
Aluna menangis sepanjang malam.
Ia menangisi dirinya yang saat ini terlihat layaknya seorang wanita murahan.
Kalimat Axel masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Pria itu menilai dirinya sebagai wanita yang akan memberikan dirinya pada siapapun hanya untuk mendapatkan uang.
Pernyataan cinta yang sempat diucapkan Axel seakan lenyap akibat kalimat tersebut.
Walaupun saat ini kebenarannya sudah terungkap, namun ia sudah terlanjur begitu terluka.
Hari mulai pagi, Aluna bergerak melepaskan tubuhnya dari rengkuhan Axel.
Namun Axel semakin merengkuhnya dengan erat.
Aluna kemudian perlahan melepaskan tangan Axel dari tubuhnya.
Setelah berhasil, Aluna langsung menjauhkan tubuhnya dan mengganti posisinya menjadi duduk.
Aluna memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia kemudian mengenakan semua pakaiannya.
Aluna berjalan menuju pintu.
Langkahnya kemudian terhenti.
Ia melihat ke arah Axel yang masih tertidur pulas.
Aluna kembali meneteskan air matanya.
Entah apa yang akan dikatakannya pada saat bertemu dengan pria itu nanti.
Semalam mereka telah melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi.
Apalagi pada saat itu Axel dalam keadaan mabuk.
Mungkin saja saat Axel terbangun, pria itu menganggap semua itu tidak pernah terjadi.
Tapi ia akan berusaha untuk menerima semua resikonya.
Menurutnya ia juga salah karena dengan mudahnya terhanyut dengan sentuhan Axel.
Aluna menghapus air matanya dan kemudian pergi dari sana.
Sesampainya di kamarnya, ia langsung memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.
Ia harus pergi dari sana.
Rasanya ia tidak akan sanggup bertemu Axel.
Apalagi kalimat itu masih membekas di pikirannya.
Sungguh ia akan semakin menderita nantinya.
Aluna keluar dari kamarnya.
Ia berjalan menuju lift.
Setelah berada di bawah, Aluna langsung mengurus administrasi.
Semua barang-barangnya dibawa oleh karyawan hotel dan dimasukkan ke dalam mobilnya.
"Terima kasih banyak."
Karyawan itu tersenyum dan pergi meninggalkannya.
Aluna masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobilnya.
Sinar matahari membangunkan Axel yang masih bergelut di tempat tidur.
Perlahan ia membuka matanya.
Axel memijit kepalanya yang sakit akibat pengaruh alkohol.
Ia langsung melihat ke sampingnya setelah berhasil sadar.
"Aluna..."
Axek terkejut saat tidak melihat Aluna di tempat tidurnya.
Gadis itu pasti berada di kamarnya, pikirnya.
Axel memungut pakaiannya yang terdapat di lantai dan mengenakannya.
Setelah itu, ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar Aluna
"Aluna..."
__ADS_1
Axel mengetuk pintu kamar Aluna.
Namun pintu itu tidak terbuka walaupun ia sudah mengetuk berkali-kali.
Axel membuka pintu kamar Aluna, dan pintu itu bisa terbuka.
Axel cukup terkejut, namun tidak mau berlama-lama ia langsung masuk ke dalam kamar Aluna.
Namun saat ia masuk ia tidak melihat Aluna di sana.
Bahkan barang-barang Aluna sudah tidak ada lagi.
Axel berkacak pinggang.
Aluna pasti pergi meninggalkannya karena kejadian semalam.
Ia sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan pada Aluna.
Awalnya ia mencoba untuk menghindari Aluna namun ia tidak bisa.
Ia juga sempat menyuruh Aluna keluar dari kamarnya.
Namun hati dan perasaannya ingin Aluna tetap tinggal dan berada di dekatnya.
Walalupun dalam keadaan mabuk, ia menyadari apa yang ia lakukan pada Aluna.
Ia akui ia tidak bisa mengontrol dirinya pada saat itu.
Apalagi Aluna sama sekali tidak menolak perlakuannya.
Awalnya ia berpikir bahwa Aluna sudah berhubungan dengan Russel.
Ia sangat cemburu pastinya.
