
Saat sarapan pagi berlangsung, Emily memilih diam dan tak bersuara meskipun Romario banyak mengajaknya untuk berbincang. Gadis itu hanya mengangguk sambil sesekali tersenyum. Sikap keras kepala Emily itu membuat Leon sedikit menahan marah. Setelah sarapan selesai, Leon mengikuti Emily untuk meluruskan masalah di antara mereka.
"Apa yang kau lakukan tadi, apa kau ingin semua orang di rumah ini tahu jika hubungan kita sedang tidak baik-baik saja?" ujar Leon saat keduanya sudah berada di dalam kamar. Dia berfikir ini mungkin adalah balas dendam Emily terhdapnya.
"Apa kau mengikuti ku hanya untuk mengatakan itu?"jawab Emily menatap sinis mengabaikan wajah serius pria bermanik hitam itu dan melangkah mendekati tempat tidur.
Lagi-lagi sikap dingin wanita yang sudah menjadi istrinya itu membuat urat kemarahan Leon terlihat. Dengn sigap tanpa ragu-ragu ia menarik tangan Emily hingga tubuh mereka beraduh. "Selesaikan masalah kita sekarang! Aku tidak menyukai sikap sombongmu ini. Jika lebih lama lagi kau mengacuhkanku, maka aku tidak menjamin hidupmu akan baik-baik saja setelah itu."
Emily tiba-tiba merasa ancaman suaminya itu konyol, bahkan bukannya takut justru ia malah tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu ini? No! Di sini yang bersalah adalah kau bukan aku," serunya dengan tegas.
__ADS_1
Wanita itu menatap wajah Leon dengan angkuh. Dia yakin jika emosi Leon sedang menggebu-gebu. Namun, dia tidak peduli akan hal itu. Jika pria ini ingin bermain dengannya maka dengan senang hati dia akan melayani permainannya.
Leon menaikkan sudut bibirnya, sambil menarik wajah Emily hingga jarak antara keduanya hampir tidak ada. Bahkan hembusan napas pria itu bisa Emily rasakan di kulit wajahnya. Dengan lembut ia menyandarkan bibirnya pada samping kanan wajah wanita cantik itu sambil berbisik.
"Jangan memancing di air yang keruh. Kau bisa tenggelam nanti."
Padahal itu adalah kalimat peringatan dari Leon, bukan ungkapan cinta. Namun, napas lembut yang menyapu tengkuknya membuat dia sedikit merinding hingga tegang. Bagaikan tersapu badai salju, tubuhnya semakin dingin dan membeku.
"A-apa yang terjadi padaku," gumam Emily di dalam hati. Setelah sekian lama wajahnya mendongak dengan mata yang sedikit merah bahkan pipinya ikut merona dan terasa dingin. "Apa yang kau lakukan." Ia menepis untuk lepas dari dekapan Leon. Bukan karena ia membenci pria itu. Namun, karena rasa tidak nyaman yang terus datang.
"Hei! Mau kemana kau, aku belum selesai," teriak Leon saat melihat Emily yang berjalan tergesah-gesah menuju pintu. Dia mengayunkan kaki secepat mungkin. Sebelum Emily benar-benar menghilang di balik pintu, tubuh mungilnya sudah kembali berada di dalam dekapan Leon.
__ADS_1
Emily berdecak kesal dengan umpatan yang ia ucapkan di dalam hati untuk pria di depannya. "Apa yang kau lakukan. Lepaskan aku!" teriak Emily yang merasakan posisinya saat ini sangat tidak nyaman dari sebelumnya.
Leon menarik tubuh wanitanya hingga dada keduanya beradu. "Kau baru saja mengabaikan permintaan maaf ku lagi Nona Emily."
"Sudah ku katakan, tidak semudah itu mendapatkan maaf dariku."
"Apa kau sengaja melakukannya agar aku terus menarikmu dan memelukmu seperti ini?"
"Tentu saja tidak!" ujar emily dengan tegas. Emily menaikkan sedikit tubuhnya dengan berjinjit karena merasa sesak. Namun dekapan Leon terlalu kuat hingg ia harus mendorong sedikit tubuh pria itu untuk melebarkan jarak.
Leon tersenyum tipis melihat apa yang sedang Emily lakukan. Dengan jarak yang begitu dekat. "Wanita memang selalu seperti ini. Jika berdekatan serasa sesak. Namun, jika berjauhan mereka selalu mencari alasan untuk di tarik mendekat."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa like dan koment juga vote karyaku ya. Hadianya juga jangan lupa .. 😁🥰...