mendengar ucapan Josua.
Mereka berdua sungguh berharap yang terbaik untuk Vallie.
"Nenek.."
Aluna menghampiri Nenek Marine.
"Nenek, mengapa Nenek datang sendirian?
Apa Nenek tidak membawa Gwen?"
"Gwen sudah lama berhenti bekerja Aluna.
Dia sudah memiliki kehidupan baru bersama Kekasihnya."
"Gwen sudah menikah Nek?"
"Nenek pikir seperti itu.
Gwen dan Nenek sudah tidak berkomunikasi lagi sejak dia berhenti bekerja."
"Kita hanya bisa berharap yang terbaik untuknya Nek."
"Kamu benar Aluna."
--
__ADS_1
Aluna meninggalkan acara sebentar.
Ia membawa Al masuk ke dalam kamar bayi yang sudah disediakan sebelum Al lahir.
Aluna meletakkan Al ke dalam box bayi dengan hati-hati.
Jangan sampai Putranya itu terbangun.
Aluna tersenyum memandangi Al yang begitu menggemaskan saat tidur.
Al memang benar-benar duplikat Ayahnya.
Mereka berdua sangat mirip.
Tiba-tiba, Aluna mendapatkan pelukan dari belakang.
Dan ia mengetahui dengan pasti siapa orang yang tengah memeluknya.
"Putra kita benar-benar anak yang sangat manis sayang.
Dia tidak rewel sama sekali."
"Kakak benar.
Bahkan dia tidak terganggu dengan keramaian orang.
Kakak lihat, Al sangat menggemaskan saat tidur."
"Hidup terasa lebih bewarna dengan kehadiran Al di hidup kita.
Rasanya aku ingin memiliki banyak anak.
Pasti sangat menyenangkan sayang."
"Aku ingin anak kedua kita perempuan Kak.
Al pasti akan menjadi Kakak yang baik nantinya."
"Aku juga ingin hal itu terjadi secepatnya Luna.
Bagaimana jika sekarang kita memberikan Adik untuk Al?"
"Sekarang?
Tidak mungkin Kak."
ucap Aluna dengan nada kebingungan.
"Maksudku, Al sudah tidur bukan?
Ini waktu yang tepat untuk kita bermesraan agar bisa memberikan adik pada Al dalam waktu dekat."
Aluna akhirnya mengerti maksud perkataan Axel.
"Tidak sekarang Kak.
Di luar masih ada keluarga.
Dan acara masih berjalan."
"Tidak apa-apa sayang
Mereka pasti mengerti bahwa Suami Istri butuh waktu untuk berduaan."
Axel menarik tubuh Aluna mendekat padanya.
"Tapi Kak, Al.."
"Al juga pasti setuju dengan Ayahnya."
Aluna terkekeh dan akhirnya menuruti permintaan Suaminya.
Axel mulai memajukan wajahnya dan berniat mencium Aluna.
Namun gagal saat terdengar suara tangisan Al.
"Al menangis Kak.
Sepertinya ini waktu yang tidak tepat."
"Hem, baiklah."
Aluna kemudian mengeluarkan Al dari box nya dan menenangkannya.
Axel berdiri di samping Aluna dan mencium Al.
"Papa tahu, kamu pasti tidak ingin terburu-buru memiliki adik kan?
Baiklah sayang."
Aluna terkekeh mendengar ucapan Axel.
"Kakak lihat, Al tersenyum Kak."
"Dia benar-benar begitu menggemaskan.
Oh, Putraku. Papa sangat mencintaimu."
Axel memegang tangan Al.
Aluna tersenyum mendengar interaksi Axel dengan Al.
"Aku juga sangat mencintaimu sayang."
Axel mencium kening Aluna.
Ciumannya berlanjut ke bibir Aluna.
Lagi-lagi, di tengah berciuman suara tangisan Al terdengar kembali.
Axel langsung melepaskan bibirnya dari Aluna.
"Sepertinya Al begitu posesif padamu sayang.
Baiklah Al, Papa akan mencobanya lagi di waktu lain."
"Aku beruntung memilikimu dan Al sayang."
"Kami juga beruntung memilikimu Kak."
Aluna kemudian meletakkan kepalanya di bahu Axel.
Axel memeluk pinggang Aluna.
Kebahagiaan benar-benar menghampiri Axel dan Aluna.
Bukan hanya kebahagiaan untuk mereka, tapi juga untuk orang-orang terdekat mereka.
Mengingat kisah kelam yang mereka alami dulu, rasanya sangat bersyukur untuk semua yang mereka dapatkan saat ini.
5 tahun mereka berpacaran.
2 tahun sempat terpisah.
1 tahun kemudian mereka kembali bersama, walau sempat memutuskan untuk berpisah.
Dan di tahun berikutnya, Al lahir ke dunia.
Hingga hari ini, dimana kebahagiaan mereka semakin lengkap saat mendengar orang-orang yang mereka sayangi juga akan segera menemukan kebahagiaan mereka.
Aluna dan Axel benar-benar yakin bahwa semua akan indah pada waktuNya.
Serahkan semuanya pada Tuhan, maka Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik.
--
Dan untuk Russel dan Gwen, mereka mulai memulai hidup baru sejak Putri mereka lahir ke dunia sekitar 3 bulan lalu.
Gwen masih tinggal bersamanya.
Dan akan tinggal bersamanya sampai waktu yang belum ditentukan.
Sejak bercerai dengan Aluna, Russel lebih banyak menghabiskan waktu di apartemennya bersama Gwen.
Walaupun ia masih belum menerima, namun perlahan ia mulai melupakan perasaannya pada Aluna.
Apalagi sejak Giselle Putrinya lahir, ia lebih ceria dari sebelumnya.
Hidupnya berubah seketika.
Gwen juga mulai mengagumi Russel yang begitu menyayangi Putri mereka.
Bahkan sering kali Russel tidak pergi ke kantor dan membatalkan jadwalnya hanya untuk Giselle.
Pria itu akan khawatir bahkan tidak tidur saat Giselle sakit.
Perasaanya akan terharu saat setiap kali Russel melakukan semua itu.
Tidak henti-hentinya ia tersenyum karena Pria itu.
Ia memang masih belum tahu apa arti perasaannya yang dimiliki saat ini.
Yang ia tahu, Russel Ayah yang sangat baik.
Giselle beruntung memiliki Ayah sepertinya.
Sementara Russel, walaupun belum melupakan Aluna sepenuhnya, ia mulai menerima Gwen sebagai Ibu dari Putrinya.
Jujur, ia tidak mau Gwen pergi ataupun berpisah darinya.
Giselle sangat membutuhkan Gwen.
Dan ia juga mulai bergantung padanya.
Gwen telah mengubahnya menjadi pria yang lebih baik dari sebelumnya.
Gwen mengajarkannya bahwa uang bukanlah segalanya.
Gwen benar-benar membuatnya mengerti akan hidup yang sebenarnya.
Mungkin sebentar lagi ia akan mencintai gadis itu juga.
__ADS_1