Rine And Shine

Rine And Shine
10. Keputusan dalam keraguan.


__ADS_3

Emily sebenarnya masih ragu, akan tetapi masa-masa di penjara membuatnya takut. Apalagi masih butuh 4 tahun lagi, jadi bagaimanapun keadaannya ia harus pergi dari penajara itu. Walaupun ia merasa seperti terjebak, tapi itu lebih baik dari pada ia harus mati di dalam penjara.


"Baiklah jika kau bersedia, aku akan mengatur pernikahan kalian besok. Aku berjanji, tidak akan mempersulitmu selain tentang Leon."


Emily mengerutkan kening merasa aneh, kenapa Daddy begitu terburu-buru melakukan pernikahan. "Apa Daddy takut aku membatalkan pernikahan ini?" Emily membatin. Namun, sejenak dia berfikir lebih cepat lebih baik. "Si, aku percaya Daddy akan melakukan yang terbaik untuk ku."


Romario menganggukkan kepala dengan tersenyum tipis. Rasa bahagia tidak bisa ia sembunyikan, karena dengan persetujuan Emily, maka kesempatan hidup Leon akan semakin besar. Ia melakukan ini dengan sangat buru-buru bukan karena takut Emily akan berubah pikiran, melainkan karena takut Saina akan melakukan hal lain untuk membuat Leon bertunangan dengan wanita pilihannya dan menarik semua yang seharunya menjadi milik anaknya. Dan ini adalah jalan satu-satunya agar Emily bisa keluar dari penjara. Ia juga percaya jika putri sahabatnya dapat menjaga dan membuat Leon sadar kembali dan Saina akan melepaskan Emily dengan kebenaran yang Leon berikan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita kembali sekarang, Saina sedang menungguku, kau juga harus beristirahat."


"Si."


Emily mengikuti langkah Romario dan kembali masuk ke dalam mobil. Kali ini tanpa di dampingi oleh orang-orang yang menjemputnya tadi. Hanya dia dan Romaria. 1 jam perjalanan akhirnya mereka tiba di Mansion megah milik keluarga Mugel. Romario memerintahkan Emily untuk kembali ke kamarnya menghindar dari bertemunya dia dengan Saina. Namun, gadis itu menolak dan meminta untuk bertemu dengan Leon.


Setelah mendapat persetujuan Romario, Emily menuju kamar Leon. Gadis itu membuka pintu kamar perlahan dan masuk. Saat langkah pertamanya, ia sudah bisa melihat jelas, di atas kasur selebar 200 cm x 180 cm itu terbaring seorang lelaki paras tampan yang selalu membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Walaupun hanya berbalutkan piama tidur dengan kedua mata yang tertutup rapat. Namun, pesona dari seorang Leon tidak terbantahkan. Ia adalah pujaan setiap wanita di Madrid, tidak ada penolakan bagi setiap wanita yang mengenalnya. Selalu berakhir dengan jatuh cinta, bahkan Emily sendiri pun sempat merasakannya.

__ADS_1


Tangan Emily bergetar, ia mengepalkannya untuk menenangkan. Tidak di sangka, kejadian waktu itu membuat saudara angkatnya menjadi seperti ini. Emily tahu, jika ia juga korban. Namun, rasanya tidak adil, jika dia masuk penjara dan menderita selama 2 tahun di sana sedang ia sama sekali tidak melakukan kejahatan. Marah, dan rasa bersalah kini berkumpul menjadi satu. Akan tetapi, melihat keadaan Leon yang terbujur kaku seperti ini membuat rasa bersalahnya semakin besar. Bukankah, pria itu juga berniat menolongnya saat itu.


"Huh ...." Emily mendesah kasar. Ia bingung dengan rasa yang menyeruak di dalam hatinya. Ada rasa benci yang terus bergejolak. Namun, tiba-tiba di tutupi lagi dengan rasa bersalah.


"Saat ini kau hanya punya dua pilihan Emily. Tetap tenang dan menikah dengan Leon, atau melawan dan kembali menjalani kehidupan yang dingin dan gelap hingga masa tahanmu selesai." Emily membatin, memberi pilihan pada dirinya sendiri. Entah jalan mana yang harus ia ambil saat ini.


Melihat Emily yang menjadi ragu di depan Leon, dari jauh pria itu menatap sedih. Romario sangat berharap banyak akan Leon pada Emily. Untuk itu ia berjuang dengan segala cara untuk membebaskan gadis itu. Hanya Emily yang ia percaya bisa membuat Leon bangkit dan keluar dari cengkeraman napsu dan keserahakan Saina akan harta.

__ADS_1


__ADS_2