
Setelah memastikan keamanan Gwen, Russel akhirnya pulang ke rumah pada dini hari.
Tak disangka, Alda berdiri di depan kamarnya.
Bisa dipastikan bahwa wanita itu akan menasehatinya lagi.
Melihat kedatangan Russel, Alda langsung menghampirinya.
"Russel, Ibu mau berbicara sesuatu yang sangat penting."
Russel membiarkan Alda berbicara padanya.
"Axel saat ini berada di Amerika."
Russel terkejut mendengar ucapan Alda.
"Tidak mungkin."
"Apa yang tidak mungkin Russel?
Pria itu bisa saja datang ke Amerika untuk kembali bersama Aluna."
"Ibu juga tahu sendiri bahwa pria itu sudah sangat membenci Aluna.
Jadi tidak akan mungkin ia mau kembali lagi dengan Aluna.
Lagian Axel tidak akan mampu datang ke sini."
"Tapi Rusel..
Ibu mendengar sendiri dari Aluna bahwa James, teman Axel sedang berada di Amerika.
Ibu yakin Axel juga ada bersamanya."
"Ibu mungkin salah mendengarnya."
"Tidak mungkin Russel.
Kau tahu akan sangat bahaya jika Axel berada di Amerika.
Masih ada kemungkinan Axel dan Aluna kembali bersama."
"Aku mengantuk.
Aku akan tidur."
Russel kemudian meninggalkan Alda dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Alda merengut kesal.
Russel sama sekali tidak percaya dengan ucapannya.
Padahal ia meyakini bahwa dugaannya benar bahwa Axel sedang berada di Amerika.
Lebih baik ia mencari tahu sendiri kebenarannya.
--
Keesokan harinya, Aluna kembali berkumpul dengan para pemegang saham untuk merayakan keberhasilan kerja sama perusahaan Silla Grup dengan perusahaan Gerald.
"Selamat Bu Aluna.
Ibu berhasil membuktikan pada kami bahwa Ibu mampu memberikan performa yang terbaik." ucap salah satu pemegang saham
"Benar Bu Aluna.
Berkat kerja sama yang Ibu lakukan dengan perusahaan besar itu, perusahaan ini mendapatkan banyak keuntungan." tambah pemegang saham yang lain.
"Kami sangat bangga dengan semua apa yang Ibu lakukan untuk perusahaan ini."
"Terima kasih banyak.
Saya harap anda semua tetap mendukung saya dan selalu berpartisipasi dalam kemajuan perusahaan ini."
Axel mengepal tangannya dengan erat.
Kebahagiaan terukir jelas di wajah Aluna.Gadis itu pasti merasa di atas angin sekarang setelah mendapatkan banyak pujian dari para pemegang saham.
Tapi gadis itu masih mendapatkan poin pertama, ia masih belum kalah sama sekali.
Poin lain akan didapatkan olehnya.
Kali ini ia akan membiarkan Aluna menang, namun tidak untuk waktu lain.
__ADS_1
Biarkan gadis itu tersenyum sebelum menangis nantinya.
Axel kemudian membuka suara.
"Kerja sama selanjutnya akan dilakukan dengan perusahaan Chars, yang merupakan salah satu perusahaan besar di Amerika.
Dan pastinya, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih banyak jika berhasil bekerja sama dengan perusahaan tersebut.
Saya juga yakin Ibu Aluna akan mampu memenangkan kerja sama ini.
Benarkan Ibu Aluna?"
Aluna mengerutkan keningnya.
Sebenarnya apa maksud Axel menawarkan kerja sama itu dengannya?
"Saya yakin Ibu bisa memenangkan kerja sama itu.
Saya juga mendengar kabar bahwa perusahaan itu memiliki pengaruh besar di Amerika."
"Baiklah saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja sama dengan perusahaan itu."
Axel tersenyum puas.
Jika Aluna menyetujuinya, bisa dipastikan kali ini ia yang akan memenangkannya.
Sebenarnya ia sudah merencanakannya.
Ia sengaja menawarkan kerja sama dengan perusahaan itu.
Axel berteman baik dengan pemilik perusahaan itu.
Dan bisa ia pastikan, bahwa pria itu akan berada dipihaknya.
