Revenge For Love

Revenge For Love
Memilih baju pertunangan


__ADS_3

Sinar matahari mulai menyinari kamar Axel.


Mata Axel perlahan terbuka hingga tersadar bahwa ia berada di kamarnya.


Axel memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Kau sudah bangun?"


ucap James yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


"Siapa yang membawaku kemari?


Apa kau yang menjemputku kemarin?"


"Vallie yang membawamu."


Axel kemudian teringat dengan panggilan Vallie yang ia abaikan kemarin.


Ia merasa bersalah dengan hal itu.


"Apa masalahmu hingga kau pergi ke bar dan minum banyak alkohol?"


Menyadari pertanyaan James yang ingin kembali mengintrogasinya, Axel langsung beranjak dari tempat tidur.


"Aku harus bersiap-siap.


Hari ini aku dan Vallie akan mengurus persiapan pertunangan kami."


"Berhentilah, sebelum semuanya terlambat."


Kalimat James menghentikan langkah Axel.


"Bahkan di dalam tidurmu kau tidak bisa melupakannya.


Apa kau yakin Vallie juga akan bahagia dengan hubungan kalian?"


Axel mengepal tangannya dengan erat dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


James hanya bisa menarik napas panjang.


Sampai kapan mereka menyakiti diri sendiri?


--


"Aluna.."


Ariana menghampiri Aluna yang sedang duduk santai di balkon kamar.


"Hai.."


"Aku membawakanmu sup iga kesukaanmu."


"Wahh, aku begitu senang Ariana.


Kemarin aku sempat mengidam sup iga, dan hari kamu memenuhinya.


Terima kasih banyak."


"Aku memang begitu mengenalku Aluna.


Oh ya, tunggu sebentar.


Aku akan membuatkanmu jus.


Jus sangat baik untuk kandunganmu."


Aluna tersenyum melihat sup yang dibawakan oleh Ariana.


Ia kemudian berniat menyendokkan sup itu ke dalam mulutnya.


Namun saat mencium bau sup itu, Aluna tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan isi perutnya.


Aluna berlari menuju kamar mandi dan langsung mengeluarkan cairan putih dari mulutnya.


Aluna memegang erat sudut wastafel.


Rasanya tubuhnya begitu tidak berdaya setiap kali ia mual.


Akhir-akhir ini ia memang begitu sensitif terhadap bau-bauan.


Seseorang yang tidak jauh kamar mandi sedang menatap Aluna dengan tatapan sedih.


Ia merasa tidak tega melihat Aluna sendirian dalam kondisi hamil.


Tidak ada Suami yang menemaninya.


Suami dalam artian Ayah dari anak yang dikandung oleh Aluna, yaitu Axel.


Alda menghapus air matanya.


Aluna pasti mengalami masa yang begitu berat.


Bahkan dulu sebagai Ibu ia juga begitu menderita.


Saat membesarkan Aluna seorang diri setelah sang Suami meninggal dunia.


Bisa dibayangkan betapa kuatnya Aluna menahan semuanya.


Apalagi dengan semua penderitaan yang telah ia berikan pada Putrinya itu.


"Maafkan Mami Aluna.


Mami akan berusaha untuk mengembalikan semua kebahagiaanmu."

__ADS_1


--


Axel mengetuk pintu apartemen Vallie.


Hari ini mereka berencana akan membeli baju pertunangan.


Dan Axel juga berniat meminta maaf pada Vallie atas apa yang ia lakukan kemarin.


Beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Vallie yang terlihat kacau.


Mata Vallie yang sembab membuktikan bahwa gadis itu menangis sepanjang malam.


"Vallie, Kakak minta maaf karena tidak menjawab panggilanmu kemarin.


Kemarin Kakak sedikit tertekan karena masalah pekerjaan sehingga perlu waktu untuk menenangkan diri."


Vallie mengangguk lemah.


"Hem, tidak apa-apa Kak.


Aku tahu Kakak juga perlu waktu untuk sendiri."


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik Kak."


"Sekali lagi Kakak minta maaf Vallie."


Vallie tersenyum pada Axel.


"Aku sudah memaafkan Kakak."


Vallie memegang erat sweater yang digunakannya.


Jujur ia masih begitu terluka saat ini.


Bagaimanapun ia juga adalah seorang wanita rapuh yang begitu terluka saat mengetahui bahwa pria yang dicintai nyatanya belum melupakan mantan kekasihnya.


Bahkan masih mencintai gadis itu.


Vallie kemudian teringat dengan kondisi Axel yang mengingau tentang Aluna kemarin.


Terdengar nada memohon di kalimat Axel.


Axel ingin Aluna kembal dengannya.


