Rine And Shine

Rine And Shine
Chapter 39


__ADS_3

Tengah malam, seperti biasa, Emily akan terbangun dan langsung menuju kamar mandi. Di tengah malam, gadis itu akan merasa ingin buang air kecil dan itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. Ini sudah pukul 1 lebih hampir pukul 2. Namun, Leon belum juga kembali. Rasa penasaran terhadap pria itu semakin menjadi-jadi.


"Apa yang sedang ia kerjakan hingga di jam seperti ini belum juga kembali."


Emily membuang napas panjang, sejujurnya ia sedikit gelisah karena sifat Leon yang aneh sejak kemarin malam. Dengan langkah yang pelan, ia kembali ke tempat tidur. Saat hendak kembali berbaring, lampu di kamar tiba-tiba mati dan ruangan seketika menjadi dingin dan menyeramkan. Emily menyeringai, perasaan seperti ini sangatlah tidak asing lagi baginya. Tentu saja pria asing bermata dingin itu telah datang. Gadis kecil itu mengepalkan tangan karena lagi-lagi dia datang di saat suasana hatinya yang sedang tidak baik.


Tangan dingin itu masuk menelusuri puggung bagian belakang Emily membuat dia sedikit bergidik karena merasa gugup dan juga geli. "Apa yang kau inginkan?"


"Dirimu," ucap pria itu dengan nada suara yang sedikit pelan.

__ADS_1


Emily menelan ludahnya kasar. Dengan bibir bergetar ia mulai mengatur napasnya kembali. "Apa maksudmu?" ujar Emily berbalik dengan wajah saling bertatap.


Pria dingin itu terlihat menyunggingkan senyuman licik di bibirnya, merasa sangat puas karena akhirnya sikap Emily lunak kepadanya. Dengan wajah yang saling menatap pria itu membelai wajah Emily dengan sangat lembut. Emily yang kaget segera bergeser kedepan hingga pria bermata dingin itu dengan terpaksa harus bergeser mundur mengikuti arah maju tubuh Emily. Kini posisi keduanya sudah berada di tepi tempat tidur, jika Emily bergeser lagi maka pria itu langsung akan terjatuh.


"Kau membiarkanku mendekatiku malam ini tanpa perlawanan dan juga kekerasan, apa itu artinya kau bersedia menerima tawaranku?" Ia kembali membelai wajah Emily yang berjarak begitu dekat dengannya, bahkan napas dan detak cepat dari jantung gadis itu bisa ia dengarkan.


Emily tersenyum sinis di dalam hatinya, berusaha meraih sesuatu yang sudah menjadi rencananya. Saat Pria dingin itu terus terbuai dengan sikap manisnya, Emily dengan cepat meraih pematik dan menyalakan lilin di dekat ranjang yang di bicaran Joya waktu itu. Beruntung 1 kali petik lilin itu langsung menyala dan menerangi tepat di atas wajah pria itu.


"Sial!" Dalam hati ia mengumpat karena akhirnya identitasnya terbongkar. "Kau menjebak ku Emily." Pria bermata dingin itu beranjak dengan pelan menahan rasa sakit dari luka yang ia dapatkan saat terakhir melakukan aksinya di kamar ini.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan semua ini padaku, kau mempermainkanku Leon. Kau pura-pura menjadi pria mati dan mempermainkan diriku."


"Ini semua terjadi karena dirimu," ujar Leon tidak kalah kasar.


"Aku?" Emily berdecak dengan tawa hambar. "Entah apa maksudmu dengan semua ini, tetapi yang kau lakukan itu sangat tidak bermoral. Aku istrimu, kau memperlakukanku seakan aku wanita yang buruk. Kau merayuku dan membuat ku ketakutan. Takut bagaimana jika suamiku melihatnya, atau bagaimana jika keluargaku tahu." Mata Emily mulai berkaca. "Jika mungkin kau tidak menyukaiku, seharusnya kau bangkit dan katakan jika kau menolak pernikahan ini. Tidak harus dengan melakukan sandiwara ini."


"Berhenti meneriaku! Aku melakukan semua ini karena ada alasannya."


"Dasar pecundang! Egois. Akhiri semua ini dan berhenti mempermainkanku!"

__ADS_1


Setelah mengatakan semua itu, Emily berlari keluar dengan deraian air mata. Ia tidak menyangka jika pria yang terus datang dan membuat batinnya tersiska dengan ketakutan itu adalah pria yang tidur setiap malam di sampingnya. Jika saja ia tidak menemukan boneka pria besar yang begitu mirip dengan Leon di dalam lemari pakaiannya, mungkin ia tidak akan mengetahui jika pria itu adalah Leon. Selama ini Emily tidur dengan boneka yang mirip dengan manusia, bahkan ia bisa melakukan beberapa gerakan yang kadang membuat Emily tersipu karena berfikir itu adalah Leon. Emily benar-benar marah karena di permaiankan dengan boneka.


"Kau benar-benar--" Emily menahan ucapannya karena dadanya terasa begitu sakit. Sakit hingga ia susah untuk bisa bernapas.


__ADS_2