Rine And Shine

Rine And Shine
Bab 45


__ADS_3

Bunyi pintu yang tertutup membuat Emily menatap dengan bola mata membulat ke arah Leon.


"Aku katakan untuk yang terakhir kalinya, berhenti bertingkah konyol seperti ini." Emily meronta berusaha melepaskan diri dari pria berotot di hadapannya. Emily masih saja tetap kesal kepada Leon meski sekejap tadi bisikannya membuat dia bergidik dan sempat memikirkan pria itu.


"Ayolah Emily, ini sudah beberapa hari setelah kejdian itu. Okey aku salah , Aku minta maaf."


"Jangan harap aku memaafkanmu," ujar Emily tepat di hadapan Leon. Wanita keras kepala itu mengambil kesempatan terlepas saat Leon melonggarkan dekapannya.


Setelah lepas dari cengkeraman kelakuan nakal suaminya Emily melangkah ke lantai bawah menuju taman kecil di halaman depan Mansion.


Ia selalu berada di sana kala hatinya gunda atau merasa kesepian. Namun, kali ini sepertinya dia membutuhkan udara segar. Napasnya hampir saja habis karena ulah pria menyebalkan itu. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan memgeluarkannya kembali.


"Sungguh... Dia benar-benar membuat ku hampir tidak bernapas lagi."


"Dia siapa?"

__ADS_1


Tiba-tiba suara berat itu terdengar begitu dekat di belakangnya.


"Oh Tuhan!" Emily kaget dan berbalik seketika hingga kepalanya menghantam pot bunga anggrek besar yang bergelantung. Gadis itu kembali meringis karena terasa begitu ngilu di bagian kepalanya. Dan yang paling gilanya, itu terjadi di depan suaminya sendiri.


"Apa kau tidak bisa melihat?" Leon segera menarik mundur tubuh Emily untuk menjauh dari pot besar itu agar tidak terkena lagi.


"Ini karena kau mengagetkanku," jawab Emily dengan kesal. Ia mengusap-usap dahinya yang mungkin sudah terluka.


"Biar aku lihat dahimu." Pria dengan manik hitam pekat itu memerika bagian yang terkena pot besar tadi. "Untung saja tidak terluka. Hanya sedikit memar di sini." Ia dengan lembut dia meniup memarnya di atas kulit putih yang mukis itu agar tidak teras nyeri.


Seketika Emily meremas jemarinya. Dia tidak punya kesempatan untuk menghindar. Karena kini Leon benar-benar membuat dia tegang. Pria itu selalu semana-mena melakukan apa yang dia inginkan tanpa meminta ijin.


"Diamlah."


"Apa yang dia lakukan." Emily bergumam pelan, bingung dengan sikap Leon yang tiba-tiba menjadi manis.

__ADS_1


Leon mencubit pipi ramping wanita itu. "Apa yang sedang kau gumamkan."


"Oh Tuhan!" Kedua mata Emily kembali terbuka lebar, mengira-ngira sikap Leon yang entah ada apa begitu berubah terhadapnya. Karena perlakuannya itu, Emily merasa sedikit tidak nyaman.


"Jangan katakan ini adalah bagian dari rencanamu untuk mendapatkan maafku," ujar Emily dengan gambalng. Tiba-tiba saja dia berfikir jika Leon hanya ingin kata maaf darinya. Jika tidak mana mungkin dia mau bersikap selembut ini.


"Kenapa kau malah berfikir seperti itu."


"Karena seorang Leon biasanya tidak pusing dengan kehidupan sehari-hari orang biasa sepertiku. Jadi kalau tiba-tiba dia berbuat seperti ini tentu saja akan membuat orang lain sedikit merasa heran."


Leon menghembuskan nafas seraya menatap Emily yang melihatnya dengan begitu dingin. Benar kata Ayahnya. Wanita yang menjadi istrinya ini benar-benar wanita yang kuat.


"Baiklah. Aku benar-benar menyesal telah melakukan itu padamu, tapi itu ada alasannya Emily. Jika kau tau apa alasanku melakukan semua itu, kau akan memaafkanku tanpa perlu semarah ini padaku."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu saja."


"Kalau begitu katakanlah."


__ADS_2