"Aku menunggumu di luar.


Bukankah hari ini kita akan memilih baju pertunangan kita?"


"Baiklah Kak.


Aku akan bersiap-siap."


"Hem.."


Vallie menatap punggung Axel dengan kesedihan.


Ia menutup pintu dan kemudian meluapkan kembali perasannya.


Tubuh Vallie perlahan terluruh ke lantai.


Tangisan kini menggambarkan betapa terlukanya dia.


--


Axel dan Vallie sampai di depan butik terkenal.


Mereka disambut ramah oleh sang pemilik.


"Nona, kami memiliki banyak pilihan yang cocok digunakan saat pertunangan.


Kalian pasti terlihat mengagumkan mengenakannya.


Apalagi kalian berdua terlihat begitu serasi."


Vallie tersenyum menanggapi ucapan pemilik tersebut.


Sementara Axel hanya diam tidak merespon.


"Terima kasih." ucap Vallie.


"Baiklah, mari saya antarkan untuk memilih baju yang sesuai dengan anda inginkan."


Vallie dan Axel melihat beberapa pilihan baju yang mengagumkan.


"Kak, aku ingin kita menggunakan yang itu saat pertunangan kita.


Apa Kakak setuju?"


Axel mengangguk setuju.


"Pilihan yang sangat tepat Nona.


Kesan elegan pada gaun dan tuksedo akan menambah kecantikan dan ketampanan Nona dan Tuan."


"Baiklah.


Kami akan mencobanya terlebih dahulu."


"Karyawan saya akan membantu Nona."


"Mari Nona."

__ADS_1


Vallie kemudian masuk ke ruang ganti setelah tersenyum pada Axel.


"Apa Tuan juga perlu dibantu?"


"Tidak perlu.


Aku akan memakainya sendiri."


Axel kemudian pergi menuju ruang ganti.


"Pria yang sangat tampan dan sedikit arogan.


Tapi sangat cocok dengan penampilannya."


ucap sang pemilik.


Vallie memandang dirinya di depan cermin.


Gaun indah itu sudah terpasang di tubuhnya.


Hatinya begitu bahagia saat mengingat bahwa gaun itu akan digunakan di hari pertunangannya.


Vallie berusaha untuk melupakan kesedihannya.


Ia yakin semuanya akan baik-baik saja.


Vallie kemudian keluar.


"Anda terlihat begitu cantik Nona."


"Terima kasih.


Aku juga begitu menyukai gaun indah ini."


Beberapa saat kemudian, Axel keluar dari ruang ganti.


Mata Axel melihat ke arah Vallie yang sudah mengenakan gaun pertunangannya.


Tiba-tiba pandangannya berubah dan melihat Aluna berada di hadapannya mengenakan gaun itu.


Gadis itu tersenyum padanya.


Axel pun membalas senyuman Aluna.


"Nona memang sangat memukau sehingga Kekasih anda tidak bisa memalingkan pandangannya ke arah lain."


Ucapan pemilik itu akhirnya menyadarkan Axel bahwa yang berada di hadapannya saat ini adalah Vallie bukan Aluna.


Seketika senyum itu hilang dari wajahnya.


Vallie tersipu mendengar ucapan pemilik itu.


Dan benar saja, Axel tersenyum melihatnya.


Pria itu terlihat mengagumi penampilannya.


"Kakak juga terlihat begitu tampan mengenakannya."


"Hem, aku rasa pilihan ini tepat untuk pertunangan kita."


"Kakak benar.


Kami akan membeli yang ini."


"Baiklah Nona.


Saya akan segera mengurusnya."


Setelah selesai memilih baju pertunangan, Axel kemudian mengantar Vallie pulang.


Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali.


Vallie kemudian mencoba memulai obrolan.


"Apa setelah ini Kakak ada urusan?"


"Hem.


Hari ini aku harus pergi ke kantor.


Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Aku harap Kakak tidak bekerja sampai larut malam dan melewatkan makan malam."


"Kakak akan pulang tepat waktu Vallie.


Dan aku tidak akan datang ke tempat itu lagi."


Vallie mengerti maksud perkataan Axel yang mengarah pada bar.


"Terima kasih telah menjemputku kemarin.


Kamu mengalami kesulitan karenaku."


"Tidak Kak.


Aku tidak apa-apa."


Mereka kembali diam satu sama lain.


Vallie menatap ke arah Axel yang sedang menyetir.


Sungguh ia begitu mencintai Axel.

__ADS_1


Axel adalah cinta pertamanya.


Walaupun ia tahu bahwa hingga saat ini ia belum memiliki tempat di hati pria itu.


__ADS_2