--
Aluna memasukkan pakaian berserta barang-barangnya ke dalam koper.
"Kamu yakin aku tidak perlu ikut bersamamu Aluna?"
"Aku yakin Ariana.
Jika tidak aku tidak ada, maka kamu yang akan menggantikanku di kantor.
Lagian aku juga pergi untuk kerja sama dengan perusahaan itu Ariana.
Mereka juga tidak akan berpikir lagi untuk menjual sahamnya pada Kak Axe."
"Tapi aku sangat khawatir denganmu Aluna.
Bagaimana jika Kak Axel melakukan sesuatu yang buruk padamu?"
"Aku bisa pastikan dia tidak akan melakukannya Ariana.
Dia memang sangat membenciku dan sering melontarkan kalimat kasar padaku.
Tapi ia tidak akan melakukan yang buruk, apalagi sampai melukaiku.
Aku mengenalnya.
Dari banyak perubahan di dalam dirinya, aku yakin ia masih pria yang tidak akan tega melukaiku."
"Hem, baiklah Aluna.
Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kamu harus segera menelponku."
Aluna menganggukkan kepalanya.
--
"Apa?
Kau sengaja menawarkan kerja sama itu pada Aluna Axe?"
Axel menganggukkan kepalanya.
"Kau tahu Aron kan?
Dia berteman baik denganku.
Dan ia adalah pemilik perusahaan itu.
Kali ini usaha Aluna untuk memenangkan kerja sama dengan perusahaan itu akan berakhir sia-sia.
__ADS_1
Karena Aron berpihak denganku."
"Axe kau sama sekali tidak berpikir untuk menyakiti Aluna kan?"
"Aku akan melakukan apapun agar aku bisa mengalahkannya James.
Tujuanku dari awal adalah untuk membuatnya menderita."
James khawatir dengan ucapan yang dilontarkan Axel barusan.
Ia takut Axel semakin berbuat jauh pada Aluna.
"Aku akan ikut denganmu Axe."
"Tidak perlu James.
Kau harus di kantor saat aku tidak ada.
Paman Simon juga akan memantau setiap perkembangan perusahaan.
Saat aku tidak ada, maka kau yang harus mengerjakan semuanya.
Jangan lupa segera beritahu aku jika terjadi apa-apa."
Axel kemudian pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barangnya.
James kemudian mengambil handphonenya dan kemudian menelpon Ariana.
Ariana nama "James" di layar handphonenya.
Ia langsung menjawab panggilan itu.
"Halo.." ucap Ariana.
"Halo Ariana..
Apa kamu sudah tahu tentang kerja sama itu?"
"Ya, aku sudah mengetahuinya James.
Tapi aku sangat takut Kak Axel akan melakukan sesuatu yang buruk pada Aluna."
(Apa aku harus memberitahu Ariana tentang kebenarannya?
Tapi jika aku memberitahu Ariana soal itu, Axel akan sangat marah dan tidak akan percaya lagi denganku.
Paling tidak, dengan mengetahui semua rencana Axel, aku bisa memastikan bahwa Aluna akan baik-baik saja)
"Kamu tidak perlu khawatir Ariana.
Aku yakin Axel tidak akan melukai Aluna.
Bagaimanapun, Axel masih memliki perasaan untuk Aluna."
"Aku berharap seperti itu James."
"Aku memiliki cara agar kita berdua bisa memantau setiap pergerakan mereka Ariana."
"Bagaimana caranya?"
"Kita bisa menempelkan kamera kecil di koper mereka.
Jika terjadi sesuatu, kita akan mengetahuinya"
"Kamu benar James.
Aku rasa itu cara yang bagus.
Aku akan melakukan hal itu.".
"Baik Ariana."
"Terima kasih banyak James.
Terima kasih karena kamu mau percaya bahwa Aluna tidaklah bersalah."
"Aku tahu Aluna adalah gadis yang sangat baik Ariana.
Ia tidak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan."
Ariana tersenyum.
Setelah itu mereka kembali mengobrol lagi.
__ADS_1
Namun kali ini bukanlah pembicaraan mengenai Axel dan Aluna.
Melainkan pembicaraan mengenai hal lain yang bisa membuat keduanya tersenyum.