Rine And Shine

Rine And Shine
Bab 74


__ADS_3

Emily dan Leon sudah berada di dalam restoran mewah berbintang yang sempat di bicarakan tadi. Begitu malunya Emily saat ini, bahkan gadis berambut panjang itu sampai tidak berani mengangkat wajahnya meskipun sudah di paksa oleh Leon.


"Kau tidak lelah?"


"Tidak."


"Menunduk terus seperti itu akan membuat lehermu sakit."


"Tidak."


"Apa karena kau malu?"


Wanita itu tidak menjawab, melainkan hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Angkat kepalamu Emily. Orang-orang akan mengira aku sedang menawan mu."


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Aku malu, Leon."


Leon menahan tawanya agar tidak pecah. "Apa yang membuatmu malu, bukankah hanya kita berdua saja yang tahu kejadian itu?"


Seketika ia mengangkat wajahnya. "Justru karena hanya kau dan aku saja yang tahu, makanya aku se malu ini."


"Dasar gadis bodoh!"

__ADS_1


Sebenarnya, yang terjadi adalah. Leon, tidak menyuruh Emily turun dari mobil untuk meninggalkannya di tepi jalan. Melainkan karena sudah sampai di tempat tujuan. Namun, karena Emily yang tidak memperhatikan sekitar dan karena keduanya sedang membahas Cessy dan tiba-tiba Leon merasa kesal dengannya itulah yang membuat Emily berfikir jika pria dengan setelan jas hitam itu ingin membuangnya.


Akibatnya, ia harus menahan rasa malunya dengan terus menunduk dari tadi. Itu lebih baik di banding ia harus menatap wajah Leon yang sedari tadi terus menggodanya.


"Terserahlah."


"Ayolah Sayang. Aku sudah sangat lapar jangan merajuk terus."


"Sa-sayang?"


Wajah gadis dengan set baju pink dan rok hitam selutut itu mengangah, terperangkap oleh kalimat romantis yang baru saja di ucapkan Leon. "Apa maksud semua ini Leon, kau tidak sedang mempermainkan perasaanku bukan," gumam Emily di dalam hati.


"Ada apa?" Dengan santai Leon bertanya.


"Ba-baru saja kau mengatakan Sayang?"


Sejujurnya Leon juga sangat canggung dengan kalimat itu. Namun, demi mendapatkan maaf Emily dan kepercayaan wanita yang baru saja mencuri hatinya itu, Leon mengesampingkan rasa malunya.


"Tidak. Tapi..."


"Sudahlah! Kita pesan dulu makanannya," ujarnya dengan dingin. Terlihat dari wajahnya jika leon sedikit kesal dengan tingkah Emily yang terus menerus menjengkelkan.


"Kau marah?"


"Tidak, aku hanya heran. Setiap kali aku sedang berusaha memperbaiki hubungan kita, kau selalu saja berfikiran buruk. Tidak ada mesra-mesranya kau berbicara denganku." Akhirnya dia bisa menggerutu dengan bebas.


"Baiklah aku minta maaf. Semua ini terjadi terlalu cepat, makanya aku sedikit merasa bingung."

__ADS_1


"Aku mengerti. Tapi bisakah kau tidak menyepelehkan perasaanku? Harus bagaimana lagi, aku harus melakukan apa agar kau bisa percaya dan memaafkan ku. Aku benar-benar sudah menyesali semua perbuatan jahat ku padamu dan perasaan suka ini... Ini benar-benar murni, bukan pura-pura."


Emily melihat raut kebingungan Leon. Wajah tampan yang sedang meluapkan emosinya ini, apa benar ia tidak sedang berpura-pura.


"Apa aku bisa bertanya satu hal padamu?"


"Apa?"


Emily menahan sejenak napasnya dan menghebuskannya dengan pelan. Jujur, saat ini dia sangat gugup.


"Apa yang membuatmu tiba-tiba suka denganku? Bukankah sejak awal kau tidak menginginkan aku?"


"Emily..."


"Bahkan kau pernah mengatakan sampai kapanpun kau tidak akan pernah menyukai ku."


"Nick yang memberitahu mu?"


Wanita dengan mata hitam itu menggelengkan kepala. "Aku tidak sengaja mendengarnya saat kau dan Nick sedang mengobrol."


"Emily waktu itu aku..."


"Katakan saja alasannya." Emily dengan cepat memotong ucapan Leon. "Aku hanya ingin mendengar alasan kenapa kau tiba-tiba menyukai ku. Bukan ingin mendengar pembelaan dirimu."


"Apa harus?"


"Yah. Agar akupun punya alasan untuk menerima mu."

__ADS_1


__ADS_2