Rasa cemburunya bercampur dengan amarah hingga ia berpikir untuk menyentuh Aluna.
Bahkan ia sempat berkata kasar dengan gadis itu.
"Apa yang telah aku lakukan?"
Axel menarik napas panjang.
Axel kembali mengingat momen malam itu.
Ada perasaan lega saat mengetahui bahwa Aluna tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
Sangat aneh memang mengingat Aluna sudah menikah dengan Russel.
Dan bisa ia pastikan, tidak ada pria yang boleh menyentuh Aluna selain dirinya.
Namun di saat yang sama ia juga merasa sangat bersalah.
Ia telah menyakiti Aluna.
Gadis itu pasti begitu membencinya.
"Aku mohon maafkan aku Luna."
--
Aluna masuk ke dalam rumah dan kemudian melangkahkan kakinya ke kamarnya.
"Aluna.."
Ariana begitu terkejut melihat kedatangan Aluna.
Ia langsung menghampiri gadis Aluna yang terlihat begitu pucat.
"Aluna, wajahmu begitu pucat.
Apa yang terjadi denganmu?
Dan mengapa kamu pulang lebih cepat dari jadwalnya?"
"Aku tidak enak badan Ariana.
Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih awal.
Aku juga telah membatalkan pertemuan dengan perusahaan itu dan akan menghubungi mereka kembali setelah kondisiku membaik.
Tolong atur ulang jadwalku Ariana."
"Baiklah Aluna.
Lebih baik, kamu istirahat terlebih dahulu.
Aku akan membawa obat untukmu."
"Tidak, aku sudah minum obat Ariana.
__ADS_1
Alu hanya ingin beristirahat saja."
"Baiklah.
Beristirahatlah Aluna."
Aluna tersenyum dan kemudian berjalan menuju ranjangnya.
Ariana menyelimuti tubuh Aluna dengan selimut.
"Beritahu aku jika kamu membutuhkan sesuatu."
"Hem.."
Setelah memastikan Aluna tidur, Ariana duduk berjalan menuju sofa.
Ia duduk dengan mata yang memandang Aluna yang sedang tertidur.
Ia merasa Aluna terlihat begitu aneh.
Pasti telah terjadi sesuatu padanya.
Dan ia yakin ada hubungannya dengan Axel.
Siapa lagi kalau bukan pria itu yang sering membuat Aluna menderita.
Ariana menatap layar handphonenya.
Ia langsung mengirim pesan pada James untuk menanyakan apakah pria itu mengetahui sesuatu.
James sedang memeriksa berkas-berkas yang seharusnya ditangani oleh Axel.
Handphonenya tiba-tiba berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk.
Sekilas ia melihat nama Ariana di layar hanphonenya.
Ia tersenyum mengetahui Ariana si pengirim pesan itu.
Ia langsung menghentikan kegiatannya dan kemudian memegang handphonenya.
"Apa kau mengetahui sesuatu tentang Aluna dan Kak Axel baru-baru ini?"
"Tidak, tidak ada.
Aku pikir, mereka baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Memangnya apa yang terjadi?
Apa kau mengetahui sesuatu?"
"Aluna tiba-tiba pulang hari ini.
Aku begitu terkejut.
Dan aku pikir pasti telah terjadi sesuatu.
Wajah Aluna juga begitu pucat saat pulang tadi.
Apa Kak Axel melakukan sesuatu yang buruk lagi pada Aluna?"
"Benarkah?
Jujur aku belum mengetahui apa-apa.
Axel tidak mengatakan apapun padaku.
Bahkan Axel masih berada di sana.
Ia belum kembali dari tempat itu.
Jika ia sudah kembali, ia pasti memberitahuku.
Tapi kau tidak usah khawatir, aku akan mencari tahu.
Jika aku mendapatkan informasi, aku janji akan memberitahumu secepatnya."
"Baiklah, terima kasih banyak James.
Aku hanya begitu khawatir dengan Aluna."
"Aku mengerti Ariana apa yang kau rasakan Ariana.
Aku akan selalu membantumu."
Ariana tersenyum menerima balasan pesan James.
Ia kemudian kembali melihat ke arah Aluna.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi padamu Aluna?
Aku harap itu bukan karena Kak Axel.